“Tentang bumbu opor”

(saat membeli bumbu opor di pasar tradisional di hari jum’at penuh rahmat…tiba-tiba terpikir dalam benak saya, saya harus menulis tentang ini)

Walau tak semahir cheff Farah Quinn, tapi suami, anak dan teman-teman saya berkata bahwa saya cukup mahir dalam membuat masakan yang mengandung santan. Tentu saja diperlukan latihan berkali-kali untuk sampai pada tahap memasak masakan enak.

Hingga masakan jenis ini menjadi salah satu masakan andalan saya yaitu opor ayam. Di dalamnya terkandung beberapa jenis bumbu, mulai dari bawang putih dan bawang merah yang hampir selalu ada di setiap jenis masakan. Tanpa kedua bahan itu atau salah satu saja, masakan itu kurang sedap. Bumbu lainnya adalah ketumbar, sedikit jahe, garam secukupnya dan tak lupa tambahkan beberapa lembar daun jeruk juga serai. Ini bukan tentang acara masak tetapi saya ingin berbagi makna dari rasa yang ada di masakan ini

Ada peribahasa yang mengatakan “dia sudah banyak makan asam garam”, artinya seseorang yang telah memiliki banyak pengalaman hidup. Saat mencicipi masakan dan tertanyata rasanya terlalu asin, itu artinya sang koki belum dapat mengasah perasaannya (feeling). Memerlukan latihan untuk itu. Terlalu banyak membubuhkan garam bukan berarti dia telah banyak mendapat pengalaman dalam hal memasak.

Untuk sebuah rasa gurih dalam masakan kita butuh sejumput gula pasir. Untuk hidup yang ‘gurih’ kita memerlukan unsur – unsur manis seperti gula.  Saat kita merasa hidup terlalu asin, cobalah sedikit beralih pada sesuatu yang manis. Saat kita merasa hidup kita terasa berat, cobalah alihkan pikiran kita pada sesuatu yang menyenangkan yang kan membuat diri kita lebih semangat. Ketika kita banyak berkeringat, cobalah untuk beristirahat sejenak. Beristirahat adalah suatu hal yang manis yang dapat menjadi pilihan hingga kita tetap optimis dan memiliki tenaga ekstra untuk melanjutkan aktivitas.

Di hari lain, kala kita temukan rasa kecut yang teramat melekat, kita hanya cukup mengambil sedikit garam maka rasa kecut itu perlahan-lahan berkurang. Mirip seperti kita makan mangga muda yang dilumuri garam sedikit. Cobaan atau hinaan terasa kecut dalam hati kita, yang menjadi garamnya adalah kematangan berpikir dan “bubuk kesabaran”. Sedikit rasa sabar akan menjadi penawar rasa sakit hati.

Masakan opor yang kurang terasa asin bisa kita tambahkan lagi garam secukupnya. Kata orang itu sudah cukup, ya.. sudah tak usah ditambah karena setiap orang memiliki kadar “perasa” yang berbeda, selera membuatnya berbeda.

Warna kuning dari opor berasal dari kunyit. Rasa asli kunyit sebenarnya pahit tetapi memiliki khasiat baik untuk tubuh khususnya lambung. Seperti hidup yang kadang terasa begitu pahit tetapi di kemudian hari kita akan merasakan manfaatnya. Kita akan menjadi pribadi yang lebih kuat.

Bawang putih yang beraroma tajam dan bawang merah yang uapnya membuat air mata berderai, keduanya seringkali tak dapat dipisahkan. Dalam hidup selalu ada dua sisi berlawanan, satu sama lain berbeda. Bawang putih bagai sebuah kebenaran yang begitu nyata dan terang juga suci. Bawang putih baik untuk kesehatan, sebuah kebenaran adalah kenyataan yang harus dihadapi.

Bawang merah seperti saat hidup dihadapkan pada satu kejadian yang membuat airmata berderai, itu adalah salah satu bumbu dalam hidup. Selalu akan tangis saat sedih juga bahagia.

Ketumbar dan selembar daun jeruk yang memiliki wangi khas membuat opor ini memunculkan aroma yang sedap, mengundang orang untuk segera mencicipinya. Diri kita masing – masing memiliki kepribadian unik dank has yang membuat orang lain tertarik untuk mengenal kita lebih jauh. Bukan karena wangi ketumbar dari tubuh kita tetapi sebuah kepribadian yang seolah seperti sebuah wewangian hingga orang lain mau mendekat.

“Bagai bunga yang menebarkan pesona dan wanginya hingga

mengundang kupu – kupu datang padanya”

Kemiri yang dihaluskan sebagai pengental opor setelah dia bereaksi dengan santan. Bongkahan dalam hati kita kadang harus kita buat halus dan lebur agar dapat berkompromi dengan unsure lain yang berada di dekat kita.

“Kesemua bumbu itu jika komposisinya tepat maka masakan yang dihasilkan akan terasa nikmat”

“kehidupan dengan semua bumbu yang hadir di dalamnya dapat membuat hidup kita

menjadi lebih nikmat”

Kenikmatan itu bukan melulu hal – hal yang membahagiakan dan menguntungkan kita tetapi juga hal – hal yang bisa membuat kita belajar karenanya untuk terus melangkah dan merasakan “kenikmatan” lainnya.

Jadi, nikmatilah opor itu seperti kita menikmati hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s