“Ketiadaan adalah iman bagi yang ditinggalkan”

(“mamah I” dalam kenangan)

Judul tulisan ini mengutip dari kata-kata bijak di sebuah situs jejaring social. Entah itu suatu kebetulan atau pertanda, sehari setelah saya mengutip kalimat itu di status Facebook, salah seorang kerabat meninggal dunia. Beliau adalah nenek (tante dari ibu,juga tante dari alm.bapak) R. Itjuh Nurtini Natapradja, kami biasa memanggil beliau ‘mamah i’. Beliau telah diuji Yang Maha Kuasa dengan sakitnya yang dideritanya cukup lama hingga akhirnya beliau berpulang ke pangkuan Sang Khaliq pada hari Minggu, 6 Februari 2011, menjelang waktu shubuh.

Selalu ada tangis saat kita kehilangan seseorang yang kita cintai, saya pun menguatkan diri untuk tidak menjatuhkan satu tetes pun airmata, tapi akhirnya jatuh juga. Bagaimanapun saya memiliki kenangan hal-hal baik semasa kecil dulu saat berkunjung dan bermain di kediaman beliau.

Saya masih ingat semasa kecil dulu, saat ditawari makan oleh beliau, walau saya bilang sudah makan, beliau tetap memaksa saya untuk makan. Terkadang dipaksa juga untuk menambah porsi makan padahal saya sudah sangat kenyang waktu itu. Maksudnya mungkin member perhatian pada cucunya karena beliau merasa punya tanggungjawab mengasihi seorang anak yang ayahnya sudah tiada dan ada keterikatan batin dengan sang ayah. Tapi pada cucu lainnya pun beliau selalu sayang dengan caranya sendiri.

Kediaman beliau cukup nyaman menurut saya, untuk sekedar berbincang atau bermain dengan sepupu juga keponakan. Kalau kebetulan menginap di rumah ‘mah I’, kami diharapkan mengikuti aturan beliau, shalat dan mengaji harus ikut saat waktunya tiba. Padahal kala itu saya sangat malas melakukannya tapi dua atau tiga orang cucunya sudah biasa mengaji begitu alm.pak ustadz Kamil datang ke rumah ba’da Ashar. Mau tidak mau saya harus ikut. Melakukan shalat pun kadang dipersilahkan dilakukan di kamar ‘mah I’ dengan sajadah yang lebar, tebal dan bagus (ada kompasnya). Itu sajadah ekslusif yang pernah saya pakai waktu itu. Saat sujud, saya merasa nyaman.

Yang paling membuat saya merasa damai adalah saat shalat berjama’ah di rumah di bulan Ramadhan, kalau tidak salah waktu itu saya masih usia SMP. Yang menjadi imam adalah alm. ‘pah I’ (kakek Azhar). Saya melihat keluarga besar ini menjadi sangat harmonis setiap kali melakukan kegiatan berjama’ah. Selain shalat maghrib setelah berbuka puasa, saat makan juga dilakukan bersama. Makan bersama anak, menantu dan cucu, mungkin itu kebiasaan baik yang ditanamkan umumnya di keluarga Indonesia, khususnya suku Minang yang keluarga besar serta porsi menu makan yang besar pula. Ada nilai seninya jika makan bersama-sama seperti itu, kami kadang terlihat agak “parebut” memilih “rencang sangu”.

Kala pagi menjelang, selalu ada tawaran yang berbeda saat sarapan. Kadang ditawari jajan jamu gendong (beras kencur, kunyit plus ‘nu amisna’ yang mirip bandrek) di ayu tukang jamu langganan keluarga,kupat tahu ‘ibing’ atau sekedar nasi sangrai. Sebenarnya saya lebih suka nasi goreng buatan mama saya tapi saat mencicipi nasi sangrai buatan ‘mamah I’, hmmm… rasanya enak. Padahal mungkin hanya diberi garam sejumput saja atau saya yang sangat kelaparan di pagi hari. Yang tidak pernah ketinggalan adalah teh manis hangat dengan wangi teh tubruk yang khas. Rasanya saya ketagihan teh manis yang rasanya seperti yang ada di rumah ‘mamah I’. Sampai hari ini saya masih melanjutkan tradisi minum teh hangat di pagi hari, tapii nasi sangrai buatan saya tidak senikmat yang beliau buat. Tak lupa dengan rasa air minum yang ada di kendi, “eueut na dina kendi tah nyandak nyalira,” begitu ujar beliau kala kami selesai makan atau sekedar meminta minum.

Suatu masakan jika dibuat dengan hati yang tulus dan rasa sayang akan lebih terasa nikmat, walaupun masakan itu sederhana.

Menurut mama saya, beliau orang yang sangat galak dan disiplin tapi baik hati. Saya bisa mengetahui itu dari nada bicaranya yang selalu tinggi dan pemaksa. Mungkin sifat-sifat itu pula yang ditularkan pada mama saya yang pernah menjadi anak asuhnya dulu,juga pada beberapa anak dan cucunya.

Keras kemauan itu baik jika diimbangi dengan pemikiran yang bijak.

Keras hati itu perlu untuk hal-hal yang kita yakini benar.

Keras kepala itu boleh jika menyangkut pada segala kebaikan.

Selain keras, beliau juga orang yang ‘apik’ dan bersih. Hal-hal kecil juga tertata rapi. Saya masih ingat, beliau membubuhkan nama dengan marker permanen di tiap pakaian dalam (singlet) putih sesuai dengan nama anak-anaknya. Betapa teraturnya beliau terhadap hal-hal kecil. Mungkin beliau bermaksud agar dapat dengan mudah membereskan/memilah baju-baju itu setelah selesai disetrika. Cukup bisa dimengerti karena beliau memiliki anak banyak. Pakaian seragam kejaksaan ‘papah I’(suaminya) pun sangat rapi dengan lipatan celana yang lurus hingga warna kain seragam itu terlihat mengkilat. Baju-baju putih juga terawat dengan baik.

Saya akui, saya jarang menengok beliau ketika beliau sedang sakit padahal rumah saya tak terlalu jauh dari rumah beliau. Bukan tidak ingat, tapi saya tidak mau melihat beliau terharu dan menangis karena setiap kali melihat saya atau kakak saya, sepertinya yang beliau lihat itu “bayangan”nya. Beliau seperti melihat alm.bapak saya, Asep Ruslan Natapradja. Selalu kata-kata yang terlontar dari mulut beliau,”aceee…,”dengan mata berkaca-kaca mengingatkan beliau pada alm.bapak saya.

Saya tipe orang yang sensitive, kalau kata om Ari mah “pundungan”. Selalu mudah terharu dan berkaca-kaca, tapi kadar pundungan nya sudah berkurang seiring dengan kedewasaan diri (kalau boleh sombong sedikit…). Saat mama saya sakit pun, tak kuasa menahan air mata walau tadinya saya berusaha kuat menghadapinya. Menangis itu boleh saja karena kita adalah manusia yang memiliki hati dan kelemahan, tapi jangan menjadikannya sebuah symbol kecengengan. Pundung boleh sekali-kali tapi segeralah “sembuh” dari penyakit itu sebelum segalanya menjadikan kesalahpahaman.

Entah 5 atau 4 kali sudah saya tidak mempriotaskan sungkem pada beliau karena menyegerakan sungkem pada mertua di kota lain. Mah I, hampura neng teu tiasa enggal-enggal salim di unggal lebaran. InsyaAllah, neng ngahapunten sagala kalepatan mah i… tapi cigana neng nu langkung seueur kalepatan ka mah i. Mung pidu’a neng sareng caroge nu tiasa didugikeun ka Allah nu Maha Pangapunten. Kum… kasadaya alm. kulawargi Natapradja sareng Harun dina unggal saparantos shalat berjama’ah.

Ya Allah, berikanlah tempat yang lapang nan terang bagi beliau di sana. Mudahkanlah perjalanan beliau di alam barzah. Kuatkanlah hati kami yang ditinggalkannya dan tambahkanlah iman kami padaMu.

Saya selalu takut untuk pamit pulang saat bermain di rumah beliau. Selalu ada nada larangan karena beliau masih ingin kami berlama-lama di sana. Jika boleh mengambil analoginya, “suatu hari nanti kita pasti ‘pulang’ tanpa ada yang bisa menghalang-halangi. Kita seolah terlena dengan dunia tempat tinggal kita sekarang dan ingin berlama-lama di sini.”

Kala Yang Kuasa merenggut nyawa, kami yang menghamba padaNya… kuatkan iman dan taqwa dengan do’a

Kami hambaMu yang akan pula Engkau panggil ke sisiMu suatu hari nanti, Engkau Maha Tahu atas segala sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s