“This Way to The Wedding (Part 2)”

 a photo from andersongreenevents.blogspot.com

a photo from andersongreenevents.blogspot.com

Ranto sedang memikirkan kalimat apa yang akan dia sampaikan pada Ranti. Sebentar lagi pernikahan akan digelar, namun dia merasa harus menyudahi hubungannya dengan Ranti. Ranto melangkah ke sana ke mari dengan tuxedo hijau toscanya di ruang kamar kosnya. Semua penjuru kamar kosnya yang bernuansa putih abu telah dia telusuri seiring pikirannya membayangkan bagaimana reaksi Ranti nanti. Dia takut menyakiti hati Ranti. Tapi di sisi lain hatinya, dia sangat menyayangi Ranti. Tidak untuk menjadi teman hidup selama-lamanya.
Tut… tuuut… tuuut….
Nada sambung di handphone Ranto membuatnya gundah. Dia menelepon sahabatnya, Yogi. “Halo To, ada apa? Gue masih di jalan nih… macet.” Jawab Yogi setelah menyentuh answer di layar Blackberrynya.
“Ya, nggak apa-apa. Kayaknya gue nggak jadi nikah sama Ranti.”
“Hah?! Gila lo, ya!” Yogi sontak kaget. Selama ini dia melihat Ranto dan Ranti itu seperti pasangan yang tak akan pernah terpisahkan. Rencana pernikahan mereka telah dirancang sejak lama hingga pernikahannya benar-benar bisa diwujudkan di sebuah taman yang mereka berdua idamkan.
“Terus Ranti gimana, To? Dia pasti bakalan sakit hati kalo lo bilang nggak jadi nikah.”
“Gimana lagi, Gi? Gue nggak yakin sama apa yang gue putusin. Gue sayang dia tapi tidak untuk menikah sama dia. Gue …”
“Kenapa sih lo, To? Kurang baik dan cantik apa coba Ranti? Masa elo sia-siakan begitu aja. Terus duit bokap lo udah berapa yang keluar buat pesta pernikahan lo?” Tanda tanya besar hadir di kepala Yogi. Sahabatnya telah menjalin cinta selama lima tahun dengan Ranti. Dia malah akan merusak hari istimewa yang telah dia dan Ranti rencanakan.
“Uang banyak itu bisa gue nanti, gue bisa kerja sambilan.”
“Gi, Ranti itu ternyata saudara kembar gue.”
“Apa?! Kembar? Bukannya elo anak tunggal keluarga Hendrawan? Kok tiba-tiba kembar?” Yogi semakin bingung dibuatnya.
Ranto melepas dasi kupu-kupu biru mudanya, lalu terduduk di kursi kayu di kamar kosnya. “Gue juga baru tahu tadi malam, Gi. Bokap gue cerita semuanya. Gue susah tidur mikirin gimana caranya menyampaikan ini ke Ranti. Apa dia tahu atau nggak, gue bingung banget.”
“Elo di mana sekarang?”
“Masih di kosan.”
“Terus, mau nemuin Ranti kan walau pernikahannya nggak jadi digelar?”
“Iya, Gi. Harus.”
“Ya, udah cepetan. Tunggu gue di depan kosan lo. Sebentar lagi gue nyampe situ, ya?”
“Oke. Thanks ya, Gi.”
No problem.” Setelah menutup koneksi telepon genggam, dia memasukkan Blackberry ke saku jas birunya.
Yogi lega setelah kemacetan dekat pertigaan tadi terurai. Dia menancap gas. Sementara Ranto masih khawatir dengan apa yang akan dilakukannya, sambil memegang cincin pernikahannya di sebuah kotak velvet hitam. Dibukanya kotak itu perlahan. Dia menekuri setiap kilauan cincin berbahan titanium berhiaskan batu emerald hijau yang indah di kedua cincin itu. Yogi akan bertugas membawa kotak cincin itu nanti.
Kilasan-kilasan peristiwa indah bersama Ranti bergantian muncul dalam ingatannya. Pertama kali bertemu di perpustkaan kampus, makan berdua di kantin kampus, jogging bersama setiap minggu pagi, hunting foto bareng sambil bersepeda, mengikuti acara bakti sosial, mendesain kaos sablon couple, dan banyak moment telah menghiasi perjalanan cinta mereka.
Semuanya seakan menjadi scene film yang sambung menyambung, entah happy ending atau tidak di akhir ceritanya. Ranto tak begitu yakin, Ranti mampu menerima keputusannya. Dari lubuk hati Ranto, dia sesuangguhnya merasa berat jika harus mengubah rasa yang cinta yang begitu besar sebagai kekasih menjadi sebentuk kasih sayang sebagai adik. Dia pun sangat menyesal kenapa Papanya sampai harus berpisah dengan Mama Venny. Namun dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Dia yakin, Papanya memiliki alasan kuat mengapa perpisahan ini terjadi.
Suara klakson mobil Volkswagen merah milik Yogi membuyarkan pikiran Ranto. Dia segera memasukkan wadah cincin itu dan gelang masa kecilnya ke saku celana tuxedonya, lalu setengah berlari menghampiri Yogi.
“Ayo cepetan,To! Lima menit lagi nih…” Yogi mengingatkan moment penting Ranto akan dimulai. Ranto membuka pintu kiri mobil Yogi dan segera masuk.
“Gimana dengan cincinnya?” Yogi memastikan tugasnya membawa cincin pernikahan Ranto jadi dilakukan atau tidak.
“Cincinnya sudah siap, Gi. Tapi… gue merasa nggak siap untuk mengatakan yang sebenarnya sama Ranti. Cincin ini nggak ada artinya lagi. Mungkin hanya akan menjadi hadiah biasa buat Ranti dan gue.” Ranto merogoh sakunya, kotak cincinnya dia perhatikan baik-baik namun pikiran dan hatinya tak begitu baik. Dia menyesali perasaan yang dia miliki pada Ranti. Perlu usaha keras mengubah rasa cintanya pada Ranti menjadi sebuah rasa sayang pada saudara perempuan saja.
“Bokap lo gimana? Jadi datang?” Yogi memastikan Ayah Ranto hadir.
“Bokap gue entahlah, dia datang atau nggak. Kemarin masih di Jakarta.”
“Terus dia tahu kalo Ranti itu anaknya juga?”
“Bokap tahu setelah gue cerita bahwa Ranti anak seorang desainer. Saat gue menyebut nama Venny Jillian, bokap gue kaget. Dia kenal nama itu.”
“Jadi elo selama ini nggak tahu Nyokap lo itu siapa?”
“Gue hanya tahu fotonya, itupun fotonya saat muda dulu. Bokap gue cerita, pernikahan dia dengan Venny nggak berlangsung lama. Pertengkaran mereka berdua membuat gue dan Ranti juga dipisahkan. Bokap gue membawa gue pergi, dan Ranti dibawa Venny.”
“Kira-kira Ranty sudah tahu atau belum tentang ini?”
“Gue nggak tahu soal itu. Makanya gue harus menjelaskan ini sama Ranti.”
Mobil Yogi melaju perlahan menuju kebun Cengkeh. Mereka melanjutkan perbincangan sambil Yogi menyetir.
“Elo telepon bokap lo deh, To.” Yogi ikut merasa khawatir terhadap kemungkinan yang terjadi.
“Oke, Gi. Gue telepon sekarang.” Ranto mengambil handphonenya dari saku kiri celana tuxedonya. Dia membuka menyentuh nomor 1 di virtual keypad handphonenya sebagai pilihan nama PAPA. Call… “Halo, To.” Terdengar suara berat Papa Ranto di seberang.
“Pa, jadi hadir kan?” Ranto bernada khawatir.
“Iya. Papa masih di jalan. Nanti Papa langsung ke kebun Cengkeh.”
“Oke Pa, hati-hati di jalan.”
“Ya.” Papa Ranto menutup koneksi handphone. Dia kembali fokus pada kemudia namun pikiran dan hatinya mulai sibuk, menyiapkan segala kemungkinan saat bertemu Venny di tempat acara pernikahan Ranto. Pertengkaran itu masih terekam jelas dalam benak Hendrawan. Venny menganggap Hendrawan tak mampu menafkahinya dengan baik. Venny pada akhirnya tak terlalu berharap banyak untuk kelangsungan hidupnya dari seorang seniman seperti Hendrawan. Idealisme Hendrawan menjadi seniman tidak mampu meyakinkan Venny. Sementara Hendrawan merasa Venny dikuasai egonya sendiri dalam mengejar mimpinya menjadi desainer terkenal. Dia mengalah dan memilih bercerai. Pengadilan memutuskan pengasuhan Ranti dan Ranto kepada Venny dan Hendrawan. Mereka memutuskan membawa masing-masing satu orang anak kembarnya.
Toyota Altis hitam melaju menuju jalan Ciumbuleuit. Hendrawan harus siap dengan apapun yang akan dia hadapi di pernikahan anaknya. Dia sampai di gerbang masuk Bumi Sangkuriang lalu memarkirkan mobilnya di sebelah Honda All New Civic Maroon. Dia terdiam sejenak di dalam mobil sambil membenahi dasi abu-abunya. Dia memandang ke luar jendela kaca sebelah kanan. Di luar jendela terlihat mobil Volkswagen merah baru saja masuk. Sosok Ranto keluar dari sana disusul Yogi. Hendrawan segera keluar dari mobil dan memanggil Ranto.
“To!” Dia melambaikan tangan pada Ranto.
“Hei, Pa.” Ranto mendekat dan memeluk Papanya. Yogi menyalami Hendrawan.
“Gimana, Pa? Sudah rapi belum stelanku?” Ranto memamerkan gigi putihnya dan berputar memikat Papanya agar memuji kegantengannya.
“Ganteng banget anak Papa.” Hendrawan menepuk pundak putranya, bangga.
“Tapi Pa, ada yang mau aku bilang sama Ranti.”
“Ya sudah. Kamu bilang baik-baik. Mudah-mudahan dia mengerti.” Papanya sudah mengetahui maksud Ranto.
“Nanti Papa mau bilang apa sama Mama Venny?” Ranto menginginkan Papanya melakukan hal yang sama. Sebuah pengakuan dan permintaan maaf pada wanita yang pernah dipujanya.
“Papa belum tahu harus bilang apa?” Papa memandang ke arah langit biru cerah. Setidaknya cahaya matahari telah menghangatkan hati Hendrawan dan Ranto.
“Om, gimana kalo kita sekarang langsung ke dalam?” Yogi mengajak mereka supaya tidak mengulur waktu lagi.
“Ayo, Pa.” Ranto mengiringi langkah Papanya memasuki halaman tempat pesta pernikahan dimulai. Tema pesta kebun bernuansa hijau, pink, dan putih akan membuat keluarga Hendrawan kembali berwarna seperti warna warni bunga yang menghiasi taman dan gazebo, dan venue Bumi Sangkuriang.
“Pa, masih ingat ini?” Ranto memperlihatkan gelang kulit coklat berbandul perak inisial ‘Ro’.
“Papa sangat ingat ini, To.” Dipegangnya gelang itu dan cerita dari mulut Papanya mulai mengalir diringi langkah kaki mereka menuju lorong dekat venue.
“Waktu itu Mama yang punya ide untuk membuat gelang ini. Dia yang mendesainnya, Papa yang membuatnya. Peraknya dari teman Papa, perajin perhiasan perak di Yogyakarta.” Hendrawan menyungging senyum mengingat kenangan itu.
“Sampai umur berapa aku pakai gelang ini?”
“Kira-kira umur 5 tahun, To. Kamu kan tambah gemuk. Gelang ini nggak cukup lagi di tangan kamu.” Mereka tertawa kecil bersama.
“Sampai sekarang masih gemuk, Om walaupun kos.” Yogi meledek Ranto.
“Tapi tetap ganteng kan gue, Gi? Nggak kayak elo, cungkring gitu.” Ranto membalas.
“Gi, kamu harus berguru sama Ranto, bagaimana cara makan yang oke biar cepat berisi kayak dia.” Hendrawan menggoda Yogi.
“Wah…Om, aku nggak bisa makan sebanyak Ranto.” Mereka bertiga tertawa. Tawa mereka terhenti saat pandangan Hendrawan tertuju ke ujung lorong. Venny dan Ranti tengah berdiri di sana.
“Pa, aku duluan atau Papa yang duluan?”
“Kamu duluan, To.” Hendrawan nampak masih ragu dan pikirannya agak kacau, memikirkan kalimat apa yang akan diucapkannya pada Venny. Ranto melangkah tanpa ragu menghampiri Ranti dan Venny. Hendrawan mengekori Ranto.
“Ran…” Ranti mendekat.
“Ada hal yang mau aku bilang sama kamu.” Ranto menahan napas dan mengatakan apa yang harus dia katakan.
“Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu sama kamu.” Ranti agak terbata.
Ranti dan Ranto saling memperlihatkan gelang kulit coklat berbandul perak milik mereka.
“To, kamu…” Ranti terbelalak dan air matanya mulai menggenang.
“Ranti, kamu sudah tahu? Kalo kita …” Ranto tak mengira bahwa Ranti sudah mengetahui hal yang sebenarnya tentang mereka berdua.
“Ya, kita saudara kembar. Kita nggak mungkin menikah.” Air mata Ranti semakin deras. Ranto mengusapnya perlahan dengan sapu tangannya.
“Kamu nggak apa-apa?” Ranto sangat tahu bagaimana perasaan Ranti. Diapun merasakan hal yang sama. Bahagia dan hancur bersamaan. Namun dunia belum hancur.
“Papa?” Ranti menoleh pada Hendrawan dan mendekat padanya.
“Ranti, anak Papa.” Hendrawan membuka lengannya lebar-lebar. Ranti memeluknya dan menangis di dada seorang laki-laki yang selama ini dia rindukan.
“Mama Venny?” Ranto tersenyum pada Venny dan segera merangkulnya.
“Ranto… jadi kamu itu benar-benar anak Mama sekarang.” Venny membalas pelukan erat Ranto. Venny tak takut lagi dengan deraian air matanya yang akan mengalahkan keangkuhan maskaranya. Dia bahagia dan hancur bersama dengan keinginannya yang terkabul. Kini, Ranti benar-benar bertemu dengan Papanya.
Ranti melepas pelukan Papanya. Ranto juga demikian. Ranti dan Ranto berpandangan. Mereka berdua bergandengan tangan dan pergi meninggalkan Venny dan Hendrawan menuju gazebo yang indah. Yogi dan Windy yang sedari tadi melihat drama keluarga yang mengharukan, memutuskan pergi dari sana menuju meja tempat minuman jus buah yang telah tersaji. Mereka berdua memilih jus Lychee yang segar untuk melegakan keharuan yang mereka saksikan tadi. Yogi dan Windy saling memperkenalkan diri dan mulai mengenal pribadi masing-masing hingga akhirnya bertukar pin BB.
Hendrawan berdiri mematung sejenak, memandangi Venny yang masih terlihat cantik seperti saat terakhir mereka bertemu di pengadilan. Kini, dia menyadari bahwa dirinya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa Venny adalah wanita yang selalu dia puja. Dia masih mencintai Venny seperti dulu. Namun keegoisan Venny membuat cinta Hendrawan mengendur lalu memilih mundur dari hati Venny.
Venny pun terdiam dan memainkan gesper clucth dengan tangan kanannya.
“Ven, aku…” Hendrawan berusaha sekuat tenaganya untuk mengatakan maaf.
“Sudahlah Hen, kamu tidak usah mengatakan apa-apa padaku. Aku seharusnya yang meminta maaf padamu. Maafkan aku ya Hen, aku begitu egois. Tak peduli nasib Ranti dan Ranto. Akhirnya jadi seperti ini. Mereka saling mencintai tapi tidak untuk menikah.”
“Aku senang melihatmu sekarang. Kamu telah mencapai apa yang kamu inginkan. Ambisimu untuk menjadi seorang desainer telah terwujud. Ranti begitu cantik sepertimu dengan gaun itu. Pasti itu hasil rancanganmu kan? Kamu selalu suka dengan hijau tosca dan pink. Dua warna itu sisi lembutmu, Ven.”
“Ya, dia cantik. Ranto juga sangat tampan seperti Papanya. Mau kamu lukis aku dan Ranti nanti?” Venny memberikan senyuman terindah yang pernah Hendrawan lihat.
“Satu kebahagiaan buatku untuk melukis kalian. Datanglah ke galeri ‘Jillian’ milikku di Dago.”
“Jadi galeri itu milikmu?” Mata indah Venny membulat.
“Ya. Aku namai galeri itu dengan namamu. Ranto yang meminta.”
“Oh…Hen, aku…” Setetes air membasahi pipi Venny.
“Jadi apa rencanamu sekarang setelah anak kita tahu bahwa mereka saudara?”
“Aku belum tahu. Aku mungkin kembali ke Jakarta. Ada beberapa urusan pekerjaan di sana, proyek Art Deco.”
“Ranto?” Venny ingin Ranto bersamanya.
“Terserah dia. Mungkin dia tetap kos di sini, melanjutkan kuliah S2 Arsitekturnya.”
“Biar dia tinggal di rumahku saja bersama Ranti.” Venny memohon pada Hendrawan.
“Silahkan saja, jika itu membuatmu senang.”
“Ayo, kita ke gazebo sepertinya kita harus mengumumkan sesuatu pada para undangan.”
“Ayo!” Venny mengerling pada Hendrawan. Lengan kanannya menggamit lengan kiri Hendrawan.
Di gazebo, Ranti dan Ranto terlihat bergandengan tangan dan menunggu Mama dan Papanya menghampiri mereka. Sang MC telah siap mengumumkan sesuatu hal yang penting. Tak hanya para undangan yang harus mengetahui hal ini. Seluruh dunia perlu tahu bahwa Ranti dan Ranto tak jadi menikah. Pesta kebun ini menjadi pesta pertemuan keluarga Hendrawan yang mempersatukan kembali dua hati yang telah lama berpisah.
Ranto menghampiri sang MC, lalu meminjam microfon.
“Selamat pagi semuanya. Terimakasih telah datang di pesta kebun ini. Mama Venny dan Papa Hendra, kami bahagia kalian bisa bertemu kembali. Kami harap kalian bisa bersama lagi seperti dulu. Aku dan Ranti akan terus bersama walau kami bukan lagi sepasang kekasih. Mama, Papa, Ranti, aku sayang kalian.”
Ranti berlari mendekati Mamanya. Hendrawan memeluk Venny dan Ranti. Ranto menyusul mereka bertiga dan menambah hangatnya pelukan mereka. Semua tamu undangan riuh bertepuk tangan dan menikmati hidangan pesta yang tersaji. Musik yang mengalun indah dari band di panggung di taman itu menambah suasana suka cita Ranti dan Ranto.
Windy berteriak, “Ranti! Lemparin bunganya dong! Siapa tahu aku yang berikutnya.”
“Jadi anak kembar maksud kamu? Hahaha…” Ranti menggoda Windy.
“Ya nikahlah, pesta kebun juga.” Windy melirik pada Yogi. Sepertinya dia telah memiliki cinta pada pandangan pertamanya. Pesta kebun sudah ada dalam bayangannya. Mungkin bernuansa merah dan jingga.
Sementara Ranti dan Ranto mulai merancang sebuah rencana supaya Mama dan Papa mereka bisa bertemu lagi dan pergi berdua saja. Mereka meninggalkan Mama dan Papanya berdua. Mereka mendekat ke meja hidangan, sambil mencicipi beberapa makanan lezat di sana, sebuah rencana besar disusun.
“To, gimana kalo kita langsung booking satu kamar untuk Mama sama Papa. Nanti aku kasih tahu Mama kalo kamu mau ketemu di kamar itu. Nah, kamu bilang Papa, kalo aku mau ketemu Papa di kamar yang sama. Gimana?”
“Ide bagus, Ti.” Ranto menjetikkan jarinya.
“Ayo kita ke resepsionis sekarang!” Ranti meraih tangan kanan Ranto dan mengajaknya setengah berlari.
“Bentar dong, ini tanggung belum habis.” Mulut Ranto masih sibuk dengan pie aneka buah.
“Udah nanti diterusin, gampang!” Ranti tak sabar menunggu.
Mereka menuju resepsionis dan meminta kamar deluxe yang tadinya diperuntukkan bagi pengantin, di hotel Concordia sebelah taman dibooking untuk pasangan lain bernama Venny Jillian dan Hendrawan. Negosiasi dengan resepsionis telah berhasil.
“Semoga rencana kita berhasil.” Ranti dan Ranto saling menepukkan telapak tangan mereka.
“Ayo, kita terusin makan pie!” Ranto mengajak Ranti kembali ke meja hidangan.
“Eits! Sebelum itu kasih tahu dulu Papa kamu seperti yang tadi aku bilang. Oke?”
“Oke, honey!”
“Ih… nggak usah bilang gitu ah… geli.”
“Oke, adikku sayang…” Ranto mencolek dagu Ranti.
Ranto menghampiri Papanya.
Ranti memanggil Mamanya. Setelah jarak mereka cukup jauh, mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan.
“Ma, Ranto kayaknya ingin ngobrol berdua sama Mama.”
“Ya udah, suruh sini aja.” Venny tak curiga sedikitpun.
“Nggak di sini Ma. Di sana, di dekat pintu kamar deluxe. Mama tanya aja sama pelayan ya… Aku mau mengambil pie dulu.” Ranti pergi begitu saja. Venny melangkah menuju tempat yang dimaksud.
“Pa, Ranti mau ngobrol sesuatu sama Papa katanya. Di sana, dekat pintu kamar deluxe ya…”
“Kenapa nggak di sini aja?”
“Udah, Papa ke sana aja deh… cepetan!”
“Tapi…” Hendrawan menurut saja dan pergi ke tempat yang dimaksud.
Ranti dan Ranto mengamati dari jauh. Mama dan Papanya bertemu di sana.
“Hei Ven, lihat Ranti nggak? Tadi Ranto bilang, Ranti mau ngobrol sama aku di sini.”
“Aku juga diminta Ranti ke sini. Katanya Ranto mau ngobrol sesuatu sama aku.”
“Eh Ven, ternyata mereka malah asik di sana. Makan.” Hendrawan menunjukkan arah tempat meja hidangan berada.
“Maaf Pak, Bu, silahkan beristirahat di sini.” Seorang pelayan membukakan pintu kamar deluxe dekat tempat berdiri mereka berdua.
Keduanya saling berpandangan. “Maaf Mas, ini kan untuk pengantin.” Venny terheran-heran.
“Ini sudah dibooking untuk Bapak Hendrawan dan Ibu Venny. Betul itu nama Bapak dan Ibu?”
“Ya betul.” Kata mereka berdua bersamaan.
“Silahkan, Selamat istirahat.” Pelayan itu pergi.
“Hen, gimana ini? Kita masuk saja?” Venny tak yakin.
“Ya sudah, kita masuk saja.”
Keduanya melihat ke seluruh ruangan. Betapa istimewanya ruangan ini. Benar-benar cocok untuk pasangan pengantin.
“Ven, bagaimana dengan anak-anak kita?”
“Biarkan mereka yang memutuskan sendiri, mau ikut siapa mereka. Saling berkunjung juga tak ada salahnya.” Venny mendadak bijak.
“Baiklah jika itu membuatmu lega.”
“Ven, maafkan aku. Aku menyiakan kamu. Bagaimana kalau kita…”
“Bersama lagi?” Alis Venny bertaut.
“Ya. Demi kebahagiaan Ranti dan Ranto.”
“Entahlah. Mungkin aku perlu waktu untuk memikirkannya lagi, Hen.”
Hendrawan memegang jemari Venny. Venny memandang jauh ke dalam mata Hedrawan.
“Ven, aku masih mencintai kamu.” Hendrawan mengecup jemari itu dan memandang lama ke arah mata Venny yang indah.

*cerpen latihan untuk sebuah audisi menulis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s