Resensi buku ‘Anak kos lebay’

  Judul                     : “Anak kos lebay”

  Penulis                 : Bobby Hardika

  Penerbit              : Pustaka Rama

  Cetakan               : Tahun 2011

  Tebal                     : 222 halaman

                                    Harga  Normal: Rp. 29.000,00

                                    Harga On line: Rp. 24.650,00

Buku ini cukup menghibur dan informatif untuk kalangan anak muda, khususnya mahasiswa yang kos. Cukup banyak mahasiswa luar daerah yang ngekos di Bandung, untuk kepentingan studi di perguruan tinggi yang memang mereka pilih dan berhasil lulus dari penyeleksian. Salah satunya adalah Bobby Hardika, sang penulis buku “Anak kos lebay”. Isi buku ini menceritakan berbagai pengalaman sang penulis dan dua orang temannya (Viktor dan Deni) yang asli dari kota Medan, saat kos di Bandung di tahun pertama kuliahnya.

Mulai dari sekelumit tentang Bobby dan cerita kedatangannya di kota Bandung, halaman pertama, ‘Nyasar di Bandung’. Di awali dengan ketidakpercayaan Bobby bahwa dia ternyata diterima di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Orangtuanya tak terlalu khawatir melepas keberangkatannya ke Bandung. Padahal Bobby ingin sedikit ada moment dramatis kala orangtuanya melepas pergi anak laki-lakinya ke kota lain yang berbeda pulau. Akhirnya Bobby ditemani sang Ayah hingga sampai ke daerah Bandung Selatan, tentu saja perjalanan dimulai dengan naik pesawat terbang dari Medan menuju di Jakarta terlebih dahulu. Sesampainya di Jakarta, mereka menggunakan jasa travel menuju Bandung. Di tengah perjalanan, Ayah Bobby minta berhenti karena perut sudah keroncongan dan memutuskan untuk mencari tempat makan. Setelah makan, mereka bingung memilih sarana apa yang bisa dinaiki untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang mereka tuju. Karena di daerah tempat mereka berhenti banyak sekali delman, berwisatalah mereka dengan delman hingga sampai di Bale Endah.

Ayah Bobby kembali ke Medan setelah segala urusan pendaftaran kuliah selesai, dan Petualangan Anak Kos Lebay dimulai. Ayah Bobby sangat menekankan Bobby untuk serius kuliah, dan harus menunda pacaran. Ekspresi Bobby mendengar nasehat beliau yang Bobby tuangkan dalam kata-kata secara berlebihan alias lebay di buku ini, sesuai dengan judul bukunya. Gaya lebay khas anak alay. Petualangan dimulai saat awal ospek di kampus bersama Viktor dan Deni, teman sekosnya. Ospek dengan segala lika-liku tugas-tugas yang aneh, juga peraturan-peraturan dari senior yang banyak dikeluhkan Bobby dan teman-temannya. Bumbu obrolan lucu mengundang tawa mulai menghiasi halaman buku ini. Di sela-sela lelahnya ospek, Bobby dipertemukan dengan seorang calon mahasiswi bernama Diana. Ini merupakan hawa segar baginya. Apakah Bobby akhirnya berpacaran dengannya? Silahkan baca saja kisahnya.

‘Capeknya ospek’ ada di halaman berikutnya, kemudian akibat dijemur di bawah sinar matahari, kulit Bobby dan Deni menghitam seperti ‘Kulit hitam ala Nigeria’. Di halaman buku yang membahas tentang perubahan signifikan kulit mereka itu, diceritakan pula bagaimana Bobby dan melakukan ritual rutin untuk mengembalikan kecantikan kulit mereka seperti sedia kala. Viktor dapat dengan sepuasnya mengejek mereka, karena Viktor memang sudah dari orok begitu hitam warna kulitnya. Setelah membahas warna kulit, cerita beralih ke ‘Makanan Ala Kostan’. Mulai dari ikan lele, ayam bakar Kemarsam yang dimasak sendiri oleh mereka bertiga dengan kepala koki Deni, nasi goreng yang lewat depan kostan mereka.

Tiga bulan berjalan, perubahan fisik Bobby tampak banyak perubahan. Perutnya membuncit padahal waktu pertama kali datang di Bandung, tubuhnya kurus. Mungkin pengaruh dari makanan di Bandung yang nikmat nan murah. Saat liburan kuliah tiba, Bobby terpaksa harus berlebaran di Jakarta, di tempat tinggal Om nya karena sang Ayah melarangnya pulang ke Medan. Untuk pertama kalinya Bobby berlebaran di Jakarta. Semua hal yang dialaminya di sana ada di ‘Lebaran di Jakarta’. Bobby sesungguhnya ingin sekali merasakan keharuan lebaran saat bermaaf-maafan terucap. Tetapi saat sang Ibu meneleponnya dari Medan, yang ada hanya Ibu yang kangen pada ibunya (nenek Bobby). Mereka mengobrol lama di telepon, Bobby tak terlalu dikangeni. Dua minggu Bobby di Jakarta, dan setelah itu memutuskan kembali ke Bandung. Dalam hatinya bertekad untuk mengecilkan bagian perut dan berharap bisa berbentuk six pack.

Keinginan untuk kurus lagi disambut baik oleh Viktor dan Deni. Mereka memutuskan untuk segera membeli sebuah barbel. Tak berpikir lama, mereka bertiga menuju BIP (salah satu mal besar di Bandung) menggunakan angkot. Sesampai di sana, Viktor dan Deni langsung mencari barbel, sementara Bobby terdampar di toko buku dan melihat-lihat komik. Diselingi canda sambil memilih barbel, akhirnya mereka jadi membeli. Setelah pencarian barbel selesai, mereka pulang ke kostan dengan taksi. Obrolan dengan supir taksi mengundang kegelian, karena di halaman ini diberi judul ‘Taksi SARITEM’. Sekedar informasi, SARITEM adalah salah satu tempat/kompleks prostitusi terkenal di Bandung, mirip Dolly yang ada di Surabaya.

‘Program kurus dan Six Pack’ dimulai Bobby dan Deni. Apakah berhasil atau tidak? Yang jelas ada hal-hal yang membuat Bobby tersiksa dan menjadi bahan ejekan teman kostnya. Kembali ke seorang mahasiswi yang ditemui Bobby saat ospek, Diana. Ternyata Bobby tak bisa mendapatkan hatinya. Semuanya dicurahkan dengan nada kocak di ‘Gue dan Diana berakhir’, hingga tetap terngiang apa kata-kata Ayah Bobby di awal hari Bobby tiba di Bandung.

Menjelang pergantian tahun, Bobby menjalani UTS (Ujian Tidak Serius) yang sebelumnya dibebani dengan ‘Jadwal tambahan yang menyiksa’. Saat pergantian tahun 2008 menuju 2009 tiba, mereka mengikuti ‘Pesta Tahun Baru’ di Gasibu (sebuah lapangan dekat gedung Sate Bandung). Seperti biasa kemacetan menjadi sebuah hal biasa saat mereka yang merayakan tahun baru tumplek di jalan utama. Bobby dan kedua temannya terjebak di lapangan Tegal Lega sebelum sampai di Gasibu.

Bobby mulai merasakan sulitnya berbahasa Sunda, mengingat dia asli Medan. Kalaupun diuji coba berkata sepatah atau tiga patah kata, tetap saja logat Medan yang terdengar. Semuanya Bobby ceritakan di ‘Sulitnya berbahasa Sunda’. Anda akan dibuat tertawa dengan bahasan antara kata “teuing” dan “ikan teri”. Tidak ada hubungannya, tapi coba cerna dengan indah di halaman ini.

Bobby merasakan sebuah kejenuhan mengikuti perkuliahan di kampusnya. Dalam penggalan ‘Kuliah menjenuhkan’, Bobby pun menceritakan bahwa dia akan mendapat liburan UAS (Ujian Agak Serius) selama dua minggu. Tanpa disangka, Ayahnya mengijinkannya untuk pulang ke Medan. Seluruh biaya akomodasi keberangkatannya seperti biasa, Ayahnya yang atur. Begitu pun setiap bulannya untuk keperluan sehari-hari Bobby. Ayahnya rutin mengirimi uang. Saat UAS telah dekat, ‘Mati lampu’ membuat mood Bobby dan temannya terganggu. Bobby menemukan fakta, ternyata saat mati lampu, suasana Bandung dengan Medan tak ada bedanya. Di halaman ini, Bobby membandingkan kejadian yang dialaminya saat mati lampu seperti di Medan. Beres dengan urusan UAS, mereka bertiga bersiap pulang kampung. Mengepak semua barang bawaan dan pesanan oleh-oleh Bandung untuk keluarga di sana. Berangkatlah mereka dengan pesawat terbang. Diselingi perbincangan dan jahilnya mereka menggoda resepsionis bandara. Akhirnya sampailah Bobby di Medan, dan sang Ayah terheran-heran melihat bentuk tubuh Bobby yang menjadi melar. Bobby menyalahkan kota Bandung tentang kegendutannya. Bobby sangat menikmati liburan di Medan walau matinya lampu juga dia temui di sana, bahkan rutin.

Diana tinggal kenangan, tapi Bobby memang beruntung bisa berkenalan dengan seseorang yang asing di bis yang dia naiki. ‘Siapakah Nadia?’ ini menceritakan kejadian perkenalan Bobby dengan penumpang yang duduk di sebelahnya. Nadia pun bersandar tanpa sadar di pundak Bobby, hingga membuat Bobby terlena namun tetap sigap. Siapa sangka dia menyamar menjadi gadis manis anak Siantar padahal mungkin seorang penipu. Prasangka buruk bobby tak terbukti. Nadia turun lebih dulu daripada Bobby dan dompetnya aman.

‘Danau Toba, Awesome!’ menceritakan segala yang Bobby lihat sesampainya dia di Balige. Dia berkunjung ke tempat tinggal Ayahnya. Ibu dan Ayah Bobby tinggal terpisah. Bobby pun hanya sebentar berada di Medan hingga tiba ‘waktunya berpisah’ dengan kampung halaman. Bobby kembali menuju Bandung. Bobby kembali mengikuti perkuliahan dan cerita Bobby menjadi mak comlang untuk Mia teman sekelasnya dengan Joko, ada di halaman ‘Hari pertama semester dua’.

Musim penghujan mewarnai cerita di buku ini. Semuanya hadir di halaman yang berjudul ‘Kontrakan atau Kebun binatang’. Banjir, laron-laron,lintah, siput dan kodok menjadi hal yang dramatis saat hujan turun. Mereka menghajar seluruh “pendatang” kostan dengan candaan kejam. Kemudian ‘Curhatan Tukang Nasi Goreng’ pun dihadirkan di buku ini. Tukang nasi goreng menggunakan modus curhat bahwa istrinya sakit agar Bobby memberikan dengan rela uang kembalian yang menjadi uang terakhir yang dimiliki Bobby kala itu. Bobby pun mencurigai setiap curahan hatinya itu hanya fiktif belaka. Hal ini terbukti saat Bobby membeli nasi gorengnya dan si tukang nasi goreng selalu curhat tentang istrinya. Ini dan itu. Bobby mengaitkannya dengan sebuah kebohongan. Bobby mencontohkan jika kebohongan si tukang nasi goreng dibuat menjadi sebuah buku, dan buku itu laku keras, maka dia akan terkenal. Tidak akan jadi tukang nasi goreng lagi, lain hal dengan Bobby yang masih tetap berstatus mahasiswa.

Jarak satu bulan sejak Bobby meninggalkan kota Medan, dia mulai merasakan homesick karena mendengar Deni yang sering ditelepon ibunya, juga Viktor yang sering ditelepon pacarnya. Bobby menyesalkan orangtuanya tak pernah berlama-lama bicara di telepon. Namun kala itu, telepon dari ibunya membuat Bobby sedikit mengeluarkan airmata. Terlihat jelas bagaimana sebenarnya Bobby yang sebenarnya berperasaan dan tetap lebay. Terjadi perdebatan aneh saat temannya melihat sesuatu membasahi matanya. Bobby merasa berbagai masalah selalu menghampirinya. Diantarnya, sang Ayah yang telat mengirim uang, kabar dari adiknya di Medan bahwa orangtuany sering bertengkar. Adiknya memutuskan kabur, tepatnya kesasar entah kemana. Diantara konflik, ulah adiknya menjadi bumbu canda yang menghibur. Masalah dapat Bobby atasi dan dia bersenang-senang di Dufan bersama teman-teman kuliahnya. Di bagian akhir buku ini diceritakan bahwa Bobby batal pulang ke kampung halaman karena harus mengikuti Semester Pendek, senasib dengan Deni. Berbeda dengan Viktor yang sangat menikmati liburannya. Buku ini sangat ringan dan menghibur. Tidak menutup kemungkinan akan hadir Anak kost lebay session II sebagai kelanjutan kisah Bobby.

Selamat membaca dan semoga terhibur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s