“Tukang Sayur yang Jujur”

sumber gbr : pmccdelhi.com
sumber gbr : pmccdelhi.com

Suatu pagi di lingkungan sekitar rumah keduaku terdengar teriakan, “Yur!” Suara motor berhenti di tetangga sebelah. Aku segera keluar rumah dan menghampiri tukang sayur. Tukang sayur dengan senyum ramah mempersilakan aku untuk memilih.

Aku selalu bingung saat memilih karena apa yang tersedia di sana hanya bahan-bahan yang tersisa dari pembeli sebelumnya. Alhasil, menu masakan yang sudah direncanakan aku ubah sesuai dengan bahan yang tersedia. Aku mengeluh pada tukang sayur, “Mang, yang banyak dong persediaanya biar saya kebagian.”

“SMS aja Bu, kalau mau pesan ikan atau apa. Nanti saya bawain. Jadi Ibu nggak bingung.” Ujar si Mang dengan percaya diri sambil memegang BB-nya.

Sekilas kulirik si Mang sibuk menjawab pesan di BB-nya sambil menungguku dan tetangga memilih sayuran. “hmm, zaman sekarang, tukang sayur gaya banget, ya? Pake BB,” gumamku. Setelah selesai membayar belanjaan, aku mengambil HP dan menyimpan nomor HP si Mang. Lalu nomor itu aku miskol dan meminta si Mang menyimpannya.

“Bu, BB saya yang ini lagi rusak, nggak bisa nyimpen nomor. Nanti kalau SMS pake nama sama blok rumah Ibu saja,” katanya.

Dengan nada canda aku bilang, “Oh, gitu. Kan, sebentar lagi lebaran, Mang. Ganti HP baru, dong.” Si Mang hanya tertawa ringan lalu menawarkan BB pada Ibu tetangga yang masih memilih sayuran.

Usut punya usut, ternyata si Mang sebelum berprofesi pedangan sayuran keliling, pekerjaannya adalah penjaga counter HP di bilangan Bandung Electronic Centre (BEC). Si Mang mengeluh, bekerja di sana lumayan pusing karena dituntut oleh bosnya supaya mendapatkan keuntungan lebih banyak setiap bulannya. Akhirnya, si Mang membanting setir menjadi pedagang sayuran agar lebih leluasa mengatur segala pemasukan dan pengeluaran dengan kata lain menjadi bos sendiri dan pelaksana. Dia pun mengaku hanya mengambil keuntungan Rp500,- dari setiap barang yang dijualnya. Dia pun meminta agar kami (pembeli) jangan belanja ke pasar. Selain jaraknya agak jauh, sekitar 15 menit, si Mang beralasan bahwa dia adalah pengantar setia kebutuhan para Ibu dan beramal di Ramadhan ini.

Kemudian, saat membicarakan harga-harga kebutuhan sehari-hari, si Mang pun merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh para Ibu rumah tangga. Dia pun mengeluhkan, apa arti wakil rakyat bagi kita jika harga-harga barang malah semakin naik? Para Ibu termasuk si penulis note ini, juga mengeluhkan, kenapa kenaikan gaji nggak sesering seperti kenaikan harga barang? Mau ditanggapi serius atau tidak, hal tersebut seringkali menjadi bahan obrolan dan candaan saat melakukan transaksi antara pedagang dan pembeli.

Dua hari kemudian, aku menerima SMS dari si Mang, isinya, “Punten, bilih aya nu kawagel, mamanawian bade pesen kanggo enjing masak. Mangga chat aja. :) Pin BB : ******* “ (= Maaf, jika mengganggu, barangkali mau pesan untuk besok masak. Silakan chat aja.)

Si Mang hobi chat juga. Dasar tukang HP, eh, tukang sayur zaman sekarang. Lama-lama, sayuran bakal dijual On Line, nih. Btw, aku belum nanya nama si Mang itu. Nama di Phone contact aku save, Mang Sayur Komplek. :D

“Gadis 10 Tahun”

Rasanya baru kemarin, aku melahirkannya di waktu shubuh, 22 Juni 2005. Parasnya sangat cantik berbulu mata lentik. Kulitnya putih bersih. Tubuhnya sehat dan bulat. Aku bahagia menerima anugrah-Nya walau kondisi perekonomian keluarga dalam keterbatasan. Neneknya setia menemani selama berada di rumah bersalin walau terkantuk-kantuk. Papanya mengazaninya dengan penuh rasa syukur.

Aku semakin mengerti bagaimana tahapan menjadi seorang ibu karena membesarkan dan mengasuhnya. Gadis kecilku yang agak terlambat berjalan tetapi bicara lebih dini, membawaku pada dunia keibuan yang sarat makna. Tangis, tawa, khawatir, dan letih silih berganti di setiap hariku menghadapi pengalaman bersamanya. Kesabaran menjadi kunci segala perjuangan dalam mengerti dirinya.

Kini, gadis kecilku menginjak usia 10 tahun. Mulai sulit mencari baju-baju yang pas dengan ukuran tubuhnya yang tanggung. Alhasil, baju remaja sudah menjadi pilihan. Gadisku akan tumbuh pesat, cepat dan tetap menjadi anak yang smart. Aku sangat beruntung memilikinya. Gadis yang hanya menangis jika merasa tak nyaman, anteng namun penuh kehati-hatian, sangat well prepare seperti Papanya, dan agak sensitif sepertiku. Hei, gadisku berzodiak sama denganku. Kami sama-sama perempuan bertipe sensitif namun perhatian.

Aku ingin gadisku menjadi sahabatku hingga aku menua. Aku ingin dia berhasil dalam hidupnya karena ajaran dan pengalaman orangtuanya. Aku ingin dia suka membaca dan menyukai seni. Itu sudah terbukti. Saat memperkenalkannya dengan buku bergambar dulu, gadisku sangat antusias. Bahkan sejak dini, dia telah kukenalkan sebuah buku gambar lalu dia dengan senang membuat bola kusut dan coretan berwarna-warni di sana. Dinding rumah kami pun menjadi sasaran kreativitasnya. Ketika mendengar musik, perilakunya lucu dan ceria, bahkan mampu menyanyikan lagunya berkali-kali.

Saat melihatnya di usia ini, aku semakin menyadari bahwa usia manusia itu begitu singkat. Gadis kecilku menuju dunia remaja sebentar lagi sedangkan aku menuju kematangan jiwa lalu menua. Setiap tahun aku mencoba mengerti apa yang terjadi pada gadisku, apa keinginannya, apa saja yang dia belum mengerti, dan siapa yang dia kagumi. Aku beharap, suatu hari nanti, dia mampu mengerti bahwa seorang gadis harus menjaga kehormatan dirinya untuk kebaikan dirinya dan keluarganya.

Perdebatan kecil di antara kami berdua memang selalu ada. Terkadang menggelikan dan sedikit memancing amarah. Namun aku harus mampu memberikan pengertian padanya tanpa harus mengumbar amarah besar karena dari sana aku belajar menjadi penyabar dan dia belajar menjadi pendengar.

Gadis kecilku, tak cukup hanya 10 tahun untuk mengertimu. Aku memerlukan waktu seumur hidupku untuk belajar darimu pada makna hidupku. Aku dan Papamu selalu mencintaimu sepenuh jiwa raga. Selamat menjadi gadis tanggung. Masih banyak waktu di depanmu untuk mengembangkan dirimu menjadi seseorang yang mampu menghadapi segala tantangan dan mengejar cita-citamu. Semoga impianmu menjadi seorang arsitek dapat terwujud dan membawa kebaikan bagi dirimu dan orang banyak. Semoga Allah selalu menuntunmu ke jalan kebenaran. Peluk cium selalu untukmu, Puga Rarasantang. :*

“Shalat sebagai Penyelamat”

Foto : Dokumen pribadi (Fujifilm Finepix)
Foto : Dokumen pribadi (Fujifilm Finepix)

Setiap muslim telah mengetahui bahwa identitas diri sebagai seorang muslim adalah melakukan shalat. Sekadar untuk berintrospeksi diri mengenai makna shalat bagi saya pribadi, saya merasakan manfaat besar dari shalat. Namun manfaat yang saya rasakan memiliki tahapan-tahapan mirip anak tangga yang saya tapaki ketika saya ingin menggapai sesuatu di atas sana.

Entah mulai usia berapa saya mulai mampu memelihara shalat lima waktu. Saat remaja rasanya masih sering bolong-bolong. Banyak hal yang membuat saya labil dan tergoda rayuan setan hingga meninggalkan shalat. Dampaknya terasa pada batin saya. Semakin jarang saya ingat shalat maka ingatan saya pada Allah juga berkurang. Alhasil, beberapa langkah pencapain diri mengalami kegagalan dan batin terasa keruh.

Seiring waktu berjalan, memasuki usia kepala dua, saya mulai berusaha kuat memelihara shalat. Tentu saja ini bukan hal mudah karena jika lingkungan tidak kondusif baik itu di dalam ruang lingkup keluarga, atau pertemanan, maka saya tidak akan mampu. Beruntung saya selalu berada dalam lingkungan pertemanan yang selalu mengajak saya pada kebaikan. Kegiatan shalat seolah tak pernah luput di beberapa pertemanan yang pernah saya jalin. Sebutlah seorang sahabat yang selalu menjadi pencerah saat saya sedang kalut dalam kegalauan hati. Shalat menjadi pilihan utama dalam memohon petunjuk yang terbaik atas masalah yang saya alami. Kegiatan kerohanian dan bacaan-bacaan penyejuk hati menjadi penyubur ketaqwaan.

Beranjak dewasa, saya mulai intens melakukan shalat Dhuha. Gara-gara melihat seorang teman sekantor yang melakukannya. Semasa kuliah juga saya lakukan karena ikut-ikutan teman. Walaupun saya tahu manfaat shalat Dhuha, terkadang rasa malas hadir. Padahal hanya lima menit saja waktu yang dibutuhkan untuk itu. Lagi-lagi lingkungan pertemanan menyelamatkan saya dari penyakit malas shalat hingga pada akhirnya saya selalu butuh untuk shalat.

Saya terkadang menangis dalam sambil mengadu pada Allah ketika hati dan pikiran sedang buntu. Di lain waktu, saya shalat terburu-buru karena ingat dengan aktivitas dunia yang membuat kita terlalu cinta padanya.

Kini, saya bersyukur memiliki pasangan hidup yang selalu mengingatkan shalat lima waktu. Bahkan saat jatuh sakit, senyeri apapun sakit yang saya alami, saya selalu diingatkan untuk tetap shalat. Kebiasaan shalat membuat saya lebih menghargai waktu dan disiplin. Hati dan pikiran tetap terarah pada sesuatu yang lebih Maha Besar dari segala urusan. Saya pun merasa lebih mudah mengajak anak untuk shalat karena ia melihat saya dan suami selalu melakukannya.

Saya merasa Allah sangat menyayangi saya. Orang-orang terdekat selalu menjadi alarm bagi saya untuk tetap bersyukur dengan shalat. Perjalanan hidup saya terasa lebih baik dan lebih mudah dengan shalat walau kerikil masalah terkadang hadir. Pada akhirnya, berdoa dan memohon ampun menjadi kebutuhan sehari-hari agar hidup saya dan keluarga selamat. Sampai kapanpun, saya menyakini bahwa shalat akan membawa kebaikan bagi diri jika kita benar-benar berserah diri pada-Nya.

“Godaan Kartu Sakti”

Foto from : omah-tips.blogspot.com
Foto from : omah-tips.blogspot.com

Suatu siang, kami bertiga mengunjungi sebuah mal besar yang baru saja dibuka. Letaknya dekat dengan tempat tinggal kami. Beberapa barang yang kami perlukan telah kami pilih dan memenuhi keranjang. Tiba di kasir, sang kasir menanyakan kartu kredit. Saya jawab, “tidak ada.” Dalam benak saya, “Kenapa harus pakai kartu kredit sih, dengan iming-iming diskon sekian persen? Masyarakat kita kayak disuruh berutang kalau gitu. Diskonnya nggak seberapa, cicilannya bakal kayak antrian kereta yang panjang.”

Saya pribadi lebih suka memakai kartu debit atau pembayaran tunai. Saya tidak menghakimi para pemakai kartu kredit tetapi ada pilihan dalam hidup saat bertransaksi. Jika memang mampu membayar cicilan kartu kredit dengan bunga sekian persen dan tepat waktu, ya, silakan. Jika merasa tidak mengerti cara menggunakannya secara bijak, mendingan nggak usah tertarik, deh. Nanti malah kena akibatnya sendiri hingga membuat hidup susah.

Ada hal yang membuat saya miris. Dulu, saat berkunjung ke suatu mal, kami bertiga bermaksud makan siang di sebuah restoran yang menyajikan menu Sunda. Setelah memilih tempat duduk, saya hendak memesan pada pelayan resto itu. Sebelum saya bertanya, sang pelayan bertanya lebih dulu. Ia menanyakan kartu kredit bank anu atau kartu member mal karena pembayaran tunai tidak diterima jika belum menjadi member. Saat saya sampaikan hal tadi pada suami, ia langsung nggak berselera lagi.

Akhirnya, kami memilih keluar dari sana dan terpaksa makan di restoran fast food yang tentu saja menerima pembayaran uang tunai. Suami saya berceloteh, “Masa, mau makan aja harus pake kartu?” Kami memang paham bagaimana penggunaan kartu kredit karena telah banyak teman-teman dan beberapa kerabat yang pernah menggunakannya. Namun prinsip kami, nggak usah cari yang susah deh, kalau ada yang lebih mudah.

Sekali lagi, godaan kartu sakti itu memang menggiurkan dan sepertinya aplikasinya sangat mudah karena SPG dengan manis menawarkan via telepon atau menghampiri kita ke kantor dan di mal lalu tring! kartu itu bisa langsung jadi. Tetapi Ramadhan ini harus menjadi pengendali nafsu belanja yang tak perlu. Jika memang kita mampu dengan cermat menggunakan si kartu sakti itu, sah-sah saja. Jika kita akan menjadi kalap dan silau dengan keindahan penawaran belanja, lebih baik hindari. Ingatlah bahwa kesaktian kartu itu tidak selamanya bisa mengubah hidup menjadi lebih baik.”

“Petasan Ramadhan”

Foto "Petasan" taken from : www.merdeka.com
Foto “Petasan” taken from : http://www.merdeka.com

Suara petasan selalu menghiasi awal bulan Ramadhan sejak saya kecil dulu. Bahkan hampir setiap hari puasa selalu ada suara petasan hingga mengganggu kenyamanan beribadah shalat Tarawih. Anak-anak yang menyulutnya kerap dilakukan di sekitar masjid. Kenapa harus petasan? Kenapa nggak bedug atau yang lain? Tradisi di beberapa dalam menyambut Ramadhan pun berbeda-beda. Namun seringkali tetap saja diwarnai aksi membakar petasan.

Pedagang petasan memang kerap hadir menjelang Ramadhan. Walaupun katanya dilarang oleh pihak berwajib namun tetap saja setiap tahun selalu ada. Jika dipikir dengan logika, anak-anak membelinya dengan uang. Itu berarti mereka seolah membakar uang begitu saja dalam sekejap. Mungkin atas nama kesenangan. Saya pribadi sewaktu kecil hanya berani menyulut kembang api karena kesenangan. Melihat pijaran apinya di malam hari itu kelihatannya indah lalu ingin menyulutnya lagi dan lagi sampai habis satu bungkus.

Petasan sepertinya disukai anak-anak, remaja, dan dewasa. Padahal apa sih, manfaatnya? Ini hanya sudut pandang saya sebagai seorang ibu dan sebagai orangtua. Sempat terpikir dalam benak saya, bagaimana kalau tradisi membakar petasan itu diganti saja dengan tradisi lain yang lebih mendidik, misalnya, kegiatan membuat kerajinan dari barang bekas atau barang kreatif lainnya lalu dijual di bazar Ramadhan di lingkungan RW setempat. Itu bisa lebih mengasah kreativitas dan menghasilkan. Ada ide lain untuk menghilangkan tradisi membakar petasan? Kesenangan terhadap sesuatu memang ada masanya. Akankah suara petasan di hari-hari Ramadhan usai?

“Ketukan Pintu Menjelang Ramadhan”

Senja 29 Desember 2012
Senja 29 Desember 2012

Tepat sehari sebelum satu Ramadhan tiba, suami membangunkanku. Waktu itu dini hari, entah pukul berapa. Samar-samar kudengar bisikan suami, “Neng, rasanya tadi terdengar ketukan pintu. Pertanda apa lagi, ya?”

Aku masih berusaha membuka mata dan mencoba mencerna kalimat tadi lalu kujawab, “Ah, mungkin dari pintu tetangga sebelah.” Tiba-tiba ingatanku berkelebat pada kejadian kecelakaan sebelas tahun lalu. Waktu itu, persis dini hari terdengar bunyi bel pintu depan rumah Mama. Saat itu suami sempat terbangun dan menengok ke pintu, tak ada siapapun di sana.

Pagi hari, suami mengalami kecelakaan motor dalam perjalanan mengantarku ke tempat bekerja. Tulang kaki kanan bagian depan tertindih badan motor hingga patah. Aku yang saat itu dibonceng, jatuh lalu terlempar ke tengah jalan hanya mengalami luka memar. Perjuangan menjalani hari-hari di awal pernikahan semakin terasa perih sejak kecelakaan itu.

Suamiku menyangka ketukan pintu yang ia dengar adalah sebuah pertanda buruk karena teringat pengalaman itu. Tapi aku berusaha berpikir positif. Toh, jika terjadi sesuatu yang buruk selalu ada pertanda melalui perasaan dan bisikan hati. Saat suami pergi bekerja, aku lebih banyak melafalkan doa untuknya dan tak ada perasaan khawatir. Alhamdulillah, seharian itu tak ada hal buruk apapun yang terjadi.

Aku mencoba mengingat beberapa malam sebelum datang ketukan itu, sosok almarhum Mama hadir beberapa kali dalam mimpi. Mimpi itu layaknya keseharian Mama saat masih sehat, begitu nyata beliau bercengkrama bersamaku. Di siang harinya, saat menjalani akitivitas di rumah, pikiranku teringat lagi pada Mama. Terutama saat melihat air jernih yang berlimpah ruah di rumah keduaku. Jika saja Mama masih ada, beliau pasti betah tinggal bersamaku karena hal yang paling membuatnya semangat beraktivitas di rumah adalah air yang melimpah.

Kedua mataku berkaca-kaca dan berusaha agar tidak larut dalam pikiran itu. Mungkin Mama memang mengunjungiku hari itu atau hanya aku saja yang merindukannya hingga terbawa dalam mimpi. Mungkin ketukan pintu yang suamiku dengar itu merupakan tanda selamat datang Ramadhan dari Mama atau hanya sebentuk hal gaib berupa suara.

Awal Ramadhan selalu membawa keharuan tersendiri. Entah bahagia atau sedih. Kupikir perasaan yang kurasakan kini campur aduk di antara keduanya. Sampai aku merasa tak sanggup untuk berziarah ke pusara Mama. Aku hanya mampu memanjatkan doa dari rumah untuknya karena kecepatan untaian doa yang tulus akan sampai lebih cepat dibandingkan dengan langkah kaki kita ke suatu tempat.

Ada satu hal lagi yang tak mampu kulakukan di awal Ramadhan ini. Mengetuk pintu rumah Mama walau seharusnya aku melakukannya. Aku tidak sanggup menampung perasaan yang tak menentu setiap kali melihat ruangan rumah itu. Terlalu banyak kenangan yang pernah terlihat di sana. Tidak mudah untuk melupakan dan aku tidak boleh melupakan. Penggalan cerita hidup harus menjadi bagian dari memori seseorang agar ia ingat siapa dirinya.

Ma, jika ketukan pintu di malam jelang Ramadhan itu Mama, terimakasih telah datang untuk mengingatkan bahwa setelah kematian,  kenangan masih tetap akan di benakku, dan keabadian cinta yang kau beri masih berseri di hati.

“Seulas Senyum Dery”

Pagi itu, aku mendapat firasat buruk tentang adikku, Dery. Aku bergegas menengoknya di rumah Ibu setelah meminta ijin suami. Saat tiba di sana, aku melihat Dery terbaring di kamarnya dengan wajah kuyu dan tubuhnya yang berubah kurus. Ia seperti balon yang tiba-tiba kempes padahal sebelum Ibu meninggal, tubuhnya mirip celengan semar.

Entah kapan terakhir kali aku menegok Derry sepeninggal Ibu. Mungkin dua bulan lalu. “Kamu sakit apa, Ry? Kok badan kamu jadi begini?” tanyaku sambil memegang lengannya yang tadinya berlemak, sekarang lemak itu entah menguap ke mana.

sumber gambar : 'Minions Galau' --www.gambarzoom.blogspot.com
sumber gambar : ‘Minions Galau’ –www.gambarzoom.blogspot.com

“Cuma demam, Kak. Mungkin aku kurang bergerak,” jawabnya dengan suara pelan tanpa ekspresi kesakitan. Lurus saja seolah tak ada yang serius.

“Makanya, kamu jangan makan sembarangan, rajin olahraga, dong. Jangan Cuma makan, tidur melulu.” Aku mulai seperti almarhum Ibu yang cerewet menasihati anaknya.

“Kulit jadi mengelupas begini. Udah mendingan kok sekarang, Kak. Cuma lemas aja,” imbuh Dery.

“Ya udah, nanti aku belikan sebotol madu sama vitamin, ya? Ini aku bawa nasi dan lauk buat kamu. Makan, ya?”

Dery hanya mengangguk, lalu ia menanyakan kakak tertua kami, Ardi. “Kak Ardi, sudah ditelepon belum, Kak? Suruh ke sini.”

“Hhh…Ry, aku udah kirim SMS, menelepon gak dibalas juga. Udah lah, enggak usah terlalu diharapkan datang. Mungkin sibuk terus. Kalau mau, kamu aja yang berkunjung ke sana.”

Dery hanya mematung lalu membuka wadah nasi yang aku sodorkan tadi.

“Ry, maafin aku, enggak bisa sering-sering nengok kamu karena di rumah juga punya kewajiban. Sekali-kali kamu jalan kaki ke rumahku sambil olahraga.”

Dery hanya mengangguk sambil mulutnya sibuk mengunyah. Ia nampak lahap. Aku terdiam dan memerhatikannya, lalu merasa dada ini sesak oleh beban yang sepertinya akan kutanggung seumurhidupku. Apakah aku sanggup menemukan kembali senyum di wajah Dery setelah sekian lama ia sulit berdamai dengan traumanya? Sejak tersandung kasus narkoba saat masih remaja, Dery sangat berubah. Ia tidak seceria dan sejail dulu, cenderung sangat introvert. Aku khawatir melihatnya terlalu sering melamun dan jarang sekali bicara pada dua orang adik tiri kami yang tinggal serumah. Mungkin sebagian fungsi otak Dery sudah rusak oleh barang haram itu. Beruntung ia tidak menggunakannya lagi namun pengaruh bagi tubuhnya masih menjadi pemikiranku.

Dery, suatu hari kamu harus mampu melangkah sendiri untuk kebaikanmu. Tak selamanya aku mampu menanggung hidupmu. Adakalanya aku berharap bisa memperbaiki keadaan di masa kecil kita dulu. Aku tak bisa dan masa lalu hanya bisa dijadikan cermin bagi kita. Aku hanya mampu berdoa untukmu agar keajaiban hadir di kehidupanmu. Aku ingin melihat senyummu yang selama ini hilang. Tersenyumlah untukku, Dery…

 

 

“Tiga Pasang Sepatu di Hari Minggu”

“Papa, ayo lari!” teriak gadis kecil berambut sebahu pada suamiku.

“Jangan cepat-cepat! Nanti Papa ketinggalan,” jawab laki-laki bermata coklat itu diiringi tawa kecil.

Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Pandangan ku alihkan ke kiri-kanan jalan menuju pegunungan Manglayang. Di sana terbentang kebun singkong, tembakau, dan rerumputan tinggi untuk pakan sapi. Cuaca sangat sejuk walau langit agak mendung. Hari seperti ini selalu kami tunggu.

Berjalan kaki selalu menjadi hal yang istimewa dan menyenangkan bagiku. Selain membakar kalori dan menghirup oksigen sesuka hati, hal lain yang harus aku syukuri adalah interaksi antar anggota keluarga kecilku. Mungkin di hari-hari biasa, aku hanya mengobrol seputar kegiatan sekolah putriku dan bertukar pikiran tentang berita-berita aktual yang sedang hangat di televisi bersama suami. Khusus di hari minggu, aku selalu menjadwalkan untuk berjalan kaki bersama diselingi komentar-komentar lucu dari putriku tentang hal-hal yang ia temukan selama perjalanan. Sama sekali tak ada keluhan rasa capek atau merengek meminta berhenti berjalan darinya.

Kegiatan berjalan kaki membuat kami bertiga semakin dekat dan semakin bersyukur pada Allah bahwa hal yang paling berharga adalah kebersamaan dalam keluarga. Kesehatan juga menjadi hal yang harus kami pelihara. Tanpa tubuh yang sehat, kita tak akan mampu beraktivitas dengan baik. Jika boleh mengingat dulu di awal kehidupan pernikahan, aku dan suami sering berjalan kaki. Waktu itu, selain belum memiliki kendaraan, kami berdua harus berjalan kaki cukup jauh dari rumah kontrakan ke jalan utama. Suami pun harus lebih banyak berjalan kaki untuk kesehatan kaki kanannya yang saat itu tengah terpasang pen karena kecelakaan.

Kini, aku bersyukur keadaan telah membaik. Kami sangat menikmati pemandangan di sekitar hunian baru yang dekat dengan taman dan perkebunan milik pemerintah kota. Tanaman sayuran, buah-buahan, dan daun tembakau berderet cantik di sebelah ruas jalan kompleks perumahan. Selain karena air yang bersih, udara yang sejuk, sanitasi yang baik, dan infrastruktur yang memadai, aku senang bertetangga dengan orang-orang yang beradab. Satu hal lagi yang akan menjadi kebiasaan baruku adalah berkebun, memanfaatkan lahan luas di belakang rumah. Untuk kegiatan yang satu ini aku selalu membahasnya bersama suami karena ia jauh lebih berpengalaman. Maklum, pernah menjadi ‘si Bolang’ di tanah kelahirannya, Palimanan.

Benar apa kata almarhumah Mama, bahwa jika kita menemukan lingkungan dan berinterkasi dengan orang-orang yang setara dengan pola pikir kita maka hidup bertetangga akan nyaman. Sekadar perbandingan, saat tinggal di rumah lama yang mungil dan sederhana yang kami tempati sekarang, akses jalan dan lingkungannya tidak kondusif, tetangga sebelah rumah selalu bersikap seenaknya (menyetel musik dangdut sekeras udelnya), bicaranya kurang beretika, dan lain-lain. Namun semua itu adalah proses karena kita tidak bisa memaksakan ingin hidup ideal seperti apa yang kita inginkan. Jalani saja hingga seiring waktu apa yang kita mau terwujud.

Kembali ke jalan kaki, memakai sepatu itu lebih nyaman karena kaki tak akan terlalu lelah dan setiap jengkal pemandangan indah menjadi hal yang tak ternilai harganya. Begitu juga dengan hidup. Jika kita menemukan alas kaki yang nyaman dan melangkah sesuai dengan kata hati, ditambah dengan tetap bersyukur pada Allah maka perjalanan dalam hidup akan terasa “nikmat”. Rasa suka cita yang hadir layaknya berjalan pagi di hari minggu dengan hati menggebu tanpa gerutu.

Aku ingin tiga pasang sepatu yang menghiasi hari minggu kami tetap menjadi teman dalam perjalanan hidup. Tak boleh ada kata sesal jika pikiran masih berakal. Tak boleh ada kata malas jika hati masih berusaha keras. Tak boleh ada kata lelah jika anugerah masih bersimbah.

“Ma, hari minggu kita jalan-jalan lagi, ya, ke gunung?” ajak gadis kecilku dengan mata berbinar.

“Hayuk!” jawabku dengan senyum bahagia.

 

SEpatu 2

“Suatu Hari Bersama Paman” (Part 2)

picture taken from : printablecolouringpages.co.uk
picture taken from : printablecolouringpages.co.uk

Aku lupa kapan terakhir mendengar suara Paman di telepon. Ya, cuma Paman yang rajin menanyakan kabarku. Seharusnya aku yang sering menelepon, Paman. Beliau aku panggil Om, adik dari Mamaku.

Ada satu kesempatan yang tak bisa kulupakan. Waktu itu, di meja makan, usai makan malam. Kalimat yang Om katakan sangat menikam hatiku hingga bekas tikaman itu bukan menjadi luka tetapi menjadi sebongkah semangat hidup yang harus aku bakar. Bara itu hingga kini masih menyala dengan bahan bakar doa dan harapan.

Om, mungkin aku tidak mampu membalas segala kebaikan yang Om pernah berikan. Namun sepertinya Allah telah memberikan segala kebaikan hidup padamu. Aku sangat senang ketika mendengar Om dan Tante pergi ke tanah suci. Semoga Allah selalu memberikan karunia-Nya padamu. Beberapa kali aku bermimpi berkunjung ke rumah Om dan rasanya seperti nyata. Mungkin rasa kangen yang terpendam menjelma menjadi mimpi indah. Selain kangen menaiki kereta api, aku juga kangen dengan suasana keluarga yang harmonis dan tentu saja masakan Tante yang enak.

Aku tidak mampu membayangkan bagaimana jika hari itu Om tidak mengajakku tinggal bersama di rumah dan melanjutkan sekolahku. Allah mengulurkan pertolongan padaku melalui tanganmu, Om. Semakin hari, aku semakin mengagumi sosokmu yang penuh canda, cerdas, pekerja keras, dan family man. Beberapa penggalan cerita masa kecilmu pernah kudengar dari almarhumah Mama.

Bagaimanapun dirimu, aku akan tetap menganggapmu sebagai Ayahku. Sebenarnya, aku ingin berlama-lama bertukar cerita denganmu, tapi langkah perjalanan hidupku harus terus berganti agar aku mandiri. Mungkin suatu hari aku akan memerlukan bantuanmu saat aku butuh. Doaku untukmu dan keluarga akan selalu kuucapkan agar kasih sayang selalu bertaut di celah-celah langit yang terkadang kelabu.

*untuk Om Lily Syahrial Arifien dan keluarga.