“Surat untuk Nenek”

Nenek & MamaHari kelima nenek meninggalkan kami, semakin jelas terlihat wajahmu saat mataku terpejam dalam doa di setiap shalatku. Ada banyak hal yang ingin kutulis untuk nenek di sini.

Aku telah mendapat firasat kabar nenek akan pulang ke rumah setelah sekian lama sakit. Aku sempat khawatir terjadi apa-apa dengan nenek di perjalanan. Sampai kabar itu tiba di telingaku, nenek berpulang ke pangkuan-Nya.

Deburan tangis di hati sangat deras, mirip seperti saat kehilangan Mama karena bagiku, nenek adalah ibu kedua setelah Mama. Memori bersama nenek berputar otomatis dalam benak seperti putaran pita kaset lama yang masih bisa didengar dengan baik.

Nenek adalah sosok yang supel, sosialis, disiplin, dan penyayang. Berkali-kali aku dicandainya tentang kapan punya anak kedua, berbincang tentang masalah keluarga, bercanda dengan cicit, dan banyak hal lain yang selalu bisa dibahas bersama nenek. Goresan penamu di buku tabungan cicitmu menjadi sebuah makna terdalam bahwa pengabdian dan ketulusan diiringi kedisiplinan selalu berbuah kebahagiaan.

Nek, aku akan ingat apa yang nenek pernah sampaikan dan contohkan tentang kedisiplinan, kasih sayang, rasa peduli dengan sesama, berperan dalam lingkungan sosial, dan ketulusan dalam menjalani hidup. Mungkin nenek telah banyak menelan pengalaman dalam hidup dan sama-sama keras kemauan dan mandiri seperti Mama. Aku mulai memahami itu satu per satu.

Nenek benar, ada saat di mana kita harus kuat dan tegar dalam menghadapi ujian hidup. Aku mulai mengerti itu. Apalagi setelah nenek “pulang”, tak ada lagi tempat curhat kecuali pada Allah SWT dan suami.

Aku masih ingat bagaimana genggaman hangat tanganmu saat terbaring sakit. Aku yakin hatimu lebih hangat dari itu dan orang-orang yang pernah mengenalmu pun akan mengenang kehangatan sikapmu. Walau terkadang nada bicaramu terkesan galak tetapi itu tidak memudarkan kesan dari dalam jiwamu.

Aku bersyukur telah mengenalmu sebagai seorang ibu yang sangat tegar dan tulus. Aku yakin anak-anak, cucu, dan cicitmu akan memiliki karakter yang tegar sepertimu. Nek, terimakasih atas cintamu dan doa untuk cucu-cucu, dan cicitmu. Kini dan nanti, figur nenek akan tetap melekat dalam benakku.

Selamat beristirahat dengan tenang di sana, Nek. Kami selalu mendoakanmu. Semoga Allah SWT menempatkanmu di tempat yang paling mulia. Amin…

 

*Mengenang Nenek Ietje Roosally Syah binti Mohammad Syah ( 4 April 1935  –  12 Juni 2014 )*

2 thoughts on ““Surat untuk Nenek”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s