“Teh Upet Khas Ibu Mertua”

Minuman teh hangat adalah alternatif jika saya sedang bosan dengan kopi. Hari ini, saya tiba-tiba membayangkan segelas teh tubruk gula batu khas Cirebon untuk takjil berbuka puasa. Aktivitas hari minggu ini membuat saya tak menginginkan apapun selain teh manis hangat itu karena saya sudah cukup happy dengan pertemuan singkat bersama broadcaster keren yang penulis, juga dua hari kemarin yang rasanya penuh dengan berkah.

Kenikmatan teh tubruk gula batu saat berbuka puasa seolah mewakili perasaan di hati saya hari ini. Si cerewetku juga terlihat anteng walau berlama-lama duduk tadi siang saat menghadiri “Talkshow Menulis bersama Helvy Tiana Rosa.” Dia juga berjodoh sepasang sepatu lucu yang dipilihnya sendiri sepulang dari sana. Itu adalah hal-hal yang membuat dada ini menghangat, betapa ramadan diselimuti kesenangan. Manisnya gula batu kiriman Ibu mertua, membuatku bersyukur bahwa saya masih punya Ibu. Beliau begitu membuat saya seperti ratu setiap kali berkunjung ke rumahnya saat Syawal. Saya merasa malu sendiri.

Saya nggak bisa membayangkan kalau Ibu mertua saya adalah tipe orang yang selalu ikut campur dan cerewet dengan hal-hal yang saya tak bisa lakukan. Nikmat mana yang saya dustakan? Ibu mertua begitu sangat baik memperlakukan saya, walau hanya bisa setahun sekali bertemu. Perlakuan beliau pada saya bahkan lebih dari anaknya sendiri. Bukan hanya karena gula batu yang rutin beliau berikan, tetapi segala keteladanan yang saya perhatikan dan pahami selama berada di lingkungan rumah beliau, itu merupakan sebuah kenikmatan makna hidup.

Saya merasa tradisi minum teh cap ‘Upet’ plus gula batu menjadi sebuah pemahaman bahwa kehadiran wangi teh melati mencerminkan wanginya nama seseorang dalam perilakunya selama hidup. Ibu mertua yang saya bisa katakan berkepribadian mulia, meskipun setiap Ibu di dunia ini sudah pasti memiliki karakter itu, sewangi teh hangat yang saya seduh. Manisnya perilaku dan perbuatan beliau mirip rasa manis dalam gula batu. Dia asli, tanpa bahan pengawet, dan meluruh perlahan ketika tercurah air panas hingga menyatu dengan keadaan sekitarnya.

Terimakasih Mbok atas segala kebaikanmu, semoga Allah senantiasa memuliakanmu.
Terimakasih pada keajaiban Ramadan yang memberi kesan penuh kebahagiaan.
Terimakasih pada Helvy Tiana Rosa, telah memberikan pencerahan dan kesan kearifan.
Terimakasih pada secangkir teh hangat yang membuat saya sebahagia saat bertemu cinta terakhir.
Alhamdulillah…

One thought on ““Teh Upet Khas Ibu Mertua”

  1. Nice posting. Pastinya Beta Widias seorang menantu yang penuh perhatian sama mertua, walaupun hanya setahun sekali pertemuan. Perhatian itu tidak harus ditunjukkan dengan kuantitas pertemuan, tapi oleh kuantitas pertemuan. Jadi pastilah berimbang antara mertua dan anak menantu. Iya, kan? Subhaallah. Jarang-jarang lho yang seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s