Eyeliner VS Eyepencil

“Kamu membuatnya perih, jangan sentuh dia lagi,” eyepencil merasa peduli akan keperihan perempuan tomboy itu.

“Biarkan saja dia tahu bagaimana rasa perih dipinggiran kelopak matanya,” eyeliner tak mau kalah.

“tapi dia lebih sering memegangku dan menorehkannya di pinggir lingkar matanya yang teduh,” lagi-lagi eyepencil membanggakan warna coklat yang menghiasi hari-hari indah di mata perempuan itu.

“kenapa dia lebih sering bersama kamu? Aku malah dibiarkannya bersebelahan bersama maskara hitam,” gerutu eyeliner hitam dalam laci.

“Perempuan itu lebih senang dengan warna yang membuat dia tenang dan senang, hingga hatinya ikut melayang menjalani apa-apa yang dia lakukan di hari-harinya,” eyepencil berkelakar.

“Justru aku yang akan membuatnya lebih jelas melihat dan matanya akan lebih tegas, juga pada sikapnya yang akan menjadi lebih tegas terhadap urusan sekeras apapun,” eyeliner berkampanye.

“Sudahlah, kamu istirahat saja di dalam laci yang gelap ini. Aku mau pergi menemaninya seharian ini,” eyepencil pergi dan melambai dengan senyum menyeringai saat perempuan itu memasukkannya di tas kecil yang akan dibawanya pergi.

Eyepencil ditemani compact powder dan lipgloss di dalam tas kecil itu.

Apa yang mereka bicarakan dalam perjalanan?

Next, lipgloss will talk…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s