“My Listeners, My Soul”

Alarm berteriak beberapa kali di meja kamar kos Dorothea. Namun dia masih saja betah dibalik bedcover bercorak underwear warna-warninya. Sepertinya cerita mimpi bertemu seorang pria wangi berkaus putih tak mau diakhiri. Ketukan pintu tetangga kos membuyarkan mimpi itu. Dorothea terpaksa bangun, mematikan alarm, lalu menghentikan ketukan di pintunya.
“Iya Vi, gue udah bangun nih!” Dorothea membuka daun pintu sedikit, agak kesal hingga membelalakkan matanya pada Vivy.
“Syukurlah…” Vivy melengos menuju ke dapur di lantai bawah. Kamar mereka berada di lantai 2.
“Eh, sekalian bikinin kopi dong buat gue!” Nada Dorothea seperti anak manja di rumahnya sendiri.
“Enak aja lo, bikin sendiri kali!” Vivy berteriak menuruni tangga.
“Hmm… berbaik hati sedikit kenapa sih, Vi!”

Dorothea selalu membutuhkan kopi di pagi hari agar otaknya melek. Tanpa roti atau menu sarapan lainnya. Maklum anak kos, bisa meminum kopi setengah mug saja sudah bagus. Entah bagaimana nasib lambungnya jika kebiasaan ini tetap dia lakukan.
Jam dinding kamar menunjukkan pukul 9.00. Kebiasaannya sebelum mandi adalah menyalakan netbook, log in di blognya dan memosting satu tulisan. Dia mengklik tweetdeck lebih dulu dan mulai membaca satu persatu mention untuknya, juga deretan timeline di sana. Dorothea memiliki 40,040 followers dan hanya memfollow sekitar 350 orang. Dia merasa dirinya keren memiliki banyak pengikut di twitter. Dia seorang penulis yang puitis, juga broadcaster di sebuah radio wanita di Bandung. Follower blognya pun cukup banyak karena mereka menyukai kisah-kisah patah hati dan beberapa puisi cinta yang mewarnai blognya. Ya, kisah cinta memang selalu disukai banyak orang. Tanpa pendengar, aku bukan siapa-siapa. Tanpa musik, hidupku akan hampa. Tanpa cinta, aku mungkin harus rela menderita. Namun, cinta dari pendengar setiaku membuat jiwaku hidup.

“Mana ya, kok Rully belum confirm tempat on air nih… Di studio atau di mall sih?” Dorothea mengangkat alis kanannya sambil matanya sibuk melihat-lihat timeline lagi. Fungsi jejaring sosial telah menggantikan posisi layanan sms atau telepon di handphone akhir-akhir ini. Dorothea lebih sering membuat janji dengan teman-temannya via facebook dan twitter. Sms yang masuk ke handphonenya jarang sekali dia gubris, kecuali sms dari pendengarnya atau tawaran job MC. Dorothea masih setia menggunakan handphone Siemens yang dimilikinya sejak mulai kuliah dulu, walau kaca pelindung LCDnya retak. Dia belum memiliki budget untuk membeli Blackberry. Dorothea mengambil mug kesayangan dan satu bungkus kopi instan di mejanya dan bergegas menuju dapur untuk menyeduhnya, karena Vivy tak mengabulkan permohonannya.

Suci, salah satu pendengarnya, sesekali mengirimi sms. Kadang menanyakan kabar pagi hari, sudah makan atau belum, bahkan memberitahu Dorothea kalau dia memimpikannya semalam. Hari itu Suci berjanji akan membawakan sepaket makan siang untuk Dorothea. Bagi Dorothea, ini seperti rejeki turun dari langit. Dia bisa menghemat budget makan siangnya hari itu. Walau tempat kos Dorothea sekitar satu jam perjalanan naik angkot dari rumah Suci, tapi demi bertemu sang penyiar pujaan, dia tetap pergi ke sana.
Sesampainya di pintu gerbang, Suci menelepon Dorothea.

“The, aku udah di depan gerbang kosan nih…”
“Masuk aja, aku di lantai 2.”
“Oke.”
Suci membuka pintu gerbang perlahan. Seorang ibu paruh baya dengan daster batik tengah menyapu dedaunan yang berserakan di sekitar halaman yang lumayan luas.
“Mau bertemu siapa Neng?” Ibu itu berhenti menyapu sejenak dan memandang ke arah Suci.
“Mau bertemu Dorothea, Bu. Di lantai dua kamarnya.”
“Neng, siapa?”
“Saya temannya.” White lies always be needed when we had a special occasion.
“Oh, iya. Silahkan, masuk aja lewat pintu sebelah sana. Nanti ada tangga ke lantai dua.” Raut muka ibu itu berubah 180 derajat, dari curiga dan jutek menjadi seratus persen ramah.

Peraturan di beberapa tempat kos memang terkadang ketat, demi keamanan dan kenyamanan sang pemilik kos juga penghuni kos itu sendiri.
“Terimakasih, Bu.” Suci menuju pintu kaca yang dimaksud. Persis di depan pintu, terlihat tangga. Tak lama, terdengar langkah seseorang menuruni tangga.
“Suci ya?” Suara merdu itu pernah Suci dengar di radio.
“Dorothea?” Senyum Suci merekah dan dirinya segera menghambur memeluk sosok penyiar pujaannya yang seorang Mollucan. Baju batik Bali jingga dan celana pendek biru, rambut keriting tergerai. Penampilan Dorothea benar-benar apa adanya.

“Akhirnya kita bertemu juga ya? Apa kabar?” Dorothea dengan keramahan yang sama seperti saat dia menyapa di on air. Suci berbinar dan sedikit berkaca-kaca mengatasi kegembiraan bertemu sang pujaan. Kedua mata Suci mengitari ruangan sekitar. Tempat kos itu bernuansa bohemian.

“Baik, terimakasih. The, aku bawa makan siang sesuai janjiku.” Suci menyerahkan bungkusan berisi nasi timbel, pepes ikan mas, sambal hijau, dan beberapa sachet cappucino.
“Terimakasih, Suci. Ngerepotin nih… Nanti kita gelar tikar aja di halaman belakang situ.” Dorothea menujuk ke halaman belakang hijau menghampar di kelilingi pohon cengkeh.
“Hey, boy!” Tiba-tiba seekor anjing Sheltie berbulu putih tebal menghampiri Dorothea. Tingginya sebatas perut orang dewasa. Dorothea mengelus bulu putihnya dengan penuh rasa sayang. Suci tergoda ingin mengelusnya juga.
“Nggak apa-apa nih, The?” Suci nampak ragu.
“Nggak apa-apa, pegang aja. Dia baik kok.” Dorothea memang penyuka anjing. Suci dengan tenang mengelus-elus bulu putih lembutnya. Sheltie itu nampak bersahabat.
“Boy, kamu main lagi di luar ya? Ayo, sana!” Dorothea menggiringnya keluar pintu dan dia menurut saja.
“Yuk, kita ke atas.” Mereka berdua meniti tangga perlahan menuju lantai 2.
“Ini dia kamarku. Maaf ya, berantakan nih, belum beres-beres. Pemalas soalnya. Hahaha…” Dorothea tertawa renyah.
“Ih The, enak banget viewnya ke arah situ ya?” Suci menunjuk ke arah jendela kaca dengan pemandangan halaman rumput di halaman belakang.

“Banget. Kadang kalo menjelang sore, aku melamun di sini sambil telungkup di atas kasur atau duduk di halaman situ sambil nulis.” Suci berjalan mengelilingi kamar itu. Ada beberapa note kertas warna-warni tertempel di pinggir cermin besar. Lalu dia melihat beberapa bingkai foto-foto Dorothea di meja.
“The, ini kamu yang pake kebaya putih?” Di foto berbingkai jingga itu, ada seorang gadis dengan senyum manis berkebaya putih, berponi lurus.
“Iya, itu aku, waktu wisuda.” Dorothea lulus D-3 Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD.
“Hah?! Kok beda banget ya… Rambutnya lurus. Hehe…”
“Teman kosku dulu iseng mencatok rambutku. Jadi lurus deh…”
“Kalo ini foto waktu jaman kecil?” Di antaranya tiga anak perempuan yang ada di foto itu, Suci memperhatikan anak paling kecil berbaju merah dengan senyum manis gigi ompong.
“Coba tebak, aku yang mana?”
“Kayaknya yang lagi nyengir ini deh…” Suci menunjuk gadis paling kecil.
“Yup! Benar!”
“Ternyata waktu kecil kamu begini ya? Hehehe…” Suci terkekeh dan menyadari bahwa setiap makhluk manis di dunia ini berevolusi. Dorothea hanya tersenyum. Manis, padahal belum tersentuh air mandi.
“Eh The, siaran kan hari ini?” Suci hapal benar jadwal on air Dorothea.
“Iya, jam 4. Nanti pergi jam 3. Tapi belum tahu di mana nih, di studio atau di mall. Produser acara belum ngetwit ke aku. Kayaknya siaran di studio nih…” Dorothea masih mengecek timeline.
“The, follow aku dong di twitter. Kayaknya kamu belum follow aku deh…”
“Udah bu, aku udah follow. Coba cek lagi deh…”
“Masa sih? Kok aku nggak ngeh ya?”
“Hmm… dasar ibu-ibu gaptek.” Canda Dorothea.
“Ya, nggak gaptek-gaptek amat lah, The. Aku kan bisa ngeblog juga.” Suci melihat-lihat beberapa buku yang ada di rak merah. Koleksi bacaan Dorothea cukup banyak dan beragam. Salah satunya adalah novel pemberian Suci, Message in the Bottle karya Nicholas Sparks.
“Aku suka baca-baca tulisan kamu di blog, Ci. Tapi nggak komen.” Dorothea asik dengan netbook yang dibelinya dari hasil memandu acara bergengsi di beberapa event. Dorothea membuka blog Suci dan memperhatikan beberapa judul tulisan yang telah diposting Suci. Dorothea membaca tulisan berjudul ‘Tentang bumbu masak.’
“Sehari-hari banget isinya.” Suci menyungging senyum.
“The, aku suka tulisan kamu yang judulnya The man in a white shirt di blogmu.” Dorothea menghela napas diiringi senyum kecil.
“Kayaknya tentang someone special nih…” Suci menggoda Dorothea.
“Nggak juga sih… kita dulu pernah dekat. Ada hal-hal yang bikin kangen dari dia, jadi aku tulis di sana.”
“The, anjing putih tadi punya siapa?
“Punya ibu kos.”
“Anjing itu kadang-kadang jahil. Suka ngumpetin sandal, tapi setia.” Dorothea mengucapkan hal itu dengan mantap. “Aku pernah nulis soal itu di blog. Udah baca belum?”
“Iya, udah. Jadi kamu lebih memilih dekat dengan Sheltie tadi daripada bersama seseorang?” Pertanyaan Suci ini benar-benar menohok Dorothea.
“Anjing itu setia pada Tuannya. Kalo pacar, belum tentu, Ci.”

Mereka memutuskan untuk segera makan siang, menuju halaman belakang. Saat Dorothea mencicipi pepes buatan Suci, responnya, “Hmm… pepesnya enak banget nih… bakal ketagihan deh aku.” Suci lumayan mahir memasak walau belum setaraf Farah Quinn. Makan siang bersama penyiar favorit menjadi pengalaman paling menyenangkan bagi Suci.
Setelah mereka selesai makan siang, Suci menunggu Dorothea mandi dan berpakaian. Dorothea memakai tanktop hitam bercorak bunga-bunga kecil, cardigan biru gelap, celana pendek jingga, rambutnya diikat dengan scarf jingga, dan terakhir flat shoes kuning. Riasan wajah hanya bedak dan lipgloss. Mereka pergi naik angkot bersama dengan tujuan masing-masing. Dorothea menuju radio Gee, Suci pulang ke rumah. Ongkos angkot dibayari Suci. Headsetnya telah siap di telinganya, mendengarkan radio Gee.

Ruang siaran, pukul 16.00 WIB
Dorothea mengecek playlist yang sudah disiapkan music director di komputer sebelum jam siarannya dimulai. Dia juga menyiapkan beberapa artikel yang akan dibahas on air di acara Day Break request. Cara, suara empuknya saat membawakan acara, dan tema obrolannya, dan playlist yang diperdengarkan, membuat pendengar terbius. Semakin hari, pendengarnya semakin bertambah.

90.9 Gee radio ‘Female dreamland station’… Selamat sore, listeners. Apa kabar sore ini? Oke banget pastinya ya, apalagi kalau ditemani Dorothea dan playlist cantik. So, silahkan request via sms di 08112233909 atau di Yahoo Messenger, gee909bdg@yahoo.com . Satu lagu pembuka dari India Arie ‘Chocolate high’ untuk Suci. Sekali lagi, terimakasih untuk makan siangnya yang enak. Enjoy!

Hal yang harus Dorothea lakukan di ruang siaran, selain menguasai mixer, dan melihat dua layar komputer digital, adalah menjawab YM dari pendengar yang meminta lagu. Suci menjadi semakin sering ‘mengganggu’ Dorothea di YM. Obrolan tentang cinta memang menjadi sebuah chemistry Dorothea dan Suci sejak mulai chat di Yahoo Messenger. Mungkin itu yang membuat Dorothea klik dengan Suci.
Dorothea ingin menjadi ibu rumahtangga dan penulis. Penyiar radio hanya profesi sementara agar tetap survive di kota perantauan, juga sebagai hiburan. Kegiatan mengajar public speaking pun dilakukannya di sebuah komunitas creative writing untuk menambah penghasilannya. Setidaknya, bisa ngafe seminggu sekali, membeli menu makan sederhana, dan membayar sewa kos per tahun mampu dia penuhi.

Setiap kali lagu “Home” dari Michael Buble menggema di ruang siaran, dia selalu merindukan Ambon, kampung halamannya, dan pantai indah Hunimea yang mampu membuatnya tenang, melupakan segala kepenatan hidup. Sosok Papa dan Mamanya seolah hadir di pelupuk mata. Terakhir dia pulang ke sana, Natal tahun lalu. Hal yang membuatnya gerah adalah sang Mama yang selalu menekannya menjadi pegawai negeri sipil. Dorothea merasa itu bukan jiwanya walau kesempatan itu bisa saja dengan mudah diraih di kota tempat kelahirannya.

Dia banyak belajar dari keadaan yang dia alami selama di Bandung. Sang Papa sangat mengerti karakternya dan memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Dorothea. Terkadang Dorothea rindu kelakar Ayahnya. Kedekatan antara Ayah dan anak perempuannya tak akan tergantikan oleh apapun. Dorothea benar-benar akan memilih pasangan hidupnya yang mirip dengan sang Ayah. Laki-laki yang sederhana, mampu meluluhkan hatinya yang keras, dan memiliki tautan perasaan cinta yang kuat padanya menuju kebahagiaan yang selama ini ada dalam bayangan.

*sebuah cerpen untuk Lomba Cerpen Femina, Desember 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s