“Tiga Puluh Empat”

captured by Fujifilm Finepix

captured by Fujifilm Finepix

Rasanya baru kemarin saya menulis tentang perubahan diri menuju gerbang usia tiga puluh. Kini, saya tulis sebuah catatan memaknai usia yang sebenarnya berkurang satu tahun. Memasuki usia yang tak muda lagi semakin menyadarkan saya bahwa hidup itu sangat singkat. Merugilah kita jika tidak mampu memanfaatkannya dengan hal-hal yang baik.

Namun dalam perjalanannya, hal-hal baik selalu diiringi hal buruk. Baik itu perangai diri kita yang berubah-ubah, amarah dan tangis pun turut mewarnainya. Banyak hal tak mampu terucap lalu tangis tumpah ruah dengan segala keluh kesah dalam hati. Ujian selalu menghampiri karena itu adalah satu hal yang tak dapat dipungkiri sebagai makhluk Allah. Bukankah ujian diberikan agar diri kita menjadi pribadi yang berusaha lebih baik dan memahami hikmah apa yang ada di baliknya.

Saya merasa sangat berat menjalani usia ini. Tiga puluh empat bukan waktu yang sebentar untuk memahami persoalan hidup tetapi angka ini terasa sangat singkat karena saya terlalu terlena dengan kesenangan. Ada saat di mana saya harus didera rasa cemas dan gundah, di saat lain saya merasa tenang dan bahagia. Itulah ritme hidup yang dinamis.

Jika saya terlalu bergelut dengan kesedihan maka saya tak akan mampu menengadahkan kepala untuk berhenti meratap. Saya butuh curhat pada sahabat terlebih pada sang Maha Pencipta, Allah SWT. Saya tak akan mampu menghadapi semua persoalan tanpa berdoa dan membaca petunjuk dari-Nya.

Dari sekian banyak ayat-ayat suci Al Qur’an yang selalu saya baca, semakin hari semakin memahami bahwa makna surat Al Baqarah ayat 155-156, membuat saya selalu berusaha untuk kuat dan tetap beriman.

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,”

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah berkata ‘inna lillahi wa inna illaihi raji’un (sesungguhnya kami ini milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali).”

Hal lain yang mampu membuatkan saya merasa lebih lapang hati adalah pemberian maaf, seperti firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 263 :

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang diiringi tindakan menyakiti. Allah Maha Kaya dan Maha Penyantun.”

Setiap ujian yang diberikan pada saya telah menjadi takdir Allah SWT. Namun usaha, doa dan kesabaran yang semakin terasah adalah jalan dan pilihan bagi takdir yang saya jalani.

“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.” [QS. Al Hadid, ayat 22).

Usia adalah masa di mana kita hidup di dunia. Tiga puluh empat tahun menjadi masa di mana saya banyak sekali mendapatkan berkah dan kebahagiaan dalamhidup. Kenikmatan beribadah, anugerah cinta dan kasih sayang dari orang-orang terdekat, musibah yang memberi hikmah, serta ujian-ujian lain yang membuat dinding hati semakin kokoh. Tanpa kesabaran dan ketaqwaan, keberkahan itu tak akan hadir di kehidupan saya. Sesungguhnya Allah SWT selalu beserta orang-orang yang sabar. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan iman dan keberkahan atas apa yang telah kita tempuh.

Laa haula wala kuwwata illa billaah…

3 thoughts on ““Tiga Puluh Empat”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s