“Belajar dari Anak”

pantaiSetiap perilaku dan komentar anak di hari-hariku sebagai ibu menjadi pelajaran berharga. Kadang terlewat begitu saja tanpa makna, kadang aku tersadar dengan apa yang dilakukan anak. Perilaku dan perkataannya bisa menjadi cerminan bagi diriku sendiri.

Suatu kesempatan, aku memerhatikan anakku sedang menggambar komik. Dia begitu menikmati setiap prosesnya. Komik pertamanya masih hitam putih, dan dia cukup puas dengan itu. Kini, dia sedang membuat yang kedua, tampilannya berwarna. Dia dengan bangga menunjukkan setiap helaian gambar karyanya padaku. Aku bangga dan terharu karenanya. Hal-hal yang tidak terwujud di masa sekolahku dulu, ternyata terwujud pada anakku. Aku semakin merasa dia adalah bagian dari jiwa dan ragaku karena ketertarikan yang sama.

Aku becermin dan mencoba memahami bahwa dalam proses menulis sebuah buku pun aku harus seperti anakku. Nikmati saja setiap prosesnya, walau belum mampu full color, tapi setidaknya di setiap kalimat yang tertuang di halaman kosong A4 itu, aku merasakan sebuah kepuasan tersendiri. Meskipun hanya coretan kasar mirip outline, toh, nanti akan menjadi sebuah uraian yang ‘berwarna’.
Anakku mengerjakan proyek gambarnya dengan moody, aku pun terkadang begitu. Wajar jika mood menguasai anak-anak karena mereka cenderung pembosan. Tapi padaku, mungkin harus sedikit demi sedikit dikikis hingga si moody ini benar-benar tak bisa lagi hadir di sela-sela perasaan. Disiplin diri itu mungkin kuncinya. Aku harus disiplin, menyempatkan waktu untuk membaca, agar tulisan yang aku buat lebih baik. Menulis itu butuh latihan yang berkelanjutan, mirip berbahasa Inggris. Jika jarang menggunakannya, menjadi lupa dan gagap. Aku mulai membiasakan diri menulis di blog, satu hari satu tulisan. Sesibuk apapun, seberat apapun perjuangan melawan rasa malas.

Bisa karena biasa. Kalimat itu benar-benar sebuah pemahaman yang telah terbukti bagi beberapa penulis yang andal. Sharing dengan teman sesama penulis dan mereka yang dengan senang hati mau membaca tulisanku, itu pun menjadi bahan masukan untuk diriku. Jika aku menginginkan sebuah buku yang bagus, maka sebuah kerja keras harus dikerahkan.

Sebuah quote mengatakan bahwa “A really good book is a damn hard writing” atau kalimat dari mbak Triani Retno yang aku ingat baik-baik, “jika seorang penulis memperlakukan naskahnya dengan keras maka hasilnya akan jauh lebih baik dan ramah editing.” Bahkan anakku bertanya padaku, “Ma, ini sudah jadi. Bagus nggak, Ma?” Dia akan merengut jika aku mengomentari hal-hal yang kurang dari gambar itu. Sebaliknya saat dipuji, dia senang. Dia juga sangat idealis dengan karyanya. Aku membiarkannya dan tidak terlalu banyak berkomentar karena perlahan dia akan menemukan bagaimana membuat gambar komik yang bagus. Dia mulai melakukan perbandingan gambarnya dengan komik yang aku belikan untuknya. Dia juga berusaha untuk mengenal teknik menggambar secara otodidak hingga tiba-tiba muncul keinginan untuk mempelajari teknik menggambar kartun manga.

Aku pun harus seperti dia. Lebih banyak membaca karya penulis lain dan berusaha memiliki acuan untuk menulis, baik secara teknis atau non teknis. Membaca itu seperti memahami dan mendengarkan. Saat menulis, aku seperti berbicara. Jadi, sebelum berbicara dengan kalimat yang asal-asalan, lebih baik mendengarkan dan mencoba mengerti apa yang sebaiknya aku sampaikan orang lain. Setiap kesalahan bisa aku perbaiki tanpa sesal, jika harus mengulanginya dari awal. Hasil terbaik diperoleh dari usaha yang terbaik.

Aku melihat anakku seperti tak pernah bosan dengan kegiatan menggambar, walau tak ada waktu rutin yang khusus melakukannya. Aku pun tak akan pernah bosan belajar menulis bukuckarena dalam hidup, pembelajaran tak akan pernah usai selama diri ini masih diberi umur panjang. Jalani saja, senangi saja prosesnya. Take a deep breath if I got stucked, read a lot, then continue the writing, lalu bersikaplah sebagai pembaca saat editing akhir dengan menurunkan ego pribadi.
Ada investasi yang harus aku keluarkan untuk anakku untuk mendukung ketertarikannya dengan membeli komik-komik yang dia suka. Aku membeli beberapa buku referensi yang tak sedikit. Pilihan buku-buku yang aku beli pada akhirnya didominasi oleh hal yang aku sukai. Investasi itu perlahan akan menjadi tabungan pembelajaran menuju mimpi yang aku idamkan.

Aku akan tetap berguru pada anakku tentang kesungguhan dan idealisme. Aku akan berguru pada mereka yang telah berpengalaman untuk kemajuan dan pemahaman tentang pencapaian mimpiku. Mungkin suatu hari, aku akan melihat anakku sebagai arsitek atau komikus, atau apapun. Aku tak terlalu memermasalahkan dia akan menjadi apa, karena yang terpenting adalah proses menuju ke sana. Dia belajar memahami potensi dirinya sendiri dan merasakan manfaat apa yang dia dapatkan dari sana. Aku pun tak akan memermasalahkan hasil dari tulisanku, jika pada prosesnya aku bersungguh-sungguh. Sebuah proses hanya sebuah tahapan perjalanan menuju impian dan harapan.

4 thoughts on ““Belajar dari Anak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s