“Surat untuk Papa”

Terakhir kali membaca surat, saat jaman sekolah adalah surat yang aku tulis untuk Mama.

Kali ini, aku membaca surat yang ditulis anakku untuk Papanya.

Sungguh sebuah permintaan maaf yang tulus. Dia sepertinya tak mampu berkata maaf saat itu karena tak cukup berani melakukannya, dan menghindari reaksi yang mungkin terjadi dari Papanya. Dia hanya mampu menuliskannya di secarik kertas yang dilipatnya rapi, lalu meletakkannya di pinggir bantal tempat tidur Papanya.

Saat Papanya menemukan dan membaca surat itu, anakku terdiam, menunggu reaksi sang Papa. Tertulis di surat itu : “Pah kemarin maaf ya kaka yang salah kaka minta maaf”

Hal yang aku mengerti bahwa terkadang kata maaf itu tak mampu terucap dari bibir, dia hanya ada dalam hati. Namun lebih baik jika kata itu kita tuliskan dan membiarkan orang itu tahu agar keadaan kembali membaik, walau memerlukan waktu. Setidaknya, sebagian beban kesalahan kita berkurang.

Tanpa disadari, sikap diam sang Papa pada anak perempuannya menjadi sebuah pemikiran dan pengertian bagi diri anak untuk memahami sebuah perasaan ketidaknyamanan serta menyadari kesalahan yang telah dia buat.

Anakku memeluk Papanya dengan mata berkaca-kaca ketika Papanya memaafkannya. Aku mungkin akan melakukan hal yang sama pada Ayahku jika beliau masih ada. Belajar mengucap kata maaf walau tak harus dari mulut.

Surat untuk Papa membuatku mengerti bahwa hidup ini tak hanya dihiasi kata-kata cinta untuk memelihara hati dalam sebuah hubungan batin. Namun kata maaf menjadi bagian penting lain dalam berbahasa kasih.Image

2 thoughts on ““Surat untuk Papa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s