Banyak cerita di stasiun kereta

This slideshow requires JavaScript.

Saya lupa kapan terakhir kali membeli tiket kereta api. Tiket yang saya potret terakhir ini adalah tiket penyamaran.

Selama Ramadhan dan hari libur Idul Fitri, sepertinya stasiun kereta api menjadi salah satu tempat yang dijaga ketat oleh aparat. Saya dan keluarga sempat berjalan-jalan menelusuri pinggiran rel kereta dari pintu palang Jalan Kartini, kota Cirebon hingga sampai di stasiun kota Kejaksan, Cirebon.

Saat suami bertemu dengan petugas stasiun dan menyapanya, petugas bilang, “Maaf Pak, Bapak masuk lewat mana? Pintu depan ditutup dan dijaga satpam.”

Ternyata kami dilarang masuk. Padahal menurut suamiku, sewaktu dia kecil bermain-main di sana tidak ada seorang pun yang melarang. Mungkin kami harus memiliki tiket, diperiksa oleh petugas dekat tempat pembelian tiket, kemudian diperbolehkan masuk ke stasiun.

Beruntung, sudah enam kali foto saya dapat sebelum bertemu petugas. Itu mungkin salah satu seni memotret. Namun ada cara yang lebih sopan, saya dan seorang teman sengaja membeli tiket supaya bisa masuk ke stasiun Bandung untuk memotret. Ya, setiap orang punya potensi menjadi seorang penyelinap. Terimakasih pada teman yang telah mengajarkan itu pada saya, tentu saja untuk tujuan yang baik. Maafkan saya lupa membayar tiket itu, teman. Saya begitu terpesona dengan suasana di sana.

Melihat tiket, suara kereta api, dan suasana stasiun, rasa rindu mendera saya. Saya ingin pergi ke sebuah kota. Ke manapun itu, asalkan saya bisa berada di dalam kereta. Namun, saya meredam keinginan itu perlahan sambil menikmati banyak objek yang bisa dipotret. Ternyata hanya duduk di sana, memperhatikan sekitar stasiun, dan memotret, sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa indah. Saya tiba-tiba merasa menjadi pribadi yang lain. Saya melihat, menilai, memahami dan menyenangi beberapa peristiwa yang terekam dalam gambar diam.

Saat jalan-jalan di kota Cirebon bulan lalu, putri saya berkomentar, “Haduh Mama, foto-foto terus jadi jalannya ketinggalan.”

“Ini kameranya bisa jepret 1000 foto loh, Kak.” saya antusias.

“Hhh… gara-gara bisa 1000 foto jadi foto-foto terus deh…” anakku tersenyum jahil.

Putriku, tahukah kamu bahwa dengan 1000 foto, Mama akan bercerita lebih dari 1000 cerita.

Anak saya sepertinya mulai mengerti. Buktinya, dia selalu menyumbang ide untuk judul foto yang baru saja saya save di laptop. Hasil gambar yang dia buat pun selalu ingin saya foto dan dia bilang, “Ma… nanti masukin ke Facebook ya?” dengan mata berbinar.

Ya, dari stasiun kereta akan banyak lahir cerita dan aneka rasa yang hadir dalam jiwa.

Setiap kenangan terbingkai dalam foto.

Setiap kejadian terekam dalam gambar.

Setiap peristiwa tertinggal dalam jiwa.

Setiap makna terwakili kata-kata.

Stasiun kereta menghadirkan banyak cerita hingga mampu memperkaya diri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s