“Gadis cilik berbaju ungu”

Rasa dan pikirku tiba-tiba menerawang, saat melihatnya di ujung gang jalan itu. Ada yang berubah dari dirinya. Terlihat lebih jangkung, rambut hitam kecoklatan yang memanjang, dan wataknya yang semakin dinamis, namun senyumnya tetap mengembang manis. Tidurnya tak mau lagi ditemani, belaian dari papa di punggungnya, tidak usah, malu katanya, “aku sudah jadi kaka, sudah gede mau masuk SD”.  Tak menyangka dia tiba-tiba berpantun saat bercerita tentang seorang teman yang agak nakal, katanya… “Dua tiga betah di TK, terus saja sampai tua…” Dia terlalu sering menonton serial ‘Upin Ipin’ rupanya. Dia mengakhiri masa sekolahnya dengan sebuah persembahan tari ‘Badinding’. Melihatnya menari dan berpakaian ala putri Minang, seperti melihat sosok neneknya di sana, bukan aku. Dia telah dapat menulis dengan baik sebuah surat untuk ibu guru dan teman-temannya, itu seperti diriku.

Aku seolah melangkah setengah melayang, berandai-andai jikala dia lebih besar lagi nanti. Dia mungkin akan sangat cerewet padaku, mengingatkanku untuk tidak terlalu banyak berbelanja, tidak terlalu sering pergi naik motor kecuali bersamanya, tidak lagi makan gorengan yang membuatku batuk dan akan menjadi gendut, tidak telat mengantar ke sekolah. Dia akan terlihat sangat cantik dan tetap enerjik kala dihadapkan pada sebuah hal pelik. Dia akan sangat perhatian pada papanya yang selalu menjadi teman ngobrol di hari-hari cerianya. Dia mungkin akan sedikit acuh pada teman laki-laki yang mendekatinya saat masa kuliah nanti, seperti diriku, tapi dia mudah akrab dengan teman baru. Dia akan menjadi pribadi yang memegang teguh pada keinginan, pilihan dan ketekunannya, seperti papanya juga diriku.

Tak lama lagi, dia akan berekplorasi di lingkungan baru, berseragam putih dan merah, dengan senyum merekah. Aku tetap khawatir, setiap dia melangkah pada sebuah wadah yang baru dia pijak. Dia sangat tak sabar memasuki wadah itu dengan segala kecerewetannya. Aku senang dia begitu. Papanya juga.

Dia, anak yang manja tetapi berkeinginan kuat untuk menunjukkan dirinya sebagai anak yang hebat. Apapun kata gurunya, dia adalah bagian dari diriku dan cintaku. Mendengar kecerewetannya, dia begitu mirip papanya yang idealis tapi berhati manis. Apapun kelakuannya, dia adalah gadis cilik berbaju ungu yang terkadang membuatku termangu dan membuat hati selalu melagu. Dia tetap akan menjadi cucu nenek yang selalu minta disuapi makan dari tangan nenek yang membuatnya nyaman.

Be my best partner forever, my little angel…  Semoga Allah selalu melimpahkan berkah, kesehatan dan keceriaan padamu, putri grageku… Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s