Goodbye (The Saddest word)

(Mengenang Mama Ieke Widhyati binti Zainal Arifien Harun, 18 April 1951-29 Desember 2012)

Mamma
You gave life to me
Turned a baby into a lady

Mamma
All you had to offer
Was the promise of a lifetime of love

Now I know
There is no other
Love like a mother’s love for her child

And I know
A love so complete
Someday must leave
Must say goodbye

Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye

Mamma
You gave love to me
Turned a young one into a woman

Mamma
All I ever needed
Was a guarantee of you loving me

‘Cause I know
There is no other
Love like a mother’s love for her child

And it hurts so
That something so strong
Someday will be gone, must say goodbye

Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye

But the love you gave me will always live
You’ll always be there every time I fall
You are to me the greatest love of all
You take my weakness and you make me strong
And I will always love you ’til forever comes

And when you need me
I’ll be there for you always
I’ll be there your whole life through
I’ll be there this I promise you, Mamma

Mamma,
I’ll be your beacon through the darkest nights
I’ll be the wings that guide your broken flight
I’ll be your shelter through the raging storm
And I will love you ’till forever comes

Goodbye’s the saddest word I’ll ever hear
Goodbye’s the last time I will hold you near
Someday you’ll say that word and I will cry
It’ll break my heart to hear you say goodbye

‘Till we meet again…
Until then…
Goodbye

Lagu ini sangat membuat hati dan jiwaku terkoyak. Selalu ada soundtrack di setiap penggalan perjalananku. Ini menjadi salah satu dari banyak lagu yang menyayat hatiku. Aku suka musik seperti Mama.

Masih teringat jelas obrolan kami tentang lagu-lagu terkini, dan Mama selalu tiba-tiba bersenandung lagu yang menurut beliau enak di telinga. Jika lagu itu lagu terkini, wow… Mom, you’re really my best friend! Mama pernah menyukai lagu-lagu “West Life”, katanya, salah satu personilnya mirip pacar Mama dulu, asal Aceh.

Soal modis pun, jangan ditanya. Kami paling suka memadupadankan warna pakaian. Ide-ide Mama untuk penampilannya selalu membuat kagum orang-orang yang melihat. Ungu, tetap warna kesukaannya. Mama ingat kan, aku membelikan legging denim ungu? Tapi saat dicoba, perutmu tak cukup. Mungkin lemak di sana sudah tumpah ke mana-mana ya, Ma. Aku tukarkan celana itu, tetap belum cukup. Segemuk itukah dirimu, Ma? Atau Mama sudah tak cocok dengan legging.

Ma, aku belum selesai menggunting kuku kakimu. Empat jarimu masih panjang kukunya. Mama, sudah minta berhenti, mau tidur. Aku tak memaksa. Ya, mungkin empat orang anak laki-laki yang Mama cintai harus aku perhatikan sepeninggalmu. Semoga aku mampu menjadi pengganti sosokmu.

Mama, aku senang, waktu itu Mama menghabiskan segelas susu murni hangat yang sengaja aku beli. Mama bilang, mau lagi. Ompolmu wangi sekali, sampai harus diberi pewangi pelembut di akhir pembilasan. Aku akan merindu ompolmu. Hari ini, hari terakhir aku mencuci selimutmu dan alas tidurmu. Alas warna pink itu adalah alas yang sama ketika si cantik, cucumu lahir. Mama yang membelikannya dulu. Mama memang pandai memilih bahan berkualitas. Aku jadi sepertimu soal memilih.

Melihat tubuh Mama semakin hari semakin menyusut, aku memaklumi karena Mama sudah tidak makan terlalu banyak. Namun senyum Mama tak pernah surut. Seberapa berat beban pikiran Mama, masih saja sempat bergurau dengan si cantik kecilku. Senyum dan tawa itu yang paling ku rindu.

Jarang sekali ku lihat ada tangis di wajah Mama, bahkan di hari pernikahanku dulu. Aku tak bisa sepertimu, Ma. Aku cengeng. Mama tidak. Apa yang berbeda dari diriku dan Mama? Mungkin pemahaman tentang hidup. Aku berpikir hidup itu sederhana saja. Positif saja. Mama menganggap hidup itu mengalir saja, mengikuti arus sungai. Ke mana pun dia mengalir, ikuti saja arusnya. Jika menantang arus, akan sulit untuk melangkah.

Ya, itu yang berbeda dari kami. Hal apapun yang pernah terjadi pada Mama, aku ambil hikmah dan ingat baik-baik. Aku akan buang jauh-jauh segala hal yang membuat Mama ‘sakit’. Aku tidak boleh ‘sakit’, dan aku harus bisa seperti Mama. Tegar.

Tetapi tetap saja, seberapapun usahaku untuk menjadi sepertimu, tak akan mampu menyamai dirimu. Tak ada cinta seperti cinta ibu pada anaknya. Cintamu begitu utuh. Namun suatu hari harus usai. Hari itu telah datang, di akhir tahun ini.

Aku bersyukur diberi kesempatan membisikkan kalimat Allah di telingamu sebelum Mama benar-benar pulang padaNya. Semoga Mama mendengar kalimat itu walau mulutmu tak mampu berujar lagi. Tanganmu yang beku, aku pegang erat disertai doa-doa untuk melepasmu. Tangis ini, semoga tak menjadi beban bagimu, karena aku begitu mencintaimu walau tak mampu mendampingimu setiap hari di saat sakitmu. Aku berusaha untuk menyadari bahwa jasad dan jiwamu adalah milik Maha Pencipta. Aku harus ikhlas. Aku harus kuat agar Mama tenang dan tersenyum di sana.

‘Selamat tinggal’ adalah kata yang paling sedih yang harus aku ucapkan. Namun kata ‘sampai bertemu lagi’ akan menjadi pengobat rindu ini. Kita pasti bertemu di sana, nanti. Semoga Bapak bertemu denganmu, Mama, di sana.

Ya Allah… terangilah dan lapangkanlah Mama Ieke di sana. Ampunilah segala dosa beliau. Kuatkanlah aku dalam melanjutkan hidup bersama kakak dan adik-adik yang aku sayangi.

Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

*Renungan akhir tahun 2012, pukul 22:24

One thought on “Goodbye (The Saddest word)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s