“Cerita hidung”

(Terinspirasi dari sebuah puisi tentang hidung dari buku “Celebrate English 4A” )

“Be glad your nose is on your face”

Be glad your nose is on your face

Not pasted on some other place,

For if it were where it is not,

You might dislike your nose a lot.

Imagine if your precious nose

Were sandwiched in between your toes,

That clearly would not be a treat

For you’d be forced to smell your feet.

Your nose would be a source of the dread

Were it attached atop your head,

It soon would drive you to despair;

Forever tickled by your hair.

Within your ear, your nose would be

An absolute catastrophe,

For when you were obliged to sneeze,

Your brain would rattle from the breeze.

Your nose, instead, through thick and thin,

Remains ‘between your eyes and chin,

Not pasted on some other place –

Be glad your nose is on your face!

Hidung diciptakan sebagai indera pencium. Dia dapat mendeteksi segala wewangian dan bau – bauan yang hadir di sekitarnya. Pernahkah kita bayangkan jika hidung terletak di tempat yang lain, yang bukan semestinya?sepertinya tak pernah terpikirkan hal itu dalam benak kita. Seringkali kita hanya ngeh pada apa yang kita cium melalui hidung.

Bayangkan jika hidung ada di kepala, agak ngeri memang membayangkannya. Dia akan merasa gatal terus menerus karena terkena rambut. Lalu jika bersin, kepala dan otak akan terguncang karenanya. Jika seseorang berada di puncak maka akan mendapatkan guncangan dan tugas yang lebih berat membuat seseorang agak sering mengalami tekanan pikiran.

Di telinga, maka kita akan terlihat aneh. Kita akan menjadi pusat perhatian dan hal itu akan menjadi sebuah kekurangan kita hingga menimbulkan keputusasaan. Dia (si hidung) tidak akan bisa mendengar sebagaimana tugas  si telinga. Tugas seseorang pun tak akan dapat dilakukan dengan maksimal oleh orang lain jika tempat atau bidangnya bukan di sana.

Di antara jari kaki, dia menyelip di sana, maka akan menjadi sebuah keterpaksaan baginya untuk mencium bau – bau tak sedap yang menempel di kaki itu termasuk bau sepatu. Tetapi jika bukan hidung yang ada di sana tapi seseorang yang berada di bawah, maka tugasnya akan sangat berat. Tugas bawahan seringkali lebih banyak tantangannya dan kadang – kadang menimbulkan sikap nrimo saja apa yang ditugaskan padanya.

Hanya berandai-andai untuk sebuah rasa syukur, saya kira tak apa.

Sesuatu diciptakan dan ditempatkan sesuai kodratnya, jika menyalahi aturanNya maka akan mendatangkan musibah.

Berbahagialah…bersyukurlah… hidungmu ada di bagian wajahmu.

Tak usah ada kata sesal saat melihat hidung kita di cermin,bagaimana pun ukuran dan bentuknya. Tak perlu ragu – ragu untuk belagu pada dirimu untuk memotivasi apa maumu.

Bersyukurlah bahwa kita berada di posisi sekarang, karena ini perjalanan yang harus kita lalui menurut skenario-Nya, kemampuan kita memang ada di sini, fungsi dan peranan kita memang untuk ini, dan hal – hal kecil yang membuat kita dapat selalu tersenyum, ada di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s