“Sosok yang tergantikan”

“Pak, aku minta uang buat jajan…”

Masih teringat jelas dalam ingatan Dara, semasa dia kecil, kalimat itu yang terlontar dari mulutnya saat duduk merajuk diujung kaki bapaknya. Memori anak kecil kadang merekam dengan jelas hal-hal yang menurutnya sangat berarti. Entah di usia berapa Dara melakukan hal itu pada bapaknya, mungkin saat ia tiga tahun. Di usianya kini, Dara tiba-tiba merasa kangen ingin bermanja-manja lagi padanya.

Rasa itu juga hadir saat ia melihat sebuah moment yang tidak pernah ia alami di masa kecilnya. Melihat seorang anak yang diantar kakeknya ke sekolah, sungguh membuat hatinya terenyuh dan matanya menjadi sedikit berkaca-kaca. “Seandainya bapak masih ada, mungkin setua kakek itu, mungkin beliau akan selalu menyempatkan diri mengantarkan anak perempuanku ke sekolah”, gumam Dara sambil terus memperhatikan anaknya yang sedang berbaris bersama teman-temannya di halaman sekolah. Di hari lain seorang anak terlihat sedang berjalan-jalan pagi di sekitar komplek tempat tinggalnya ditemani seorang bapak. Dara berfantasi, “andai saja aku adalah anak kecil itu… aku akan selalu bahagia berjalan bersama seseorang yang selalu hangat dan memanjakanku”.

Di moment yang lain, Dara sempat melihat sebuah sepeda motor melaju, dinaiki oleh seorang ayah dan anak perempuannya. Sepeda motor itu berjalan sangat lamban karena mereka tidak sedang terburu-buru. Dara perhatikan mereka sangat akrab satu sama lain bagai rumput hijau menyejukkan di pagi hari disertai bulir embun segar. Rumput hijau yang membuat kita merasa sejuk saat melihatnya atau sekedar berbaring di atasnya, bulir embun membuat kita senang menyentuhnya perlahan, merasakan kesegarannya di jemari, telapak tangan juga telapak kaki. Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi mata anak perempuan itu terlihat berbinar dan senyumnya sesekali mengembang. Dara selalu terpesona dengan pemandangan seperti itu. Perbincangan seorang ayah dan anak perempuannya selalu membuatnya cemburu. “Bapak, aku ingin ngobrol dengan mu seperti anak itu tentang berbagai hal yang aku lihat hari ini,” Dara berbicara pada angin dan berharap angin itu kan menyampaikannya kepada langit.

Rasa kangen ini seperti memeluk sesuatu tetapi wujudnya tak tersentuh,

hanya terasa oleh mata batin yang kadang membawanya ke dunia mimpi agar dapat disentuh…

Dara kangen dengan sosok tinggi berperawakan kurus yang dalam ingatan terakhirnya selalu bergaya rapi, kemeja plus celana model cutbray jadulnya, model rambut yang mirip Elvis Presley tersisir rapi dibantu minyak rambut lavender yang wanginya khas.

Setia dengan sepeda motor Suzukinya, bisa dikategorikan sebagai sepeda motor antik di masa sekarang. Dara masih ingat kebiasaan beliau setiap shubuh, membakar sampah-sampah yang berserakan di depan rumah. Kadang Dara dan kakaknya ikut bermain-main dengan kepulan asap pembakaran.

Saat Dara ngobrol dengan ibunya, dia menanyakan profesi bapaknya semasa beliau masih hidup.
“Bu, seingat ku teman-teman bapak tuh berbaju putih semua, emang bapak dinas di mana sih?”, tanya Dara pada ibunya ingin tahu. “Dinas kesehatan”, jawab ibunya. “di rumah sakit
yang itu kan?,” Dara baru mengerti. “Tapi bapak bukan dokter atau perawat Ra, bapak di bagian administrasi,” tambah ibunya. Setidaknya pekerjaan bapaknya dulu menular pada Dara yang seorang staff di sebuah perusahaan asuransi ternama.
Bekerja di rumah sakit sebagai perawat bukan pekerjaan yang ditakdirkan Tuhan untuk Dara, padahal ibunya menginginkannya menjadi seorang perawat. Obsesi ibunya saat muda dulu yang tidak terlaksana dan malah ibunya pun pekerja kantoran. Paman Dara sempat mencandainya saat tahu Dara ingin menjadi seorang perawat, “ngapain kamu milih jadi perawat…kamu mau nyebokin orang, menghadapi orang-orang sakit yang rewel, trus bekerja dengan shift ?”,senyum jahil sang paman tersungging di ujung kumis tebalnya. “Kamu mestinya masuk ke sekolah perawat bukan SMA”, tambah pamannya. “Om, maunya kamu bisa masuk ke instansi tempat ibumu dulu bekerja, jadi penerus ibumu.” Dara hanya tersenyum simpul. Mungkin darah keadministrasian telah mengalir deras dalam diri Dara. Walau tidak sesuai harapan pamannya, minimal paman sudah memberi pandangan padanya. Dara merasa nyaman ngobrol dengan paman karena pamannya mengganggap Dara seperti anak kandungnya sendiri. Beliau merasa peduli pada Dara yang ditinggal bapak terlalu dini. Memberi keteguhan hati dalam memandang hidup dan menguatkannya dalam menghadapi aral yang melintang di depan.
Dara memiliki jenis golongan darah yang sama dengan bapaknya. Menurut ilmu psikologi, orang-orang yang memiliki golongan
darah ‘O’ cenderung optimis akan segala hal yang sedang dia jalani. Saat sedang fokus pada satu kegiatan, semangatnya akan tetap menggebu hingga dia mampu menunjukkannya dengan totalitas tinggi. Itu kemiripan Dara dengan bapaknya.

Sifat sosialis sang bapak juga menurun padanya. Dara merasa senang bersosial tetapi hanya untuk hal-hal yang menurutnya positif. Dia tidak terlalu sering bersosial atau bertetangga (=ngerumpi) tapi kala ia menemui sebuah situasi, kadang membuatnya terpanggil untuk terjun di dalamnya, Dara tak segan-segan untuk turun tangan. Semasa hidup bapaknya termasuk orang yang aktif berorganisasi, baik itu dilingkungan terdekat RT/RW atau dalam sebuah kepanitian acara penting. Ibu Dara banyak cerita soal ini, disela-sela obrolan sehari-hari.
Dara pun demikian, semasa sekolahnya selalu sibuk dengan kegiatan ekstra kulikuler dan menjadi pengurus organisasi di sekolahnya.

Dara dinilai sebagai anak yang kalem. Kata bibinya, “Dara mirip bapaknya, kalem, ga terlalu banyak ngomong tapi suka bercanda.” Ya… Dara memang kalem tapi untuk aktivitasnya secara fisik, dia tidak bisa kalem. Dia agak ceroboh dan terburu-buru jika melakukan sesuatu. Tipe cewek tomboy karena selalu berpenampilan seperti laki-laki dari kecil. Ibunya pernah memakaikan rok untuknya di pesta, tapi dia mengeluh dan mengadu pada pamannya (adik bapaknya), “pak, Dara ga mau pake rok, gatal,”sambil memasang muka cemberut. “Ga apa-apa, sebentar aja kok… Dara kan tambah cantik kalau pake rok,” hibur pamannya. Dara memanggil bapak pada pamannya karena beliau yang menginginkannya begitu. Dara kadang merindukan gendongan pamannya. Dulu, pamannya ini yang selalu menggendongnya dengan kain gendongan (=samping) saat Dara terluka karena jatuh dari sepeda. Dara merasa sakitnya hilang jika berada dalam gendongannya.
Dara baru benar-benar memakai rok saat menginjak usia 20an. Mungkin Dara terlalu banyak meniru kakak cowoknya. Saat Dara mulai bekerja, dia menjadi semakin feminin dan elegan. Busana kantoran lengkap dengan tas dan sepatu hak tinggi. Rapi dan serasi, mirip cara berpakaian bapaknya.
Dara sempat belajar menjahit tetapi kurang serius karena konsentrasinya teralihkan dengan kegiatan lain yang menurutnya lebih menyenangkan. “Bapak dulu juga bisa menjahit Ra,”kata ibunya. “bapak malah ga pake guru, autodidak loh…jahit baju batik seragam keluarga,” tambah ibunya. “Nih, batik yang abu ini Ra,” tunjuk ibunya sambil memperlihatkan sebuah foto di album lama miliknya. Dara sempat tertegun dan terpesona sambil ditatapnya berlama-lama foto itu.

“Bapak kamu tuh pinter Ra, dulu sekolah di sekolah favorit di Bandung,” ibunya melanjutkan cerita. “Udah tau kok bu, buktinya anaknya yang cantik ini juga diterima di sekolah favorit, walau bukan sekolah yang sama seperti bapak,” jawab Dara berbangga hati. Ibunya cuma senyum dan membelai rambut pendek Dara yang ikal. Sebenarnya Dara waktu itu ingin sekali diterima di sekolah tempat bapaknya dulu bersekolah, ingin napak tilas katanya. Tapi memang Tuhan menentukan lain, Dara di terima di sekolah lain yang juga cukup difavoritkan di kota tempat dia tinggal. “Bapak, aku bangga padamu,” lirih Dara dalam hati.

Dara sempat merasa tertekan saat bersekolah di sekolah pilihannya, sampai pada suatu saat sang paman (adik ibunya) mengajaknya pindah sekolah di kota  tempat pamannya tinggal dan nunut (= ikut mondok dan tinggal) pamannya di sana. Awalnya ibunya kurang setuju karena dia akan jauh dari anak perempuan kesayangannya. Sungguh perasaan yang tak dapat dibayangkan, walau anaknya berada ditangan orang yang baik dan perhatian. Ketenangan hati seorang ibu seperti sedikit terkoyak bagai air danau yang tenang dikejutkan oleh datangnya ombak kecil tetapi beriak berulang-ulang.
Dara akhirnya meneruskan sekolah di kota lain. Dia benar-benar mendapat bimbingan dari pamannya, malah dia ditawari untuk meneruskan kuliah di sana. Tapi Dara sudah terlalu “homesick”, ingin segera pulang ke Bandung bertemu ibunya dan bersama lagi dengannya. Pamannya tidak memaksa, beliau membolehkan Dara pulang. Dara akan selalu ingat apa yang pernah pamannya bilang, “anak tukang becak aja bisa bersekolah setinggi-tingginya, masa kamu ga bisa….” Dara hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca dan menjawab dalam hati, “Ya Om… aku bisa. Aku adalah anak dari seorang bapak yang cerdas, aku ingin membuatnya bangga, aku akan berusaha Om.”

Suara lokomotif di stasiun kereta yang menjerit menjadi awal semangat Dara untuk menunjukkan kemampuannya menghadapi segala hal yang akan dia hadapi.

Sampai pada hari ini, Dara masih rindu pada sosok bapak. Dara telah mendapatkannya dari kakak cowok yang selalu melindunginya, kedua pamannya yang sangat perhatian dan memanjakannya dengan caranya masing-masing dan dari seseorang yang menjadi suaminya kini. Banyak sifat yang dimiliki bapaknya juga ada dalam diri suaminya. Selalu bijaksana dalam menghadapi masalah dan menuntun Dara dengan cara yang elegan hingga membuat Dara semakin kagum dan selalu manja padanya.
Kadang Dara dibuat cemburu saat melihat anak perempuannya bercengkrama di pangkuan  ayahnya. “Aku tidak ingat apakah aku pernah seperti itu saat kecil dulu…,” Dara berusaha mengingat-ingat.

Dara berandai-andai…

Seandainya saja bapak masih ada, mungkin …
Ibu tak akan menikah lagi dan lebih bahagia daripada sekarang
Aku bisa lulus kuliah bahkan mendapatkan beasiswa ke luar negeri
Adikku tak senakal itu…
Kakakku bisa menjadi pribadi yang lebih tegas
Rumah kita kan tetap di sana
Aku akan sangat dekat denganmu seperti anakku yang dekat dan selalu manja pada ayahnya
Cucu-cucumu akan selalu mendengar dongeng mu…
Aku akan betah berlama-lama ngobrol denganmu saat suami pergi ke luar kota
Tapi mungkin aku tak kan bertemu dengan orang yang menjadi suamiku sekarang kalau bapak masih ada…

Tuhan telah menggariskan semuanya, Dara akan tetap mendapati sosok bapak yang hangat, pengertian, penyabar dan selalu menyayanginya dari sosok teman hidupnya kini.

“Life can never promise to be always happy, but life gets better after accept things you can’t change” – Pat Conroy-

Bapak, aku pernah melewati masa-masa yang berat tanpa mu…
Tapi setidaknya aku telah bertemu dengan mu dalam mimpi indah itu
Kau berdiri dekat pintu kamarku dengan senyum yang mendamaikan rasa gundahku
Itu sudah cukup karena suatu saat nanti mungkin kita akan bertemu di surga…

Semoga kebaikan dan rahmat Tuhan selalu menyertai orang-orang yang mengasihi ku…

Amin…

*tulisan ini didedikasikan untuk mama Ieke Widhyati Arifien, aa Akbar Widias, Om Lily Syahrial Arifien, Wa Emir Indra Arifien juga alm. Bp. Asep Ruslan Natapradja, alm.Bp. Deden Suhanda Natapradja*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s