#8 Secangkir teh jahe lemon

Perempuan tua hadir di rumah Si tengah pagi tadi, sesaat sebelum Sang mentari menyembulkan semyum hangatnya. Air mukanya tampak bahagia. Tiba-tiba dia minta dibuatkan secangkir teh jahe.
“Ngah, aku kepigin teh jahe hangat, seperti yang diceritakan di buku itu” pintanya pada Si tengah.
“Oh… teh jahe lemon. Kebetulan masih ada lemon di tempat bumbu tapi gula batunya ndak ada” Si tengah mendidihkan segelas air di atas kompor seraya membelah jeruk lemon, lalu menyeduh teh tubruk yang tersisa di meja.
“Nduk, di depan tadi ada tukang bubur ayam, kamu mau ndak?” perempuan itu menawari Si tengah.
Si tengah mengambil sebuah mangkok di rak piring, dan memberikan mangkok itu padanya, “Ndak mbok, mbok saja yang beli, belum sarapan toh?”
“Ya wis kalau begitu” dia keluar rumah, menuju tukang bubur.
Sepeninggalnya ke tukang bubur, secangkir teh jahe lemon telah siap.
Tak lama perempuan tua itu kembali dengan semangkok bubur ayam lengkap dengan bumbunya. Dia terlihat lahap memakannya. Cucunya terbangun dan Si tengah memberitahu kedatangan eyangnya.
“Gin, ada eyang tuh…”
Si Ogin yang masih terhuyung berusaha mengumpulkan nyawa menghampiri eyangnya. “Eyang…”
“Eh… cucuku udah bangun” senyum eyang mengembang dibalas senyum Si Ogin.
“Mau bubur ayam?” tanya eyang dengan lembut.
“Nggak ah… nanti malah dimainin” Si Ogin menirukan kata-kata ibunya.
“Dia nggak suka bubur mbok, nanti saja di pasar kaget kami beli lontong kari atau nasi kuning” Si tengah menimpal.
“Aku nunggu Si sulung, katanya mau ke sini” eyang memberi alasan kenapa dia datang pagi sekali ke rumah itu sambil mulai menyesap sedikit teh jahe lemon yang sedari tadi telah siap.
“Oh… gitu, tapi kami mau ke pasar kaget dulu mbok. Biar ada gerak sedikit, udara dingin begini malah terasa kaku” Si tengah memberi tahu acara rutin pagi itu.
“Ya sudah, pergi saja. Aku nunggu di sini”
“Eh… Gin, mau teh jahe?” Si Ogin ditawari segelas minuman berkhasiat.
“Enak loh… ada rasa jahenya” eyang berusaha membuat cucunya tergiur.
“Nggak ah… buat eyang aja” jawabnya singkat.
“Ayo Gin, cuci muka dan gosok gigi dulu. Kita siap ke pasar kaget?” ajak Si tengah.
“Ya bu! Aku siap!” senyum khas Si ogin menebar ke seluruh ruangan rumah.
“Pa, ayo siap-siap. Ogin mau ke pasar kaget nih…” Si tengah mengajak suaminya yang sedari tadi masih memakai sarung, bermalas-malasan di depan televisi.
“Haduh… kayaknya males banget nih…” jawabnya sambil menggeliatkan badan lalu menguap.
“Eeeh… gimana sih, katanya kemarin bilang hari minggu mau jalan pagi ke sana” bibir Si tengah maju sedikit dengan nada terdengar mulai kesal.
“Ayolah kalau Ogin yang mau” bapa Ogin dengan terpaksa bangkit dan menyegerakan dirinya untuk ganti baju.
Setelah mereka bertiga siap, mereka pamit pada perempuan tua yang telah menyelesaikan sarapan buburnya.

*****
Sepulang dari pasar kaget, didapatinya Si sulung tengah berbincang dengan eyang Ogin. Obrolan santai mengalir begitu membuat suasana hangat rumah itu. Tanpa terasa waktu bergulir, Si sulung pamit pulang setelah selesai dengan makan siang bersama.
Tak lama punggung Si sulung menghilang di ujung gang, perempuan tua itu juga pamit pulang. Secangkir teh jahe lemon yang diminumnya tadi pagi, membuatnya tiba-tiba meminta maaf pada Si tengah.
“Ngah, maafkan aku ya… selalu merepotkan…” katanya pelan dengan nada bergetar menahan sesuatu seraya kedua tangannya menjabat kedua tangan Si tengah.
Si tengah terheran, “Tak biasanya mbok begini… semoga dia baik-baik saja…” pintanya dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s