PATAHAN BERBUAH MANIS

(setelah sekian lama luka Tasya sembuh, kisah cintanya di masa lalu  memberi nilai dalam untuk dirinya)

Beberapa orang pria sempat hadir dalam kehidupan cinta Tasya. Sebutlah salah seorang dari mereka adalah “Mr.Sweet”, yang Tasya kenal sejak masih SD, saat ia sedang aktif mengikuti salah satu kegiatan ekstra kulikuler Pramuka. Dia bersekolah di SD tetangga yang selalu menjadi saingan sekolah Tasya di berbagai lomba, khususnya kepramukaan. Sekolah Tasya berada dalam satu komplek gedung sekolah dengan SD lainnya.
Waktu itu perasaan Tasya biasa saja padanya, karena hanya tahu dan kenal selewat saja. Entah kenapa, saat beranjak SMP, ada satu saat dimana Tasya jadi tertarik padanya. Padahal waktu itu kejadiannya sepele, Tasya sedang berjalan dengan seorang sahabat dan lewat di hadapannya. Kemudian “mr.sweet” menegur Tasya. Saat itu, dia sedang nongkrong bareng teman-teman sekolahnya di depan sebuah rumah besar di suatu kawasan perumahan. Malu-malu jutek gelagat Tasya saat ditegurnya. Tasya menatapnya dan mengakui bahwa dia punya senyum manis. Walau kulitnya agak coklat, tapi manis, seperti gula merah. Tasya selalu tertarik pada pria yang memiliki senyum manis.
Singkat cerita…
Tasya menyampaikan salam untuk si “mr.sweet” melalui seorang teman sekolahnya yang se-SMP dengan Tasya. Kebetulan rumah temannya ini dekat dengan tempat tinggal si “mr.sweet”. Saling berbalas salam dengan perantara teman. Akhirnya, Tasya berani menyatakan “sesuatu” padanya melalui surat. Bisa dibilang itu sejenis surat cinta dan merupakan sebuah hal yang agresif. Seorang gadis menyatakan cinta lebih dulu

Cinta itu untuk dikatakan bukan untuk disimpan, bukan sekedar angan-angan…biarkan cinta menyejukkan dunia, bagai hujan gerimis setelah kemarau panjang…

“Mr.Sweet” pun menerima pernyatan cintanya. Mereka semakin sering ngobrol melalui telepon. Waktu itu masih musim telepon umum koin dan Tasya menjadi ketergantungan pada koin. Tapi setelah wartel (warung telekomunikasi yang menyediakan jasa telepon) mulai menjamur, Tasya kecanduan wartel. Tasya teringat masa dimana dia suka nongkrong bareng teman-teman kakaknya di depan wartel, persis di halaman depan rumahnya karena terasnya waktu itu sempat dikontrak oleh seorang penanam modal untuk usaha wartel.
“Thanks to wartel! You’ve made my world so colourfull…” katanya dalam hati (kok kayak syair lagu siapaaaa…gitu?!hihiii…) Selain ngobrol di telepon tentang kegiatan sehari-hari, betapa kangennya kalau ga bertemu sekian lama, mereka berdua kadang hang out ke mall, jalan-jalan pagi ke lapangan Gasibu, atau nonton film ke bioskop. Tasya selalu merasa senang bersamanya karena dia teman ngobrol yang enak dan menyenangkan juga sikapnya yang selalu protektif terhadap Tasya. Ditambah lagi tatapan matanya yang dalam dan tajam seakan-akan menusuk jantung Tasya hingga menembus punggung! (Lebay!) Gaya berpakaiannya yg cuek tapi sporty dan laki banget, ditambah topi, menambah cakepnya dia… “Aku mauuu…uuu…tapi maluuu…uuu…ku suka gayamu, senyummu, hidungmu…” (Gita Gutawa feat.Maia “Aku mau tapi malu”), seakan terngiang-ngiang di telingaTasya.
Tahun pertama Tasya bersamanya berlalu…tahun kedua terlewati dengan hati-hati dan bertabur perhatian serta kasih sayang. Terdengar kabar dari seorang teman yang pernah menjadi perantara “penyampaian salam” mereka berdua, bahwa si “mr.sweet” itu PlayBoy! Salah satu teman Tasya ini pernah melihat dia membonceng seorang perempuan di motor sportnya. Saat mendengar kabar itu, Tasya berusaha berpikir positif. Tasya pikir, mungkin karena kebaikan si “mr.sweet”, dia mau mengantar perempuan itu dengan motornya. “Aku percaya kok sama dia”, kata Tasya pada temannya.
Suatu waktu di sela-sela obrolan Tasya bersama “mr.sweet”, dia berkata jujur mengenai peristiwa antar-mengantar yang diberitakan teman Tasya waktu itu dan memang tidak ada yang perlu diperdebatkan. Kali ini feeling dan logika Tasya terbukti benar.

Saat Tasya terdaftar di sebuah tempat kursus Bahasa Inggris yang menyelengarakan acara hiking ke gunung Puntang, Tasya mengajaknya ikut serta. Berdasarkan hasil perundingan teman-teman kursus, mereka boleh mengajak pasangan walau tidak terdaftar sebagai siswa kursus. Dia bersedia ikut setelah Tasya paksa. Tasya memang orang yang pemaksa alias “anti penolakan”. (Egois!)
Di hari ‘H’, mereka merasa seperti Romeo dan Juliet, selalu berjalan bersama di tengah rintik hujan di kaki bukit gunung Puntang. So romantic… Tasya dan dia sama-sama suka alam. Jelaslah, sama-sama anak Pramuka gitu loh! Teman-teman kursus sepertinya merasa iri pada mereka berdua.
Yang menurut Tasya “romantik antik” adalah jikala ada kesempatan dimana Tasya bermain gitar dan “mr.sweet” bernyanyi. Lagu dari Padi, favorit dia. Ada beberapa lagu yang bisa Tasya mainkan. Sebenarnya “mr.sweet” pun bisa bermain gitar, tapi karena pernah cidera di bagian pergelangan tangan kirinya saat jatuh dari motor, agak kagok untuknya memegang griftnya. Jadi terlihat seperti lebih mahir Tasya dibanding dia dan dia bangga memiliki pacar yang bisa bermain gitar. “Cewek tomboy yang sexy,” begitu menurutnya.
“Permainan gitarku biasa saja ah..,” kata Tasya merendah. Ga semahir Sheryl Crow atau Lisa Loeb, tapi lumayan bisa memainkan lagu mereka juga lagu lain yang Tasya kuasai saat itu, seperti “More than wors” Extreme, “Bizzare love triangle” Frente, “Ode to my family” The Cranberries, “Strong enough” Sheryl Crow, “Semua tak sama” Padi, “Radio” The Corrs, dll.  Bahkan cukup banyak lagu yang Tasya salin teksnya dan dia taruh rapi di binder miliknya. Tasya menyalinnya dari teks yang tertulis di kemasan kaset atau mendengar langsung dari lagunya, sekalian melatih pendengarannya dalam berbahasa Inggris. Kadang dia sesekali membuka kamus untuk memastikan apakah tulisannya benar dan mencari artinya. Entah kemana binder itu, Tasya merindukan gitarnya juga bindernya.
Tahun ketiga menjelang…
Mulai muncul konflik diantara mereka berdua. Ego Tasya dan ego pacarnya mulai meruncing tapi tidak sampai pada tahap caci memaki atau tampar-tamparan. Akhirnya, Tasya sampai pada keputusan, dia ingin menyudahi hubungannya. “Mr. Sweet” menerima alasan Tasya kenapa dia ingin berpisah darinya. Padahal waktu itu, pacarnya terlihat masih sangat membutuhkan dukungan Tasya untuk segala hal yang ingin dia lakukan, rencana untuk bekerja, cita-citanya. Kemajuan kepribadian Tasya tampak berlangsung baik setelah selama ini bersama dia. Pribadi yang tadinya pemurung sedikit demi sedikit berubah menjadi periang.
Tasya bilang,”aku ingin fokus kuliah dulu”, sebuah alasan klise. “Kita lihat saja nanti, jika kita dipertemukan lagi untuk menjalin kembali kasih sayang yang pernah ada…bagaimana nanti…”,tambahnya.
Sampai pada suatu waktu Tasya mengikuti ospek jurusan di sebuah Sekolah Tinggi masih di dalam kota. Sepulang acara itu, semua calon mahasiswa berkumpul kembali di kampus. Malam hari yang melelahkan, sambil menunggu jemputan, akhirnya mama Tasya muncul bersama dia (mr.sweet). “Ngapain dia jemput aku?! kan kita dah ga ada apa-apa lagi!”, dalam hati Tasya menggerutu. Tasya memasang muka jutek saat berhadapan dengannya. Dia tetap gigih meluluhkan hati Tasya dengan membawakan ransel yang lumayan berat itu. Mereka duduk di pojok belakang angkot dengan posisi berhadapan dan Tasya membisu sambil memandang ke arah luar jendela belakang angkot. Bicara sepatah dua patah kata seperlunya, hanya kalau dia bertanya… Sesampainya di rumah, Tasya sangat lelah…entah karena kegiatan ospek atau karena kehadirannya. “mr.sweet” malah berlama-lama duduk di hadapan Tasya dan terlihat masih ingin ngobrol dengan Tasya. Eh…mama Tasya tercinta malah menyuguhkan makan malam supaya mereka berdua makan bareng. Maksud mama mungkin ingin jadi tuan rumah yg baik. Tasya yang dibuatnya senewen!
“Hhhh……”, desahnya dalam hati.
Setelah selesai makan, “mr.sweet” bilang, “Sya…aku ingin bareng kamu lagi.” Tasya tidak menjawab langsung waktu itu. Beberapa saat kemudian terucap, “Aku minta waktu untuk jawab ini.”
Agak samar… apa yang membuat mereka dekat lagi hingga merasa nyaman untuk bersama lagi. Mungkin karena perasaan yg sudah pernah ada itu mereka  ungkit dengan manis hingga hati mereka berdua menjadi begitu melankolis.
Menuju tahun kelima kebersamaan mereka, Tasya semakin menginginkan “mr.sweet”, ingin menjadi istrinya. Tapi entah, saat Tasya  mengutarakannya, dia selalu menjawab dengan nada yang terkesan punya banyak pertimbangan.
Memang baik untuk mempertimbangkan suatu hal yang sakral/suci sebelum semuanya menjadi suatu hal yang terburu-buru atau salah pilih.
Pernah Tasya dengar perkataannya mengenai cita-cita mereka, dengan perumpamaan versi dia. Dari nadanya, Tasya merasa dia seperti mau meninggalkannya.
Feeling Tasya memang tak pernah salah, tapi Tasya selalu menyudahi jika perkataan pacarnya sudah mengarah pada perumpamaan itu. Lagi-lagi Tasya berusaha untuk berpikir positif dan semua baik – baik saja.
Suatu hari menjelang ulang tahun Tasya yang ke-23, pacarnya sempat “menghilang” beberapa hari. Biasanya dia tiba-tiba datang tanpa diminta atau menelpon Tasya sekedar bilang, “lagi ngapain?” Dua hal itu tidak dia lakukan. Di hari ulang tahun Tasya, malam harinya, cuma mengucapkan selamat via telepon, dengan nada yang kurang meyakinkan, dia beralasan, “aku capek, habis kerja lembur dan baru sempat nelpon.” So…he’s the last person who said happy bitrhday to Tasya… Tasya tetap memakluminya, tak ada kecurigaan sedikitpun tapi feeling Tasya berkata lain. Seminggu…dua minggu… tak kunjung ada kabar darinya.
Sampai pada hari saat Tasya membenahi dan membersihkan kamarnya, yang tembok putihnya terlukis awan-awan biru, di lantai atas rumah mamanya. Semua sudut Tasya benahi termasuk koleksi album kaset-kaset favoritnya. Dia membuka kaset Padi,  dia temukan secarik kertas terlipat, dibukanya lipatan kertas itu, dibaca isinya…tiba-tiba dadanya terhenyak dan terhentak! Seakan nafasnya terhenti. Badan Tasya tiba-tiba gemetar, dia menggigit bibirnya tuk menahan rasa sakit di dada dan tangis yang akan meledak. Surat itu mengatakan,”aku bukan yang terbaik untukmu…”. Tasya terdiam sejenak, tapi airmatanya tak bisa diam. Dia terus ingin mengalir deras membanjiri pipinya… Dia berbicara pada dirinya sambil menarik tarik nafasnya dalam-dalam, “kenapa?ada apa ini?”, sambil sesekali menghapus airmata yang belum terlanjur membanjiri raut wajahnya. “Dia meninggalkan saya?”, tanyanya pada hati yang masih shock dan dihiasi tanda besar. Dia meneruskan kegiatan bebenahnya ke seluruh ruangan yang ada di rumah, dengan sekuat tenaga Tasya berusaha agar mamanya tidak mengetahui keadaannya yang sedang tak karuan ini. Tapi ooohh… feeling seorang ibu atau itu mungkin suatu kebetulan saja, tiba-tiba saat Tasya masih berkutat dengan kain pel, mama bertanya,”Sya, kok pacarmu ga kesini sini sih?” Tasya berusaha memberi jawaban logis,”Mungkin sibuk, lembur terus maaa…”, sambil terus menyibukkan diri dengan kain pel di ruang tamu sambil menahan rasa sakit di tenggorokan, menahan tangis yang seperti air bah dalam dada, di hati, aaaahhh….entah ada dimana rasa sakit itu?!, gumam Tasya. Dokter manapun tak kan sanggup mendeteksi rasa sakitnya. Begitu mendera…membuatnya sengsara…
Tasya selalu berusaha berpikir jernih. Menurutnya, isi surat singkat itu bukan alasan yg sebenarnya. Dalam hatinya bicara, “ Pasti dia punya alasan lain yang membuat dia rela meninggalkan aku.” Tiba-tiba jiwa detektif Tasya muncul, “aku ingin mengetahui dan menyelidiki tanda tanya besar ini karena ini menyangkut perasaanku…aku sangat sayang padanya”.
Penyelidikan pertama Tasya  dimulai. Dia bertanya dan menginterview salah seorang sahabat pacarnya. Tasya berhasil mengorek semuanya darinya. Tangis Tasya tak terbendung saat mendengar kabar, dia sudah MENIKAH dengan perempuan lain. Meledaklah sakit di dada ini dengan tangis yang tumpah ruah, basah… “Sya, maaf ya…aku baru bilang sekarang tentang ini. Tadinya dia mau ngomong langsung sama kamu,” kata sahabat pacarnya itu menenangkan. Namun Tasya sama sekali tidak bisa tenang.Baru kali itu, Tasya menangis hebat di depan umum (dekat wartel), tempat sahabat pacarnya itu bekerja. Tasya sudah terlanjur berniat mau memberi sebuah kado untuk si “mr.sweet”, di hari ulangtahunnya yang telah lewat. Akhirnya kado itu Tasya titipkan pada sahabat pacarnya itu. Satu pernyataan dari Tasya untuk “mr.sweet”, “KAMU PENGECUT!”, kata hatinya meledak.
Kalau kamu gentleman, seharusnya kamu bilang terus terang padaku langsung dan tegar menghadapi keputusanmu itu,” gumam Tasya yang masih kesal bercampur sedih tiada tara karena berita itu. Tapi Tasya bersyukur untuk satu hal , “mr.sweet” tidak jadi bagian dari hidupnya lagi. Ternyata dia tidak segentle yang aku duga.”
Terngiang sebuah lagu yang sangat mewakili perasaan Tasya “Selepas kau pergi” dari LALUNA …. Bantu aku membencimu, ku kan slalu mencintaimu. Dirimu begitu berarti untukku… Selepas kau pergi, tinggal lah kini diriku sendiri… ku merasakan sesuatu yang tlah hilang di dalam hidupku…
Saat tangis masih berderai, Tasya teringat sahabatnya, dia langsung menghubunginya via telepon dan meminta tolong untuk datang besok ke rumahnya. “Aku butuh kamu Ci, di saat seperti ini…”, katanya pada Uci sahabatnya. Sesampainya di rumah, Tasya langsung menceritakan semua pada mama tercinta sambil menangis dramatis di pangkuannya… Bagi Tasya, mamanya adalah teman curhat di segala suasana.
Mamanya sangat berbesar hati dan berusaha membesarkan hati Tasya sambil terus mengelus kepala dan punggungnya… “Oohh…mama, terimakasih untuk selalu menjadi teman curhatku setiap saat”, lirih Tasya. Tasya merasa tidak mampu untuk pergi bekerja keesokan harinya dan memutuskan untuk istirahat di rumah sehari saja ditemani tiga orang sahabat yang begitu mengerti dirinya.
Esok harinya, saat Tasya bercerita pada sahabatnya tentang kabar yang menyakitkan itu, tangis kembali tumpah di pangkuan sahabatnya. Ternyata, tangisnya kemarin belum habis. Setelah puas menangis, Tasya langsung mengajak sahabatnya makan. Lotek (=sayuran dengan bumbu pecel) yang nikmat buatan mamanya cukup meredakan tangisnya, sambil sesekali membalas  sms dari seorang kenalan baru (pria), yang bekerja di gedung yang sama dengan tempat Tasya bekerja. Sosok orang ini pribadi yang lumayan perhatian dengan Tasya dan dia memiliki senyum manis!
Karena pengalaman pahit ini, Tasya semakin dekat pada Sang Pencipta…
Tasya memohon petunjuk dan kesembuhan hati dari segala rasa sakit, yang mebuat hatinya patah, terbelah…
Tasya bersujud dan berdo’a di setiap sholatnya,

“Ya Allah… gantikan dia dengan seseorang yang jauh lebih baik dalam segala hal…karena aku sudah sangat ingin menikah, ibadah yang sebenar-benarnya… “

Seberapa gigihnya kita menginginkan sesuatu atau seseorang, belum tentu sesuatu atau seseorang itu bisa menjadi milik kita…
Janganlah kamu membenci atau menyukai sesuatu terlalu dalam, karena yang akan terjadi adalah sebaliknya…
Sesuatu yang menurutmu baik, belum tentu baik menurut Allah…
Sesuatu yang kamu benci, boleh jadi itulah yang terbaik untukmu menurut Allah…
Patahan di hati Tasya telah tersambung kembali utuh karena anugerahNYA.
Pada bekas patahan itu telah tumbuh buah cinta yang begitu manis dan indah.
Seorang anak perempuan…buah cintanya dengan seorang sosok bijak, kehadirannya dalam hidup Tasya adalah sebuah jawaban dari do’a-do’anya.

Alhamdulillah ya Allah…Engkau pertemukan aku dengannya atas ridhoMU, takdirMU…

Engkau tumbuhkan rasa cinta yang agung diantara kami yang akan kami pelihara hingga akhirat nanti…

Amin…

Dokter manapun tak kan sanggup menyembuhkannya
Hanya imun cinta yang kan bisa
Walau tetap berbekas
Bekasnya ‘kan mulus jika tulus

Jika kita menanam kebaikan maka kebaikan itu akan kembali kepada kita berlipatganda banyaknya…
Jangan berharap balasan dari seseorang yang kita beri, karena balasan itu akan datang dari manapun…dari siapapun…
Tanamkan ketulusan dalam hati hingga dirimu ‘kan mendapatkan ketulusan pula dari manapun…dari siapapun…


Cinta itu hanya menyiksa jika dirimu terlalu ingin memilikinya…

Cinta itu agung jika dirimu tulus memberikannya…

Cinta itu membutakan segala apa yang terlihat oleh mata…

Cinta hanya mampu dirasa bukan dibuat paksa…

CINTA ADALAH ANUGERAH TERINDAH BAGI SEMUA MAKHLUK DI DUNIA

One thought on “PATAHAN BERBUAH MANIS

  1. Terimakasih atas cerpen yang bikin aku belajar apa itu mencintai. Mudah2an apapun yang (ceritanya sama) sekarang terjadi padaku. Bisa dijadikan suatu pelajaran berharga kedepannya. Bismillah. Makasih inspirasinya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s