“Menyelam sambil menulis”

a part of Tanjung Enim history

a part of Tanjung Enim history

Hei, ini bukan tentang snorkling karena aku tidak bisa berenang. Ini tentang kenikmatan proses menulis. Aku sedang dipercaya untuk menyusun sebuah konsep tulisan yang menurutku dan narasumber, bisa menjadi inspirasi banyak orang. Tentang perjalanan hidup, tentu saja.

Entahlah, aku selalu menyukai proses eksplorasi dari sebuah kisah. Aku berusaha menyelami apa yang ada di setiap penggalan kisah hidup narasumber. Chemistry akan bereaksi kuat saat mengobrol langsung dengan narasumber walaupun hanya via ponsel. Aku berusaha membuat imajiku sendiri dari kisah-kisah yang sedang aku susun ini. Tantangan berat untuk seorang penulis pemula sepertiku. Aku nggak akan mundur sebelum bertempur. Ada bagian kecil dari kisah-kisah ini menjadi bagian dari sejarah almarhumah Mama. Pada awalnya aku merasa berat menyaksikan foto-foto hitam putih yang ‘berbicara’ padaku. Mereka cerewet sekali. Aku harus menghadapi ini dan menjadi pendengar yang baik.

Mengumpulkan jejak-jejak kisah itu tak semudah menulis cerpen. Aku perlahan mulai belajar menyelami salah satu sisi kehidupan manusia yang tak sempurna, hingga baru sedikit saja dari yang kudengar, aku mendapatkan sesuatu yang sangat bermakna. Aku akan nikmati proses menulis ini dengan segala kreativitas yang aku miliki dan jika perlu, aku mencoba mendapatkan chemistry dari berbagai sumber. It’s gonna be fun!Ya, ‘menyelam sambil menulis’ itu menyenangkan. Aku merasa menjadi seseorang yang lain dari pada 2 tahun lalu,saat aku menulis buku pertamaku. Bahkan sangat lain. Kegiatan menyelam ini mungkin akan membuat kertas coretan outline-ku basah, tapi tak apa. Sifat sensitif ini ternyata sangat berguna buatku dalam hal ini. Toh, penulis harus menyelami soul tulisannya. Walau berat di langkah awal, siapa tahu bisa tamat di langkah akhir. Entah kapan akan selesai, tapi ini telah menjadi tekad bulat di dalam benakku.

Aku pikir, ini ‘oleh-oleh’ dari masa lalu, kisah-kisah itu tak boleh begitu saja berlalu. Oleh-oleh ini mungkin akan bisa dinikmati di masa depan anak dan cucu sebagai ‘camilan’ rasa kehidupan yang memiliki makna sebenar-benarnya hidup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s