“Ramadan 33”

a Birthday Gift from My Daughter

a Birthday Gift from My Daughter

Saya mengucap alhamdulillah berkali-kali dalam hati, sejak bangun tadi pagi. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan umur panjang. Hari ke sembilan di bulan Juli ini, saya sangat merasa bahagia ketika suami dan putri saya mengucapkan selamat ulang tahun, dan doa dari mereka untuk saya.

Dua hari lalu, saya begitu sensitif saat mendengar dua lagu yang pernah alm. Mama sukai dari radio. Saya merasa suasana ramadan ini sangat berbeda, karena tak ada lagi Mama yang minta dibuatkan kolak, atau minta dibelikan kerudung. Hal yang paling membuat saya sedih adalah lagu yang saya dengar, mengingatkan sebuah momen saat saya memberikan kaset album ‘Forever Young’ untuk Mama dulu. Ya Allah, semoga Engkau mendamaikan beliau di sana. Saya tak sanggup menahan airmata, saat sedang mengetik. Saya rindu padanya, Ya Allah…

Ramadan tanpa Mama rasanya… ah, entahlah rasa apa ini namanya. Saya hanya mampu mengucap doa untuknya dan berjanji besok pagi akan berkunjung ke pusaranya. Mom, you’re the best thing I’ve ever had in my life… I miss your voice…Hal-hal lain yang membuat saya bahagia adalah ucapan selamat yang begitu banyak dari beberapa teman lama, teman facebook, bahkan penyiar favorit ‘the botax’, semuanya mendapat tempat di ruang hati saya. Inikah salah satu kenikmatan hidup? Menyambut ramadan dengan suka cita, dan semuanya serba terlalu bersamaan. Saya tidak membuat cake atau makanan yang spesial, tapi hari ini saya merasakan banyak hal spesial di denyut jantung saya. Semoga ini adalah berkah ramadan, semoga ini doa bagi kebaikan.

Rasanya sudah terlalu banyak bahagia yang saya dapatkan, terutama dari suami saya. Dia begitu mencintai saya, sekalipun saya kadang-kadang masih childish, dan dia tetap menerima saya. Putri saya dengan segala tingkah polah lucunya, mengucapkan selamat ulang tahun masih dengan baju tidurnya, lalu pelukan darinya membuat sekujur tubuh ini menghangat. Saya mendapat kehangatan setiap hari dari mereka berdua.

Awal ramadan ini, saya seolah dihadapkan pada situasi yang serba ‘mengetuk’ jiwa. Usia bertambah satu digit, keharuan bertambah, dan kata suami saya, kecantikannya bertambah. Ehem!Setiap orang memiliki makna ramadan sendiri-sendiri, namun saya hanya mampu memaknainya sebagai awal dari usia rawan. Rawan untuk tergoda menjadi childish, rawan untuk terpancing menjadi pemarah lagi, rawan untuk boros lagi, dan masih banyak kerawanan lainnya. Ramadan akan penuh godaan, tetapi bagaimana saya berusaha untuk melawan godaan dengan keimanan dan keikhlasan akan mendapatkan ‘hadiah’ hingga terbit harapan menjadi ‘jutawan’.

Happy 33, happy for the sensitivity, and enjoying the art of being “beauty”.
Seorang teman bilang, “Ageing does not mean you are getting old but it’s a sign of maturity in mind & more delectable.”
Subhanallah… hatiku membiru.

9 Juli 2013, 21.20 WIB

6 thoughts on ““Ramadan 33”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s