“Bandel”

Kami berdua sedang bandel untuk satu hal, saat sedang batuk tetap minum kopi. Mungkin ini adalah hal yang sangat tidak dianjurkan dokter. Lebih bandelnya lagi, kami berdua tidak memeriksakan diri ke dokter, malas. Selalu ada analisa aneh saat setelah diperiksa. Kami tak terlalu percaya obat-obat yang diresepkan itu bisa meredakan batuk ini. Kami memilih cara alami tapi tetap minum kopi karena ingin. Kalaupun minum obat batuk, kami memakai merk yang terpercaya dan sudah kami kenal sejak kecil dulu. Ini bukan iklan, tapi kenyataan.

Saya pikir, terkadang gejala batuk mirip dengan gejala merasuknya sesuatu yang aneh dalam dada, ya… rasa cinta.

Saat uhuk! ada rasa sesak dan sakit di dada, tapi saat lain akan reda dan terasa kering di tenggorokan. Setuju atau tidak dengan yang saya pikirkan ini, terserah. Ini hanya filosofi sederhana. Saat merasakan cinta, kita merasa sesak di dada walau tak harus mengeluarkan dahak, tapi di saat lain, kita akan bernafas lega tanpa mengkonsumsi obat apapun. Alami saja, begitu saja, melegakan membuat raga melayang. Jika kita paksakan minum obat batuk sirup, sekalipun itu merk terpercaya, selalu ada efek samping yang hadir. Kepala pusing, sedikit mual juga mengantuk. Untuk gejala rasa-rasa cinta, tak perlu dipaksakan dengan sesuatu yang dapat menghentikannya, malah membuat kita lebih menderita dengan efek samping yang ditimbulkannya.

Biarkan saja rasa itu membandel di helai-helai hati kita, dan helai-helai itu pula yang akan menetralisirnya, walau seringkali tidak sinkron dengan apa yang diperintahkan  otak. Biarkan saja rasa itu membandel di sana, bagai batuk yang menguhuk hingga rasa  itu pergi begitu saja, atau tetap tinggal dengan sedikit sisa. Tak usah kita paksakan sembuh dari rasa itu. Lihat sajalah dia, setiap kali kita ingin melihatnya, hingga rasa itu sembuh sendiri atau bahkan tetap menjangkiti kita.

Sebenarnya saya ingin batuk ini pergi segera, tapi tidak dengan rasaku padanya, rasa kami ini.  Kala tatap mata dan bibir beradu, sang batuk tiba-tiba pergi. Mungkin dia telah sedikit terusir oleh oksigen dari larian hela nafas kami.

Biarkan kami yang bandel, menahan segala rasa di dada bukan di kepala. Dokter tak usah ikut campur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s