“Untuk pertama kalinya”

Sebuah lagu dari band the script “for the first time” memberi sebuah gambaran bahwa ada saat dimana seseorang untuk pertama kalinya berkorban apa saja demi orang yang dia sayangi.

Setiap ruang dan waktu yang kita lalui selalu diawali dengan ‘saat pertama kali’. Suatu hal yang untuk pertama kalinya kita lakukan selalu membuat jantung berdetak lebih cepat dari biasanya dan memiliki sensasi rasa yang mengejutkan.

Mungkin kita tak akan terlalu ingat saat pertama kali kita melakukan kesalahan karena yang kita ingat adalah hal – hal yang paling membuat kita terkesan. Menabrak pagar rumah tetangga waktu pertama kali kita naik sepeda, berbohong pada diri sendiri tentang sesuatu yang kita mau, berbuat curang pada seseorang yang akhirnya membuat kita belajar bahwa jujur dan mengalah itu lebih mulia jika keadaan memaksa kita untuk melakukannya.

Mengenal seseorang di saat pertama kali bertemu seperti dejavu, dan ‘chemistry’ pun bereaksi baik tapi terkadang ada reaksi ‘aneh’ dari bahasa tubuh seseorang yang kita temui. Kita memiliki radar dalam hati yang dapat memberi informasi apakah kita akan mengenal dia lebih jauh atau tidak. Kesan pertama kadang begitu mempesona selanjutnya hanya takdir dan reaksi kimia yang bicara.

Saat pertama kali aku melihat matanya, sejuk terasa di jiwa dan seperti mendengar bisikan “dia untuk aku”. Pandangan pertama selalu mengesankan, terbaca dari sinar mata coklatnya yang teduh hingga hati seperti tiba-tiba terbunuh. Aku ingin rasa-rasa di saat itu tetap ada hingga kita berdua memulai hari bahagia itu. Rasa yang muncul di saat pertama itu memang tak pernah salah jika hati kita tak teracuni oleh pikiran yang tidak-tidak.

Pertama kali aku terpikat dengannya, ku buka dia, ku raba dia dengan perasaan yang campur aduk, ku tekan perlahan dan akhirnya jemariku bergerak menekan satu demi satu tutsnya kemudian segala isi pikiran dan imajinasi tercurah mengalir deras…laptopku tersayang. Karena dirimu, aku selalu ingin menggerakkan jemari ini. Dirimu, jemariku dan isi otakku telah menjadi soulmate sejak hari pertama ku memegangmu.

Mendapat ciuman pertama dari seseorang yang istimewa, pipi memerah, merasa senang seperti terbang dan selalu terkenang dalam pikiran yang sepanjang hari mengawang. Mendengar kata cinta darinya pun membuat jiwa kita tak berada di raganya dalam beberapa saat. Saat seperti ini membuat kita lupa  diri.

Pertama kali melamar pekerjaan dan wawancara pertama, saat mendebarkan seperti antara “hidup dan mati”. Berusaha menanamkan rasa optimis tetapi rasa gugup lebih dominan. Setelah diterima, hari pertama bekerja pun menjadi sesuatu yang luar biasa. Saat itu kita merasa, ini langkah baru ku demi sebuah harapan baru dan segala impian di depan.

Membelikan sebuah hadiah untuk orang tersayang untuk pertama kalinya, terasa membahagiakan seperti ada energi baru untuk menjalani hari – hari berikutnya. Mendapatkan bingkisan dari seorang teman atau sahabat untuk pertama kalinya juga merupakan hal yang tak pernah kita lupakan.

Pertama kali berdandan, memakai lipstick lengkap dengan rias wajah, menimbulkan rasa takjub pada diri sendiri. Dalam hati ini akan terucap, “Ini bukan diri saya, sangat berbeda…”, sambil terus menatap diri kita sendiri di depan cermin.

Selalu akan ada saat pertama kali kala kita melangkahkan kaki untuk suatu perubahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s