Ramalan hati

Terinspirasi dari status bapak Mario Teguh di facebook (8 February 2011), kira-kira begini bunyinya :
Saat saya mahasiswa, seorang rekan yang suka membaca garis tangan, memeriksa telapak tangan kiri saya dengan cermat, lalu menepis tangan saya sambil mengatakan,
“nggak iso sugih!” (= tidak bisa jadi orang kaya)
Tiga detik hati saya mengkerut dan cemas, tapi pada detik keempat saya tersenyum karena meyakini jaminan bahwa Tuhan berpihak pada kita yang ikhlas,
Membuktikan bahwa ramalan buruk itu salah.

Sudah menjadi fenomena umum orang – orang pergi menemui peramal untuk mengetahui apa yang akan terjadi nanti di dalam hidup kita. Entah apa perbedaan antara “peramal”, “paranormal” dan “dukun”. Mungkin memiliki esensi yang sama yaitu dapat memperkirakan atau membaca hal – hal yang akan terjadi di masa datang. Percaya atau tidak, kegiatan ramal meramal ini selalu mengundang rasa penasaran. Saya tidak mau menghakimi orang yang datang pada peramal atau sejenisnya itu adalah seseorang yang tak percaya Tuhan. Menurut saya, mereka percaya Tuhan tetapi kadar kepercayaannya yang kurang optimal. Terlepas dari hal – hal yang menyangkut haram atau tidak, saya hanya melihat dari sisi logisnya saja.

Berbagai media ramalan tersedia di setiap tipe peramal. Mulai dari kartu tarrot dengan gambar – gambar dan simbol yang memiliki makna tersendiri, aura yang melihat kepribadian serta korelasinya dengan alam juga peruntungan dalam diri kita, garis tangan dengan mengartikan garis-garis mana yang lebih kuat atau dominan di telapak tangan kita. Tiga tipe tadi yang saya pernah tahu dan dengar dari orang lain juga media informasi. Biasanya mereka, para peramal ini selalu menanyakan informasi seputar diri kita, misalnya : hari lahir, tanggal lahir lengkap dengan bulan dan tahun, warna favorit, dan yang paling penting adalah nama lengkap kita. Peramal akan tahu kepribadian kita dari unsur – unsur itu kemudian mereka mencoba menganalisa dan mengkaitkannya dengan hal – hal yang ingin kita ketahui. Saya kadang – kadang membaca ramalan bintang di tabloid atau majalah bahkan di internet pun ada, sekedar untuk lucu-lucuan saja. Jika ada fakta yang memang sesuai dengan saya, saya anggap itu suatu kebetulan dan jika ternyata melenceng jauh sekali dari ramalan itu berarti hal – hal yang dipaparkannya hanya rekaan belaka.
Sepintas, mereka (peramal) seperti seorang ahli psikologi karena mereka cenderung menilai karakter dan kepribadian si pasien terlebih dahulu sebelum mereka “menerawang.” Ilmu psikologi tentunya memiliki banyak cabang ilmu yang membahas tipe kepribadian seseorang secara lebih mendetil. Mereka (para peramal) bukan Tuhan Yang Maha Tahu atas segala yang akan terjadi pada kita. Tetapi mengapa banyak orang menemuinya untuk bertanya? Hal ini yang ingin saya bagi berdasarkan pemikiran sederhana saya.

Mari kita telaah dengan logika. Jika kita ingin mengetahui informasi tentang apa saja yang kita inginkan maka bertanyalah pada sumbernya. Misalnya : saat browsing di internet, kita ingin mencari artikel kesehatan maka supaya mudah mencari jawabnya tinggal kita tanyakan pada Google sang penyedia berbagai informasi. Tinggal ketik kata kuncinya, lalu klik! dalam hitungan detik saja kita langsung mendapatkan apa yang kita mau.

Jika kita ingin tahu jalan mana yang kita harus tempuh untuk menuju bahagia maka tanyakanlah hal itu pada Yang Maha Mengetahui Jalan.

Jika kita ingin tahu apa yang harus kita pilih di setiap keputusan diantara kebimbangan maka tanyakanlah pada Yang Maha Pemberi Keputusan.

Yang banyak terjadi adalah orang ingin tahu apa yang akan terjadi nanti dan dia bertanya pada orang yang hanya meraba-raba saja tanpa petunjuk yang jelas. Kalaupun peramal memberi peringatan “jangan begini” atau “jangan begitu” seolah – olah seperti sebuah larangan dan pantangan, itu hanya dimaksudkan sebagai suatu tanda kehati-hatian kita pada langkah yang akan kita lakukan.

Jika kita bertanya pada Tuhan, gunakanlah kata, “Aku memohon padaMu dengan segenap hati dan rasa imanku padaMu, tuntunlah aku pada jalan yang Engkau ridhoi dan jadikanlah aku pribadi yang ikhlas dalam perjalanan yang telah aku pilih…”

Kita tidak bisa menanyakan , “apa yang akan terjadi besok yaaa…Tuhanku?” Karena semua itu hanya Dia yang berhak tahu, semua itu bukan kuasa kita. Kita hanya berjalan dan akan bertemu dengan segala hal yang menghadang kita untuk menuju keridhoan-Nya.

Walau mungkin ada beberapa orang yang dianugerahi indera ke-enam yang lebih tajam, kadang mereka “diperlihatkan” secara visual melalui “mimpi” atau hanya pertanda “getar dalam hati kecil” akan sesuatu hal yang akan terjadi, semuanya hanya sekedar peringatan agar kita lebih berhati-hati dalam melangkahkan kaki kita dan memutuskan sebuah pilihan yang akan kita ambil. Pada umumnya semua orang memiliki indera ke-enam tetapi hanya mereka yang dapat “mengasahnya” dengan baik dan dapat menggunakannya dengan cara yang semestinya walau tanpa dia sadari sebelumnya. Seringkali “anugerah” ini disalahgunakan oleh si pemilik. Bagi mereka yang tingkat keimanan dan kepercayaan yang cukup tinggi pada Tuhannya, mereka akan cukup mengerti cara “menggunakan” kelebihannya itu.

Sebagai makhluk hidup yang tinggal di dunia, kita selalu dihadapkan pada banyak pilihan dalam perjalanannya. Kita memerlukan apa yang disebut ‘kata hati’. Ada seorang bijak yang mengatakan bahwa ‘kata hati’ itu adalah ‘suara Tuhan’. Dikatakan suara Tuhan itu benar jika saat kita memilih, hati kita sedang ‘bersih’. Bersih dari segala prasangka buruk, bersih dari niat jelek, bersih dari apapun yang akan merusak isi hati. Kata hati kita tak akan pernah salah jika saat memilih satu jalan diantara dua atau banyak jalan yang ada di depan itu diiringi dengan sikap merendah dan tulus berdo’a memohon pada Tuhan. Hati yang bersih akan mengantarkan kita pada tangan Tuhan Yang Maha Pengasih dan bisikan petunjuk dariNya karena Dia Maha Pemberi Petunjuk.

Jika apa yang kita pilih asal – asalan saja atau cenderung ragu-ragu berarti hati kita sedang ‘keruh’ maka jika dipaksaan menjalani pilihan itu, hanya Tuhan yang tahu bagaimana jadinya nanti di kemudian hari. Janganlah ada rasa sombong ataupun ego yang tinggi saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan. Kita akan tersadar saat dampak dari apa yang kita pilih itu terjadi dan terasa begitu perih untuk dijalani hingga timbul beberapa ‘penyakit hati’ yang membuat langkah kita semakin goyah.
Menurut saya, terapi untuk membersihkan hati kita hanyalah dengan ikhlas. Selalu menerima sesuatu dengan lapang dada terhadap apa yang telah kita lakukan dan usahakan, tak boleh ada kata mengeluh dan tanamkan dalam diri bahwa kita pantang menyerah. Semua yang terjadi pada diri kita memiliki maksud baik karena Tuhan menguji keikhlasan kita melalui itu.

Saat kita memilih sebuah pekerjaan, walau pekerjaan ini berpenghasilan sedikit tetapi kita tetap menjalankannya karena hati kita memang merasa nyaman di sana maka Tuhan akan member lebih dari apa yang kita bilang sedikit jika kita ikhlas.

Seorang gadis yang dihadapkan pada dua pilihan orang untuk calon suaminya maka diperlukan kebersihan hati saat memilih salah satu dari mereka dengan do’a yang tulus diiringi keoptimisan dalam menjalaninya. Walau di awal perjalanan terasa berat yang penting adalah gadis itu telah konsekwen pada pilihannya.

Pemulung memilih hidupnya seperti itu mungkin bukan suatu pilihan yang baik dari sudut pandang kita, tetapi apa yang dia pilih telah mempengaruhi kekuatan hatinya untuk tetap hidup dari sana. Tanpa disadari apa yang dia lakukan telah membantu banyak pihak. Penghasilan yang dia dapatkan akan lebih diberkahi Tuhan daripada mereka yang mengemis. Itu semua karena hati mereka yang ikhlas.

Mahasiswa yang memilih untuk tinggal di tempat kos sederhana dengan fasilitas seadanya yang kesemuanya dia tanggung sendiri dari hasil jerih payahnya sendiri, karena dia yakin dengan pilihannya itu, dia akan temukan sebuah jawaban di kemudian hari bahwa Tuhan selalu bersamanya dan menuntunnya pada jalan yang Dia ridhoi.

Tanpa hati yang bersih, hati kita tak akan dapat memilih

Tanpa hati yang ikhlas, kita tak kan dapat menuju ke tahap yang lebih atas

Tanpa do’a, kita tak kan sanggup menghadapi segala yang ada di dunia

Di status itu saya berkomentar : “Hanya hati ini yang dapat meramal melalui bisikanNya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s