“Nyanyian Hujan” (Cerpen Perdana dimuat di majalah Femina edisi 32/XLII/15-21 Agustus 2015)

Ilustrasi cerpen

Ilustrasi cerpen “Nyanyian Hujan”

Akhir bulan Juli lalu saya mendapatkan dua miscalled di ponsel. Kodenya wilayah Jakarta. Saya cuek saja, nggak menelepon balik. Paling marketing asuransi atau promosi TV berlangganan, pikir saya.

Sejam kemudian, saya membuka email. Ternyata ada surat cinta dari editor di sana. Dua miscalled tadi dari kantor redaksi majalah Femina rupanya. Esoknya, saya menelepon editor Femina dan mengonfirmasi Cerpen saya. Saat itu saya pikir cerpen yang akan dimuat adalah naskah yang saya kirim bulan Maret 2015.

Mbak editor bilang, email tahun 2014. Setelah saya cek di sent email, ternyata naskah di bulan November 2014. Udah agak lupa. Namun lupa berbuah bahagia. Mbak editor juga menyampaikan bahwa editan hanya sedikit. Syukurlah, padahal saya udah lumayan dag-dig-dug, takut banyak kalimat yang salah ketik.

Awalnya naskah cerpen “Nyanyian Hujan” ini pengembangan dari cerpen yang dulu saya tulis tahun 2010 tetapi versi remaja. Cerpen yang sempat dieksekusi oleh penulis dan editor berpengalaman, mbak Triani Retno. Setelah saya baca lagi cerpen itu, ternyata memang buruk sekali tulisan saya.

Saya terus berlatih, entah ini yang ke berapa kali. Semangat menulis naik turun seperti melalui jalur roller coaster. Lalu memberanikan diri mengirimkan ke majalah Femina. Tentu saja saya membaca terlebih dulu persyaratan naskah cerpen majalah tersebut. Sebelum naskah cerpen, saya sempat mengirim naskah untuk rubrik ‘Gado-gado’ Femina bulan Maret lalu. Alhamdulillah, kemarin sore mendapat kabar dari mbak editor Femina lagi. Semoga segera hadir di majalah edisi mendatang. Judulnya masih rahasia.

Ide cerita cerpen “Nyanyian Hujan” ini hanya secuil saya ambil dari pengalaman pribadi. Tebak saja yang mana. Kemudian, saya kembangkan dengan beberapa polesan. Terutama di bagian bahasa daerah Cirebon. Menurut saya, setiap bahasa memiliki ciri khasnya sendiri. Redaksi Femina sepertinya menyukai cerpen yang bermuatan nilai-nilai lokal daerah di Indonesia dan tentu saja masalah-masalah yang sering dihadapi wanita dewasa. Bumbu kisah cinta tetap menjadi pemanis isi cerita.

Saya juga melakukan riset kecil pada beberapa teman di dunia kepenulisan, suami, dan first reader yang sangat membantu saya untuk melakukan perbaikan di naskah. Alhasil, saya belajar lebih mendalam bagaimana sebuah cerpen bisa hidup di benak pembaca. Semoga pembaca mendapatkan pesan yang saya siratkan di sana. Seperti kata Dewi ‘Dee’ Lestari di blog-nya, “Tidak penting apakah pembaca menyukai tulisan saya atau tidak. Yang penting adalah bagaimana pesan saya sebagai penulis sampai di benak pembaca.”

Setelah cerpen ini dimuat, putri saya senang melihat ilustrasinya. Terimakasih untuk mbak illustrator. Gambar seorang perempuan dengan sepatu kanvas merah, itu gue banget! Putri saya memeluk saya sambil tersenyum lebar dan berkata, “Mama, selamat, ya… Mama sudah sukses dua kali. Pertama, buku “Amazing 30“. Yang kedua, cerpen di majalah Femina.”

Ternyata putriku yang kelas 5 SD itu mengerti apa arti kata ‘sukses’. Saya hanya tersenyum geli. Dia juga bertanya terus, “Mama, cerpen anak yang kakak baca waktu itu udah dikirim belum? Cepetan kirim!”

Alhamdulillah, pertanyaan putriku itu menjadi alarm pengingat target saya berikutnya.

Tunggu karya-karya saya berikutnya, ya, temans. Bukan tidak mungkin dari cerpen ini bisa jadi sebuah novel. Entah kapan itu terwujud. Draft ide sedang dalam proses di folder laptop.

Semoga semangat berkreatifitas selalu bersama kita.  ;)

Cover Femina edisi 32 : Anindya Kusuma Putri (Putri Indonesia 2015)

Cover Femina edisi 32 : Anindya Kusuma Putri (Putri Indonesia 2015)

Ini dia, cerpen “Nyanyian Hujan” versi asli sebelum diedit oleh editor.

Aku terpana pada sesosok lelaki jangkung bermata teduh, Keansantang. Usianya dua belas tahun lebih tua dariku. Pak Tama, kolega Mama, mengenalkannya padaku. Beliau sepertinya sedang berusaha menjodohkanku. Yang terbersit di hatiku saat berjabat tangan tangan dengan Kean hanyalah, “Sepertinya laki-laki ini orang baik.” Raut Kean seolah memancarkan sesuatu yang aku rindukan.

***

Udara siang yang menyengat di dusun Kreyo, Palimanan, seakan tersamarkan oleh sambutan hangat, mbok Siti, ibunda Kean. Ia terlihat bersahaja dengan balutan kebaya cokelat dan kain batik bermotif bunga. Sebuah aliran air sungai yang jernih terpancar dari matanya seolah berkata, “selamat datang di keluarga kami”. Itu membuat hatiku sejuk. Ditambah lagi deretan pohon mangga cengkir yang lebat, pisang dan kelapa di sekitar halaman membuat suasana asri. Tak seperti suasana rumahku yang selalu panas oleh pertengkaran Mama dan ayah tiriku serta polah adik tiriku, Beni, yang semakin lama semakin menjadi.

Priye mbok?” bisik Kean pada ibunya sambil melirik padaku.

“Ibu setuju saja siapapun wanita pilihanmu, Kean.” Jawab mbok Siti dalam bahasa Cirebon. Tak pernah sekalipun orangtua Kean turut campur dalam kehidupan ketujuh anaknya. Hal itu yang membuat mereka menjadi pribadi yang percaya diri menjalani hidup.

Cara Kean bertutur dan tawanya yang lepas berhasil menyejukkan jiwaku. Aku hampir lupa dengan tawa. Entah kapan terakhir kali tertawa.

“Kamu tahu rumba?” Kean mulai mempromosikan menu spesial di rumahnya.

Rumba?” Keningku berkerut. Bagiku, kata itu terdengar seperti nama alat musik tradisional.

“Masakan mbok yang enak banget.”

“Kok namanya lucu.”

“Kadang masakan mbok tuh, nggak ada namanya tapi rasanya luar biasa. Rumba tuh terbuat dari daun singkong, kangkung, atau pisang klutuk muda. Semuanya pakai kelapa parut. Meski pakai kelapa, kalau mbok yang masak, nggak akan basi.” Jelas Kean.

“Kok bisa?” Aku tersenyum kagum, betapa mbok pintar memasak. Tiba-tiba, nasihat Mama mengiang di telingaku, “anak perempuan tuh, harus bisa memasak. Apalagi gadis Minang, bisa memasak rendang, itu satu prestasi membanggakan.” Mama dibesarkan oleh orangtua yang juga pintar memasak. Rendang buatannya paling empuk sedunia.

Selama ini, aku hanya seorang penikmat masakan Mama. Aku malu pada Mama yang tetap sempat memasak walau aktivitas di kantor eight to five. Saat hari libur tiba, aku lebih memilih bermalas-malasan atau hanya berbenah kamar tidur.

Kean meneguk segelas air di hadapannya hingga tandas lalu ia pergi ke dapur dan bertanya, “Masak rumba ta, mbok?”

 “Iya, nanti bikin. Masak telur pindang dulu,” jawab mbok. Sesekali ia diganggu cucunya, Fajri, meminta ini dan itu.

            Menurutku selalu ada semacam magic spell di setiap masakan seorang ibu. Selain bumbu rahasia, cinta dan ketulusan adalah dua hal utama yang mampu menghipnotis lidah.

            Aroma masakan memenuhi semua sudut rumah dan menggoda hidungku. Terbit keinginan untuk bertanya tentang resep rahasia masakan mbok, namun urung. Aku bukan tipe orang yang mudah mendekati orang baru kecuali pada Kean.

***

Mentari senja beranjak pulang. Aku dan Kean pergi ke tajug selepas azan ashar. Salat berjamaah sudah menjadi kebiasaan keluarga ini dan Kean menjadi imam. Mbok telah lebih dulu berada di sana, Fajri turut bersamanya.

Hatiku menciut dan kaku. Betapa aku merasa iri pada Kean. Mama tak pernah mengajarkanku bagaimana memperoleh ketentraman hati seperti yang Kean dan ibunya lakukan di tajug ini. Yang aku mengerti hanya bagaimana senyum Mama tetap mengembang di balik wajah lelahnya sepulang bekerja. Mungkin setiap ibu di dunia memberikan makna ketenteraman yang berbeda pada anak-anaknya.

Seusai salat, aku meraih tangan kanan mbok dan mengecupnya, setelah Kean melakukannya lebih dulu. Mbok mengangguk diiringi senyuman teduhnya padaku. Seketika itu, aku merasa diriku akan menjadi bagian dari keluarga Kean. Walau aku masih belum yakin apakah aku bisa menempatkan Kean di ruang hatiku setelah Teguh.

Untuk pertama kalinya, aku mencium punggung tangan kanan Kean. Entah untuk apa aku melakukannya. Desiran di dada ini begitu menghebat hingga menggerakkan syaraf tanganku.

“Dita, aku membangun tajug ini bersama bapak saat aku masih kelas satu SMA.” Ujar Kean sembari kedua matanya menerawang jauh ke depan. Seolah sedang mengingat peristiwa yang membuatnya merasa sebagai laki-laki dewasa. Kami duduk bersisian di teras tajug sambil menikmati desiran angin senja yang membuatku semakin betah. Sementara Mbok kembali ke rumah bersama Fajri.

“Oh…” Aku mengangguk. Sesekali semilir angin memainkan helaian rambutku.

“Setelah tajug ini jadi, aku membuat sebuah madrasah supaya anak-anak di sekitar sini kalau mengaji tidak harus pergi jauh ke mesjid desa sebelah.”

Sebongkah rasa kagum hadir lagi di salah satu sudut hatiku. Seusia itu, aku hanya sibuk dengan perasaanku yang tak menentu. Sikap Teguh yang sesekali acuh padaku ditambah dengan perlakuan ayah tiriku pada Mama yang menjelma menjadi mimpi buruk.

Kang Kean berarti mengajar anak-anak mengaji setiap hari?”

“Ya, setelah ashar dan magrib.”

“Murid akang sudah banyak?”

“Awalnya hanya sepuluh orang. Sekarang, sudah puluhan generasi. Aku dibantu beberapa alumni yang sudah mahir membaca Al Quran.”

“Wah, pasti lulusan madrasah di sini sudah jadi perantau seperti kang Kean.”

“Teman-teman pengurus madrasah sudah jadi dosen di perguruan tinggi di Bandung. Alumni juga banyak yang merantau ke Jakarta dan Bandung menjadi pedangang yang sukses.”

Kang Kean tinggal di Bandung sejak kapan?”

“Sejak memutuskan untuk ikut tes masuk perguruan tinggi negeri. Waktu itu, almarhum bapak hanya membekali uang dua ratus ribu untuk pendaftaran. Sisanya, aku cari sendiri dengan bertualang dari satu pesantren ke pesantren lain, berdagang kecil-kecilan, bekerja di pabrik, sampai akhirnya kuliah bisa selesai.”

Alasan untuk mulai jatuh cinta pada Kean semakin jelas di benakku. Ia mirip Teguh yang gigih dengan tujuannya. Namun Kean begitu matang dan relijius. Teguh

memang tak pantas untuk dipertahankan jika dibandingkan dengan Kean. Ia telah dirasuki setan hingga menghamili perempuan yang baru saja dikenalnya.

“Dita, kamu sudah lama bekerja kantoran?”

“Belum lama, baru dua tahun. Awalnya sih, aku cuti kuliah dan ingin bekerja supaya bisa bayar kuliah sendiri. Melamar ke restoran fast food, tapi nggak beruntung. Tiba-tiba datang kesempatan dari sebuah perusahaan tempat pamanku bekerja. Aku coba ikuti ujian masuk dan lulus.” Aku merasa sesuatu akan tumpah dari kelopak mataku. Namun, berhasil kutahan.

“Mama sudah pensiun?”

“Mama memilih pensiun dini. Mama nggak mampu membiayai kuliahku karena uang pensiun Mama habis begitu saja.” Memoriku berputar ke saat ayah tiriku menguras semua pesangon pensiun Mama demi kesenangannya sendiri. Sejak itu, aku benar-benar membencinya. Aku merasa lega setelah Mama bercerai dengannya.

Tanpa sengaja, kami beradu pandangan. Kean menatapku dalam. Beberapa jenak aku kikuk, tak kuasa menerima tatapan itu. Aku membuang pandangan ke halaman rumah dan berusaha keras mengatur debaran hebat di hati.

“Besok pagi, setelah sarapan, kita pulang ke Bandung. Tapi kalau kamu masih betah, lusa saja.” Perkataan Kean menghentikan kegugupanku sejenak.

“Wah, aku bisa kena teguran bos-ku di kantor karena bolos kerja. Karyawan kontrak harus rajin, kang.”

Kean tertawa renyah. “Nggak enak juga ya, kerja kantoran. Nggak bisa seenaknya libur.”

Kang, kapan kita jalan-jalan ke keraton Kasepuhan? Aku pengin tahu mesjid merah.”

“Mungkin nanti. Banyak hal menarik di sana.” Kean menyungging senyum seolah menanam satu harapan untuk pergi bersamaku lagi.

Langit mulai berubah pekat dan rinai hujan mulai membasahi pekarangan dan pohon-pohon. Mbok terlihat menggiring ayam-ayam peliharaannya ke kandang di samping dapur. Aku memutuskan untuk menyegarkan diri sebelum magrib menjemput. Sementara Kean mencandai Fajri sambil menyimak tayangan televisi.

***

Usai makan malam dengan rumba daun singkong dan telur pindang yang lezat, Kean mengajakku berbincang tentang segala hal. Masa kecilnya hingga para pelaku politik yang aku tak terlalu paham dunianya. Kean berhasil membuatku betah berlama-lama menikmati tawa di antara cerita dan kelakar. Jarum jam dinding telah menunjuk ke angka sepuluh. Aku mulai menguap.

“Dita, kamu tidur di kamar mbok di depan. Mbok jarang tidur di situ, lebih sering sama Fajri di depan teve.”

Aku mengiyakan. Sementara Kean memilih tidur di kursi tamu. Ranjang besi yang ada di kamar ini mengingatkanku pada nenek. Namun si kelambu tak lagi terpasang, hanya besi-besi penyangga saja yang terlihat. Pintu kamar yang tak bisa dikunci, kututup rapat. Kasur kapuk berbalut seprai batik yang bersih, bantal kapuk yang empuk, tak kunjung membuatku mengantuk. Pandanganku mengitari bilik langit-langit kamar. Aku nggak percaya, mengapa aku berada di sini? Nyanyian hujan mengalun merdu diringi suara katak blentung yang hanya hadir di musim penghujan. Nyanyian penyejuk jiwa dari Yang Kuasa. Aku berusaha memejamkan kedua mataku, dan hujan semakin deras diiringi petir.

***

Entah pukul berapa aku terlelap. Malam berganti subuh. Suara azan membangunkanku. Segera aku mengambil peralatan mandiku, lalu keluar dari kamar. Kean tengah duduk di ruang depan.

“Mau langsung mandi?” tanyanya sambil merapikan sarung kotak-kotak hijau.

“Iya, Kang. Gerah.”

“Aku salat subuh duluan, ya? Kamu salat di kamar saja nanti.”

Aku mengangguk.

Sesaat setelah Kean pergi ke tajug, seorang wanita paruh baya berbalut daster batik memberiku alat salat sambil tersenyum ramah. Menurut perkiraanku, ia kakak Kean. Entah kapan ia datang. Mungkin tadi malam saat aku terlelap.

***

Sejujurnya aku tak ingin meninggalkan tempat ini. Perasaanku mengatakan, aku akan kembali lagi ke sini. Kean pun sepertinya berat meninggalkan ibunya. Rutinitas kepulangannya hanya satu atau dua bulan sekali.

Nok Dita, ini bawa untuk ibu di rumah, ya?” kata Mbok dalam bahasa Cirebon. Ia membekaliku beberapa bungkus krupuk beraroma bawang, buah mangga cengkir, krupuk melinjo, dan gula batu.

“Terimakasih, bu.” Aku menerimanya dengan senang walaupun sebenarnya khawatir Kean kerepotan. Tas ranselku pun sudah sesak.

Wis mbok, ora cukup tempate ning motore.” Kean terlihat resah.

Lebetaken nang bagasi atau tas, Kean.” Mbok memaksa Kean membawa seluruh bekalku.

Kean mengalah, dan melaksanakan perintah ibunya.

Kami pamit lalu menaiki motor Kean. Sisi kiri jalan pintas perkampungan yang kami lewati menyajikan siluet gunung Ciremai. Begitu jelas terbingkai langit pagi yang berseri-seri. Area persawahan terbentang luas dan padi-padi di sana telah dipanen. Sungguh anugerah pagi yang tak bisa kusangkal.

Kang, bagus ya, pemandangan di sini.”

“Kamu baru lihat, ya, gunung Ciremai?”

“Iya. Cuma pernah dengar dari kakakku.”

“Oooh…” Kean mengangguk dan kembali fokus ke depan. Sesekali ia merespon pertanyaan-pertanyaanku.

Tiba-tiba aku teringat perempuan yang memberiku alat salat, subuh tadi.

Kang, tadi subuh itu siapa? Ada perempuan di rumah, selain mbok.”

“Oh, itu kang Kesturi. Anak pertama mbok.”

“Kok kang Kean manggil ‘kang’ juga sama kakak perempuan?”

“Di sini, sebutan ‘kang’ itu berlaku untuk kakak perempuan juga laki-laki.”

“Oh, gitu.”

Gapura ‘Selamat datang di kabupaten Cirebon’ telah terlewati. Kami singgah di sebuah warung di perbatasan Tomo-Sumedang. Dahaga sirna oleh aliran air kelapa muda. Pemandangan sungai Cimanuk yang bantarannya dihiasi ilalang tak luput dari penglihatan kami.

Kean menyesap air kelapa mudanya perlahan lalu menoleh ke arahku. “Dita, gimana kalau awal bulan depan aku melamar kamu?”

Dadaku terhenyak mendengar itu. Aku mengaduk air kelapa di hadapanku sambil mencari jawabannya.

“Mmm… melamar?” Aku masih ragu, terlebih ketika Kean mengajakku ke kampungnya dan berkata “aku ingin mengenalkanmu pada ibu sebagai calon istri.”

Kean mengangguk dan menatapku cukup lama, menunggu jawaban.

Aku menyesap air kelapa untuk melegakan dadaku lalu berkata, “Terserah kang Kean.” Bayangan Teguh belum benar-benar hilang di ruang hati ini. Sangat sulit menghapus kenangan-kenangan yang telah terukir selama enam tahun. Ya, Tuhan, apakah Kean adalah pengganti Teguh?

***

Setelah otot-otot kaki cukup nyaman, kami melanjutkan perjalanan. Aku melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan sebagai pengusir kantuk.

“Dita, kok, kamu nggak ada suaranya? Ngantuk?” Kean menepuk lututku tanpa menoleh ke belakang.

“Hehe, iya, kang.” Aku merasakan perih di kedua mataku.

Kean tertawa ringan. Hening menguasai kami. Hanya suara deru mesin motor dan kendaraan lalu lalang mendominasi. Sampailah kami di kawasan Nyalindung.

Aku menepuk pundak Kean dan memintanya untuk berhenti di depan kios penjual peuyeum gantung. “Kang, aku mau beli peuyeum buat Mama.”

Kean menepikan sepeda motornya.

Selesai memilih dan membayar, kami melanjutkan perjalanan. “Kang, maaf, ya, jadi menambah beban penumpang motor, nih.”

“Nggak apa-apa. Mumpung kita lewat sini.” Kean menggantungkan keranjang peuyeum di motornya.

Di sisa perjalanan, Kean setia mendengarkan ceritaku tentang Mama, juga tentang Teguh. Entah untuk apa aku jujur soal Teguh. Namun rasa sakit yang masih bercokol di dada perlahan menguap karenanya.

***

“Mamaaa! Aku pulang!” Aku mengecup pipi Mama, kiri dan kanan.

Mama sedang menikmati ubi ungu kukus dan segelas teh pahit di ruang depan. Aku membawa masuk buah tangan dari mbok dan peuyeum tadi. Kean mengekori setelah memarkirkan motor.

Assalammu’alaikum.” Kean meraih tangan kanan Mama dan mengecupnya.

Alhamdulillah, sampai rumah dengan selamat,” ujar Mama sambil mengulas senyum.

“Sebentar ya, kang. Aku ambil minum dulu.”

Kean terlibat obrolan ringan dengan Mama.

“Gimana ibu, sehat?”tanya Mama pada Kean.

“Alhamdulillah, bu. Mbok selalu sehat.”

“Terakhir Mama ke Cirebon waktu Papa Dita masih ada. Ada paman Dita di Majalengka.”

“Oh, Majalengka agak jauh dari Palimanan.”

“Wah, Mama nggak bakal kuat naik motor ke sana.”

“Bisa tiga jam non stop sampai di Palimanan. Kami tadi sempat istirahat di Sumedang. Jadi kurang lebih empat jam.” Jelas Kean. “Bu, nanti kalau saya ajak Dita lagi ke sana, boleh, ya, bu?”

“Kalau Dita mau, ya silakan. Hati-hati di jalan. Perjalanan jauh naik motor itu bahaya.”

Aku menyajikan secangkir kopi di meja untuk Kean lalu pamit sejenak untuk mengganti baju.

***

Sabtu pagi, Mama mengijinkanku pergi bersama Kean ke kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu. Aku yang mengajak Kean ke sana. Kupikir kejenuhan pekerjaan sebagai staf administrasi yang monoton selama lima hari di kantor akan sirna.

Laju motor Kean tak terlalu terburu-buru hingga perjalanan sangat kami nikmati. Pintu masuk menuju kawasan gunung Tangkuban Perahu telah di depan mata.

Aku membayar tiket masuk. Kami melewati jalanan yang tertutup kabut. Samar-samar terlihat beberapa pengunjung sedang berjalan kaki, dan lainnya menaiki sepeda motor. Setelah sampai di tempat parkir, kami berjalan ke tepian kawah yang berpagar kayu. Beberapa pengunjung yang mengabadikan momen. Kami memerhatikan kepulan asap kawah Tangkuban Perahu dan terdiam. Hanya aroma bau belerang yang tak mau diam menusuk ke hidung.

Kean membelah kebisuan, “Dita, kira-kira kapan, ya, tanggal yang tepat?”

Kami saling berpandangan lalu aku tertunduk. Tetesan hujan mulai ribut bersama kabut. Beberapa orang terlihat berlari menuju warung tenda penjaja makanan. Aku dan Kean masih berdiri di sana.

“Tanggal sembilan?” tanya Kean lagi dengan senyuman lucu.

Aku menangkap sorot bola matanya yang jujur, lalu berkata, “Terserah kang Kean.”

Tetesan air dari langit semakin merdu seolah membelai luka hatiku. Kean meraih tanganku dan mengajakku ke warung penjual bandrek. Hatiku melagu seiring sesapan minuman hangat itu.

 *****

“Review Album CD Marcell – ‘Jadi Milikku'”

 

Cover Album CD Marcell "Jadi Milikku"

Cover Album CD Marcell “Jadi Milikku”

Untuk ke sekian kalinya, saya mendapatkan hadiah CD music dari sebuah restoran cepat saji. Kali ini saya beruntung mendapatkan album CD Marcell, penyanyi pria favorit saya. Sebelum album ini, saya pernah mendapatkan album Platinum Playlist CD-Marcell Siahaan. Saat pertama melihat covernya, keren! Nuansa oren dengan tulisan warna putih Marcell.

Di dalamnya terdapat catatan lirik lagu-lagu yang jumlahnya ada 10 lagu.

01. NASONANG DO HITA NADUA

02. SELALU DI SINI

03. PELUKLAH DIRIKU

04. SEMPURNALAH CINTA

05. BISA KAU PERCAYA

06. ORDINARY WORLD

07. BELAHAN JIWA

08. CINTA MATI

09. JADI MILIKKU

10. MODERN PLACE TO BE

Yang menarik adalah lagu berdurasi sangat pendek di track 01, judulnya “Nasonang Do Hita Nadua”. Perkiraan saya ini lagu berbahasa Batak. Terjemahan lagunya ada di bawah lirik lagu tersebut. Lagu ini mengisahkan tentang kebersamaan pasangan yang akan diingat selalu hingga masa tua nanti.

Lagu di track 04. “Sempurnalah Cinta”, Marcell berduet bersama Andien Aisyah. Liriknya berbunyi seperti ini :

“Kemarin dan esok nanti, kenangan dan harapan

bercahaya di dalam hati

sejuta mimpi menjadi nyata”

“Denganmu,  kasihku. Untukmu, cintaku.”

“Aku bersamamu slalu di sampingmu. Untuk menjadi teman hidup

dan sempurna cinta kita.”

Kemasan di antara catatan lirik lagu-lagu Marcell cukup eye catchy dengan tampilan beberapa pose foto diri Marcell. Yang paling keren adalah pose Marcell sedang melakukan salah satu gaya olahraga beladiri. Mirip kungfu.

Marcell-2

Pose lainnya juga menarik.

Marcell-3

Marcell-4Marcell-5Marcell-6

Secara keseluruhan lagu-lagu Marcell di album ini easy listening. Dari 10 lagu yang ada, saya paling suka “Bisa Kau Percaya”. Penggalan iriknya lumayan bermakna dalam, salah satu bagiannya ini :

“Cintaku bukan di atas kertas yang ditorehkan oleh tinta emas

Biar mereka yang pandai bicara tapi aku yang bisa kau percaya”

 Satu lagu lagi yang membuat saya terbang ke beberapa tahun lalu, rasanya saat itu saya masih remaja. Lagu dari Duran-duran “Ordinary World” sukses memanjakan telinga saya. Seingat saya, kakak saya seringkali memutar lagu itu dulu. Dua-duanya tetap enak didengar. Coba aja. ;)

Lagu-lagu di album CD Marcell ini juga bisa di-download di I-Tunes dan tersedia Ring Back Tone di provider Telkomsel, XL, dan Indosat.

“Kereta Senja”

Railway

Ingin sekali ku berteriak, “Mama, aku akan merindukanmu!” saat kereta ini melaju meninggalkan stasiun Bandung.

Tak ada sejumput pun raut sedih Mama. Seulas senyum darinya membuatku tegar. Seperti jalur rel baja ini yang beribu kali tergesek oleh rodanya.

Buku filsafat yang kubawa menjadi teman dalam perjalanan menuju kota Pahlawan.

“Saya takut kalau baca yang begitu,bikin kening berkerut,” celetuk laki-laki gondrong bertubuh kurus yang tak kusadari telah duduk di sebelahku.

Aku hanya tersenyum.

“Suka ya, baca yang begitu?” tanyanya lagi.

“Nggak juga.”

“Kalau saya lebih suka baca yang ringan tapi meninggalkan kesan.”

“Oh…” Aku mengangguk dan kembali menekuri halaman buku. Namun si gondrong masih ingin mengobrol.

“Turun di mana?”

“Surabaya Gubeng.”

“Oh…”

Hening.

Mataku mulai perih, lalu aku terlelap. Cukup lama. Di stasiun Tugu aku terbangun. Si gondrong sudah lenyap. Aku belum tahu namanya. Tapi aku tak peduli di mana dia turun. Kami berdua hanya orang asing seperti kereta yang berganti disinggahi.

 

 

“Being Thirty Five”

Screen Capture from Google

Screen Capture from Google

Hari ini saya bahagia mendapatkan beberapa pesan yang berisi ucapan ‘Selamat Ulang Tahun’. Rasanya baru kemarin saya menulis tentang perempuan usia tiga puluhan (Amazing 30-Melewati Usia 30 dengan Senyuman). Ada satu ucapan dari seorang teman yang membuat saya tersadar bahwa usia saya di dunia telah berkurang. Namun secara keseluruhan isi dari ucapan-ucapan itu mendoakan agar kebahagiaan dan keberkahan senantiasa menyertai saya.

Ya, bahagia. Itu saja. Tak perlu perayaan khusus. Bukan hanya bahagia dalam hal materi tetapi bahagia rohani. Kenikmatan dalam melakukan ibadah, itu sebuah kebahagiaan yang tak ternilai. Kenikmatan dalam bertukar pikiran bersama pasangan tentang rancangan langkah-langkah kehidupan, itu pun kebahagiaan. Terlebih saat melihat anak gadis saya tumbuh dan ‘dewasa’ di usianya yang masih dini, itu adalah kebahagiaan yang membuat hidup lebih ceria dan semangat. Persahabatan yang telah terjalin cukup lama, itu pun suatu kebahagiaan.

Namun di setiap rasa bahagia selalu ada ritme lain yang mengganggu, seperti kecewa, sedih, khawatir, dan pikiran negatif lainnya. Terutama saat mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan dari salah satu anggota keluarga dan saya tidak mampu berbuat apa-apa selain berdoa. Ya, perjalanan hidup itu memang tak pernah lurus saja dan selalu bertemu dengan jalan berkelok juga terjal. Sampai saya di usia ini, saya merasa lebih menerima keadaan yang Allah berikan walau sebagai manusia tetap selalu dihantui keinginan-keinginan dunia yang berlebihan.

Menerima keadaan dalam hidup bukan berarti saya diam dan hanya menengadahkan tangan pada Sang Khalik, tetapi bagaimana saya memahami kemampuan dan usaha yang bisa saya lakukan menuju sebuah harapan bersama pasangan. Saat hadir keinginan memiliki rumah yang kondisinya lebih baik daripada sebelumnya, Allah menunjukkan jalan itu dengan cara-Nya. Saya dan pasangan sempat tak bisa mengerti dan mengucap syukur atas keajaiban itu. Dari pengalaman ini saja, saya menyadari bahwa keajaiban hadir bukan tanpa ikhtiar. Begitu banyak penggalan keajaiban yang terjadi dalam hidup saya.

Hal-hal menakjubkan pun terjadi saat saya menjadi ibu. Namun di usia ini, saya merasa belum mampu bersikap dewasa. Selalu ada ‘soal-soal kehidupan’ yang harus bisa saya jawab sendiri seiring langkah kaki saya hingga membuat saya belajar memahami diri sendiri, melaksanakan tanggung jawab saya, dan berusaha memprioritaskan kebutuhan sang buah hati di atas segala keinginan pribadi.

Saya sangat beruntung di usia ini, luka-luka yang pernah menyayat jiwa saya perlahan sembuh , dan saya merasa lebih ‘sehat’. Itu terjadi bukan tanpa pertolongan Allah. DIA Maha Penyayang. Pertemanan yang baik, perilaku pasangan yang sangat menghormati saya sebagai wanita, dan doa dari orang-orang yang menyayangi saya.

Selalu terbersit pemikiran, bagaimana jika saya nanti dipanggil Allah? Saya merasa belum banyak bekal. Secepat kilat saya berusaha mensyukuri apa yang telah saya miliki, lalu terbayang sebuah senyum wajah gadis kecil saya yang telah beranjak dewasa dan dari pancarannya itu terlihat kesiapan dirinya untuk  saya tinggalkan.

Saya berpikir ulang lagi dan mencoba mengerti bahwa saya hidup untuk menanamkan harapan pada gadis kecil ini. Amanah Allah yang menjadi tugas besar saya agar mampu mempersiapkan senyumannya. Saya tidak bisa melakukannya sendiri. Pasangan menjadi orang yang mampu menjadi pengingat tugas itu dan Sang Pencipta yang selalu menjadi penuntun saya jika saya tetap bertakwa.

Harapan saya di usia ini hanya ingin mempertahankan keseimbangan hidup agar mampu menjalani hidup ke depan dengan hati tenang dan berpikir ke arah yang lebih baik. Being thirty five is an adventure tobe more mature.

“Tukang Sayur yang Jujur”

sumber gbr : pmccdelhi.com

sumber gbr : pmccdelhi.com

Suatu pagi di lingkungan sekitar rumah keduaku terdengar teriakan, “Yur!” Suara motor berhenti di tetangga sebelah. Aku segera keluar rumah dan menghampiri tukang sayur. Tukang sayur dengan senyum ramah mempersilakan aku untuk memilih.

Aku selalu bingung saat memilih karena apa yang tersedia di sana hanya bahan-bahan yang tersisa dari pembeli sebelumnya. Alhasil, menu masakan yang sudah direncanakan aku ubah sesuai dengan bahan yang tersedia. Aku mengeluh pada tukang sayur, “Mang, yang banyak dong persediaanya biar saya kebagian.”

“SMS aja Bu, kalau mau pesan ikan atau apa. Nanti saya bawain. Jadi Ibu nggak bingung.” Ujar si Mang dengan percaya diri sambil memegang BB-nya.

Sekilas kulirik si Mang sibuk menjawab pesan di BB-nya sambil menungguku dan tetangga memilih sayuran. “hmm, zaman sekarang, tukang sayur gaya banget, ya? Pake BB,” gumamku. Setelah selesai membayar belanjaan, aku mengambil HP dan menyimpan nomor HP si Mang. Lalu nomor itu aku miskol dan meminta si Mang menyimpannya.

“Bu, BB saya yang ini lagi rusak, nggak bisa nyimpen nomor. Nanti kalau SMS pake nama sama blok rumah Ibu saja,” katanya.

Dengan nada canda aku bilang, “Oh, gitu. Kan, sebentar lagi lebaran, Mang. Ganti HP baru, dong.” Si Mang hanya tertawa ringan lalu menawarkan BB pada Ibu tetangga yang masih memilih sayuran.

Usut punya usut, ternyata si Mang sebelum berprofesi pedangan sayuran keliling, pekerjaannya adalah penjaga counter HP di bilangan Bandung Electronic Centre (BEC). Si Mang mengeluh, bekerja di sana lumayan pusing karena dituntut oleh bosnya supaya mendapatkan keuntungan lebih banyak setiap bulannya. Akhirnya, si Mang membanting setir menjadi pedagang sayuran agar lebih leluasa mengatur segala pemasukan dan pengeluaran dengan kata lain menjadi bos sendiri dan pelaksana. Dia pun mengaku hanya mengambil keuntungan Rp500,- dari setiap barang yang dijualnya. Dia pun meminta agar kami (pembeli) jangan belanja ke pasar. Selain jaraknya agak jauh, sekitar 15 menit, si Mang beralasan bahwa dia adalah pengantar setia kebutuhan para Ibu dan beramal di Ramadhan ini.

Kemudian, saat membicarakan harga-harga kebutuhan sehari-hari, si Mang pun merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh para Ibu rumah tangga. Dia pun mengeluhkan, apa arti wakil rakyat bagi kita jika harga-harga barang malah semakin naik? Para Ibu termasuk si penulis note ini, juga mengeluhkan, kenapa kenaikan gaji nggak sesering seperti kenaikan harga barang? Mau ditanggapi serius atau tidak, hal tersebut seringkali menjadi bahan obrolan dan candaan saat melakukan transaksi antara pedagang dan pembeli.

Dua hari kemudian, aku menerima SMS dari si Mang, isinya, “Punten, bilih aya nu kawagel, mamanawian bade pesen kanggo enjing masak. Mangga chat aja. :) Pin BB : ******* “ (= Maaf, jika mengganggu, barangkali mau pesan untuk besok masak. Silakan chat aja.)

Si Mang hobi chat juga. Dasar tukang HP, eh, tukang sayur zaman sekarang. Lama-lama, sayuran bakal dijual On Line, nih. Btw, aku belum nanya nama si Mang itu. Nama di Phone contact aku save, Mang Sayur Komplek. :D

“Gadis 10 Tahun”

Rasanya baru kemarin, aku melahirkannya di waktu shubuh, 22 Juni 2005. Parasnya sangat cantik berbulu mata lentik. Kulitnya putih bersih. Tubuhnya sehat dan bulat. Aku bahagia menerima anugrah-Nya walau kondisi perekonomian keluarga dalam keterbatasan. Neneknya setia menemani selama berada di rumah bersalin walau terkantuk-kantuk. Papanya mengazaninya dengan penuh rasa syukur.

Aku semakin mengerti bagaimana tahapan menjadi seorang ibu karena membesarkan dan mengasuhnya. Gadis kecilku yang agak terlambat berjalan tetapi bicara lebih dini, membawaku pada dunia keibuan yang sarat makna. Tangis, tawa, khawatir, dan letih silih berganti di setiap hariku menghadapi pengalaman bersamanya. Kesabaran menjadi kunci segala perjuangan dalam mengerti dirinya.

Kini, gadis kecilku menginjak usia 10 tahun. Mulai sulit mencari baju-baju yang pas dengan ukuran tubuhnya yang tanggung. Alhasil, baju remaja sudah menjadi pilihan. Gadisku akan tumbuh pesat, cepat dan tetap menjadi anak yang smart. Aku sangat beruntung memilikinya. Gadis yang hanya menangis jika merasa tak nyaman, anteng namun penuh kehati-hatian, sangat well prepare seperti Papanya, dan agak sensitif sepertiku. Hei, gadisku berzodiak sama denganku. Kami sama-sama perempuan bertipe sensitif namun perhatian.

Aku ingin gadisku menjadi sahabatku hingga aku menua. Aku ingin dia berhasil dalam hidupnya karena ajaran dan pengalaman orangtuanya. Aku ingin dia suka membaca dan menyukai seni. Itu sudah terbukti. Saat memperkenalkannya dengan buku bergambar dulu, gadisku sangat antusias. Bahkan sejak dini, dia telah kukenalkan sebuah buku gambar lalu dia dengan senang membuat bola kusut dan coretan berwarna-warni di sana. Dinding rumah kami pun menjadi sasaran kreativitasnya. Ketika mendengar musik, perilakunya lucu dan ceria, bahkan mampu menyanyikan lagunya berkali-kali.

Saat melihatnya di usia ini, aku semakin menyadari bahwa usia manusia itu begitu singkat. Gadis kecilku menuju dunia remaja sebentar lagi sedangkan aku menuju kematangan jiwa lalu menua. Setiap tahun aku mencoba mengerti apa yang terjadi pada gadisku, apa keinginannya, apa saja yang dia belum mengerti, dan siapa yang dia kagumi. Aku beharap, suatu hari nanti, dia mampu mengerti bahwa seorang gadis harus menjaga kehormatan dirinya untuk kebaikan dirinya dan keluarganya.

Perdebatan kecil di antara kami berdua memang selalu ada. Terkadang menggelikan dan sedikit memancing amarah. Namun aku harus mampu memberikan pengertian padanya tanpa harus mengumbar amarah besar karena dari sana aku belajar menjadi penyabar dan dia belajar menjadi pendengar.

Gadis kecilku, tak cukup hanya 10 tahun untuk mengertimu. Aku memerlukan waktu seumur hidupku untuk belajar darimu pada makna hidupku. Aku dan Papamu selalu mencintaimu sepenuh jiwa raga. Selamat menjadi gadis tanggung. Masih banyak waktu di depanmu untuk mengembangkan dirimu menjadi seseorang yang mampu menghadapi segala tantangan dan mengejar cita-citamu. Semoga impianmu menjadi seorang arsitek dapat terwujud dan membawa kebaikan bagi dirimu dan orang banyak. Semoga Allah selalu menuntunmu ke jalan kebenaran. Peluk cium selalu untukmu, Puga Rarasantang. :*

“Shalat sebagai Penyelamat”

Foto : Dokumen pribadi (Fujifilm Finepix)

Foto : Dokumen pribadi (Fujifilm Finepix)

Setiap muslim telah mengetahui bahwa identitas diri sebagai seorang muslim adalah melakukan shalat. Sekadar untuk berintrospeksi diri mengenai makna shalat bagi saya pribadi, saya merasakan manfaat besar dari shalat. Namun manfaat yang saya rasakan memiliki tahapan-tahapan mirip anak tangga yang saya tapaki ketika saya ingin menggapai sesuatu di atas sana.

Entah mulai usia berapa saya mulai mampu memelihara shalat lima waktu. Saat remaja rasanya masih sering bolong-bolong. Banyak hal yang membuat saya labil dan tergoda rayuan setan hingga meninggalkan shalat. Dampaknya terasa pada batin saya. Semakin jarang saya ingat shalat maka ingatan saya pada Allah juga berkurang. Alhasil, beberapa langkah pencapain diri mengalami kegagalan dan batin terasa keruh.

Seiring waktu berjalan, memasuki usia kepala dua, saya mulai berusaha kuat memelihara shalat. Tentu saja ini bukan hal mudah karena jika lingkungan tidak kondusif baik itu di dalam ruang lingkup keluarga, atau pertemanan, maka saya tidak akan mampu. Beruntung saya selalu berada dalam lingkungan pertemanan yang selalu mengajak saya pada kebaikan. Kegiatan shalat seolah tak pernah luput di beberapa pertemanan yang pernah saya jalin. Sebutlah seorang sahabat yang selalu menjadi pencerah saat saya sedang kalut dalam kegalauan hati. Shalat menjadi pilihan utama dalam memohon petunjuk yang terbaik atas masalah yang saya alami. Kegiatan kerohanian dan bacaan-bacaan penyejuk hati menjadi penyubur ketaqwaan.

Beranjak dewasa, saya mulai intens melakukan shalat Dhuha. Gara-gara melihat seorang teman sekantor yang melakukannya. Semasa kuliah juga saya lakukan karena ikut-ikutan teman. Walaupun saya tahu manfaat shalat Dhuha, terkadang rasa malas hadir. Padahal hanya lima menit saja waktu yang dibutuhkan untuk itu. Lagi-lagi lingkungan pertemanan menyelamatkan saya dari penyakit malas shalat hingga pada akhirnya saya selalu butuh untuk shalat.

Saya terkadang menangis dalam sambil mengadu pada Allah ketika hati dan pikiran sedang buntu. Di lain waktu, saya shalat terburu-buru karena ingat dengan aktivitas dunia yang membuat kita terlalu cinta padanya.

Kini, saya bersyukur memiliki pasangan hidup yang selalu mengingatkan shalat lima waktu. Bahkan saat jatuh sakit, senyeri apapun sakit yang saya alami, saya selalu diingatkan untuk tetap shalat. Kebiasaan shalat membuat saya lebih menghargai waktu dan disiplin. Hati dan pikiran tetap terarah pada sesuatu yang lebih Maha Besar dari segala urusan. Saya pun merasa lebih mudah mengajak anak untuk shalat karena ia melihat saya dan suami selalu melakukannya.

Saya merasa Allah sangat menyayangi saya. Orang-orang terdekat selalu menjadi alarm bagi saya untuk tetap bersyukur dengan shalat. Perjalanan hidup saya terasa lebih baik dan lebih mudah dengan shalat walau kerikil masalah terkadang hadir. Pada akhirnya, berdoa dan memohon ampun menjadi kebutuhan sehari-hari agar hidup saya dan keluarga selamat. Sampai kapanpun, saya menyakini bahwa shalat akan membawa kebaikan bagi diri jika kita benar-benar berserah diri pada-Nya.

“Godaan Kartu Sakti”

Foto from : omah-tips.blogspot.com

Foto from : omah-tips.blogspot.com

Suatu siang, kami bertiga mengunjungi sebuah mal besar yang baru saja dibuka. Letaknya dekat dengan tempat tinggal kami. Beberapa barang yang kami perlukan telah kami pilih dan memenuhi keranjang. Tiba di kasir, sang kasir menanyakan kartu kredit. Saya jawab, “tidak ada.” Dalam benak saya, “Kenapa harus pakai kartu kredit sih, dengan iming-iming diskon sekian persen? Masyarakat kita kayak disuruh berutang kalau gitu. Diskonnya nggak seberapa, cicilannya bakal kayak antrian kereta yang panjang.”

Saya pribadi lebih suka memakai kartu debit atau pembayaran tunai. Saya tidak menghakimi para pemakai kartu kredit tetapi ada pilihan dalam hidup saat bertransaksi. Jika memang mampu membayar cicilan kartu kredit dengan bunga sekian persen dan tepat waktu, ya, silakan. Jika merasa tidak mengerti cara menggunakannya secara bijak, mendingan nggak usah tertarik, deh. Nanti malah kena akibatnya sendiri hingga membuat hidup susah.

Ada hal yang membuat saya miris. Dulu, saat berkunjung ke suatu mal, kami bertiga bermaksud makan siang di sebuah restoran yang menyajikan menu Sunda. Setelah memilih tempat duduk, saya hendak memesan pada pelayan resto itu. Sebelum saya bertanya, sang pelayan bertanya lebih dulu. Ia menanyakan kartu kredit bank anu atau kartu member mal karena pembayaran tunai tidak diterima jika belum menjadi member. Saat saya sampaikan hal tadi pada suami, ia langsung nggak berselera lagi.

Akhirnya, kami memilih keluar dari sana dan terpaksa makan di restoran fast food yang tentu saja menerima pembayaran uang tunai. Suami saya berceloteh, “Masa, mau makan aja harus pake kartu?” Kami memang paham bagaimana penggunaan kartu kredit karena telah banyak teman-teman dan beberapa kerabat yang pernah menggunakannya. Namun prinsip kami, nggak usah cari yang susah deh, kalau ada yang lebih mudah.

Sekali lagi, godaan kartu sakti itu memang menggiurkan dan sepertinya aplikasinya sangat mudah karena SPG dengan manis menawarkan via telepon atau menghampiri kita ke kantor dan di mal lalu tring! kartu itu bisa langsung jadi. Tetapi Ramadhan ini harus menjadi pengendali nafsu belanja yang tak perlu. Jika memang kita mampu dengan cermat menggunakan si kartu sakti itu, sah-sah saja. Jika kita akan menjadi kalap dan silau dengan keindahan penawaran belanja, lebih baik hindari. Ingatlah bahwa kesaktian kartu itu tidak selamanya bisa mengubah hidup menjadi lebih baik.”

“Petasan Ramadhan”

Foto "Petasan" taken from : www.merdeka.com

Foto “Petasan” taken from : http://www.merdeka.com

Suara petasan selalu menghiasi awal bulan Ramadhan sejak saya kecil dulu. Bahkan hampir setiap hari puasa selalu ada suara petasan hingga mengganggu kenyamanan beribadah shalat Tarawih. Anak-anak yang menyulutnya kerap dilakukan di sekitar masjid. Kenapa harus petasan? Kenapa nggak bedug atau yang lain? Tradisi di beberapa dalam menyambut Ramadhan pun berbeda-beda. Namun seringkali tetap saja diwarnai aksi membakar petasan.

Pedagang petasan memang kerap hadir menjelang Ramadhan. Walaupun katanya dilarang oleh pihak berwajib namun tetap saja setiap tahun selalu ada. Jika dipikir dengan logika, anak-anak membelinya dengan uang. Itu berarti mereka seolah membakar uang begitu saja dalam sekejap. Mungkin atas nama kesenangan. Saya pribadi sewaktu kecil hanya berani menyulut kembang api karena kesenangan. Melihat pijaran apinya di malam hari itu kelihatannya indah lalu ingin menyulutnya lagi dan lagi sampai habis satu bungkus.

Petasan sepertinya disukai anak-anak, remaja, dan dewasa. Padahal apa sih, manfaatnya? Ini hanya sudut pandang saya sebagai seorang ibu dan sebagai orangtua. Sempat terpikir dalam benak saya, bagaimana kalau tradisi membakar petasan itu diganti saja dengan tradisi lain yang lebih mendidik, misalnya, kegiatan membuat kerajinan dari barang bekas atau barang kreatif lainnya lalu dijual di bazar Ramadhan di lingkungan RW setempat. Itu bisa lebih mengasah kreativitas dan menghasilkan. Ada ide lain untuk menghilangkan tradisi membakar petasan? Kesenangan terhadap sesuatu memang ada masanya. Akankah suara petasan di hari-hari Ramadhan usai?

“Ketukan Pintu Menjelang Ramadhan”

Senja 29 Desember 2012

Senja 29 Desember 2012

Tepat sehari sebelum satu Ramadhan tiba, suami membangunkanku. Waktu itu dini hari, entah pukul berapa. Samar-samar kudengar bisikan suami, “Neng, rasanya tadi terdengar ketukan pintu. Pertanda apa lagi, ya?”

Aku masih berusaha membuka mata dan mencoba mencerna kalimat tadi lalu kujawab, “Ah, mungkin dari pintu tetangga sebelah.” Tiba-tiba ingatanku berkelebat pada kejadian kecelakaan sebelas tahun lalu. Waktu itu, persis dini hari terdengar bunyi bel pintu depan rumah Mama. Saat itu suami sempat terbangun dan menengok ke pintu, tak ada siapapun di sana.

Pagi hari, suami mengalami kecelakaan motor dalam perjalanan mengantarku ke tempat bekerja. Tulang kaki kanan bagian depan tertindih badan motor hingga patah. Aku yang saat itu dibonceng, jatuh lalu terlempar ke tengah jalan hanya mengalami luka memar. Perjuangan menjalani hari-hari di awal pernikahan semakin terasa perih sejak kecelakaan itu.

Suamiku menyangka ketukan pintu yang ia dengar adalah sebuah pertanda buruk karena teringat pengalaman itu. Tapi aku berusaha berpikir positif. Toh, jika terjadi sesuatu yang buruk selalu ada pertanda melalui perasaan dan bisikan hati. Saat suami pergi bekerja, aku lebih banyak melafalkan doa untuknya dan tak ada perasaan khawatir. Alhamdulillah, seharian itu tak ada hal buruk apapun yang terjadi.

Aku mencoba mengingat beberapa malam sebelum datang ketukan itu, sosok almarhum Mama hadir beberapa kali dalam mimpi. Mimpi itu layaknya keseharian Mama saat masih sehat, begitu nyata beliau bercengkrama bersamaku. Di siang harinya, saat menjalani akitivitas di rumah, pikiranku teringat lagi pada Mama. Terutama saat melihat air jernih yang berlimpah ruah di rumah keduaku. Jika saja Mama masih ada, beliau pasti betah tinggal bersamaku karena hal yang paling membuatnya semangat beraktivitas di rumah adalah air yang melimpah.

Kedua mataku berkaca-kaca dan berusaha agar tidak larut dalam pikiran itu. Mungkin Mama memang mengunjungiku hari itu atau hanya aku saja yang merindukannya hingga terbawa dalam mimpi. Mungkin ketukan pintu yang suamiku dengar itu merupakan tanda selamat datang Ramadhan dari Mama atau hanya sebentuk hal gaib berupa suara.

Awal Ramadhan selalu membawa keharuan tersendiri. Entah bahagia atau sedih. Kupikir perasaan yang kurasakan kini campur aduk di antara keduanya. Sampai aku merasa tak sanggup untuk berziarah ke pusara Mama. Aku hanya mampu memanjatkan doa dari rumah untuknya karena kecepatan untaian doa yang tulus akan sampai lebih cepat dibandingkan dengan langkah kaki kita ke suatu tempat.

Ada satu hal lagi yang tak mampu kulakukan di awal Ramadhan ini. Mengetuk pintu rumah Mama walau seharusnya aku melakukannya. Aku tidak sanggup menampung perasaan yang tak menentu setiap kali melihat ruangan rumah itu. Terlalu banyak kenangan yang pernah terlihat di sana. Tidak mudah untuk melupakan dan aku tidak boleh melupakan. Penggalan cerita hidup harus menjadi bagian dari memori seseorang agar ia ingat siapa dirinya.

Ma, jika ketukan pintu di malam jelang Ramadhan itu Mama, terimakasih telah datang untuk mengingatkan bahwa setelah kematian,  kenangan masih tetap akan di benakku, dan keabadian cinta yang kau beri masih berseri di hati.