“Surat Cinta untuk Bapak”

my father (1982)

my father (1982)

(Ujungberung, 16-06-2013, 09:44 waktu laptop-ku)

Pagi ini aku sangat melankolis. Bahkan ketika membenahi jemuran, air mata meleleh begitu saja karena teringat Bapak. Ini suratku untukmu, Pak…

Pak, apa kabar Bapak di sana? Semoga selalu damai dan terang di bumi Allah.
Maafkan, jika air mata ini terkadang muncul. Mencintaimu rasanya seperti ini. Kadang menangis, kadang bahagia, dan kadang keduanya bercampur menjadi perasaan yang tak dapat dimengerti. Aku mencintaimu seperti aku mengagumi jejak-jejakmu semasa hidup. Aku merasa bahwa foto-foto dan ijazah sekolahmu dulu menjadi inspirasi hidupku. Sikapmu yang hangat dan bahasa cintamu padaku masih terkenang dalam penggalan-penggalan memori masa kecilku. Mereka berkelebat silih berganti, terkadang menghantuiku dengan cara yang cantik.

Aku telah lama tak bersua dengan pusaramu, namun doa selalu kukirimkan untukmu di setiap salatku. Itu adalah bentuk rasa cintaku padamu. Sederhana namun membuatku berkontemplasi tentang makna kehadiran seorang Ayah dalam hidup.

Ya, dirimu sangat berarti untukku walau hanya sekejap saja aku merasakannya. Time goes by so fast, and I realize that I’ve ever had such a smart and good man like you in my life. Ada sebuah quote mengatakan bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah Ayahnya. Itu benar, Pak. Buktinya, dalam menentukan pilihan laki-laki mana yang aku suka, beberapa mirip dengan karakter dan pribadimu. Aku selalu terpikat dengan laki-laki tinggi, smart, berpikiran luas, dan punya sense of humor.
Pacar pertama, kedua, ketiga, hingga aku bertemu seseorang yang menjadi suamiku kini, hampir semuanya typically you. Menurut cerita beberapa kerabat dan saudara, Bapak adalah tipe Ayah yang overprotective. Mungkin semua Ayah di dunia ini begitu pada anak perempuannya. Semoga Bapak tahu, suamiku seperti dirimu. Dia sangat perhatian, juga pada cucumu. Kadang aku tidak sanggup menahan keharuan kala suamiku terlalu jujur berkata bahwa dia begitu menyayangiku. Seolah-olah perkataan itu adalah perkataanmu, Pak.

Aku tidak bisa menghitung segala kebaikan suami selama aku hidup bersamanya. Kebaikanmu pun tak mampu ku sebutkan satu persatu. Namun setiap perasaan yang pernah kurasa semasa kecil, tetap terpatri di dalam hati. Dia memiliki ruang tersendiri dan sangat spesial. Aku tak bisa melangkah tanpa perasaan cintaku padamu, Pak. Dia menjadi kekuatan gaib yang mampu mengarahkanku pada hal-hal yang pernah Bapak lakukan.

Aku pernah tertarik dengan kamera analog Kodak milikmu dan memainkannya. Sekarang, aku menjadi penikmat foto dan telah lahir beberapa tulisan versiku dari hasil jepretan kameraku sendiri. Aku pernah tertarik menjahit, setidaknya ini menjadi dasar pengetahuan bagiku untuk mengenal dunia perempuan. Bapak juga mahir bukan menjahit baju? Mama yang bilang padaku. Aku pernah mengajar di sebuah sekolah dan memiliki murid private, itu darahmu, Pak. Bapak lulus dengan predikat Sarjana Muda dan memperoleh nilai baik di Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan. Aku menyimpan ijazahmu dan bangga karenanya. Aku semakin jatuh cinta padamu. Aku membeli laptop dari sisa uang hasil penjualan rumah Bapak, dan telah lahir dari laptop ini beberapa tulisan. Puisi dan note tentangmu telah hadir di buku perdanaku dari laptop ini. Andai saja Bapak masih ada bersamaku, kita mungkin bisa menulis buku bersama tentang pendidikan dan parenting, atau hal-hal berbau sosial dan kesehatan. Bapak menyukai bidang itu kan? Mama yang bilang, kalau Bapak sangat berjiwa sosial dan pernah praktek mengajar di sebuah Sekolah Luar Biasa. Bapak, aku bangga padamu. Jiwamu ada dalam jiwaku meskipun aku tetap sedikit judes untuk beberapa hal, tapi aku telah menemukan duniaku, passion-ku, dan hobiku.

Bapak, aku ingin Bapak tahu bahwa dirimu sangat memengaruhiku menjadi pribadi yang melankolis. Aku mudah menangis, bahkan sebelum tidur, aku bisa menangis bahagia karena sesuatu. Aku masih ingat bayanganmu di pintu kamar tidurku dulu. Bayangan dirimu hadir, dan senyummu mengembang untukku. Aku pikir itu hanya mimpi atau halusinasiku saja. Semoga bayangan itu benar-benar dirimu, Pak. Aku merindukannya…
Aku tak boleh menyalahkan takdir, karena meyakini takdir adalah bagian dari kewajiban orang beriman. Aku hanya ingin memaknai cintaku padamu yang telah terbalas oleh segala pertolongan Allah SWT untukku. Tanpamu, aku sempat rapuh dan berkali-kali jatuh. Namun, suamiku dan beberapa tangan-tangan hangat lain telah meraihku hingga aku mampu untuk berdiri dan berbahagia di masa kini. Alhamdullillah yang tak terhingga ku ucapkan padaNYA.

Cintaku pada Bapak mungkin tak sebesar cintamu padaku. Surat ini hanya sebentuk pernyataan cinta pertamaku yang tertanam di jiwa, dan rasanya sangat berbeda dengan perasaan saat kubuat surat untuk seorang laki-laki di masa sekolah dulu. Semoga Bapak mampu membaca surat ini dari sana karena tanpa jasa POS, aku yakin surat ini sampai padamu.

Aku akan selalu mengingatmu dan rasa cinta ini. Doaku untukmu juga untuk Mama, akan kutambah menjelang Ramadan. Mungkin sebagai hadiah cinta dariku, suatu hari nanti, aku akan menulis Biografi tentangmu, Pak, dan akan kuberi judul “My First Love, Asep Natapradja in memoriam (1946-1985)”. Terimakasih atas anugrah nama yang indah darimu, Beta Widias, yang akan kubawa hingga maut menjemput. Semoga menjadi kebaikan bagiku selama hidup.

Dengan segenap rasa cinta dan kagumku,
Putrimu,
Neng Beta

To send a letter is a good way to go somewhere without moving anything but your heart. — Phyllis Theroux

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s