“Seulas Senyum Dery”

Pagi itu, aku mendapat firasat buruk tentang adikku, Dery. Aku bergegas menengoknya di rumah Ibu setelah meminta ijin suami. Saat tiba di sana, aku melihat Dery terbaring di kamarnya dengan wajah kuyu dan tubuhnya yang berubah kurus. Ia seperti balon yang tiba-tiba kempes padahal sebelum Ibu meninggal, tubuhnya mirip celengan semar.

Entah kapan terakhir kali aku menegok Derry sepeninggal Ibu. Mungkin dua bulan lalu. “Kamu sakit apa, Ry? Kok badan kamu jadi begini?” tanyaku sambil memegang lengannya yang tadinya berlemak, sekarang lemak itu entah menguap ke mana.

sumber gambar : 'Minions Galau' --www.gambarzoom.blogspot.com

sumber gambar : ‘Minions Galau’ –www.gambarzoom.blogspot.com

“Cuma demam, Kak. Mungkin aku kurang bergerak,” jawabnya dengan suara pelan tanpa ekspresi kesakitan. Lurus saja seolah tak ada yang serius.

“Makanya, kamu jangan makan sembarangan, rajin olahraga, dong. Jangan Cuma makan, tidur melulu.” Aku mulai seperti almarhum Ibu yang cerewet menasihati anaknya.

“Kulit jadi mengelupas begini. Udah mendingan kok sekarang, Kak. Cuma lemas aja,” imbuh Dery.

“Ya udah, nanti aku belikan sebotol madu sama vitamin, ya? Ini aku bawa nasi dan lauk buat kamu. Makan, ya?”

Dery hanya mengangguk, lalu ia menanyakan kakak tertua kami, Ardi. “Kak Ardi, sudah ditelepon belum, Kak? Suruh ke sini.”

“Hhh…Ry, aku udah kirim SMS, menelepon gak dibalas juga. Udah lah, enggak usah terlalu diharapkan datang. Mungkin sibuk terus. Kalau mau, kamu aja yang berkunjung ke sana.”

Dery hanya mematung lalu membuka wadah nasi yang aku sodorkan tadi.

“Ry, maafin aku, enggak bisa sering-sering nengok kamu karena di rumah juga punya kewajiban. Sekali-kali kamu jalan kaki ke rumahku sambil olahraga.”

Dery hanya mengangguk sambil mulutnya sibuk mengunyah. Ia nampak lahap. Aku terdiam dan memerhatikannya, lalu merasa dada ini sesak oleh beban yang sepertinya akan kutanggung seumurhidupku. Apakah aku sanggup menemukan kembali senyum di wajah Dery setelah sekian lama ia sulit berdamai dengan traumanya? Sejak tersandung kasus narkoba saat masih remaja, Dery sangat berubah. Ia tidak seceria dan sejail dulu, cenderung sangat introvert. Aku khawatir melihatnya terlalu sering melamun dan jarang sekali bicara pada dua orang adik tiri kami yang tinggal serumah. Mungkin sebagian fungsi otak Dery sudah rusak oleh barang haram itu. Beruntung ia tidak menggunakannya lagi namun pengaruh bagi tubuhnya masih menjadi pemikiranku.

Dery, suatu hari kamu harus mampu melangkah sendiri untuk kebaikanmu. Tak selamanya aku mampu menanggung hidupmu. Adakalanya aku berharap bisa memperbaiki keadaan di masa kecil kita dulu. Aku tak bisa dan masa lalu hanya bisa dijadikan cermin bagi kita. Aku hanya mampu berdoa untukmu agar keajaiban hadir di kehidupanmu. Aku ingin melihat senyummu yang selama ini hilang. Tersenyumlah untukku, Dery…

 

 

“Tiga Pasang Sepatu di Hari Minggu”

“Papa, ayo lari!” teriak gadis kecil berambut sebahu pada suamiku.

“Jangan cepat-cepat! Nanti Papa ketinggalan,” jawab laki-laki bermata coklat itu diiringi tawa kecil.

Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Pandangan ku alihkan ke kiri-kanan jalan menuju pegunungan Manglayang. Di sana terbentang kebun singkong, tembakau, dan rerumputan tinggi untuk pakan sapi. Cuaca sangat sejuk walau langit agak mendung. Hari seperti ini selalu kami tunggu.

Berjalan kaki selalu menjadi hal yang istimewa dan menyenangkan bagiku. Selain membakar kalori dan menghirup oksigen sesuka hati, hal lain yang harus aku syukuri adalah interaksi antar anggota keluarga kecilku. Mungkin di hari-hari biasa, aku hanya mengobrol seputar kegiatan sekolah putriku dan bertukar pikiran tentang berita-berita aktual yang sedang hangat di televisi bersama suami. Khusus di hari minggu, aku selalu menjadwalkan untuk berjalan kaki bersama diselingi komentar-komentar lucu dari putriku tentang hal-hal yang ia temukan selama perjalanan. Sama sekali tak ada keluhan rasa capek atau merengek meminta berhenti berjalan darinya.

Kegiatan berjalan kaki membuat kami bertiga semakin dekat dan semakin bersyukur pada Allah bahwa hal yang paling berharga adalah kebersamaan dalam keluarga. Kesehatan juga menjadi hal yang harus kami pelihara. Tanpa tubuh yang sehat, kita tak akan mampu beraktivitas dengan baik. Jika boleh mengingat dulu di awal kehidupan pernikahan, aku dan suami sering berjalan kaki. Waktu itu, selain belum memiliki kendaraan, kami berdua harus berjalan kaki cukup jauh dari rumah kontrakan ke jalan utama. Suami pun harus lebih banyak berjalan kaki untuk kesehatan kaki kanannya yang saat itu tengah terpasang pen karena kecelakaan.

Kini, aku bersyukur keadaan telah membaik. Kami sangat menikmati pemandangan di sekitar hunian baru yang dekat dengan taman dan perkebunan milik pemerintah kota. Tanaman sayuran, buah-buahan, dan daun tembakau berderet cantik di sebelah ruas jalan kompleks perumahan. Selain karena air yang bersih, udara yang sejuk, sanitasi yang baik, dan infrastruktur yang memadai, aku senang bertetangga dengan orang-orang yang beradab. Satu hal lagi yang akan menjadi kebiasaan baruku adalah berkebun, memanfaatkan lahan luas di belakang rumah. Untuk kegiatan yang satu ini aku selalu membahasnya bersama suami karena ia jauh lebih berpengalaman. Maklum, pernah menjadi ‘si Bolang’ di tanah kelahirannya, Palimanan.

Benar apa kata almarhumah Mama, bahwa jika kita menemukan lingkungan dan berinterkasi dengan orang-orang yang setara dengan pola pikir kita maka hidup bertetangga akan nyaman. Sekadar perbandingan, saat tinggal di rumah lama yang mungil dan sederhana yang kami tempati sekarang, akses jalan dan lingkungannya tidak kondusif, tetangga sebelah rumah selalu bersikap seenaknya (menyetel musik dangdut sekeras udelnya), bicaranya kurang beretika, dan lain-lain. Namun semua itu adalah proses karena kita tidak bisa memaksakan ingin hidup ideal seperti apa yang kita inginkan. Jalani saja hingga seiring waktu apa yang kita mau terwujud.

Kembali ke jalan kaki, memakai sepatu itu lebih nyaman karena kaki tak akan terlalu lelah dan setiap jengkal pemandangan indah menjadi hal yang tak ternilai harganya. Begitu juga dengan hidup. Jika kita menemukan alas kaki yang nyaman dan melangkah sesuai dengan kata hati, ditambah dengan tetap bersyukur pada Allah maka perjalanan dalam hidup akan terasa “nikmat”. Rasa suka cita yang hadir layaknya berjalan pagi di hari minggu dengan hati menggebu tanpa gerutu.

Aku ingin tiga pasang sepatu yang menghiasi hari minggu kami tetap menjadi teman dalam perjalanan hidup. Tak boleh ada kata sesal jika pikiran masih berakal. Tak boleh ada kata malas jika hati masih berusaha keras. Tak boleh ada kata lelah jika anugerah masih bersimbah.

“Ma, hari minggu kita jalan-jalan lagi, ya, ke gunung?” ajak gadis kecilku dengan mata berbinar.

“Hayuk!” jawabku dengan senyum bahagia.

 

SEpatu 2

“Suatu Hari Bersama Paman” (Part 2)

picture taken from : printablecolouringpages.co.uk

picture taken from : printablecolouringpages.co.uk

Aku lupa kapan terakhir mendengar suara Paman di telepon. Ya, cuma Paman yang rajin menanyakan kabarku. Seharusnya aku yang sering menelepon, Paman. Beliau aku panggil Om, adik dari Mamaku.

Ada satu kesempatan yang tak bisa kulupakan. Waktu itu, di meja makan, usai makan malam. Kalimat yang Om katakan sangat menikam hatiku hingga bekas tikaman itu bukan menjadi luka tetapi menjadi sebongkah semangat hidup yang harus aku bakar. Bara itu hingga kini masih menyala dengan bahan bakar doa dan harapan.

Om, mungkin aku tidak mampu membalas segala kebaikan yang Om pernah berikan. Namun sepertinya Allah telah memberikan segala kebaikan hidup padamu. Aku sangat senang ketika mendengar Om dan Tante pergi ke tanah suci. Semoga Allah selalu memberikan karunia-Nya padamu. Beberapa kali aku bermimpi berkunjung ke rumah Om dan rasanya seperti nyata. Mungkin rasa kangen yang terpendam menjelma menjadi mimpi indah. Selain kangen menaiki kereta api, aku juga kangen dengan suasana keluarga yang harmonis dan tentu saja masakan Tante yang enak.

Aku tidak mampu membayangkan bagaimana jika hari itu Om tidak mengajakku tinggal bersama di rumah dan melanjutkan sekolahku. Allah mengulurkan pertolongan padaku melalui tanganmu, Om. Semakin hari, aku semakin mengagumi sosokmu yang penuh canda, cerdas, pekerja keras, dan family man. Beberapa penggalan cerita masa kecilmu pernah kudengar dari almarhumah Mama.

Bagaimanapun dirimu, aku akan tetap menganggapmu sebagai Ayahku. Sebenarnya, aku ingin berlama-lama bertukar cerita denganmu, tapi langkah perjalanan hidupku harus terus berganti agar aku mandiri. Mungkin suatu hari aku akan memerlukan bantuanmu saat aku butuh. Doaku untukmu dan keluarga akan selalu kuucapkan agar kasih sayang selalu bertaut di celah-celah langit yang terkadang kelabu.

*untuk Om Lily Syahrial Arifien dan keluarga.

“Gathering Pegiat Social Media” (bersama Nukman Luthfie & penerbit Mizan)

Banner Gathering

Jum’at siang, 6 Februari 2015, pukul 13.00 wib, saya menghadiri acara “Gathering Pegiat Social Media” yang diselenggarakan di gedung kantor Mizan Grafika Sarana / MGS (penerbit Mizan), jalan Cinambo no. 135-137, Ujungberung-Bandung, dengan pembicara Kang Nukman Luthfie. Saya disambut dengan ramah oleh salah seorang staf Mizan, lalu ia memberikan kupon Coffee Break kepada saya setelah mengisi daftar hadir.

 

 

Menu Coffee Break

Menu Coffee Break

Sebelum masuk ke acara utama, saya dan beberapa peserta lain yang umumnya adalah blogger, diperkenalkan dengan Company Profile penerbit Mizan.

CEO Mizan

CEO Mizan

 

Gedung MGS (Mizan Grafika Sarana) , Jalan Cinambo 135, Ujungberung-Bandung

Gedung MGS (Mizan Grafika Sarana) , Jalan Cinambo 135, Ujungberung-Bandung

Setelah pengenalan Company Profile Mizan, MC memperkenalkan manajer produksi dan promosi, Mohamad A.Luthfi. Kang Lutfi membeberkan bagaimana proses distribusi dan promosi buku-buku yang diterbitkan oleh Mizan. Mulai dari bagaimana naskah yang diterima oleh Mizan diolah dengan baik oleh tim redaksi, apa saja produk-produk dari Mizan, bagaimana alur perjalanan buku-buku bisa terpajang di toko-toko buku, bagaimana tim Mizan yang solid berusaha dengan baik menjaga agar buku-buku Mizan dapat bertahan lama berada di display toko buku hingga mampu menarik pembaca, dan langkah-langkah untuk mengetahui selera pasar melalui survey di media sosial.

Mohamad A.Luthfi (Manajer Produksi & Promosi)

Mohamad A.Luthfi (Manajer Produksi & Promosi)

Selama ini banyak hal detil yang belum saya ketahui tentang distribusi sebuah buku akhirnya terjawab oleh penjelasan Kang Lutfi. Para peserta acara juga mengajukan beberapa pertanyaan terkait hal tersebut, salah satunya, “Bagaimana bentuk kerjasama antara penerbit Mizan dengan karya-karya fiksi luar negeri sehingga bisa diterbitkan di Mizan?”

Pihak Mizan membeli hak cipta (rights) dari penulisnya dan bekerjasama dengan agen distributor tersebut dalam bentuk perjanjian yang resmi. Sebagai contoh : Novel fiksi “Dunia Sophie” karya Joestin Gaarder, yang dialihbahasakan oleh Mizan menjadi best seller bahkan menjadi gold edition (buku laris dengan hasil cetakan berkualitas tinggi dan eksklusif, lebih dari 400 eksemplar terjual dalam kurun waktu tertentu ). Buku tersebut kini, naik cetak setiap bulan.

Jika ingin mengetahui tentang karya fiksi “Dunia Sophie” bisa di klik di sini lalu terjemahannya bisa diperoleh di beberapa toko buku yang bekerjasama dengan Mizan.

Sayang sekali, karena keterbatasan waktu, saya tak bisa menambahkan pertanyaan pada Kang Luthfi. Saya dan para peserta diajak melihat-lihat proses percetakan buku di gedung belakang. Kami dipandu sang MC mengunjungi gudang kertas, melihat jenis-jenis kertas yang akan digunakan, sisa-sisa potongan kertas yang akan didaur-ulang, mesin pembuat plat yang sehelainya bisa memuat 16 halaman, pengecekan ketebalan tinta pada plat, proses cetak tulisan di  kertas, mesin pelipat kertas, pembuatan cover buku dan penimbulan hurufnya, laminasi cover, dan tahap akhir adalah pengemasan buku.

 

This slideshow requires JavaScript.

Setelah melihat proses pembuatan buku yang panjang, saya jadi tersadar bahwa ketelitian dan kesabaran menjadi faktor utama kualitas cetakan buku. Selain itu, mesin-mesin yang canggih dan keahlian para pengontrol mesin juga menjadi bagian yang sangat penting.

Saya dan para peserta acara kembali ke ruangan untuk break sejenak sambil menikmati hidangan yang sedari awal kedatangan tersaji dan sang MC memberikan games tidak penting tetapi hadiahnya yang penting. Lima belas menit berlalu, acara utama bersama Kang Nukman Luthfie, pakar social media, dimulai.

Perkenalan dengan sang pembicara, Nukman Luthfie

Perkenalan dengan sang pembicara, Nukman Luthfie

 

Kang Nukman sesungguhnya adalah seorang pengusaha di bidang digital advestising. Beliau adalah CEO dari Harmonia dan musikkamu.com yang penyuka kopi dan selalu “shoefie”. Beliau memulai materi tentang social media dengan obrolan dan pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti : Untuk apa sih, kita gabung di media sosial? Apa sekadar ingin eksis? Atau ikut-ikutan saja? Atau ada tujuan yang jelas?

 

Personal Branding Nukman Luthfie on Twitter

Personal Branding Nukman Luthfie on Twitter

Saya tercenung, lalu bertanya pada diri sendiri dan berusaha menjawab pertanyaan itu. Ya, saya memang mengikuti tren, berinteraksi dengan teman lama dan ingin mendapatkan informasi tentang berbagai hal, khususnya dunia kepenulisan dari media sosial, juga eksis dengan menulis di blog pribadi. Ketika saya mendengar Kang Nukman, bertanya pada salah seorang dari seorang peserta yang hadir, saya merasa takjub. Pemuda tersebut hanya berjualan sepatu dan omzet penjualannya sudah mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Jumlah follower akun Twitter-nya sudah lebih dari 1000.

Nukman Luthfie

Nukman Luthfie

DSC_0499-2

About personal branding on Soc-Med

 

on mata najwa

Nukman Luthfie On ‘Mata Najwa’

 

Kang Nukman memperlihatkan contoh yang jelas dari pemuda itu. Jika kita memiliki profil yang jelas, tujuan memiliki akun media sosial juga jelas untuk apa, dan follower kita terus bertambah, itu sudah oke.  Apa yang kita bagi di media sosial adalah ciri kepribadian kita dan jati diri kita (Personal Branding). Jika kita adalah penjual sepatu, maka bagilah hal-hal yang berkaitan dengan produk sepatu. Jika kita penulis, bagilah konten dan tulisan-tulisan di blog atau hal-hal yang berhubungan dengan dunia itu. Perbaiki data profilmu di akun media sosial menjadi data yang menyajikan dirimu yang sebenarnya dan sesuai dengan keahlian serta bidangmu. Follow dan bertemanlah dengan orang-orang yang membawa manfaat bagi dirimu.

Ada hal-hal yang perlu dihindari saat menggunakan media sosial, diantaranya : jangan gunakan media sosial saat sedang marah, mengkritik boleh saja tetapi dengan cara yang santun, jangan memasang foto profilmu bersama orang lain. Tunjukkan siapa dirimu karena itu adalah brand kamu. Hal-hal tersebut akan mempengaruhi jumlah follower kamu.

Kang Nukman juga mengingatkan untuk berhati-hati dalam berbicara di media sosial karena itu adalah ruang publik dan pemerintah telah memberlakukan Undang-undang ITE.

UU-ITE

 

 

Langkah-langkah untuk membangun Personal Branding antara lain seperti diagram di bawah ini :

Step Personal Branding

Secara garis besar saya menyimpulkan bahwa Personal Branding di akun media sosial yang kita miliki harus kita bangun perlahan seiring dengan keahlian dan bidang yang kita tekuni. Kang Nukman menambahkan bahwa kita tidak perlu terlalu banyak selfie untuk menunjukkan siapa diri kita tetapi tunjukkan dengan apa yang kita share kepada publik. Kalau boleh saya katakan, what you share is who you are. Kalimat yang sangat saya ingat baik-baik dari Kang Nukman adalah ‘Derajat tertinggi pengguna media sosial adalah sang creator. Dia adalah pencetus ide-ide dan pemikiran yang dituangkan di dalam tulisannya di blog.’

Thank God, I like writing and blogging! :)

Di akhir acara, saya tidak dapat mengikuti sesi tanya jawab dengan Kang Nukman, namun dari gathering ini saya mendapatkan pencerahan tentang bagaimana eksis dengan sehat di media sosial untuk perkembangan jati diri ke arah yang lebih baik. Terimakasih kepada penerbit Mizan atas kesempatan emas ini. Semoga bisa berjodoh lagi suatu hari nanti.

 

 

“Suatu Hari Bersama Paman” (Part 1)

Waktu itu, aku masih usia SD, menikmati sore di belakang kemudi sebuah mobil mungil yang sedang diperbaiki Paman. Paman selalu ku panggil dengan sebutan ‘Bapak’ karena ia memintanya begitu.

“Pak, aku ingin belajar menyetir mobil!” teriakku pada Paman.

“Ya, nanti kalau sudah besar, nanti Neng punya mobil sendiri,” jawab Paman sambil mengepulkan asap rokok kreteknya ke atas kap depan mobil.

Sejenak ku bayangkan aku benar-benar mengemudikan sebuah mobil sambil menyetel radio. Ah, sepertinya asyik! Teriakku dalam hati. Aku selalu senang melihat Paman bekerja di garasi kecil yang berfungsi sebagai bengkelnya. Aroma oli dan segala peralatan yang ada di sana seperti taman bermain yang menyenangkan bagiku. Saat Paman menyuruhku membeli sebungkus rokok favoritnya, dengan senang hati aku segera beranjak pergi ke warung terdekat. Sekembalinya dari sana, aku selalu diberi uang kembalian untuk ku pakai jajan. Sempat terpikir dalam benakku, enak ya, punya Paman apalagi punya Bapak. Belum ada rasa sedih yang mendera kala itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa Bapak kandungku pulang begitu cepat ke hadapan-Nya.

Sampai pada masa di mana Paman pun pulang untuk selamanya. Aku sangat sedih hingga tak sanggup menghadiri pemakamannya. Ia sosok yang hangat dan memberiku banyak hal. Kesederhanaan dan kasih sayang seorang Bapak begitu membekas.

Pak, Neng yakin suatu hari nanti, Neng akan memiliki sebuah mobil dan yang orang yang pertama kali Neng ingat adalah Bapak. Senyum dan pelukanmu tak akan terlupakan. :’)

Untuk alm. Bapak Deden Suganda bin Natapradja

“Bunga Kancing Ungu untuk Mama”

Ma, aku dan cucumu sedang senang berkebun sekarang. Halaman depan dan belakang rumah baru ingin kami hiasi dengan tanaman yang indah dan berbuah. Salah satu bunga yang kami tanam adalah bunga kancing ungu.

Entah kenapa aku tiba-tiba tertarik untuk membeli bibitnya di tukang tanaman hias. Padahal aku tak terlalu suka dengan warna ungu. Aku hanya ingat wajah Mama ketika itu. Bunga itu untukmu, Ma. Aku berharap setiap kali melihat bunga itu, nilai ketegaran dan spritualitas tertanam di kalbuku. Walau warna ungu cenderung memberi kesan sendu namun aku memaknainya lain. Itu semua karenamu, Ma.

Mama benar bahwa berkebun itu mampu melepaskan segala kepenatan hidup. Aku merasakannya. Awalnya aku tidak yakin bunga itu akan tumbuh segar dan mekar karena aku tidak pernah mencoba menanam apapun sebelumnya. Dulu, aku hanya menjadi penonton dan penikmat hasil tanaman yang Mama pelihara. Mama benar bahwa saat menyiram tanaman, kita harus mengajaknya ‘bicara’ agar ia tidak

"Bunga Kancing"

“Bunga Kancing”

atau mati. Hal-hal yang pernah Mama contohkan tentang tanaman akan menjadi panduan bagiku hingga aku mengerti bahwa keindahan dunia itu harus kita pelihara agar mata, hati, dan pikiran senantiasa mendapatkan keberkahan dari Tuhan.

Bunga kancing ungu belum seberapa jika dibandingkan dengan apa yang telah Mama tanamkan pada diriku. Satu hal yang paling aku pahami adalah kecantikan diri bukan hal instan. Ia akan dimiliki oleh setiap diri yang mampu mengasah, memelihara, dan menjaga jiwanya dari hama yang mengusiknya di setiap waktu.

Ma, aku dan cucumu akan lebih banyak lagi menanam bunga yang indah dan pohon yang berbuah lebat selain bunga kancing ungu itu. Semoga Mama tersenyum senang di sana melihat halaman rumah kami. Doa dan kalimat-kalimat rinduku padamu masih tetap kupanjatkan pada-Nya di setiap sujudku.

“Semangkuk Mi untuk Adam”

Adam, laki-laki bermata sayu, berkulit gosong, berkepala plontos itu bergeming sambil menatap layar televisi.

Aku membuatkannya mi rebus plus telur. Lima menit saja mi rebus telah siap. Hanya itu yang bisa kusajikan. Tak ada yang istimewa. “Nih, makan dulu,” ujarku.

Adam tak merespon. Tatapan matanya kosong seolah seolah tak berselera pada semangkuk mi itu. Sejurus kemudian dia berkata, “Nggak ada siapa-siapa di rumah. Semua pergi.”

“Oh…” kataku singkat. Dalam hatiku berkata, Adam, kamu kesepian. Kamu seperti zombie yang melangkah gontai dan tak ada keinginan untuk mengetahui seperti apa dunia ini sebenarnya. Mau sampai kapan kamu begini? Hanya mengandalkan pemberian kakakmu dan hanya tahu kata ‘meminta’ daripada kata ‘berusaha’.

Adam akhirnya menghabiskan mi itu secepat kilat. Mirip ular Phyton yang mencaplok mangsanya seketika. Tak ada seutas kalimat pun selama aku dan Adam duduk bersama di depan TV.  Pikiranku sibuk bertanya, bagaimana nasib adikku ini nanti jika aku tak ada lagi di dunia. Apakah nasibnya berakhir buruk atau akan hadir keajaiban pada dirinya? Aku tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk terjadi padanya. Semoga saja tidak.

“Kak, minta uang untuk rokok,” celetuk Adam diiringi senyum memelas.

“Dam, aku nggak punya uang sepeser pun. Berhentilah merokok! Cuma bakar uang saja! Kalau kamu mau makan, satu atau dua piring di rumahku, ada.” Setelah itu, aku hanya ngedumel dalam hati, Dam, kamu itu mengerti nggak? Jika kamu tak ada kemampuan untuk membeli barang itu, ya berhentilah! Jangan memaksakan diri untuk mengikuti segala keinginan duniawi jika itu diluar kemampuan. Hiduplah apa adanya.

Aku tidak akan memanjakanmu dengan benda-benda yang kamu minta karena uang dan harta benda itu tidak jatuh dari langit. Semua yang kamu mau harus kamu usahakan sendiri. Ah, entahlah kamu masih mengerti apa makna berusaha. Tapi sepertinya angan-angan dan keinginan kamu itu telah sesak memenuhi pikiranmu.

Dam, kamu korban perasaan masa lalu di keluarga kita yang penuh mimpi buruk. Rasanya sulit sekali mengembalikan keceriaanmu seperti saat kecil dulu. Senyum itu sepertinya sudah tenggelam. Senyum yang kulihat saat kita bermain hujan-hujanan dan layang-layang di lapangan. Kedua matamu pun sangat muram sekarang. Apakah kamu menyimpan kesedihan yang begitu dalam hingga tak mampu lagi membersihkannya dari dalam hatimu? Kamu perlu teman dalam perjalanan hidupmu. Aku tak mampu mewujudkan itu.

Anggukanmu itu mungkin tanda kamu mengerti bahwa aku tak mampu memberikan harta sebanyak yang kamu inginkan. Aku bukan sang kaya raya yang bisa dengan mudah mengeluarkan lembaran uang yang kamu minta. Aku pun tidak boleh menyalahkan keadaan karena setiap orang telah digariskan dengan takdirnya. Yang kumengerti sekarang hanya bersabar dan berbuat semampuku.

Adam, apa kamu masih ingat Tuhan? Hanya kepada Dia seharusnya kamu memohon dan berdoa. Seharusnya kamu ingat kalimat-kalimat yang pernah kamu tahu dari guru mengaji dulu. Aku hanya berharap malaikat selalu berbisik padamu agar kamu ingat pada lima waktu yang wajib. Lakukanlah untuk dirimu sendiri lalu Tuhan akan menolongmu dalam keadaan apapun.

Apakah kamu masih ingat cara berdoa? Katakan kalimat doa itu jika kamu ingat. Katakan sesering mungkin agar hatimu tenteram dan bunda pun tersenyum dari sana mendengar doamu.