#18 Sebungkus perih untuk Gagan

Suatu malam di peraduan…

“Cantik…” Gagan bernada mesra pada Cacan.
“Ada apa sih?” Cacan merah merona.
“Aku ingin mencium bibirmu yang pink itu” Gagan menggebu.
“Hmm… tapi tolong pijat pinggangku dulu, pegal-pegal nih…please” rajuk Cacan dengan kedua bibir maju beberapa centi.
Gagan mengusap tak tulus. Cacan tak memberikan bibirnya untuk dikecup Gagan. Cacan memunggunginya dan tak berkata apapun.
“Kenapa dia begitu egois? Tak mengertikah dia kalau aku sedang tak enak badan?” gerutu Cacan dalam hati menahan tangis kecil. Tak terasa, tetes air dari ujung matanya menetes.
Gagan membalikkan badan Cacan, “Sini dong…”
Cacan terpaksa mengarahkan badannya pada lelakinya dan berpura-pura mengantuk, memejamkan mata yang telah basah.
Gagan tak berkata apapun, hanya mengusap rambut Cacan lalu mendekap erat tubuhnya.

Detak jantung mereka tengah berbalas bicara. Kehangatan tubuh mereka berusaha memahami sebungkus suasana hati nan perih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s