#14 Ayah yang pengertian

Salah satu problem dalam keluarga adalah hubungan Ayah dengan anaknya, khususnya anak perempuan dengan Ayahnya. Kebanyakan orang berpendapat bahwa segala urusan anak adalah tugas Ibu, termasuk berbincang atau ngobrol bersama anak.

Komunikasi yang kita jalin sebagai orangtua dengan sang anak adalah hal yang sangat penting. Ini bukan hanya urusan Ibu, tetapi peran Ayah juga sangat besar. Karakter anak akan terbentuk karena komunikasi dengan Ayah. Seringkali Ayah  terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan hingga tak menyadari bahwa anaknya butuh disapa dengan hati bukan sekedar basa-basi. Akan lebih baik lagi jika Ayah meluangkan waktu untuk mendengar anaknya bercerita tentang bagaimana hari ini di sekolah, tentang teman-temannya, dan banyak hal dari kesehariannya.

Saya seringkali melihat seorang Ayah begitu kaku dan angkuh di depan anak hingga mendapat image yang menyeramkan di mata anak. Selalu muncul ancaman seperti ini, “Ayo cepat cuci motornya! nanti Ayah marah loh” atau “Kalau kamu nggak mau nurut, Ayah ngamuk sama Ibu loh”. Ancaman seperti ini membuat anak menjadi takut dan image tentang Ayahnya menjadi negatif walaupun ancaman tersebut bertujuan supaya anak patuh.

Saya sebagai anak perempuan yang pernah ngobrol dengan beberapa Ayah, mengingat Ayah saya sudah lama meninggal dunia, merasa nyaman dan sangat menikmati obrolan bersama Ayah (Paman dan Uwa). Mereka sangat perasa menurut saya. Entah lah apakah dugaan saya ini benar. Tetapi rasa nyaman ini terasa begitu dalam karena saya merindukan moment seperti ini walau hal-hal yang kami perbincangkan hanya sekedar hal biasa. Apalagi kalau sudah bicara tentang masa depan saya, mau saya apa dan bagaimana saya harus bersikap dan merubah diri saya menjadi lebih baik. Itu sangat membuat saya senang dan menghangatkan jiwa. Saya sempat berderai airmata ketika Paman saya mengajak bicara dari hati ke hati. Karakter dan kepribadian, juga latar belakang saya kenapa bisa menjadi seperti ini, beliau bahas tuntas. Obrolan itu sangat membekas dalam hati dan pikiran saya sampai hari ini.

Saya sangat bersyukur, anak perempuan saya sangat dekat dengan Ayahnya. “Kaka senang main sama Papa, cerita sama Papa, becanda sama Papa”, begitu katanya dengan senyum yang sangat manis dan mata berbinar. Anak saya selalu kritis jika hari sabtu atau minggu dia harus bertugas, karena dia merindukan Papanya di sampingnya seharian. Kegiatan pendekatan dengan ngobrol ini sangat penting karena sebagai Ayah, akan mengerti bagaimana anak kita, apa yang dia mau, apa yang dia tahu. Ayah akan merespon setiap apa yang terlontar dari mulut anak. Kata-kata dan petuah yang lembut dan bijak akan membuat anak kagum dan dekat dengan Ayah. Anak akan selalu rindu berada di dekatnya. Bukan seperti hantu jadi-jadian atau monster yang siap memakan anak bulat-bulat dengan omongan yang menyeramkan.

Saya sangat bahagia melihat pemandangan kala mereka sedang bercengkrama, terkadang saya menjadi terusir secara halus. Hanya anak saya yang boleh bersama dengan Papanya.

Semoga pemandangan seperti ini akan saya temui di luar sana.

2 thoughts on “#14 Ayah yang pengertian

  1. Hubungan ayah dan anak memang kadang suka dipertanyakan, kadang anak lebih dekat sama ibunya, kita sebagai sorang ibu justru yang harus merekatkan hubungan ayah dan anak, kita sbagai seorang ibu yang harus memberikan pandangan pada anak kalo ayah itu sama seperti ibu, menyayangi mereka..,,jadilah ibu yang berbahagia melihat anak kita dekat sama ayahnya, jangn ada rasa cemburu, anak bahagia kita juga menjadi bahagia…tulisannya kereen teh beta:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s