“Bossy”

“Eh, si bos kok gitu ya?! Marah – marah ga jelas gitu” , “ih, si bos pelit amat ya?! Traktir sekalipun belum pernah”, “barusan kita diajak si boss loh ke rumah makan yang di sana”, atau “si boss kok pake sandal jepit pergi ke luar kantor?!”

Kalimat-kalimat itu mungkin sedikit mewakili cerita-cerita sosok seorang bos. Pengertian dasar dari kata ‘bos’ adalah orang yang memimpin, berkuasa, berwenang dan identik dengan banyak uang. Umumnya seseorang yang berjiwa pemimpin itu mampu menjadi seorang bos karena dia dapat memberi rasa segan dengan cara elegan. Tidak sedikit bos yang kurang berwibawa atau pembawaannya tidak membuat segan.

Saya sebagai perempuan yang pernah bekerja di kantor, sebuah karakter bos yang pernah saya lihat, beliau termasuk seorang pemimpin yang mudah berkompromi. Jika ada hal-hal yang kurang berkenan, beliau selalu mendiskusikannya terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Tipe orang seperti ini mungkin sebuah tipe bos yang akan disukai oleh para karyawannya. Komunikasi akan terasa nyaman, ide-ide apapun dapat kita ungkapkan pada beliau, walau nantinya tidak sepenuhnya dapat dikabulkan oleh beliau setelah melalui proses diskusi. Bagi seorang bos yang pernah mengalami tahap-tahap perjuangan panjang, akan dirasa lebih pengertian pada karyawannya. Mengerti orang lain yang nyata-nyat berbeda isi kepala, memang bukan hal yang mudah. Untuk menjadi bos yang pengertian dan tidak kaku dengan para karyawan, berawal dari pengalaman kerja serta interaksi yang dibangun dengan sehat.

Bos yang cerewet, harus dapat kita maklumi, karena hal itu adalah hal yang manusiawi. Apakah dia cerewet karena ingin terlihat dia bertugas sesuai fungsinya sebagai bos, atau memang karakternya yang perfeksionis. Kita sebagai karyawan seringkali menerima kecerewetannya dengan tidak bijak. Ngedumel tetapi tetap dikerjakan, atau malah dengan sengaja tidak melaksanakannya dengan baik. Jika karyawan lebih banyak kesal dengan perintah atau saran bos, hal ini perlu ditelaah. Apakah si bos terlalu mementingkan kepentigan pribadi atau kurangnya diskusi dengan karyawan. Tidak semua bos dapat mengerti keadaan karyawan, begitupun sebaliknya. Lagi-lagi pengalaman kita sebagai karyawan yang dijadikan acuan untuk mampu menghadapi situasi seperti tadi. Terlalu banyak aturan dari seorang bos di lingkungan pekerjaan, tidak akan membuat nyaman para karyawan bekerja di sana, jika tidak ditunjang dengan kepribadian si bos itu sendiri.

Menjadi seorang pemimpin itu sepatutnya memiliki rasa kemanusiaan dan daya pikir logis.  Pengertian dan rasa saling percaya antar karyawan juga perlu dipupuk sejak awal. Siapapun bisa bersifat bossy tetapi seorang bos tidak harus terlalu bossy jika ingin dihargai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s