Mendengarkan dan didengarkan

Setiap hari kita mendengar suara. Musik, desir angin, klakson kendaraan, orang memanggil, orang berteriak, dan suara apa saja yang dapat ditangkap oleh telinga. “Mendengar” adalah salah satu aktivitas yang biasa dilakukan manusia normal. Apapun yang kita ucapkan saat kita masih balita maka dengan senangnya orangtua kita mendengarnya jika sesuai dengan yang mereka ajarkan pada kita. Semua itu adalah hasil rekaman dan respon dari apa yang kita dengar.

Bicara” pun begitu, adalah hasil dari apa yang dilatih orangtua pada kita dari sejak bayi. Mulai dari bayi, balita,remaja hingga dewasa, ada proses ekplorasi diri yang membuat diri kita lebih banyak ingin “didengar” melalui bicara. Baik itu permintaan akan sesuatu atau hanya sekedar bercerita tentang apapun yang kita alami sehari-hari.

Setiap pribadi itu berbeda dan unik. Kegiatan “mendengar” atau “didengar” dari seseorang itu mungkin memiliki intensitas yang tak sama. Kadang kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara/didengarkan. Semua bergantung pada situasi, suasana hati, karakter serta kepribadian seseorang. Seseorang yang introvert biasanya lebih banyak diam dan mendengarkan. Memiliki kecenderungan penyendiri, sensitive tapi lebih banyak bisa mengerti orang lain. Saat seseorang sedang mendengarkan, di saat yang sama pula dia berbicara dalam hatinya dan tidak membaginya pada orang lain.

Mereka yang ekstrovert, lebih banyak berbicara dan selalu ingin didengarkan. Kecenderungan tipe orang seperti ini biasanya mempunyai banyak teman karena dia bisa ngobrol dengan siapa saja yang dia mau walau orang itu baru dikenalnya. Mereka pandai ‘berbahasa’ dan berbasa-basi. Biasanya untuk sebuah perdebatan dan perdebatan itu menimbulkan perbedaan pendapat, dia selalu dapat “membalas”nya dan cenderung ingin selalu didengarkan.

Adapun tipe orang yang memiliki karakter diantara keduanya (ekstrovert dan introvert),sebutlah tipe “menengah”, pun tidak melulu ingin didengarkan tapi dia cukup pintar menempatkan dirinya serta memilih saat dimana dia harus mendengarkan atau didengarkan. Jika disuruh memilih, saya termasuk tipe yang ‘menengah’. Saya akan hanya mendengarkan saja jika saya sedang tak mau bicara, bahkan mungkin menjadi pendengar setia. Tapi menurut pakar psikologi, kepribadian dan karakter seseorang itu dinamis, dapat berubah seiring dengan perjalanan hidupnya.

Kita bisa lebih banyak menerima hal-hal baru dari mendengarkan dibandingkan jika kita terlalu banyak ingin didengar tetapi apa yang kita bicarakan menjadi tak terarah.

Kehati-hatian dalam berkata/berbicara bermula dari lebih banyak mendengarkan orang lain.

Seringkali kita temukan banyak orang tidak mau mendengarkan karena ego mereka yang saat itu sedang dominan, hati dan pikiran mereka sedang tidak selaras. Hal-hal yang bisa direkam otak adalah segala yang didengar yang diterima dengan baik oleh pendengaran saat hati dan pikiran tertuju padanya tanpa ada beban dan paksaan. Saat pikiran dan hati sedang nyaman, di sisi lain lawan bicara kita pun nyaman, maka kita akan lebih bisa menerima masukan orang lain tanpa menyela atau memperdebatkannya.

Dengan mendengarkan, kita bisa banyak mengerti isi hati orang lain untuk merefleksikannya pada diri kita sendiri.

Ingin selalu didengarkan itu baik tetapi kadang kita menjadi pribadi yang hanya ingin dimengerti dan sangat egois.

Jika ingin dimengerti, mengertilah akan orang lain.

(tertulis tgl. 12 Februari 2011)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s