“Review Novel Teenlit – Love Puzzle”

Standard
Cover Novel "Love Puzzle"

Cover Novel “Love Puzzle”

 

Judul               : “Love Puzzle”

Penulis            : Eva Sri Rahayu

Penerbit          : Teen@Noura (Noura Books), Jakarta.

Cetakan          : I, November 2013.

Tebal               : 286 halaman

Genre              : Remaja

Harga              : Rp 49,000

 

Judul novel remaja ini membuat calon pembaca menebak-nebak, apakah ini ada hubungannya dengan puzzle yang biasa dimainkan anak atau orang dewasa di dunia nyata? Warna cover yang soft dan ilustrasi kamera instan dengan balon warna warni yang terikat di kamera serta gambar tiga orang di dalam foto, cukup menarik minat pembaca. Setiap bab dibatasi art paper bernuansa penggalan puzzle sesuai bahasan cerita babnya.

Cinta memang tema yang paling disukai dan tetap menjadi favorit beberapa pembaca. “Love Puzzle” seolah ini menjanjikan hal-hal manis di dalam ceritanya. Tebakan saya tidak salah. Bab demi bab saya nikmati dan membuat rasa penasaran oleh teka-teki yang ditampilkan sejak bab awal. Prolog cukup memancing bayangan cerita yang akan tersaji di Puzzle 1.

Selain tentang percintaan, novel ini juga menghadirkan tema keluarga, persahabatan, masalah-masalah remaja SMA hingga menjelang kuliah. Tokoh utama perempuan bernama Rasi, dan tokoh laki-laki kembar yang menjadi pokok permasalahan adalah Raja Alexander Agusta dan Iskandar. Konflik keluarga tokoh kembar sangat kental. Sayang sekali, latar belakang keluarga Rasi tidak terlalu dimunculkan.

Setiap bab di novel ini menyajikan konflik yang beragam. Konflik batin tokoh-tokohnya pun begitu terasa dalam. Narasi dan dialog yang ada mampu membuat saya sebagai pembaca hanyut dalam cerita. Namun ada beberapa adegan yang menurut saya kurang logis. Entah karena ada unsur magis dan misteri tentang si tokoh yang telah meninggal atau karena pengalaman saya sebagai pembaca novel yang memang tidak terlalu menyukai hal-hal gaib.

Kalimat favorit saya dalam cerita ini, saat Rasi berusaha menyadarkan tokoh perempuan yang menjadi sahabat barunya, bernama Ayara (pacar Iskandar), Please, Aya. Berhenti hidup dalam kebohongan. Jangan terus hidup di masa lalu!” Adegan yang paling saya sukai adalah saat Rasi membakar kartu identitas Iskandar yang dimiliki Alexander di hadapan Ayara.

Menurut saya, konflik yang paling tajam ada di Puzzle 14. Di bab ini, teka-teki dan misteri yang saya baca bab demi bab mulai terkuak hingga saya ingin terus melanjutkannya ke bab selanjutnya. Penulis cukup berhasil menggunakan alur mundur sebagai penyajian yang mengundang rasa penasaran pembaca. Jika ingin tahu “gambaran utuh” dari puzzle yang teracak di setiap bab di dalam novel ini, silakan baca novel ini, temans. Epilog yang ada di akhir cerita menjadi penutup yang cantik untuk menggambarkan apa yang terjadi dengan Raja Alexander Agusta dan Rasi setelah puzzle-puzzle cerita tersusun sedemikian rupa.

Novel “Love Puzzle” ini layak menjadi pilihan pembaca, khususnya remaja, yang menyukai cerita cinta dramatis, penuh hal-hal magis, perjalanan hidup yang tragis, namun tak lepas dari sentuhan-sentuhan manis.

Terimakasih kepada Eva Sri Rahayu, sang penulis novel ini yang telah membubuhkan tulisan di halaman depan untuk saya, “Selamat bertualang di dunia Raja dan Rasi. Semoga suka.” Saya sudah bertualang dalam ceritanya, dan Yup! Saya suka novel ini. It’s recommended! :)

“Tiga Puluh Empat”

Standard
captured by Fujifilm Finepix

captured by Fujifilm Finepix

Rasanya baru kemarin saya menulis tentang perubahan diri menuju gerbang usia tiga puluh. Kini, saya tulis sebuah catatan memaknai usia yang sebenarnya berkurang satu tahun. Memasuki usia yang tak muda lagi semakin menyadarkan saya bahwa hidup itu sangat singkat. Merugilah kita jika tidak mampu memanfaatkannya dengan hal-hal yang baik.

Namun dalam perjalanannya, hal-hal baik selalu diiringi hal buruk. Baik itu perangai diri kita yang berubah-ubah, amarah dan tangis pun turut mewarnainya. Banyak hal tak mampu terucap lalu tangis tumpah ruah dengan segala keluh kesah dalam hati. Ujian selalu menghampiri karena itu adalah satu hal yang tak dapat dipungkiri sebagai makhluk Allah. Bukankah ujian diberikan agar diri kita menjadi pribadi yang berusaha lebih baik dan memahami hikmah apa yang ada di baliknya.

Saya merasa sangat berat menjalani usia ini. Tiga puluh empat bukan waktu yang sebentar untuk memahami persoalan hidup tetapi angka ini terasa sangat singkat karena saya terlalu terlena dengan kesenangan. Ada saat di mana saya harus didera rasa cemas dan gundah, di saat lain saya merasa tenang dan bahagia. Itulah ritme hidup yang dinamis.

Jika saya terlalu bergelut dengan kesedihan maka saya tak akan mampu menengadahkan kepala untuk berhenti meratap. Saya butuh curhat pada sahabat terlebih pada sang Maha Pencipta, Allah SWT. Saya tak akan mampu menghadapi semua persoalan tanpa berdoa dan membaca petunjuk dari-Nya.

Dari sekian banyak ayat-ayat suci Al Qur’an yang selalu saya baca, semakin hari semakin memahami bahwa makna surat Al Baqarah ayat 155-156, membuat saya selalu berusaha untuk kuat dan tetap beriman.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,”

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah berkata ‘inna lillahi wa inna illaihi raji’un (sesungguhnya kami ini milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali).”

Hal lain yang mampu membuatkan saya merasa lebih lapang hati adalah pemberian maaf, seperti firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 263 :

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan menyakiti. Allah Maha Kaya dan Maha Penyantun.”

Setiap ujian yang diberikan pada saya telah menjadi takdir Allah SWT. Namun usaha, doa dan kesabaran yang semakin terasah adalah jalan dan pilihan bagi takdir yang saya jalani.

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.” [QS. Al Hadid, ayat 22).

Usia adalah masa di mana kita hidup di dunia. Tiga puluh empat tahun menjadi masa di mana saya banyak sekali mendapatkan berkah dan kebahagiaan dalamhidup. Kenikmatan beribadah, anugerah cinta dan kasih sayang dari orang-orang terdekat, musibah yang memberi hikmah, serta ujian-ujian lain yang membuat dinding hati semakin kokoh. Tanpa kesabaran dan ketaqwaan, keberkahan itu tak akan hadir di kehidupan saya. Sesungguhnya Allah SWT selalu beserta orang-orang yang sabar. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan iman dan keberkahan atas apa yang telah kita tempuh.

Laa haula wala kuwwata illa billaah…

“Kisah Skotel Makaroni Keju”

Standard
foto from : kitchendeasobou.blogspot.com

foto from : kitchendeasobou.blogspot.com

 

Aku masih ingat jelas bagaimana almarhum Mama dulu meracik bahan-bahan untuk membuat skotel makaroni keju. Melihat caranya membuat camilan ini sepertinya mudah. Namun, saat aku mencoba mempraktekkan sendiri, dua kali gagal. Aku sempat menyerah dan meminta Mama yang membuatkannya untukku.

Kini, aku membuatnya untuk putriku sebagai camilan berbuka puasa. Ia menikmati skotel itu dengan raut bahagia dan bilang, “Mama, ini enak banget! Nanti bikin lagi ya, Ma?” Seketika aku mengingat wajah Mama dan ingin rasanya aku berteriak, “Ma, aku berhasil membuat skotel makaroni keju!”

Kedua kelopak mataku sempat disinggahi genangan kecil dan aku tersenyum senang karena apa yang pernah Mamaku berikan ternyata bisa dinikmati oleh putriku. Hal-hal lain pun berlaku sama seperti memilih baju, menyukai seni, membuat kerajinan kreatif, mencoba berekperimen dengan hal baru. Semua aku tularkan pada putriku disengaja atau tidak.

Ya, pelajaran yang pernah diberikan Mama senikmat skotel makaroni keju buatannya. Walau beberapa kali mencoba membuatnya dan sempat menyerah, namun hingga waktunya tiba, ia menjelma menjadi sesuatu yang layak disebut enak. Seperti hidup yang aku jalani. Tentu akan berakhir dengan kenikmatan jika setiap tahapannya dengan berani kita lakukan.

Kisah skotel makaroni keju hanya sebentuk kasih sayang yang tak  terlupakan. Ada banyak kisah dari Mama yang tak terkatakan. Mungkin suatu hari akan tertoreh di dalam sebentuk lembaran kenangan-kenangan yang mengesankan dan bukan sekadar pajangan.

“Surat untuk Nenek”

Standard

Nenek & MamaHari kelima nenek meninggalkan kami, semakin jelas terlihat wajahmu saat mataku terpejam dalam doa di setiap shalatku. Ada banyak hal yang ingin kutulis untuk nenek di sini.

Aku telah mendapat firasat kabar nenek akan pulang ke rumah setelah sekian lama sakit. Aku sempat khawatir terjadi apa-apa dengan nenek di perjalanan. Sampai kabar itu tiba di telingaku, nenek berpulang ke pangkuan-Nya.

Deburan tangis di hati sangat deras, mirip seperti saat kehilangan Mama karena bagiku, nenek adalah ibu kedua setelah Mama. Memori bersama nenek berputar otomatis dalam benak seperti putaran pita kaset lama yang masih bisa didengar dengan baik.

Nenek adalah sosok yang supel, sosialis, disiplin, dan penyayang. Berkali-kali aku dicandainya tentang kapan punya anak kedua, berbincang tentang masalah keluarga, bercanda dengan cicit, dan banyak hal lain yang selalu bisa dibahas bersama nenek. Goresan penamu di buku tabungan cicitmu menjadi sebuah makna terdalam bahwa pengabdian dan ketulusan diiringi kedisiplinan selalu berbuah kebahagiaan.

Nek, aku akan ingat apa yang nenek pernah sampaikan dan contohkan tentang kedisiplinan, kasih sayang, rasa peduli dengan sesama, berperan dalam lingkungan sosial, dan ketulusan dalam menjalani hidup. Mungkin nenek telah banyak menelan pengalaman dalam hidup dan sama-sama keras kemauan dan mandiri seperti Mama. Aku mulai memahami itu satu per satu.

Nenek benar, ada saat di mana kita harus kuat dan tegar dalam menghadapi ujian hidup. Aku mulai mengerti itu. Apalagi setelah nenek “pulang”, tak ada lagi tempat curhat kecuali pada Allah SWT dan suami.

Aku masih ingat bagaimana genggaman hangat tanganmu saat terbaring sakit. Aku yakin hatimu lebih hangat dari itu dan orang-orang yang pernah mengenalmu pun akan mengenang kehangatan sikapmu. Walau terkadang nada bicaramu terkesan galak tetapi itu tidak memudarkan kesan dari dalam jiwamu.

Aku bersyukur telah mengenalmu sebagai seorang ibu yang sangat tegar dan tulus. Aku yakin anak-anak, cucu, dan cicitmu akan memiliki karakter yang tegar sepertimu. Nek, terimakasih atas cintamu dan doa untuk cucu-cucu, dan cicitmu. Kini dan nanti, figur nenek akan tetap melekat dalam benakku.

Selamat beristirahat dengan tenang di sana, Nek. Kami selalu mendoakanmu. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat yang paling mulia. Amin…

 

*Mengenang Nenek Ietje Roosally Syah binti Mohammad Syah ( 4 April 1935  –  12 Juni 2014 )*

“Mimpimu Adalah Bayanganmu”

Standard

#1 MimpiPernahkah kamu bermimpi tentang hal-hal yang sangat kamu inginkan? Saya pernah. Beberapa hal mungkin tak akan tercapai dalam waktu dekat tetapi terkadang keajaiban dan campur tangan Tuhan menjadikannya nyata.

Mengidamkan sesuatu semasa hidup adalah cita-cita setiap insan. Kita memang tak pernah tahu kapan itu akan terwujud tetapi sudahkah kita merencanakan jalan menuju ke sana? Jika hanya bermimpi dan mencita-citakan saja tanpa ada gerakan melangkah ke arah mimpi kita, bagaimana mungkin cita-cita itu menjadi real.

Perjalanan dalam menggapai mimpi pasti menemui kerikil dan jalanan mulus. Kita harus berani dengan risiko yang harus ditempuh demi terwujudnya keinginan-keinginan kita. Keinginan kuat dan disiplin tinggi harus menjadi pegangan kita dalam perjalanan itu. Tanpa itu dan doa yang menguatkan hati kita, berkatalah “selamat tinggal” pada keinginan.

Setiap keinginan pasti ada perjuangan. Setiap usaha pasti ada hasil. Kesabaran akan menjadi sebuah pemahaman akhir dalam menjalani setiap langkah kita. Allah SWT akan menguji setiap makhluk-Nya dengan segala yang ada dalam keinginannya agar mereka memahami makna kesabaran. Setiap pribadi yang sabar akan menerima kebahagiaan dan keberkahan.

Pernahkah kamu berdiri dan melihat bayanganmu sendiri? Pernahkah kamu memimpikan sesuatu dan melihat bayangan mimpi itu hadir di pelupuk mata di keseharianmu? Mimpimu sesungguhnya berada dalam bayanganmu sendiri. Kamu akan membawanya kemanapun kamu pergi dan hanya akan sirna jika bayangan itu telah ditelan cahaya. Kejarlah bayangan mimpimu hingga ke arah cahaya yang terang walau cahaya itu akan menyilaukanmu. Never give up on your dreams.

“Close Your Eyes” by Michael Buble

Standard

Michael Buble 2

 

Lagu ini sedang saya dengar berulang kali. Saya merasakan makna cinta dari lagu ini. Ya, lagi-lagi hal-hal sewangi cinta tak pernah lepas dari keseharian kita. Berikut ini lirik lagunya.

Close your eyes, let me tell you all the reasons why

Think you’re one of a kind Here’s to you, the one that always pulls us through

Always do what you gotta do You’re one of a kind, thank God you’re mine.

You’re an angel dressed in armor

You’re the fair in every fight

You’re my life and my safe harbor

Where the sun sets every night

And if my love is blind, I don’t want to see the light.

It’s your beauty that betrays you, your smile gives you away. Cause you’re made of strength and mercy

And my soul is yours to save I know this much is true

When my world was dark and blue I know the only one who rescued me was you

When your love pours down on me I know I’m finally free so I tell you gratefully

Every single beat in my heart is yours to keep

So close your eyes, let me tell you all the reasons why babe You’re never going to have to cry baby

Because you’re one of a kind Yeah, here’s to you You’re the one that always pulls us through

You always do what you got to do babe

‘Cause you’re one of a kind. You’re the reason why I’m breathing with a little look my way.

You’re the reason that I’m feeling It’s finally safe to stay!

Kalimat yang paling saya suka dari lirik lagu ini adalah “You’re the reason why I’m breathing.” Mungkin sebagian orang kalimat itu terdengar gombal. Namun, jika kita telah menemukan belahan jiwa yang akan menemani kita selama hidup, kita akan memiliki alasan mengapa kita bernapas hari ini dan berharap esok masih bernapas hanya karena dia. Selalu ada alasan bagi kita untuk hidup bersama seseorang yang kita cintai. Tak hanya pasangan hidup yang membuat kita bertahan dan menghirup udara segar, tetapi orang-orang yang memiliki arti dalam setiap langkah hidup kita. Kekuatan cinta mengalahkan segalanya.

Tutuplah matamu dan dengarkan semua alasan mengapa dia bersamamu hingga kini. Berbahagialah jika kamu adalah satu dari sejuta orang yang dipilih untuk mendekap setiap detak jantungnya di dalam hatimu. Pahamilah jika cintanya buta, karena itu dia tak ingin melihat cahaya. Dia hanya ingin bersamamu.

Review Kumcer “Braga Siang Itu”

Standard
Cover "Braga Siang Itu" sumber : andipublisher.com

Cover “Braga Siang Itu”
sumber : andipublisher.com

  • Judul           : Braga Siang Itu
  • Penulis         : Triani Retno A.
  • Cetakan       : I, 2013
  • Penerbit       : Sheila Fiksi (imprint Penerbit ANDI), Yogyakarta.
  • Tebal           : 140 Halaman
  • Harga           : Rp29,000
  • Kategori       : Fiksi (Kumpulan Cerpen)
  • Genre          : Dewasa

Cover buku Kumcer ini sangat Braga. Terlihat dari foto dua pasang kaki bersepatu wanita dan pria yang sedang menjejakkan kaki di trotoar jalan Braga, Bandung. Judul Kumcer ini diambil dari salah satu judul cerpen yang ada di dalamnya.

Cerpen “Braga Siang Itu” di halaman 14, menyuguhkan kenangan pasangan kekasih bernama Fei dan Ben serta peristiwa kerusuhan Mei 1998. Mereka memiliki kenangan di jalan Braga hingga akhirnya kenangan itu retak bersama waktu yang bergulir. Saya suka dengan cerpen ini karena sangat bermakna yang menggugah pikiran saya sebagai wanita. Penggalan dialognya seperti ini : “Kamu tahu, Fei, di balik kesuksesan seorang laki-laki, selalu ada perempuan hebat. Begitu juga di belakang kehancuran seorang laki-laki. Perempuanlah yang memainkan peranan di balik kesuksesan dan kehancuran itu.”

Di dalam Kumcer ini terdapat 15 cerpen apik yang pernah dimuat di berbagai media cetak dengan tema bahasan yang dekat dengan dunia wanita. Hal-hal yang kita temui sehari-hari dikemas dengan sudut pandang penulis sehingga memberi kesan kritis, menyentuh, tegas, namun indah. Sebagian besar ide dari cerpen-cerpen tersebut adalah masalah-masalah sosial.

15 cerpen tersebut adalah :

  1. Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada (Dimuat di harian Tribun Jabar, 12 Oktober 2008)
  2. Braga Siang Itu (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Maret 2012)
  3. Sansevieria (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 Maret 2009)
  4. Saat Malin Bertanya
  5. Sarapan
  6. Undangan
  7. Suara
  8. Ceu Kokom (Dimuat di majalah Sekar Edisi 49/11, 26 Jan-Feb 2011)
  9. Bunda Tak Tersenyum (Dimuat di majalah Kartika No.78/Februari 2010)
  10. 10. Surat Untuk Presiden
  11. 11. Merajut Hari
  12. 12. Hati yang Tak Kunjung Damai
  13. 13. Gunting
  14. 14. Gigi (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Januari 2009)
  15. 15. Hujan (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 September 2009)

Namun ada hal yang mengurangi kenyamanan saya sebagai pembaca. Tulisan di beberapa halaman di dalamnya tidak tercetak jelas (berbayang), warna tintanya memudar, di  halaman 48 terlihat mirip tinta fotokopi yang tercecer, dan lembar lainnya tampilan lay-out-nya agak miring. Ukuran font pas dan nyaman dibaca secara keseluruhan. Font lain, mirip tulisan huruf sambung, ditampilkan di cerpen berjudul ‘Surat untuk Presiden’. Di cerpen ini, penulis seolah menyuarakan sebagian dari masalah dari negeri kita ini.

Kalau boleh menandai tanda bintang di setiap cerpennya, saya akan menandai lima bintang untuk cerpen berjudul ‘Braga Siang Itu’, ‘Saat Malin Bertanya’, ‘Sanseviera’, dan ‘Hujan’. Cerita yang sesuai dengan suasana kampanye Pemilu yang sebentar lagi akan digelar di Indonesia, terwakili oleh cerpen berjudul ‘Suara’ yang menampilkan tokoh seorang caleg gagal. Tak sedikit materi yang ia gunakan hingga terpaksa berutang pada beberapa orang, dan berujung pada gangguan psikis. Ia depresi dan harus menetap di klinik psikiatri dan rehabilitasi. Cerpen ini sungguh menggelitik ingatan saya tentang banyaknya orang-orang yang memaksakan diri untuk nyaleg dan wara-wiri di pemberitaan televisi.

Keseluruhan tema cerpen yang ada di Kumcer ini sangat inspiratif dan menyadarkan bahwa hal-hal yang melintas di depan kita setiap hari adalah inspirasi dan pembelajaran kehidupan. Bahkan cerita seorang ibu yang menuntut materi dari sang anak tergambar di cerpen berjudul ‘Bunda, Ibu Tak Pernah Ada’ dan ‘Saat Malin Bertanya’. Pada kenyataannya di jaman sekarang, banyak hal yang serba memusingkan, dan cerita ibu seperti itu memang benar-benar terjadi.

Buku Kumcer ini bisa menjadi alternatif bacaan di saat santai. Terutama bagi para penulis cerpen yang butuh referensi bacaan cerpen, Kumcer “Braga Siang Itu” karya Triani Retno A. adalah pilihan tepat. Saya sebagai penulis yang masih belajar menulis cerpen merasa bertambah ilmu dan mendapat pencerahan untuk tetap berlatih dari buku ini.

Well, Triani Retno A. wrote : Ide memang ada di sekitar kita.”

Happy reading!  :)

Tandatangan Penulis

Tandatangan Penulis

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku utama di kotamu, bisa juga memesan langsung ke penulisnya di Facebook Triani Retno A. (plus tandatangan, lho!) atau di :

http://andipublisher.com/produk-1213004999-braga-siang-itu.html

http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=873487