Cerita maskara

Aku baru bertemu denganmu saat kamu jadi pager ayu. Aku tahu, kamu tak mau disentuh olehku, tapi mereka memaksa supaya mata kamu lebih cantik. Aku jarang bertemu mata denganmu sejak saat itu, hingga suhu kamar membuatku menggumpal.

Aku bertemu denganmu lagi saat kamu mulai bekerja di gedung berlantai 9. Aku begitu menjadi pelengkap hari-harimu dengan riasan dan setelan kantoran. Kadang kamu hanya ingin memakaiku tanpa memperlihatkannya pada orang-orang. Aku yang transparan hanya memberi vitamin untuk bulu matamu itu. Seringkali aku tertinggal di penjepit bulu mata milikmu.

Di hari lain, aku membuat sempurna tatapan matamu dengan warna coklat atau hitam. Kamu memang moody, memakaiku jika sedang mood dandan saja. Tapi aku senang, kamu tidak berlebihan. Malah seringkali terlalu natural. Seharusnya kamu bisa coba aku dengan warna biruku yang atraktif, tapi kamu belum cukup berani.

Aku akan tanya pada penjepit bulu mata di dalam beauty case-mu, juga pada eye-pencil coklat favoritmu, apakah kamu memakainya setiap saat?

Aku hanya maskara yang berbicara pada seorang dara, hingga kini si dara tetap natural dengan maskara coklat dan eye-pencil coklat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s