“Dalam tujuh kami setubuh”

(mengenang perjalanan 19 Mei 2004-19 Mei 2011)

Kubaca lagi puisi ini tahun lalu, saat tahun ke-6 bersamanya begitu sangat berarti bagiku…

“ 6 tahun terasa”

Kemarin…

Aku resah…gundah…

Hari ini tak ragu

Dulu…aku malu…

Sekarang, mau…

6 tahun kemarin…

Ku jatuh dalam pelukmu

Hanyut dalam darahmu

Merasuk ke jiwamu

Arungi gelombang…tapaki karang

Tak terasa berat…sarat nikmat

Menuju indahnya hidup

Bersama kini juga nanti…

Merasa luar biasa di setiap masa

dimana cinta begitu bernuansa

Aku kan mencintaimu sepanjang masa

Kau kan miliki ku, penuhi asa

selama anugerah mengalir dari Yang Kuasa

Hari ini, tahun ketujuh berjalan bersamanya. Aku bersyukur walau tak ada kehuraan pesta. Aku dan dia hanya berpesta dalam hati. Aku tak bisa memberinya apapun selain peluk dan cium setiap hari, walau selalu ada sisipan cemberut di sana. Menatap bola mata coklatnya, selalu mengingatkan aku pada hari dimana dia menyatakan maksudnya padaku. “Aku ingin mengenalkanmu sebagai calon istri pada orangtuaku”, katanya. Tak sepatah katapun dariku saat itu, karena aku berusaha sadar, apakah aku sedang bermimpi atau tidak. Paras tulusnya membuat aku yakin, aku tak perlu berkata. Dia tahu, aku menginginkan orang sepertinya.

Aku telah menyerahkan diriku sebagai kado di ulangtahunnya yang ke-35, 7 tahun yang lalu. Kado yang akan dimilikinya seumur hidupnya, bahkan jika Yang Maha Kuasa mengijinkan, ‘kan dia bawa serta ke surga. Mungkin maafku, dalam diamku, akan menjadi kado saat ke surga nanti. Mungkin peluk dan ciumku akan menjadi pelepas dahaga selama kami dalam perjalanan hidup ini. Mungkin muka cemberut, komat-kamit kecerewetanku juga senyum manisku akan menjadikannya selalu ingat padaku.

Terima kasih bola mata coklatku,suamiku…telah membimbingku dalam setiap langkah yang ku tempuh dan kadang membiarkanku berekspresi. Dirimu adalah teman dikala muncul kegundahan, kekasih dikala diriku sedih dan perih, penasehat dikala tersesat, pemaaf dikala khilaf, pengganti ayah dikala diriku butuh ayah.

Jelang hari tangis dan tawa

Dalam tujuh kami setubuh

Sejiwa di pergantian malam-malam

Kala luluh kami bersimpuh

Ya Allah…jadikan kami pasangan yang selalu bersyukur padaMu, takut padaMu, dan selalu memegang janji kami di hari kami mengikrarkannya. Tuntunlah selalu kami dalam jalanMu hingga kami menuju ke pareduan di surgaMu…

Amin…

(Our soundtrack : ‘It’s not a dream’ by Sharon Corr)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s