Sahabat di Buitenzorg

Hei, aku rindu padamu, sahabat…

Sepertinya kamu lebih sering meneleponku sejak kamu tinggal di kota hujan. Aku selalu senang mengangkat telepon darimu, sesibuk apapun aku. Saling berbagi cerita tentang anak-anak kita hingga membuat kita sadar, kita sedang memahami sebuah pembelajaran dalam hidup, bahwa menjadi seorang ibu itu penuh rasa sendu dan bahagia. Kamu selalu bertanya bagaimana cara mendidik anak, tentang keseharianku, dan menyempatkan menanggapi kecerewetan anakku.

Tahukah kamu, ketika di sela-sela obrolan kita mengenang saat bersama dulu, aku merasa ingin kembali ke masa itu. Kamu pernah bilang, kamu kehilanganku saat aku memutuskan untuk bekerja. Tak ada teman ngobrol di angkot menuju ke kampus hingga membuat harimu kurang menyenangkan. Kamu bilang, kamu sedih saat itu.

Tapi sekarang, aku lihat kamu jauh lebih bahagia, cukup mandiri, dan sisi melankolismu masih di sana. Aku senang dengan keadaanmu sekarang. Tak apa jika kamu tetap melankolis, karena sisi itu memang dibutuhkan seorang ibu agar mampu merasa dan meraba dengan halus hingga mengasah kelembutanmu. Bagaimanapun setiap kebersamaan pasti akan hadir sebuah perpisahan. Ini roda perjalanan manusia di dunia. Semakin kita pahami ketidakbersamaan ini, justru semakin menguatkan tali persahabatan kita.

Aku merasa takjub ketika pada hari yang sama, kita saling merindukan. Ada keterikatan batin yang mampu membuat kita tetap in touch walau berjauhan. Aku tak akan pernah lupa, bagaimana pertamakali chemistry  denganmu terjadi. Aku tak akan pernah merasa kehilanganmu karena kebaikan dan ketulusanmu selalu membekas di hati. Tak akan pernah ku lupakan, saat di mana kamu dan Mamamu mendampingi pernikahanku hingga membenahi bulu mata palsuku, juga mendengarkan segala kekhawatiranku tentang malam pertama bersama sang pangeran nan baik hati.

Semoga kita tetap menjalin persahabatan ini, selalu berusaha mengerti satu sama lain, tanpa pamrih, dan hanya karena-Nya kita mampu seperti sekarang.

Semoga kita tetap bersahabat hingga kita menua dan renta. Kita ‘kan berbagi cerita tentang anak cucu kita dan saling mengingatkan tentang indahnya keimanan.

 

Untuk sahabatku, Susi R. Kurniawan di Buitenzorg.

2 thoughts on “Sahabat di Buitenzorg

  1. hei,aq jg sangaaat merindukanmu. aq kagum dgn caramu menjaga silaturahmi dgn slalu menyempatkn dtg k rmh mamaku,ktk aq brada d bdg,walau kamu dlm keadaan sbk,buah tangan yg slalu kamu bawa sgt berarti bagiku….kebaikanmu begitu tulus itu yg kurasa sampai saat ini…disaat skr kamu sdh menjadi seseorang,tp tetap mengingatku,aq bangga dgn kemajuanmu,skr semoga potensimu sbg penulis terus terasah dgn menghasilkan karya2 yg luar biasa amiin.semoga persahabatan kita akan slalu abadi slamanya amiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s