PRIVATE EMOTION

Saya tidak akan membahas sebuah lagu retromantic dari Ricky Martin dan Meja. Ini hanya pengalaman saya ‘bereaksi kimia’ dengan murid privat SMA pertama saya.

Dia perempuan. Awal pertemuannya dengan saya, dia terlihat gugup. Entah karena melihat wajah saya atau karena ini pengalaman pertamanya les privat. Dia jujur pada saya, bahwa dia ingin bisa berkomunikasi bahasa Inggris dengan temannya di pesantren yang notabene adalah pesantren modern abad ini. Para santri di sana, dituntut untuk berbahasa Arab dan berbahasa Inggris setiap hari. Satu keinginan yang baik akan berjalan baik pula, jika ditunjang dengan kemampuan lebih orangtuanya untuk memasukkan anaknya les privat.

Pertemuan kedua, saya merasa seperti ‘dejavu’. Berada di hall sambil membuka buku dan berbicara dengannya, dan tiba-tiba rekaman dalam otak saya terhenti sejenak, spontan mengingat suatu frame.

“Ya Allah, saya pernah bertemu dengannya, di sini… atau entah dimana saya pernah melihat anak ini.”

Memperhatikan bahasa tubuh dan pembawaannya, sangat mirip diri saya, dahulu. Tomboy, mudah gugup, agak pendiam, dan selalu wangi, mahir naik sepeda motor, juga bisa bermain gitar katanya.

Hingga pertemuan kelima, dia menunjukkan kemajuan yang cukup baik. Dia mulai dapat mengingat banyak kosakata yang telah dia baca dan dengar. Mungkin di pertemuan terakhir, saya akan mengajaknya berbicara dalam bahasa Inggris. Tidak menutup kemungkinan, dia memberi tahu saya beberapa kata dalam bahasa Arab, dan saya memberikan sinonimnya dalam bahasa Inggris. Barter ilmu itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Dia bilang penyanyi favoritnya adalah si cantik Taylor Swift. Selera musik yang bagus, dan sangat saya. Mungkin dari beberapa lagu Taylor Swift yang dia dengar, dia dapat mengerti pesan apa yang disampaikan dari lagu itu tanpa harus membuka kamus. Saya tidak akan menyuruhnya menyanyikan lagu itu, tapi saya akan mengajaknya mengerti lagu apa yang dibicarakan teman-temannya saat berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Suka atau tidak dengan lagu yang dia dengar, dia harus mampu mengerti dan menjawabnya dengan percaya diri.

Saya berharap, dia bisa lebih cerdas dari saya hingga dapat menapakkan kakinya di luar Indonesia, bersuara di sana tanpa ragu dengan lagu yang tak membuatnya belagu. Anak pesantren tak selalu kuno, tak selalu udik, tak melulu harus menjadi guru, juga belum tentu menjadi teroris. Dia bercita-cita ingin bekerja di kedutaan. Saya berharap, dia bisa menjadi duta besar untuk Indonesia yang dapat mengubah dunia. Saya mendorongnya untuk belajar bahasa lain selain bahasa Inggris, menyimak berita internasional berbahasa Inggris, menulis di diary dengan bahasa Inggris, dan memberanikan diri untuk ngobrol menggunakan bahasa Inggris, juga jangan takut salah. Dia berkata, dia akan belajar privat lagi saat liburan awal tahun nanti. Saya senang mendengarnya.

Semoga Allah mempertemukan kita lagi. Saya ingin belajar beberapa kalimat percapakan bahasa Arab darinya.

It was a great private emotion I’ve ever had…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s