“Sakit Itu Pahit”

Hampir satu bulan sudah saya tidak menulis di blog ini, dan kini saya ingin share pengalaman sakit yang menurut saya paling pahit.

Dua minggu bukan waktu yang singkat jika tubuh ini merasakan hal-hal yang tidak nyaman. Saya memaksakan diri untuk sehat seperti sediakala. Saya berusaha untuk mengonsumsi makanan sehat dengan gizi yang cukup. Mungkin saya belum 100% sehat tapi saya yakin akan berangsur pulih jika dijalani dengan penuh kesadaran dan kesabaran.

Banyak hal yang tak bisa saya lakukan selama sakit, dan saya merasa sangat berdosa jika kaitannya dengan tugas-tugas rumahtangga. Semuanya berantakan. Saya bersyukur pasangan saya (suami) sangat membantu dan sikap penyabarnya membuat saya semakin merasa bersalah hingga saya ingin lekas sehat lagi. Kami tidak memiliki asisten rumahtangga dan tak ada seorangpun yang bisa saya mintai pertolongan saat itu. Saat tubuh saya terasa lemah, tiba-tiba saya memimpikan seorang asisten rumahtangga supaya dalam keadaan seperti ini urusan rumahtangga tetap bisa teratasi. Namun itu hanya dalam lamunan saja karena saya cepat-cepat tersadar bagaimana jika saya benar-benar memiliki asisten, lalu saya mengerjakan tugas apa di rumah? Itu hanya hal sederhana yang terpikir dalam benak saya.

Apa yang pernah alm. Mama bilang memang benar bahwa “menjadi perempuan itu harus kuat.” Namun tetap saja, sekuat apapun saya berusaha, saya tetap butuh berpegang pada seseorang di samping saya. Saya tetap menangis karena gejolak emosi yang muncul begitu saja. Saya tetap sesekali merasa rapuh.

Saya merasa saat sakit, saya sedang “ditegur” oleh-Nya dan saya menyadari saya harus beristirahat sejenak dari rutinitas yang menyita perhatian saya terhadap kesehatan diri saya. Libur mengetik di depan laptop itu rasanya memang bebas tapi saya merasa separuh jiwa saya hilang. Dan benar saja, laptop saya ikut-ikutan mati suri. Dia tiba-tiba mati, padahal saya sedang mengejar deadline sebuah event lomba yang ingin saya ikuti. Saya berusaha tetap menulis walau sedikit saja di atas kertas bergaris dengan pensil. Sensasi rasanya memang berbeda dibandingkan mengetik langsung di laptop. Ada aura yang tenang dan lebih santai. Namun tetap saja memengaruhi mood saya. Gairah menulis sempat menurun.

Saya banyak memohon ampun pada Yang Maha Kuasa selama sakit karena entah mengapa setiap kali sakit saya selalu ingat dosa-dosa dan kematian. Orang-orang terdekat yang sudah dipanggil-Nya terlebih dulu terbayang di pelupuk mata dan membuat saya semakin sadar bahwa hidup ini terasa singkat. Saya tak boleh menyiakan waktu selama hidup. Saya ingin dan berusaha berbuat hal yang bermanfaat dan memanfaatkan waktu yang ada untuk selalu bersyukur bahwa saya hidup, berjalan, menikmati pagi, adalah karena Yang Maha Kuasa. Saya harus berterimakasih atas segala kenikmatan itu. Sakit pun adalah sebuah kenikmatan walaupun terasa pahit, tapi terkadang sesuatu yang pahit itu menyembuhkan jiwa secara perlahan hingga kita percaya dengan keajaiban Tuhan.

Terimakasih pada sang laptop yang ternyata baik-baik saja hingga saya bisa mengetik note ini.🙂

One thought on ““Sakit Itu Pahit”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s