Antara menunggu dan buku

Kita seringkali dihadapkan pada situasi menunggu. Satu hal yang membosankan jika kita hanya diam dan melongo. Saya lebih sering mendengarkan radio dari ponsel saat menunggu, atau membuka internet, tetapi sekarang sedang membiasakan diri membaca buku. Saat menunggu anak di sekolah dan tak ada teman ngobrol, kadang saya sambil membaca buku.

Kebiasaan menunggu di sekolah ini dilakukan semenjak anak saya masuk SD, sekitar 3 bulanan. Saya merasa sedikit kesal, kenapa sang anak selalu ingin ditunggui mamanya. Padahal kalau sudah di dalam kelas, anak lupa dengan mamanya. Dia pasti fokus pada pelajaran. Di sisi lain, saya tak mau melanggar janji atau kata-kata pada anak. Jika saya bilang, “Ya, mama nunggu kaka”, maka saya akan tunggu. Jika saya mencuri-curi waktu untuk pergi sejenak, mungkin anak saya akan memaafkan. Tetapi yang terjadi adalah anak saya seringkali menangis kecil. Mungkin dia merasa diabaikan, atau entah karena masih kental sifat manjanya.

Saya pikir, menunggu anak di sekolah hingga bubar sekolah sambil membaca buku itu sama halnya menunggu saat anak kita beranjak dewasa hingga mencapai mimpi-mimpinya. Saat saya tak bersamanya, menunggunya keluar dari pintu kelas, saya sempatkan membaca dan mencermati makna dari setiap kalimat yang ada dalam buku. Mengerti dan memahami setiap langkah kaki juga keinginannya. Belajar dari dirinya yang sangat enerjik dan pikirannya yang sangat kritis.

Ya…saya akan selalu membawa buku untuk berjaga-jaga jika saat menunggu itu akan sangat panjang. Saya akan bisa menyelesaikan membaca beberapa buah buku, bahkan menulis banyak buku untuknya. Setiap kata, kalimat, dan puisi yang saya tulis akan membuat anak saya merasa bahwa dia sangat berarti bagi saya. Selama kurun waktu menunggu hingga dia usai menyelesaikan pendidikannya nanti, saya tetap tak boleh berdiam diri. Saya akan cepat tua jika hanya diam. Saya akan berusaha memahami dunianya, mengerti pribadinya, menjadi teman curhatnya seperti saya dan mama dulu.

Ya Allah…rasanya saya menjadi tak sabar menunggu dia besar.

Semuanya terserah padaMu…

Saya hanya makhluk yang memiliki kewajibanMu untuk menjaga dan memelihara titipanMu

Saya akan memaknai segalanya kala saya menunggu dengan segala syukur melalui ayat-ayat suci yang saya kumandangkan dalam hati terdalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s