Review Novel “Dua Masa di Mata Fe”

Novel Dydie

 

  • Judul            : “Dua Masa di Mata Fe”
  • Penulis         : Dyah Prameswarie
  • Cetakan        : I, 2014
  • Penerbit        : Moka Media, Jakarta.
  • Tebal            : 220 Halaman
  • Harga           : Rp 49,000
  • Genre           : Romance (Young Adult)

 

Novel karya teman sekaligus penasihat saya di dunia kepenulisan ini, bersampul manis. Nuansa biru, oren, dan merah, serta dua orang tokoh yang terlihat di sampul cukup mengundang pembaca untuk segera membuka lembaran pertama. Di bagian belakang sampul tertulis blurb cerita dengan siluet jam pasir dan pembatas buku juga berdesain hampir sama.

DSC_0399

Bab pertama dengan judul “Namanya Fathir” cukup mengundang rasa penasaran karena benda yang disebutkan dalam cerita yaitu kotak kayu cokelat yang dimiliki Fe, gadis keturunan Tionghoa (tokoh utama) serta kalimat akhir di bab ini. Pembaca ingin tahu, siapakah Fathir dan ‘laki-laki itu’.

Konflik di setiap bab dalam novel ini beragam. Selain tentang perbedaan etnis, keyakinan, nilai-nilai keluarga, dan tentu saja makna cinta, penulis juga menggambarkan tentang suasana kerusuhan Mei 1998 dengan jelas. Karakter Raish, pemuda keturunan Sunda (tokoh utama) cukup kuat karena penggambaran yang jelas dalam dialog dan sikap. Beberapa penggalan lagu yang hits di latar masa cerita ini disematkan penulis di adegan tertentu, diantaranya : ‘Always’ (Bon Jovi) dan ‘Trully Madly Deeply’ Savage Garden. Lagu-lagu tersebut sukses membawa saya secara pribadi sebagai remaja yang sempat mengalami zaman itu, terbawa larut ke dalam cerita. Komik yang pernah digemari remaja tahun 90an juga hadir menambah pernik cerita.

Ada sedikit kejanggalan di bab berjudul “Fighter”. Di sana terdapat percakapan Raish saat mobilnya mogok. Dia berkenalan dengan salah seorang penduduk di daerah Sengon. Raish mengenalkan Fe sebagai teman pada orang itu tetapi di lembar lain, Raish berkata bahwa Fe adalah istrinya. Saya sedikit bingung, namun hal tersebut diulas lagi dalam konflik di percakapan berikutnya hingga saya mengerti maksudnya. Bab “Menyapa Matahari Terbit” menjadi bagian favorit saya, terlebih kalimat Raish pada Fe yang berbunyi, “Semua kesedihan nggak akan selesai sama air mata yang kamu tumpahkan itu, Fe. Mereka nggak akan mengubah takdir yang sudah kamu lewati!”

Kata-kata yang typo di beberapa paragrap cukup mengurangi kenyamanan membaca. Cetakan huruf cukup jelas tetapi warna tinta sedikit memudar di beberapa halaman dan cukup hitam tebal di halaman bab akhir. Secara keseluruhan cerita dalam novel ini mampu membuka pikiran pembaca bagaimana perbedaan selalu menjadi konflik kehidupan padahal seharusnya perbedaan bisa membuat orang-orang saling melengkapi satu sama lain. Novel ini mengisahkan cinta dari sudut pandang yang signifikan yang terjadi di masyarakat kita. Saya kurang menyukai bagian akhir novel ini karena saya jadi bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Raish? Apakah Fe tidak pernah lagi bertemu dengannya?

DSC_0398

But over all, it’s really nice story, Dydie. Semoga kita tetap mampu mengisahkan cinta dari berbagai makna. Saya tunggu karya Dydie selanjutnya. 🙂

2 thoughts on “Review Novel “Dua Masa di Mata Fe”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s