“4 unsur ku telusur”

Lebaran keenam kalinya kami mengunjungi orang tua di Cirebon, desa Kreyo tepatnya. Perjalanan yang selalu menyenangkan walau kami melewati jalur yang sama setiap tahunnya. Menikmati angin sepoi dan pemandangan sepanjang perjalanan, lamban-lamban membuat angan jauh ke awan… sampai-sampai terkadang mengantuk. Kemudian kakiku ditepuk oleh si ganteng, sang pembonceng.  Mengendarai motor memang dinilai agak berbahaya bagi banyak pemudik. Tetapi untuk seseorang yang cara mengemudikannya seperti tipe orang kalem seperti suami saya, insyaAllah nyaman dan aman.

Hal yang paling kami sukai adalah mampir di sebuah warung sederhana pinggir jalan di dekat perbatasan Tomo (Sumedang) untuk sekedar melepas rasa pegal, kami meminum air kelapa muda yang menyegarkan. Biasanya kami betah berlama-lama di sana, di pinggir sungai Cimanuk dan terkenang memori indah yang pernah singgah di sana. Persinggahan yang membuat aku dan dia bersama hingga hari ini.

Masih teringat saat pertama kali  berkunjung ke desa Kreyo. Saat perkenalan dengan kedua orangtua calon suami, awal tahun 2004. Sungguh suatu pemandangan yang “down to earth”. Desa Kreyo yang apa adanya, semangat kekeluargaan yang kental, dan suasana indah nan bersahaja yang kondusif. Walau cuaca terasa panas tapi suasana hati terasa damai dan enjoy. Apalagi saat malam tiba, setelah selesai menunaikan ibadah shalat Isya di “tajug” (=mushola kecil di depan rumah, milik keluarga juga terbuka untuk umum), mengobrol ke sana kemari bersama pria bermata coklat, seakan tiada pernah habis bahan obrolan.

Mata tak kunjung terpejam, karena malam itu didera hujan deras diselingi suara-suara petir, disusul nyanyian “ding dang” (=katak yang suaranya mirip bunyi alat musik sitar). Gumamku, “ooh… begini ya, suasana pedesaan di malam hari.”

Aku tengah hamil 4 bulan, saat mudik perdana. Naik bis yang membuatku cukup lelah karena kemacetan arus mudik, hal itu sudah menjadi hal biasa di setiap tahunnya. Aku dan dia duduk di deretan kursi paling belakang, agak pusing memang. Ajaibnya, aku tidak mabuk perjalanan, padahal kondisiku sedang hamil.

Tiba di Palimanan, depan Pasar Minggu, perjalanan masih berlanjut. Menggunakan ojeg motor atau becak sejauh kurang lebih 7 km menuju desa Kreyo. Cukup jauh memang, tapi aku tetap menikmati pemandangan sekitar, sawah yang menghampar luas, rumah-rumah penduduk yang terlihat khas bangunan Cirebon (mirip bangunan keratin Kasepuhan) dan angin semilir membuat nyaman di hari yang panas. Sesampainya aku di rumah mertua, terlihat pohon mangga dengan buahnya yang ranum dan kelapa muda yang menggoda.

Kesederhaan, ketaqwaan, kebersamaan,kebahagiaan adalah empat hal yang aku temui di sana. Hingga saat kelima kalinya kami ke sana, saya bertanya-tanya, masih akan bertahankah keempat hal itu? Mengingat desa itu kini terlihat seperti kota, sudah ramai dan tampak lain. Mudah-mudahan dari keluarga ini, aku tetap merasakan dan tertular keempat unsur itu.

Dengan taqwa, kita akan ingat siapa yang memberi hidup pada ruh ini untuk menjalani kehidupan dunia.

Dengan sederhana, kita disadarkan bahwa masih ada orang yang lebih menderita dibandingkan dengan kehidupan yang kita punya saat sekarang, kita diingatkan bahwa kita hadir ke dunia dengan sederhana dan akan berpulang padaNya dengan keadaan yang sama.

Dengan kebersamaan, kita dapat merasa kalau kita hidup di dunia ini tak sendiri hingga dapat saling mengerti satu sama lain.

Dengan kebahagiaan, kita bisa berbagi pada siapa saja yang menurut hati kita layak untuk disentuh dengan rasa ini.

Hal-hal yang saya pahami setelah melihat keempat unsur tadi tadi adalah…

“Jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu” untuk ketaqwaan kita padaNya.

“Bersyukurlah padaNya atas apa yang kau nikmati, yang kau dapat, maka nikmat itu akan Dia tambahkan” untuk segala nikmat yang pernah Dia berikan pada kita

“Bersedekahlah jika kau mampu, maka rizkimu akan bersih dan Allah tambahkan rizkimu dari jalan yang tak kau sangka” untuk kesederhanaan kita walau rizki begitu berlimpah.

“Berbahagialah engkau berada dalam lingkungan yang membuatmu hatimu tenang,” untuk kebahagiaan yang tiada terkira di setiap hela nafas kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s