“Kereta Senja”

Railway

Ingin sekali ku berteriak, “Mama, aku akan merindukanmu!” saat kereta ini melaju meninggalkan stasiun Bandung.

Tak ada sejumput pun raut sedih Mama. Seulas senyum darinya membuatku tegar. Seperti jalur rel baja ini yang beribu kali tergesek oleh rodanya.

Buku filsafat yang kubawa menjadi teman dalam perjalanan menuju kota Pahlawan.

“Saya takut kalau baca yang begitu,bikin kening berkerut,” celetuk laki-laki gondrong bertubuh kurus yang tak kusadari telah duduk di sebelahku.

Aku hanya tersenyum.

“Suka ya, baca yang begitu?” tanyanya lagi.

“Nggak juga.”

“Kalau saya lebih suka baca yang ringan tapi meninggalkan kesan.”

“Oh…” Aku mengangguk dan kembali menekuri halaman buku. Namun si gondrong masih ingin mengobrol.

“Turun di mana?”

“Surabaya Gubeng.”

“Oh…”

Hening.

Mataku mulai perih, lalu aku terlelap. Cukup lama. Di stasiun Tugu aku terbangun. Si gondrong sudah lenyap. Aku belum tahu namanya. Tapi aku tak peduli di mana dia turun. Kami berdua hanya orang asing seperti kereta yang berganti disinggahi.

 

 

“Being Thirty Five”

Screen Capture from Google

Screen Capture from Google

Hari ini saya bahagia mendapatkan beberapa pesan yang berisi ucapan ‘Selamat Ulang Tahun’. Rasanya baru kemarin saya menulis tentang perempuan usia tiga puluhan (Amazing 30-Melewati Usia 30 dengan Senyuman). Ada satu ucapan dari seorang teman yang membuat saya tersadar bahwa usia saya di dunia telah berkurang. Namun secara keseluruhan isi dari ucapan-ucapan itu mendoakan agar kebahagiaan dan keberkahan senantiasa menyertai saya.

Ya, bahagia. Itu saja. Tak perlu perayaan khusus. Bukan hanya bahagia dalam hal materi tetapi bahagia rohani. Kenikmatan dalam melakukan ibadah, itu sebuah kebahagiaan yang tak ternilai. Kenikmatan dalam bertukar pikiran bersama pasangan tentang rancangan langkah-langkah kehidupan, itu pun kebahagiaan. Terlebih saat melihat anak gadis saya tumbuh dan ‘dewasa’ di usianya yang masih dini, itu adalah kebahagiaan yang membuat hidup lebih ceria dan semangat. Persahabatan yang telah terjalin cukup lama, itu pun suatu kebahagiaan.

Namun di setiap rasa bahagia selalu ada ritme lain yang mengganggu, seperti kecewa, sedih, khawatir, dan pikiran negatif lainnya. Terutama saat mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan dari salah satu anggota keluarga dan saya tidak mampu berbuat apa-apa selain berdoa. Ya, perjalanan hidup itu memang tak pernah lurus saja dan selalu bertemu dengan jalan berkelok juga terjal. Sampai saya di usia ini, saya merasa lebih menerima keadaan yang Allah berikan walau sebagai manusia tetap selalu dihantui keinginan-keinginan dunia yang berlebihan.

Menerima keadaan dalam hidup bukan berarti saya diam dan hanya menengadahkan tangan pada Sang Khalik, tetapi bagaimana saya memahami kemampuan dan usaha yang bisa saya lakukan menuju sebuah harapan bersama pasangan. Saat hadir keinginan memiliki rumah yang kondisinya lebih baik daripada sebelumnya, Allah menunjukkan jalan itu dengan cara-Nya. Saya dan pasangan sempat tak bisa mengerti dan mengucap syukur atas keajaiban itu. Dari pengalaman ini saja, saya menyadari bahwa keajaiban hadir bukan tanpa ikhtiar. Begitu banyak penggalan keajaiban yang terjadi dalam hidup saya.

Hal-hal menakjubkan pun terjadi saat saya menjadi ibu. Namun di usia ini, saya merasa belum mampu bersikap dewasa. Selalu ada ‘soal-soal kehidupan’ yang harus bisa saya jawab sendiri seiring langkah kaki saya hingga membuat saya belajar memahami diri sendiri, melaksanakan tanggung jawab saya, dan berusaha memprioritaskan kebutuhan sang buah hati di atas segala keinginan pribadi.

Saya sangat beruntung di usia ini, luka-luka yang pernah menyayat jiwa saya perlahan sembuh , dan saya merasa lebih ‘sehat’. Itu terjadi bukan tanpa pertolongan Allah. DIA Maha Penyayang. Pertemanan yang baik, perilaku pasangan yang sangat menghormati saya sebagai wanita, dan doa dari orang-orang yang menyayangi saya.

Selalu terbersit pemikiran, bagaimana jika saya nanti dipanggil Allah? Saya merasa belum banyak bekal. Secepat kilat saya berusaha mensyukuri apa yang telah saya miliki, lalu terbayang sebuah senyum wajah gadis kecil saya yang telah beranjak dewasa dan dari pancarannya itu terlihat kesiapan dirinya untuk  saya tinggalkan.

Saya berpikir ulang lagi dan mencoba mengerti bahwa saya hidup untuk menanamkan harapan pada gadis kecil ini. Amanah Allah yang menjadi tugas besar saya agar mampu mempersiapkan senyumannya. Saya tidak bisa melakukannya sendiri. Pasangan menjadi orang yang mampu menjadi pengingat tugas itu dan Sang Pencipta yang selalu menjadi penuntun saya jika saya tetap bertakwa.

Harapan saya di usia ini hanya ingin mempertahankan keseimbangan hidup agar mampu menjalani hidup ke depan dengan hati tenang dan berpikir ke arah yang lebih baik. Being thirty five is an adventure tobe more mature.

“Tukang Sayur yang Jujur”

sumber gbr : pmccdelhi.com

sumber gbr : pmccdelhi.com

Suatu pagi di lingkungan sekitar rumah keduaku terdengar teriakan, “Yur!” Suara motor berhenti di tetangga sebelah. Aku segera keluar rumah dan menghampiri tukang sayur. Tukang sayur dengan senyum ramah mempersilakan aku untuk memilih.

Aku selalu bingung saat memilih karena apa yang tersedia di sana hanya bahan-bahan yang tersisa dari pembeli sebelumnya. Alhasil, menu masakan yang sudah direncanakan aku ubah sesuai dengan bahan yang tersedia. Aku mengeluh pada tukang sayur, “Mang, yang banyak dong persediaanya biar saya kebagian.”

“SMS aja Bu, kalau mau pesan ikan atau apa. Nanti saya bawain. Jadi Ibu nggak bingung.” Ujar si Mang dengan percaya diri sambil memegang BB-nya.

Sekilas kulirik si Mang sibuk menjawab pesan di BB-nya sambil menungguku dan tetangga memilih sayuran. “hmm, zaman sekarang, tukang sayur gaya banget, ya? Pake BB,” gumamku. Setelah selesai membayar belanjaan, aku mengambil HP dan menyimpan nomor HP si Mang. Lalu nomor itu aku miskol dan meminta si Mang menyimpannya.

“Bu, BB saya yang ini lagi rusak, nggak bisa nyimpen nomor. Nanti kalau SMS pake nama sama blok rumah Ibu saja,” katanya.

Dengan nada canda aku bilang, “Oh, gitu. Kan, sebentar lagi lebaran, Mang. Ganti HP baru, dong.” Si Mang hanya tertawa ringan lalu menawarkan BB pada Ibu tetangga yang masih memilih sayuran.

Usut punya usut, ternyata si Mang sebelum berprofesi pedangan sayuran keliling, pekerjaannya adalah penjaga counter HP di bilangan Bandung Electronic Centre (BEC). Si Mang mengeluh, bekerja di sana lumayan pusing karena dituntut oleh bosnya supaya mendapatkan keuntungan lebih banyak setiap bulannya. Akhirnya, si Mang membanting setir menjadi pedagang sayuran agar lebih leluasa mengatur segala pemasukan dan pengeluaran dengan kata lain menjadi bos sendiri dan pelaksana. Dia pun mengaku hanya mengambil keuntungan Rp500,- dari setiap barang yang dijualnya. Dia pun meminta agar kami (pembeli) jangan belanja ke pasar. Selain jaraknya agak jauh, sekitar 15 menit, si Mang beralasan bahwa dia adalah pengantar setia kebutuhan para Ibu dan beramal di Ramadhan ini.

Kemudian, saat membicarakan harga-harga kebutuhan sehari-hari, si Mang pun merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh para Ibu rumah tangga. Dia pun mengeluhkan, apa arti wakil rakyat bagi kita jika harga-harga barang malah semakin naik? Para Ibu termasuk si penulis note ini, juga mengeluhkan, kenapa kenaikan gaji nggak sesering seperti kenaikan harga barang? Mau ditanggapi serius atau tidak, hal tersebut seringkali menjadi bahan obrolan dan candaan saat melakukan transaksi antara pedagang dan pembeli.

Dua hari kemudian, aku menerima SMS dari si Mang, isinya, “Punten, bilih aya nu kawagel, mamanawian bade pesen kanggo enjing masak. Mangga chat aja. :) Pin BB : ******* “ (= Maaf, jika mengganggu, barangkali mau pesan untuk besok masak. Silakan chat aja.)

Si Mang hobi chat juga. Dasar tukang HP, eh, tukang sayur zaman sekarang. Lama-lama, sayuran bakal dijual On Line, nih. Btw, aku belum nanya nama si Mang itu. Nama di Phone contact aku save, Mang Sayur Komplek. :D

“Gadis 10 Tahun”

Rasanya baru kemarin, aku melahirkannya di waktu shubuh, 22 Juni 2005. Parasnya sangat cantik berbulu mata lentik. Kulitnya putih bersih. Tubuhnya sehat dan bulat. Aku bahagia menerima anugrah-Nya walau kondisi perekonomian keluarga dalam keterbatasan. Neneknya setia menemani selama berada di rumah bersalin walau terkantuk-kantuk. Papanya mengazaninya dengan penuh rasa syukur.

Aku semakin mengerti bagaimana tahapan menjadi seorang ibu karena membesarkan dan mengasuhnya. Gadis kecilku yang agak terlambat berjalan tetapi bicara lebih dini, membawaku pada dunia keibuan yang sarat makna. Tangis, tawa, khawatir, dan letih silih berganti di setiap hariku menghadapi pengalaman bersamanya. Kesabaran menjadi kunci segala perjuangan dalam mengerti dirinya.

Kini, gadis kecilku menginjak usia 10 tahun. Mulai sulit mencari baju-baju yang pas dengan ukuran tubuhnya yang tanggung. Alhasil, baju remaja sudah menjadi pilihan. Gadisku akan tumbuh pesat, cepat dan tetap menjadi anak yang smart. Aku sangat beruntung memilikinya. Gadis yang hanya menangis jika merasa tak nyaman, anteng namun penuh kehati-hatian, sangat well prepare seperti Papanya, dan agak sensitif sepertiku. Hei, gadisku berzodiak sama denganku. Kami sama-sama perempuan bertipe sensitif namun perhatian.

Aku ingin gadisku menjadi sahabatku hingga aku menua. Aku ingin dia berhasil dalam hidupnya karena ajaran dan pengalaman orangtuanya. Aku ingin dia suka membaca dan menyukai seni. Itu sudah terbukti. Saat memperkenalkannya dengan buku bergambar dulu, gadisku sangat antusias. Bahkan sejak dini, dia telah kukenalkan sebuah buku gambar lalu dia dengan senang membuat bola kusut dan coretan berwarna-warni di sana. Dinding rumah kami pun menjadi sasaran kreativitasnya. Ketika mendengar musik, perilakunya lucu dan ceria, bahkan mampu menyanyikan lagunya berkali-kali.

Saat melihatnya di usia ini, aku semakin menyadari bahwa usia manusia itu begitu singkat. Gadis kecilku menuju dunia remaja sebentar lagi sedangkan aku menuju kematangan jiwa lalu menua. Setiap tahun aku mencoba mengerti apa yang terjadi pada gadisku, apa keinginannya, apa saja yang dia belum mengerti, dan siapa yang dia kagumi. Aku beharap, suatu hari nanti, dia mampu mengerti bahwa seorang gadis harus menjaga kehormatan dirinya untuk kebaikan dirinya dan keluarganya.

Perdebatan kecil di antara kami berdua memang selalu ada. Terkadang menggelikan dan sedikit memancing amarah. Namun aku harus mampu memberikan pengertian padanya tanpa harus mengumbar amarah besar karena dari sana aku belajar menjadi penyabar dan dia belajar menjadi pendengar.

Gadis kecilku, tak cukup hanya 10 tahun untuk mengertimu. Aku memerlukan waktu seumur hidupku untuk belajar darimu pada makna hidupku. Aku dan Papamu selalu mencintaimu sepenuh jiwa raga. Selamat menjadi gadis tanggung. Masih banyak waktu di depanmu untuk mengembangkan dirimu menjadi seseorang yang mampu menghadapi segala tantangan dan mengejar cita-citamu. Semoga impianmu menjadi seorang arsitek dapat terwujud dan membawa kebaikan bagi dirimu dan orang banyak. Semoga Allah selalu menuntunmu ke jalan kebenaran. Peluk cium selalu untukmu, Puga Rarasantang. :*

“Shalat sebagai Penyelamat”

Foto : Dokumen pribadi (Fujifilm Finepix)

Foto : Dokumen pribadi (Fujifilm Finepix)

Setiap muslim telah mengetahui bahwa identitas diri sebagai seorang muslim adalah melakukan shalat. Sekadar untuk berintrospeksi diri mengenai makna shalat bagi saya pribadi, saya merasakan manfaat besar dari shalat. Namun manfaat yang saya rasakan memiliki tahapan-tahapan mirip anak tangga yang saya tapaki ketika saya ingin menggapai sesuatu di atas sana.

Entah mulai usia berapa saya mulai mampu memelihara shalat lima waktu. Saat remaja rasanya masih sering bolong-bolong. Banyak hal yang membuat saya labil dan tergoda rayuan setan hingga meninggalkan shalat. Dampaknya terasa pada batin saya. Semakin jarang saya ingat shalat maka ingatan saya pada Allah juga berkurang. Alhasil, beberapa langkah pencapain diri mengalami kegagalan dan batin terasa keruh.

Seiring waktu berjalan, memasuki usia kepala dua, saya mulai berusaha kuat memelihara shalat. Tentu saja ini bukan hal mudah karena jika lingkungan tidak kondusif baik itu di dalam ruang lingkup keluarga, atau pertemanan, maka saya tidak akan mampu. Beruntung saya selalu berada dalam lingkungan pertemanan yang selalu mengajak saya pada kebaikan. Kegiatan shalat seolah tak pernah luput di beberapa pertemanan yang pernah saya jalin. Sebutlah seorang sahabat yang selalu menjadi pencerah saat saya sedang kalut dalam kegalauan hati. Shalat menjadi pilihan utama dalam memohon petunjuk yang terbaik atas masalah yang saya alami. Kegiatan kerohanian dan bacaan-bacaan penyejuk hati menjadi penyubur ketaqwaan.

Beranjak dewasa, saya mulai intens melakukan shalat Dhuha. Gara-gara melihat seorang teman sekantor yang melakukannya. Semasa kuliah juga saya lakukan karena ikut-ikutan teman. Walaupun saya tahu manfaat shalat Dhuha, terkadang rasa malas hadir. Padahal hanya lima menit saja waktu yang dibutuhkan untuk itu. Lagi-lagi lingkungan pertemanan menyelamatkan saya dari penyakit malas shalat hingga pada akhirnya saya selalu butuh untuk shalat.

Saya terkadang menangis dalam sambil mengadu pada Allah ketika hati dan pikiran sedang buntu. Di lain waktu, saya shalat terburu-buru karena ingat dengan aktivitas dunia yang membuat kita terlalu cinta padanya.

Kini, saya bersyukur memiliki pasangan hidup yang selalu mengingatkan shalat lima waktu. Bahkan saat jatuh sakit, senyeri apapun sakit yang saya alami, saya selalu diingatkan untuk tetap shalat. Kebiasaan shalat membuat saya lebih menghargai waktu dan disiplin. Hati dan pikiran tetap terarah pada sesuatu yang lebih Maha Besar dari segala urusan. Saya pun merasa lebih mudah mengajak anak untuk shalat karena ia melihat saya dan suami selalu melakukannya.

Saya merasa Allah sangat menyayangi saya. Orang-orang terdekat selalu menjadi alarm bagi saya untuk tetap bersyukur dengan shalat. Perjalanan hidup saya terasa lebih baik dan lebih mudah dengan shalat walau kerikil masalah terkadang hadir. Pada akhirnya, berdoa dan memohon ampun menjadi kebutuhan sehari-hari agar hidup saya dan keluarga selamat. Sampai kapanpun, saya menyakini bahwa shalat akan membawa kebaikan bagi diri jika kita benar-benar berserah diri pada-Nya.

“Godaan Kartu Sakti”

Foto from : omah-tips.blogspot.com

Foto from : omah-tips.blogspot.com

Suatu siang, kami bertiga mengunjungi sebuah mal besar yang baru saja dibuka. Letaknya dekat dengan tempat tinggal kami. Beberapa barang yang kami perlukan telah kami pilih dan memenuhi keranjang. Tiba di kasir, sang kasir menanyakan kartu kredit. Saya jawab, “tidak ada.” Dalam benak saya, “Kenapa harus pakai kartu kredit sih, dengan iming-iming diskon sekian persen? Masyarakat kita kayak disuruh berutang kalau gitu. Diskonnya nggak seberapa, cicilannya bakal kayak antrian kereta yang panjang.”

Saya pribadi lebih suka memakai kartu debit atau pembayaran tunai. Saya tidak menghakimi para pemakai kartu kredit tetapi ada pilihan dalam hidup saat bertransaksi. Jika memang mampu membayar cicilan kartu kredit dengan bunga sekian persen dan tepat waktu, ya, silakan. Jika merasa tidak mengerti cara menggunakannya secara bijak, mendingan nggak usah tertarik, deh. Nanti malah kena akibatnya sendiri hingga membuat hidup susah.

Ada hal yang membuat saya miris. Dulu, saat berkunjung ke suatu mal, kami bertiga bermaksud makan siang di sebuah restoran yang menyajikan menu Sunda. Setelah memilih tempat duduk, saya hendak memesan pada pelayan resto itu. Sebelum saya bertanya, sang pelayan bertanya lebih dulu. Ia menanyakan kartu kredit bank anu atau kartu member mal karena pembayaran tunai tidak diterima jika belum menjadi member. Saat saya sampaikan hal tadi pada suami, ia langsung nggak berselera lagi.

Akhirnya, kami memilih keluar dari sana dan terpaksa makan di restoran fast food yang tentu saja menerima pembayaran uang tunai. Suami saya berceloteh, “Masa, mau makan aja harus pake kartu?” Kami memang paham bagaimana penggunaan kartu kredit karena telah banyak teman-teman dan beberapa kerabat yang pernah menggunakannya. Namun prinsip kami, nggak usah cari yang susah deh, kalau ada yang lebih mudah.

Sekali lagi, godaan kartu sakti itu memang menggiurkan dan sepertinya aplikasinya sangat mudah karena SPG dengan manis menawarkan via telepon atau menghampiri kita ke kantor dan di mal lalu tring! kartu itu bisa langsung jadi. Tetapi Ramadhan ini harus menjadi pengendali nafsu belanja yang tak perlu. Jika memang kita mampu dengan cermat menggunakan si kartu sakti itu, sah-sah saja. Jika kita akan menjadi kalap dan silau dengan keindahan penawaran belanja, lebih baik hindari. Ingatlah bahwa kesaktian kartu itu tidak selamanya bisa mengubah hidup menjadi lebih baik.”

“Petasan Ramadhan”

Foto "Petasan" taken from : www.merdeka.com

Foto “Petasan” taken from : http://www.merdeka.com

Suara petasan selalu menghiasi awal bulan Ramadhan sejak saya kecil dulu. Bahkan hampir setiap hari puasa selalu ada suara petasan hingga mengganggu kenyamanan beribadah shalat Tarawih. Anak-anak yang menyulutnya kerap dilakukan di sekitar masjid. Kenapa harus petasan? Kenapa nggak bedug atau yang lain? Tradisi di beberapa dalam menyambut Ramadhan pun berbeda-beda. Namun seringkali tetap saja diwarnai aksi membakar petasan.

Pedagang petasan memang kerap hadir menjelang Ramadhan. Walaupun katanya dilarang oleh pihak berwajib namun tetap saja setiap tahun selalu ada. Jika dipikir dengan logika, anak-anak membelinya dengan uang. Itu berarti mereka seolah membakar uang begitu saja dalam sekejap. Mungkin atas nama kesenangan. Saya pribadi sewaktu kecil hanya berani menyulut kembang api karena kesenangan. Melihat pijaran apinya di malam hari itu kelihatannya indah lalu ingin menyulutnya lagi dan lagi sampai habis satu bungkus.

Petasan sepertinya disukai anak-anak, remaja, dan dewasa. Padahal apa sih, manfaatnya? Ini hanya sudut pandang saya sebagai seorang ibu dan sebagai orangtua. Sempat terpikir dalam benak saya, bagaimana kalau tradisi membakar petasan itu diganti saja dengan tradisi lain yang lebih mendidik, misalnya, kegiatan membuat kerajinan dari barang bekas atau barang kreatif lainnya lalu dijual di bazar Ramadhan di lingkungan RW setempat. Itu bisa lebih mengasah kreativitas dan menghasilkan. Ada ide lain untuk menghilangkan tradisi membakar petasan? Kesenangan terhadap sesuatu memang ada masanya. Akankah suara petasan di hari-hari Ramadhan usai?