Review Kumcer “Braga Siang Itu”

Cover "Braga Siang Itu" sumber : andipublisher.com

Cover “Braga Siang Itu”
sumber : andipublisher.com

  • Judul           : Braga Siang Itu
  • Penulis         : Triani Retno A.
  • Cetakan       : I, 2013
  • Penerbit       : Sheila Fiksi (imprint Penerbit ANDI), Yogyakarta.
  • Tebal           : 140 Halaman
  • Harga           : Rp29,000
  • Kategori       : Fiksi (Kumpulan Cerpen)
  • Genre          : Dewasa

Cover buku Kumcer ini sangat Braga. Terlihat dari foto dua pasang kaki bersepatu wanita dan pria yang sedang menjejakkan kaki di trotoar jalan Braga, Bandung. Judul Kumcer ini diambil dari salah satu judul cerpen yang ada di dalamnya.

Cerpen “Braga Siang Itu” di halaman 14, menyuguhkan kenangan pasangan kekasih bernama Fei dan Ben serta peristiwa kerusuhan Mei 1998. Mereka memiliki kenangan di jalan Braga hingga akhirnya kenangan itu retak bersama waktu yang bergulir. Saya suka dengan cerpen ini karena sangat bermakna yang menggugah pikiran saya sebagai wanita. Penggalan dialognya seperti ini : “Kamu tahu, Fei, di balik kesuksesan seorang laki-laki, selalu ada perempuan hebat. Begitu juga di belakang kehancuran seorang laki-laki. Perempuanlah yang memainkan peranan di balik kesuksesan dan kehancuran itu.”

Di dalam Kumcer ini terdapat 15 cerpen apik yang pernah dimuat di berbagai media cetak dengan tema bahasan yang dekat dengan dunia wanita. Hal-hal yang kita temui sehari-hari dikemas dengan sudut pandang penulis sehingga memberi kesan kritis, menyentuh, tegas, namun indah. Sebagian besar ide dari cerpen-cerpen tersebut adalah masalah-masalah sosial.

15 cerpen tersebut adalah :

  1. Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada (Dimuat di harian Tribun Jabar, 12 Oktober 2008)
  2. Braga Siang Itu (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Maret 2012)
  3. Sansevieria (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 Maret 2009)
  4. Saat Malin Bertanya
  5. Sarapan
  6. Undangan
  7. Suara
  8. Ceu Kokom (Dimuat di majalah Sekar Edisi 49/11, 26 Jan-Feb 2011)
  9. Bunda Tak Tersenyum (Dimuat di majalah Kartika No.78/Februari 2010)
  10. 10. Surat Untuk Presiden
  11. 11. Merajut Hari
  12. 12. Hati yang Tak Kunjung Damai
  13. 13. Gunting
  14. 14. Gigi (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Januari 2009)
  15. 15. Hujan (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 September 2009)

Namun ada hal yang mengurangi kenyamanan saya sebagai pembaca. Tulisan di beberapa halaman di dalamnya tidak tercetak jelas (berbayang), warna tintanya memudar, di  halaman 48 terlihat mirip tinta fotokopi yang tercecer, dan lembar lainnya tampilan lay-out-nya agak miring. Ukuran font pas dan nyaman dibaca secara keseluruhan. Font lain, mirip tulisan huruf sambung, ditampilkan di cerpen berjudul ‘Surat untuk Presiden’. Di cerpen ini, penulis seolah menyuarakan sebagian dari masalah dari negeri kita ini.

Kalau boleh menandai tanda bintang di setiap cerpennya, saya akan menandai lima bintang untuk cerpen berjudul ‘Braga Siang Itu’, ‘Saat Malin Bertanya’, ‘Sanseviera’, dan ‘Hujan’. Cerita yang sesuai dengan suasana kampanye Pemilu yang sebentar lagi akan digelar di Indonesia, terwakili oleh cerpen berjudul ‘Suara’ yang menampilkan tokoh seorang caleg gagal. Tak sedikit materi yang ia gunakan hingga terpaksa berutang pada beberapa orang, dan berujung pada gangguan psikis. Ia depresi dan harus menetap di klinik psikiatri dan rehabilitasi. Cerpen ini sungguh menggelitik ingatan saya tentang banyaknya orang-orang yang memaksakan diri untuk nyaleg dan wara-wiri di pemberitaan televisi.

Keseluruhan tema cerpen yang ada di Kumcer ini sangat inspiratif dan menyadarkan bahwa hal-hal yang melintas di depan kita setiap hari adalah inspirasi dan pembelajaran kehidupan. Bahkan cerita seorang ibu yang menuntut materi dari sang anak tergambar di cerpen berjudul ‘Bunda, Ibu Tak Pernah Ada’ dan ‘Saat Malin Bertanya’. Pada kenyataannya di jaman sekarang, banyak hal yang serba memusingkan, dan cerita ibu seperti itu memang benar-benar terjadi.

Buku Kumcer ini bisa menjadi alternatif bacaan di saat santai. Terutama bagi para penulis cerpen yang butuh referensi bacaan cerpen, Kumcer “Braga Siang Itu” karya Triani Retno A. adalah pilihan tepat. Saya sebagai penulis yang masih belajar menulis cerpen merasa bertambah ilmu dan mendapat pencerahan untuk tetap berlatih dari buku ini.

Well, Triani Retno A. wrote : Ide memang ada di sekitar kita.”

Happy reading!  :)

Tandatangan Penulis

Tandatangan Penulis

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku utama di kotamu, bisa juga memesan langsung ke penulisnya di Facebook Triani Retno A. (plus tandatangan, lho!) atau di :

http://andipublisher.com/produk-1213004999-braga-siang-itu.html

http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=873487

Review Novel “Pre Wedding Rush”

Foto cover taken from goodreads.com

Foto cover taken from goodreads.com

  • Judul            : Pre Wedding Rush
  • Penulis         : Okke ‘Sepatu Merah’
  • Cetakan        : I, Desember 2013
  • Penerbit        : Stiletto Book, Yogyakarta.
  • Tebal            : 204 Halaman
  • Genre           : Romance Dewasa

Kesan pertama yang ada di benak saya saat membaca judul novel ini adalah persiapan pernikahan yang terburu-buru. Sampulnya didominasi warna merah dan merah muda, ilustrasi mirip batik dengan gambar perempuan bergaun pengantin putih diapit oleh dua orang laki-laki. Sebuah quote dari Dave Meurer di halaman pembuka tertera “A great marriage is not when ‘perfect couple’ comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy the differences.”

Bab pertama dibuka dengan suasana di sebuah toko kue kuno “Sumber Hidangan” (Snoephuis) di kawasan jalan Braga, Bandung. Tempat ini memberi kesan manis dan penuh kenangan. Penulis berhasil menyajikannya dengan menarik karena paduan lompatan-lompatan dialog yang dibangun pada tokoh utama, Menina Putri Amanda, dengan Lanang Andreadi Kusumo (mantan pacar Menina). Julukan ‘Femme Metale’ bagi Menina dan ‘Chaos Seeker’ bagi Lanang sangat mewakili karakter mereka.

Konflik di dalam novel ini cukup beragam. Selain dari tokoh utama, Menina dan Dewo (calon suami Menina), hal yang berhasil membuat saya penasaran untuk terus membaca bab berikutnya adalah petualangan Lanang bersama Menina, serta intrik yang terjadi antara Lanang dan Ayako. Shocking chapter juga hadir di salah satu bab berjudul “5.9”. Di bab ini, setiap adegannya lumayan menguras emosi pembaca. Bab lain juga menghadirkan obrolan Menina dan Agnes, sahabatnya, yang menjadi warna tersendiri dalam novel ini.

Saya menemukan tampilan font yang terlihat lebih kecil dibandingkan yang lainnya di halaman 90 dan 114. Namun hal itu tak mengurangi alur cerita. Bahasa yang digunakan ringan dan santai, alur ceritanya cukup nyaman untuk dipahami. Bagian yang paling saya sukai adalah suasana desa tempat Rumah Mitra Muda, semacam sanggar kreatif milik Sigit dan Ayako (teman Lanang), di Yogyakarta.

Sampai di akhir cerita, dugaan saya ternyata salah tentang laki-laki pilihan Menina. Siapakah yang Menina pilih? Lanang atau Dewo? Silakan simak sendiri ceritanya di novel ini.

Saya mengambil satu pemahaman dari cerita dalam novel ini, bahwa siapapun tak bisa lepas dari kenangan cinta masa lalu. Hidup harus berjalan ke depan dan berpikir bahwa kenyataan di depan lebih membutuhkan ketulusan hati yang luas agar bisa menerima dan memahami makna cinta dalam pernikahan.

Novel ini tersedia di toko buku utama di kotamu atau bisa dibeli di sini : http://www.stilettobook.com/index.php?page=buku&id=40
This book is recommended for you, pre wedding galauers! Happy reading! :)

Oh iya, kalau boleh saya memilih jenis sepatu untuk para tokoh dalam novel ini, pilihan saya adalah :

-        Menina    : Sneakers

-        Lanang    : Leather Boots

-        Dewo       : Pantofel

-        Agnes      : High heels

-        Sigit         : Kanvas shoes

-        Ayako      : Flat shoes

“Stereo Heart”

I don’t know what do I have to do with this feeling. Maybe, I have to tell what I really feel to him, but I don’t have enough courage to do it. What if he didn’t accept this feeling or he suddenly made a distance from me?

Karen tries to enjoy her favorite playlist on her mp3 player while her mind still thinking about Dennis, her classmate. He’s the one who makes Karen got insomnia lately.

Until one day, she had a chance to talk to Dennis.

“Have you done your Biology project, Dennis?”

“Not yet, I was wondering we could make the project together.” Dennis’ smile is really mesmerized Karen.

“Oh, really?” Karen’s heart is beating rapidly.

“Yeah! When will we start?” Dennis’s eyes smash up Karen’s heart into pieces.

“How about after school at my house ?” Karen said.

“Ok, then.”

After the class is over, they are chatting along the way to Karen’s house.

“Dennis, I know this is a silly thing to tell but I think I had the answer about my special feeling.”

“What is it?” Dennis pretends that he didn’t understand.

“It’s you.” Dennis takes her right hand, Karen suddenly blushing.

Their stereo hearts are playing.

Review novel “Marginalia-Catatan Cinta di Pinggir Hati”

Cover Novel "Marginalia" karya Dyah Rini

Cover Novel “Marginalia” karya Dyah Rini

  • Judul            : Marginalia-Catatan Cinta di Pinggir Hati
  • Penulis         : Dyah Rini
  • Penerbit        : Qanita/ PT.Mizan Pustaka, Bandung.
  • Cetakan        : I, Februari 2013.
  • Tebal            : 302 Halaman
  • Harga           : Rp49,000

Kata “Marginalia” dengan emboss berwarna pink metalic membuat saya penasaran. Apakah ini tentang bait-bait kenangan atau filosofi kehidupan perempuan? Desain sampul novel pemenang kedua lomba penulisan romance Qanita ini berwarna dasar krem dengan ilustrasi bentuk bangunan mirip rumah, awan-awan berwarna pink.

Penulis menyuguhkan kata pembuka yang catchy di bab pertama, dengan nama ‘Aruna’ berwarna pink di sisi margin kiri. Tulisan kata ‘Drupadi’ dengan warna yang sama juga saya temui di paragraf halaman lainnya. Ini memudahkan pembaca untuk mengetahui siapa yang sedang ‘berbicara’ di paragraf itu. Penggunaan dua sudut pandang cerita (sisi Aruna dan sisi Drupadi) menjadi hal yang menarik dari novel ini.

Konflik dan dialog yang atraktif juga menjadi hal yang membuat penasaran dan gemas untuk meneruskan membacanya halaman demi halaman. Masalah-masalah yang dihadirkan di setiap tokoh terasa nyata dan para tokoh pun benar-benar bernyawa serta berkarakter kuat.

Tokoh Inez dalam cerita di novel ini pun sukses membuat saya sebagai pembaca sebal. Inez adalah awal konflik yang dihadirkan di cerita novel ini. Tokoh laki-laki, Aruna, yang seorang rocker di grup band Lescar, dan Adnan, kekasih Drupadi, menggambarkan dua yang sangat berlawanan sifat dan karakter. Secara pribadi, saya naksir Adnan. Namun, Drupadi dihadapkan pada pilihan yang sulit dalam memilih pasangan hidupnya. Inez selalu menjadi akar dari kebingungan dan kemarahan Drupadi.

Nama Drupadi sepintas terdengar seperti nama-nama di dalam cerita sejarah. Penokohan juga sangat kekinian karena Drupadi diceritakan sebagai seorang wedding organizer di Luna Nueva. Penggambaran aktivitasnya sebagai wedding organizer sangat jelas dan nyata.

Setelah memahami kata “Marginalia” dari halaman satu ke halaman lainnya, ternyata ada dua makna. Marginalia sebagai nama sebuah kafe, dan marginalia sebagai penggalan tulisan yang ditorehkan Drupadi di lembaran puisi Rumi milik Padma, kekasih Aruna. Hal yang menarik juga hadir di halaman 64 di novel ini karena penggalan tulisan Drupadi dan Aruna ditampilkan dengan lay-out-nya yang berbeda. Konflik menegangkan dan hal-hal lucu terjadi antara Aruna dan Drupadi.

Secara keseluruhan, ide dan tema cerita menarik dan sangat dekat dengan dunia perempuan dewasa. Perjodohan, persahabatan, kebencian, percintaan dan perasaan yang rumit dikemas menarik dari awal cerita hingga bab terakhir.

Beberapa quote yang saya suka dari novel ini antara lain :

“Tidak ada yang romantis maupun ajaib tentang kehidupan” [Drupadi]

“Saat kita mencintai seseorang, kita tidak perlu mencintainya 100%. Cintailah dia 70% dan bangun sisanya setelah menikah.” [Ibu Drupadi]

“Kebencian membuatmu buta. Kebencian membuatmu melakukan hal yang tidak terbayangkan, memakanmu dari dalam tubuh, mengubah jiwamu menjadi monster.” [Drupadi]

“Cinta adalah permainan bagi pecundang. Cinta adalah untuk mereka yang terlalu takut menghadapi kejamnya dunia, kerasnya persaingan hingga mereka memutuskan untuk sembunyi saja dalam kepompong cinta dan menikmati dunia kecilnya.” [Drupadi]

Adegan yang paling saya sukai adalah saat Drupadi meninju wajah Aruna. Tebak, apa yang terjadi pada Drupadi dan Aruna?

Happy reading, friends!

“Tanda Penghargaan”

“Tanda Penghargaan”

I Have Mr.Smile

I Have Mr.Smile

Pernahkah sekali saja dalam seumur hidup kamu mendapatkan penghargaan? Saya pernah, entah berapa kali. Rasanya waktu itu bangga. Tapi kini, saya baru mengerti apa makna dari pemberian penghargaan itu.

Saya mendengar putri saya dengan wajah berbinar berkata, “Mama, kakak dapat penghargaan.” Lalu ia menunjukkan sebuah kertas berwarna bentuknya mirip matahari dengan wajah tersenyum. Hari berikutnya, putri saya mengatakan hal yang sama, namun bentuk tanda penghargaan yang berbeda. Sampai beberapa hari ia mengumpulkan tanda penghargaan itu dan menempelnya di tembok kamar.

Kemudian hadir raut dan nada kecewa dari putri saya saat gurunya tak lagi memberi tanda penghargaan yang lucu-lucu itu. Padahal putri saya cukup sering mampu menjawab banyak pertanyaan dari gurunya.

Sejenak saya memahami, mengapa putri saya ingin mendapatkan penghargaan lagi. Mungkin ia senang menjawab setiap pertanyaan guru saat belajar di kelas, atau karena bentuk tanda penghargaan yang dikemas lucu sehingga ia ingin mengoleksinya.

Semakin hari, penghargaan itu semakin membuat temannya ngiler, timbul perasaan tidak nyaman di hati putri saya. Temannya meminta dengan paksa salah satu tanda penghargaan itu. Putri saya dengan rela memberikannya pada satu waktu. Namun, di waktu yang lain, ia tidak mau memberikannya karena ia pikir tanda penghargaan itu adalah hasil usahanya sendiri. Temannya dengan cara lain tetap ingin memegang satu tanda bintang yang putri saya punya, dan berkata “pinjam ya…bintangnya?” Putri saya mengambil kembali tanda bintang itu dengan cara yang baik, namun temannya tak rela dan bereaksi dengan tangisan kecil.

Saya memberi pengertian pada putri saya bahwa ia tak boleh seperti temannya yang memaksakan kehendak apalagi ditambah menangis lebay. Ia mengerti maksud saya. Saya berharap, penanaman karakter diri bagi putri saya dari peristiwa itu bisa ia pegang hingga ia dewasa nanti.

Hal-hal seperti itu juga sepertinya dialami orang-orang dewasa yang haus akan pujian atau terdorong karena satu tujuan. Ada juga beberapa orang yang memperoleh penghargaan tanpa sengaja, dan malah mengembalikannya pada sang pemberi penghargaan karena dirinya merasa tak layak mendapatkan itu.

Apalah makna sebuah penghargaan jika tidak menjadikan diri kita lebih baik.

“Syaamil Note & Tabz for Smart Moslems”

Langit mendung dan rinai hujan menghiasi Bandung, 1 Maret 2014. Saya menghadiri acara peluncuran produk gadget inovasi terbaru, Syaamil Note dan Syaamil Tabz, di Landmark Convention Hall, jalan Braga No.129. Saya tertarik menghadiri acara ini, selain penasaran dengan kata ‘Syaamil’ karena pasti produk Note dan Tabz terbaru ini bernuansa Islami, juga karena hadiah buku senilai Rp200,000 untuk para blogger yang telah mendaftarkan diri via SMS.

Benar saja, ketika saya duduk dan menyimak obrolan pembuka dari Kang Wildan Taufik (MQ fm) sebagai pembawa acara “Teknologi Hebat, Ibadah & Dakwah Semangat” bersama Meyda Sefira, sebagai Brand Ambassador Syaamil Quran, yang juga seorang fotomodel dan aktris dalam film Ketika Cinta Bertasbih, Syaamil Tabz memiliki keunggulan dibandingkan dengan tablet-tablet lain yang beredar di pasaran.

Brosur Syaamil Note & Tabz

Brosur Syaamil Note & Tabz

Meyda mengungkapkan bahwa ia sebagai aktris yang lumayan sibuk dengan berbagai kegiatan, merasa sangat beruntung dengan adanya produk inovasi baru ini. Meyda bisa membaca Al Quran di mana pun karena semuanya telah ada di dalam Syaamil tabz. Selain itu, Meyda pun bisa membuka aplikasi-aplikasi lainnya, seperti e-books, karena ia senang membaca buku. Meskipun masih lajang, ia ingin tahu bagaimana isi buku anak-anak, yang tersedia di dalam Syaamil tabz agar bisa menjadi bekal untuknya nanti saat berinteraksi dengan anak-anak.

Bapak Indra Laksana, CEO Sygma Media Innovation, menjelaskan bagaimana inovasi produk Syaamil Note dan Syaamil Tabz ini bisa terwujud. Ia dengan bangga mengatakan bahwa produk smartphone note dan tablet dengan aplikasi Al Quran terlengkap buatan Syaamil ini adalah yang pertama di dunia. Kemunculan produk ini berawal dari cita-cita dan impian Sygma Media Innovation yang selalu ingin mengembangkan inovasi khususnya ajaran-ajaran Islam melalui kemudahan membaca Al Quran, serta menyerbarkan identitas muslim pada dunia luas.

Pak Indra dan tim Media Innovation pun telah mempelajari bahwa pengguna smartphone di dunia sejak lima tahun ke belakang hingga kini, terus meningkat. Kebutuhan orang-orang untuk selalu on line di internet semakin pesat, dan para pengguna tablet akan menjadi tren secara global dari tahun ke tahun. Seiring dengan tren tersebut, maka Syaamil Media Innovation membuat inovasi smartphone dan tablet dengan aplikasi lengkap. Aplikasi tersebut antara lain :
Quran Miracle Practice
Aplikasi Quran terlengkap berbahasa Indonesia dengan tafsir, hadits, khazanah pengetahuan, panduan tajwid, panduan mengamalkan ayat-ayat Al Quran. Aplikasi ini dilengkapi dengan audio murotal untuk hapalan harian yang dapat diulang-ulang.
Tafsir Ibnu Katsir 30 juz
Tafsir karya ulama besar Syaikh syafiyurrahman Al-Mubarakfuri senilai 1-1,5 juta rupiah dalam versi cetaknya sebanyak 30 juz.
Aplikasi Haji dan Umrah
Panduan lengkap bagi Anda dalam melaksanakan peribadatan haji dengan video tutorial haji dari Kementrian Agama RI.
E-Book “Pustaka Sains Populer Islami”
Berisi 10 jilid buku eksklusif full ilustrasi senilai lebih dari 2 juta rupiah dalam versi cetaknya.
Game A Ba Ta
Permainan menarik bagi anak-anak yang dilengkapi ilustrasi, suara, dan efek, sehingga belajar hijaiyah lebih mudah, cepat, dan terasa menyenangkan.
Bonus : Video Animasi
Video animasi anak dan lagu-lagu Islami yang menyenangkan untuk anak-anak.
Syaamil Quran Terjemahan per Kata
Aplikasi yang memudahkan Anda memahami makna Al Quran disertai penjelasan ayat Tematik, Asbabunnuzul, dll.
Ibadah Muslim Kosmopolitan
Panduan praktis bagi muslim yang hidup di perkotaan dalam menjalankan ibadah dengan konten berupa : Panduan Sholat, Panduan Bersuci, Doa-doa pilihan, dll.
My First Question and Answer
Aplikasi e-book yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan anak-anak Anda tentang lingkungan sekitar. Seluruhnya terdiri dari 12 buku tentang samudra, hutan hujan, luar angkasa, planet bumi, dll.
E-Book “It’s My World”
Aplikasi e-book yang berisi belasan jilid buku anak berbahasa Inggris dengan bahasan Islami agar anak mampu memahami dirinya dan lingkungan sekitar. Buku-buku tersebut senilai lebih dari 3 juta rupiah dalam versi cetaknya.
E-Book lainnya ;
 – Buku dewasa : Kisah hidup Rasulullah saw., Rahasia Kekayaan Tertinggi, Rahasia Pengobatan dengan Puasa, dll.
 – Buku Khusus Wanita & Parenting : Pesona Cinta Manusia-Manusia Pilihan, Special Guide for Woman, 25 Cara Memengaruhi Jiwa dan Akal Anak, dll.
 – Buku Remaja : Asmaul Husna for Teens, 10 Karakter Remaja Unggul, Novel Parodi, dll.
 – Buku Cerita Anak : Putri Kara, Kuku si Putra Raja, Hadiah Berbuat Jujur, Pensil Putri Salju, Puding yang Jujur, Super Doa, Super Islam, dll.

Syaamil Quran App

Syaamil Quran App

Tentu saja seluruh aplikasi yang ada di Syaamil Note dan Syaamil Tabz tersebut didukung oleh kecanggihan teknologi dengan spesifikasi sebagai berikut :

Gambar Syaamil Note (brosur)

Gambar Syaamil Note (brosur)

Syaamil Note
- Dual SIM GSM: 850/900/1800 Mhz
- 3G/WCDMA: 850/2100 MHz
- Android 4.2.2 Jelly Bean, Quad-Core 1.3Ghz
- 1GB RAM, 4 GB Storage, MicroSD External
- Primary Camera: 8 MP/ 3264 x 2448 pixel
- Secondary Camera: Display IPS QHD
- Ultra Clear Screen 5.5 inches
- Battery : 2000 mAh
- Free : Flip Cover & Screen Protector

Gambar Syaamil Tabz (brosur)

Gambar Syaamil Tabz (brosur)

Syaamil Tabz
- Network GSM/3G/EDGE/GPRS, Wifi 802.11 b/g/n, Bluetooth 4.0
- Android 4.1 Jelly Bean, Dual Core 1.2 GHz
- 512 MB RAM, Internal Memory 4 GB, Up to 32 GB External Memory
- Bonus External Memory 8 GB
- Front Digital Camera, 2 MP Back Camera
- Display IPS 7 inches 1024 x 600, Capasitive Touch Panel
- Battery : 3500 mAh
*Video & E-Mail available, BBM Ready

Di sesi tanya jawab tentang produk ini, salah seorang undangan yang hadir bertanya, “Sejauh mana proteksi terhadap aplikasi-aplikasi yang ada di dalam Syaamil Note dan Tabz ini? Mengingat banyak sekali pembajak konten di era canggih sekarang.”

Bapak Indra bertutur bahwa Sygma telah memiliki hak cipta yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum dan tim IT Sygma telah melakukan uji coba produk hingga Sygma yakin seluruh aplikasi dapat berfungsi dengan baik, aplikasi ini berbeda dari aplikasi-aplikasi Quran yang telah di Play Store, dan tidak akan mudah untuk ‘dicuri’ oleh pihak-pihak yang nakal.

Ibu Ary Indriani sebagai manajer Sygma National Sales menyampaikan bahwa ia telah menggunakan Syaamil Note yang dilengkapi track pen sebagai media untuk membantu memperlancar aktivitasnya sehari-hari. Anak-anaknya pun mencoba aplikasi game dan membaca e-book yang tersedia disana, sampai mereka mengatakan, “Ini bukan handphone biasa.” Semua aplikasi di dalam Syaamil Note maupun Syaamil Tabz telah lengkap untuk memenuhi kebutuhan para pengguna smartphone dan tablet, terutama bagi mereka yang muslim karena mereka tak akan pernah lepas dari Al Quran yang mereka bawa dan bisa kapan saja dibaca sehingga menjadi kebiasaan baik.

Ibu Ary juga menyampaikan kepada para calon pembeli bahwa tak perlu khawatir dengan harga dan cara pembelian. Syaamil Note seharga Rp3,275,000 dan Syaamil Tabz seharga Rp2,150,000, dengan pilihan warna putih dan hitam, bisa dibeli dengan cicilan 0% bagi pemilik kartu kredit BCA atau Mandiri. Pembelian cash juga bisa dilakukan di kantor-kantor cabang Syaamil yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Penawaran harga khusus juga ditawarkan selama pameran di stand Syaamil (1-5 Maret 2014) di Landmark-Braga.

Bapak Indra Laksana menambahkan, produk Syaamil Note dan Tabz ini diharapkan dapat menjadi wadah syiar Islam dan membawa kebaikan serta pahala bagi para penggunanya. Ucapan basmallah dari Pak Indra dan seluruh hadirin mengiringi peresmian peluncuran produk Syaamil Note & Tabz siang itu.

Secara pribadi, saya tertarik untuk segera memiliki salah satu produk Syaamil tadi karena smart moslem will choose Syaamil Quran Note & Tabz for their lifestyle.

“Dear, Stillo…”

Dear Stiletto Book,
Aku masih ingat saat pertama kali bertemu denganmu. Waktu itu tahun 2011 di sebuah mal di Bandung. Kamu sedang mengadakan acara peluncuran buku “A Cup of Tea for Single Mom”. Aku bersama teman-teman komunitas menulis hadir di sana sebagai undangan. Sekilas aku belum terlalu yakin apakah penerbit Stiletto Book adalah penerbit yang cocok untuk penerbitan buku perempuan karena yang ku tahu kala itu hanya logo sepatu berwarna merah. Ya, sepatu berhak tinggi memang sangat dekat dengan perempuan. Saat memakainya, si perempuan akan merasa lebih sexy.

Entah mengapa, aku tiba-tiba merasa bahwa naskahku akan berjodoh dengan kamu, Stillo. Beberapa naskah curahan hati tentang perjalanan menuju usia tiga puluh, termasuk puisi yang pernah aku posting di blog pribadi, akhirnya aku coba kirimkan ke email Stiletto Book.

Dua minggu kemudian, email-ku mendapatkan jawaban positif, dan kamu meminta aku mengirimkan hardcopy naskah. Betapa senangnya aku saat itu. Ya, hanya senang. Belum terbayang dalam benakku naskah setebal seratus halaman itu akan menjadi buku jenis apa, yang jelas naskah itu sangat ‘menyentil’ perasaan dan pikiran sang editor, Mbak Herlina Dewi.

Komunikasi dengan editor, mbak Herlina Dewi terus terjalin melalui email dan chat. Seluruh konsep buku dan editing dikomunikasikan dengan nyaman. Sampai pada saat yang lebih mengharukan lagi adalah saat aku mendapatkan email yang isinya calon cover buku. Aku sempat bingung memilih mana yang lebih oke. Akhirnya, pilihan jatuh pada cover bergambar gelas wine dengan kain satin merah menjuntai karena menurutku, juga editor, keduanya mewakili warna perempuan dan perayaan kedewasaan.

Tiba saat kabar pencetakan buku, ternyata ada sedikit mis-komunikasi dengan mbak Dewi. Aku sempat geram padamu Stillo karena hal itu mengakibatkan kurang baiknya tampilan isi dan kemasan buku. Namun, aku mendapatkan pengalaman berharga dari sana bahwa membuat buku tak semudah mengecat kuku. Semua langkah pembuatannya memerlukan kesabaran dan pada akhirnya menimbulkan mindset ‘jangan pernah puas dengan sebuah karya’. Bulan Desember 2011 menjadi momen tak terlupakan dalam hidupku karena “Amazing 30-Melewati Usia 30 dengan Senyuman” karya perdanaku diterbitkan untuk mewarnai hati sang editor yang ramah dan seluruh pembaca se-Indonesia khususnya perempuan.
Aku berharap di tahun-tahun mendatang Stiletto Book tetap bisa menyajikan dunia yang perempuan butuhkan dalam bentuk Fiksi dan Non Fiksi. Semoga distribusi buku ke toko-toko buku pun bisa lebih baik.

Sejauh ini, buku-buku yang sudah pernah aku baca terbitan Stiletto Book antara lain: Dunia Trisa (Eva Sri Rahayu), Black Angel (Indah Hanaco), Dear Friend with Love (Nurilla Iryani), Honeymoon Destination (Judith Hutapea), A Cup of Tea-Complicated Relationship, A Cup of Tea for Single Mom.

Terimakasih Stiletto Book, telah menjadi jodoh buku solo pertamaku “Amazing 30-Melewati Usia 30 dengan Senyuman”. Banyak cerita yang bisa ku ukir bersamamu, Stillo. Namun, tak semuanya dapat disaksikan dunia.
Semoga Stiletto Book menjadi penerbit buku perempuan yang semakin menawan.

With Love,
“The Amazing 30”
BetaKun Natapradja

“Kopi dan Kamu”

cappucino

Berkali-kali kamu melarangku minum kopi terlalu sering, dan itu malah membuatku semakin ketagihan. Aku hanya bisa tahan dua minggu saja tidak minum kopi. Aku kembali menikmati secangkir dan cangkir berikutnya setiap hari, lalu aku sadar bahwa aku kecanduan kopi.

Mungkin kopi seperti dirimu yang selalu membuatku selalu butuh kamu. Rasa-rasa ketika berada di dekatmu dan buaianmu itu yang membuatku nyaman hingga mampu menciptakan aura bahagia tak terkira. Dia menebarkan aroma yang begitu menggoda hati untuk tetap menyeduhnya lagi dan lagi. Sehari tanpa kopi itu seperti sehari tanpamu. Aku tidak bisa meninggalkan kopi, dan sangat tak bisa berpaling darimu.

Ketika air keruh kopi yang nikmat itu menjalar ke pencernaanku, dia membuat ketenangan jiwa dan kreativitas hadir luar biasa. Kamu selalu aku butuhkan agar aku bisa berjalan dengan nyaman selayaknya teman. Sebagian orang mungkin akan terjaga karena meminum kopi. Ya, akupun terjaga karena cintamu. Namun aku tetap akan mengantuk jika kamu butuh peluk karena kamu tak akan mengajakku masuk ke dalam mimpi buruk.

Ya, kopi itu kamu. Ijinkan aku untuk selalu menyeduhmu.

“Kedewasaan”

Apakah kita sudah dewasa? Mungkin secara kisaran usia, iya.
Kapan kita disebut dewasa? Mungkin saat usia sudah kepala dua atau mungkin saat usia belasan bisa saja menjadi dewasa secara mendadak karena keadaan yang memaksanya. Banyak orang menjadi dewasa karena masalah dan keadaan yang membuat dirinya lebih bisa menghadapi dan menjalani semuanya. Tak sedikit juga orang yang dihadapkan pada masalah namun tetap tak membuatnya dewasa.

So, dewasa itu menurut kamu tuh apa? Cara berpikir, sikap, perkataan, atau hanya angka di usia kita. Berapapun usia kita, jika kita telah mampu memilah mana yang menjadi tanggung jawab kita dan mana yang bukan, saya pikir itulah sebuah bentuk pendewasaan diri.

Saya pun mengalami bagaimana sulitnya menjadi dewasa. Kesulitan yang dihadapi adalah risiko yang saya ambil jika saya melakukan satu langkah karena menjadi seseorang yang dewasa dalam berpikir, bersikap, berujar, memerlukan keberanian dan kesabaran. Semakin kita ditempa dengan masalah rumit, semakin pula diri kita dituntut untuk menyelesaikannya dengan sepenuh hati.

Lingkungan yang kondusif mampu membuat seseorang yang tadinya selalu bergantung pada orang lain, kemudian mampu menjadi dewasa dalam bersikap dan berpikir. Pola pikir kita mengalami metamorfosis seperti halnya tubuh dan wajah kita. Perubahan itu akan berangsur dari dewasa ke tahap bijaksana. Ini sangat membutuhkan kelapangan hati dalam menjalaninya.

Saya mungkin belum bisa seratus persen bijaksana dalam menghadapi perjalanan hidup, tetapi minimal selalu ada saat untuk kita merenung dan menjadikan masalah yang menimpa kita sebagai ‘pengasah diri’ agar menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Hanya orang lain atau orang terdekat kita yang bisa menilai apakah kita dewasa atau tidak. Kini saya sedang mencoba untuk tidak menyalahkan orang lain jika saya melihat pribadi yang belum juga dewasa. Saya mencoba berpikir lagi, mungkin penyebabnya adalah pola asuh orangtua dan kebiasaan.

“Roti dan Kenangan Sore”

Hujan masih tertahan di antara gumpalan awan-awan yang sedari tadi nampak murung di langit sore. Sejenak aku menikmati keramaian lalu lintas sore sambil menunggu sang ibu penjual roti membuka beberapa kunci gembok gerobaknya dan mengeluarkan segala peralatannya.

Terasa sekali, tiga puluh menit waktu yang kunikmati dengan pemandangan lalu lintas dan lalu lalang orang-orang yang terburu-buru karena takut hujan akan segera menyerbu mereka. Sang ibu penjual roti masih sibuk dengan kardus besar berisi roti yang akan dibakar dan membereskan beberapa kaleng berisi kacang, coklat, selai, dan mentega. Selama sepuluh menit mungkin pikiran ini melayang ke masa lalu. Masa di mana diwarnai sore yang mirip dengan sore ini, di tempat ini, yang diiringi rintik hujan dengan warna langit yang lebih pekat dari langit sore ini. Kala itu aku dengan teliti memerhatikan kepewaian sang ibu penjual roti bakar, ibu yang berbeda dengan gerobak yang sama, memanggang tangkupan roti yang telah diolesi selai, coklat, dan mentega. Mama yang memesannya sesuai keinginanku. Kami telah menjadi pelanggan ibu itu sejak lama.

Aku masih ingat betapa nikmat setiap gigitan roti bakar itu, dan suasana di rumah begitu hangat karena Mama selalu memberi kehangatannya sepulang bekerja. Kini, sore ini, aku hanya pergi sendiri dan kenangan itu tiba-tiba menggelembung hingga hingga rinai hujan hadir di kedua ujung kelopak mataku seiring rintik hujan yang mulai menghiasi pemandangan sore, dan roti bakar pesananku telah dibungkus rapi.
Kenangan sore itu terulang dengan bayang-bayang Mama yang seolah berada di sana. Tetapi itu dulu… ya, dulu. Sekarang, hanya ada rintik-rintik yang semakin ramai jatuh ke bumi, langit semakin gulita, dan senyum ramah sang ibu penjual roti bakar. Hatiku seketika membiru, sendu. Aku mungkin dilanda rindu yang terkuak oleh aroma roti bakar, hujan, dan sore.

Roti bakar yang nikmat seperti rasa rindu yang pekat.
Kenangan yang mengalun kian sendu dan pilu.
Sore yang tergenang hujan mengusik kehangatan penuh kesan.