hey,blush-on…my spirit on!

Dia sangat  terkesima dengan satu wadah berwarna emas di tangannya. Perlahan dia membukanya, dan…

“Wow! Kamu mulai tertarik kan dengan butiran warna-warniku ini?”

“Ayo,coba! Jangan ragu-ragu!”

“Kuas…ya,kuasnya mana?ayolah…sapukan kuasnya memutar, nanti kamu akan mendapat warna yang sempurna saat kuasnya disapukan di pipi putihmu itu”

“Bukan! Bukan begitu! Kamu kok malah mengambil satu butir saja?!”

Dia mengoleskan satu butir blush-on pink di area tulang pipinya.

“Warnanya nggak akan muncul dong…kalau begitu caranya,” si blush-on mulai cerewet.

“Hei! Jangan ditutup dong…yah…gelap,” ditutupnya wadah blush-on itu oleh si perempuan manis.

Dia sengaja menyimpannya terlebih dahulu di laci tempat kosmetiknya untuk nanti.

“Ya…ya…aku memang harus berpasangan dulu dengan kuas,” ujar si blush-on dari dalam laci.

Dua minggu…tiga minggu…1 bulan…2 bulan…

“Waduh,kok aku nggak dibuka-buka lagi sama kamu?,” si blush-on mulai pegal di dalam laci.

“Kuas itu penting untukmu,wahai perempuan manis…aku dan kuas akan membuatmu lebih merona”

“Butiran warna-warniku ini pasti akan membuat dirimu merasa jadi pribadi yang baru tapi bukan meniru-niru. Kamu ya kamu…dengan gairah dan semangatmu yang terkadang mengarah pada hal yang liar,” si blush-on terus saja berbicara pada ruang gelapnya.

Perempuan itu kembali menyentuh wadah blush-on, kemudian membukanya.

“Yes! Aku mau dipakai sama kamu kan?!,” blush-on kegirangan.

“Kuasnya?kok kamu belum punya kuas juga sih…” blush-on sedikit kecewa.

“Aku adalah bagian dari semangat barumu. Ayo! Pakai saja aku dengan caramu, tanpa kuas tak apa,” si blush-on pasrah juga gerah.

Perempuan manis itu mulai bereksperimen dengan blush-onnya tanpa kuas, hanya dengan kedua jari tangannya dia menyapukan itu ke bagian pipinya. Perlahan, penuh perasaan, dan hasilnya seperti sebuah kejutan kala dia melihat wajahnya di cermin.

“Aku ingin kamu tahu kalau aku sangat membutuhkanmu…” gumamnya dengan tatapan mata yang agak menerawang jauh tetapi diiringi senyum manisnya yang tulus.

“Ya…kamu memang butuh aku, supaya wajah kamu bisa lebih ceria saat wawancara di radio itu,” si blush-on menjawab.

“Jadilah seperti diriku, butiran warna-warni yang memberi arti dalam hati, membuang duka dalam luka, mengisi gairah dalam darah…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s