Lipstick

Kamu temukanku pertama kalinya di tas kosmetik mamamu. Aku tiba-tiba menempel di bibir mungilmu. Lalu tak lama kamu oleskanku di cermin, entah tulisan apa yang kamu coretkan di sana.

Setiap kali kamu melihat-lihat isi tas kosmetik mamamu, pasti yang pertama kamu pegang adalah aku.

“Ayo, pakai saja aku di bibirmu,” teriakku.

Kamu acuh saja tak mendengarku.

Sesekali kamu melihat warnaku di bibir mamamu. Sepertinya kamu ingin cepat-cepat meniru mamamu. Warna merah yang menghiasi bibir bagai sebuah semangat untuk meraih sesuatu. Lama sekali kamu tak peduli lagi padaku.

Sampai pada suatu waktu, sahabatmu menyarankanmu memakai salah satu warnaku seperti yang pernah dipakai mamamu. Merah merekah bibirmu di hari indah itu. Bibir yang akan mulai dikecup dan dikagumi oleh pria yang menikahimu.  Aku ikut merasa gerah saat bibir pria itu mendekati bibirmu. Aku merasa berada di antara dua suhu tubuh yang sangat membara. Aku akan selalu menjadi temanmu dalam setiap gairah langkah yang kamu jamah. Warna apapun yang kamu pilih saat sedang perih, atau kering, aku akan berkolaborasi dengan lip-gloss agar bibirmu tetap menawan bagai perawan yang sedang menanti tuan tampan bersanding bersamanya dalam satu nafas cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s