“Sensitivity”

Saya terkadang bertanya-tanya, “Kenapa saya begitu sensitif akan berbagai hal yang saya alami?”

Tetapi saat lain, saya bisa tidak terlalu peduli dengan satu hal. Santai saja sambil berlalu.

Kini saya tahu, I’ve got this sensitivity to do the life duties. Saya selalu tiba-tiba berkaca-kaca saat membicarakan sesuatu, dan itu artinya saya terenyuh, terharu, atau bahkan kesal. Kata-kata yang terucap tak bisa mewakilinya, hingga air mata menggenang di kelopak mata dan terbata. Entah karena saya penyuka warna pink, yang katanya orang penyuka warna ini memang sensitif namun agresif. Saya pernah ingin mengganti warna kesukaan saya dengan warna jingga atau merah. Tetapi seringkali saat memili barang untuk dibeli, tetap saja si pinky lah yang menjadi pilihan. Sesampai di rumah, “Kenapa sih yang pink lagi…pink lagi?”

Penyesalan tiada guna, jika karakter dan kepribadian yang kita miliki memang melekat kuat hingga kapanpun. Walaupun kepribadian seseorang itu dinamis, dapat berubah seiring waktu, tetapi sifat dasar akan berjelaga dalam pikiran dan jiwa.

Sensitivity makes me feel harder for all the things I’ve had and done.

Saya bersyukur dengan  perasaan yang saya miliki, hingga ini pula yang bisa menyelamatkan saya dari sebuah konflik yang mungkin dapat muncul di tengah keceriaan yang sedang saya rasakan.

Biarlah rasa ini tetap di sini, dalam jiwa saya. Tak usah pergi jauh, karena saya bisa merasakan cinta yang begitu dalam, tatapan mata yang begitu teduh dan menyentuh, pelukan hangat yang memberi semangat walau saat matahari menyengat, senyuman manis dari binar mata indah malaikat kecil, tangis yang selalu tetap menjadi hal manis untuk dilukis.

I’ll have this sensitivity till I don’t know what I have to do… who I love… who I care about