“Semangkuk Mi untuk Adam”

Adam, laki-laki bermata sayu, berkulit gosong, berkepala plontos itu bergeming sambil menatap layar televisi.

Aku membuatkannya mi rebus plus telur. Lima menit saja mi rebus telah siap. Hanya itu yang bisa kusajikan. Tak ada yang istimewa. “Nih, makan dulu,” ujarku.

Adam tak merespon. Tatapan matanya kosong seolah seolah tak berselera pada semangkuk mi itu. Sejurus kemudian dia berkata, “Nggak ada siapa-siapa di rumah. Semua pergi.”

“Oh…” kataku singkat. Dalam hatiku berkata, Adam, kamu kesepian. Kamu seperti zombie yang melangkah gontai dan tak ada keinginan untuk mengetahui seperti apa dunia ini sebenarnya. Mau sampai kapan kamu begini? Hanya mengandalkan pemberian kakakmu dan hanya tahu kata ‘meminta’ daripada kata ‘berusaha’.

Adam akhirnya menghabiskan mi itu secepat kilat. Mirip ular Phyton yang mencaplok mangsanya seketika. Tak ada seutas kalimat pun selama aku dan Adam duduk bersama di depan TV.  Pikiranku sibuk bertanya, bagaimana nasib adikku ini nanti jika aku tak ada lagi di dunia. Apakah nasibnya berakhir buruk atau akan hadir keajaiban pada dirinya? Aku tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk terjadi padanya. Semoga saja tidak.

“Kak, minta uang untuk rokok,” celetuk Adam diiringi senyum memelas.

“Dam, aku nggak punya uang sepeser pun. Berhentilah merokok! Cuma bakar uang saja! Kalau kamu mau makan, satu atau dua piring di rumahku, ada.” Setelah itu, aku hanya ngedumel dalam hati, Dam, kamu itu mengerti nggak? Jika kamu tak ada kemampuan untuk membeli barang itu, ya berhentilah! Jangan memaksakan diri untuk mengikuti segala keinginan duniawi jika itu diluar kemampuan. Hiduplah apa adanya.

Aku tidak akan memanjakanmu dengan benda-benda yang kamu minta karena uang dan harta benda itu tidak jatuh dari langit. Semua yang kamu mau harus kamu usahakan sendiri. Ah, entahlah kamu masih mengerti apa makna berusaha. Tapi sepertinya angan-angan dan keinginan kamu itu telah sesak memenuhi pikiranmu.

Dam, kamu korban perasaan masa lalu di keluarga kita yang penuh mimpi buruk. Rasanya sulit sekali mengembalikan keceriaanmu seperti saat kecil dulu. Senyum itu sepertinya sudah tenggelam. Senyum yang kulihat saat kita bermain hujan-hujanan dan layang-layang di lapangan. Kedua matamu pun sangat muram sekarang. Apakah kamu menyimpan kesedihan yang begitu dalam hingga tak mampu lagi membersihkannya dari dalam hatimu? Kamu perlu teman dalam perjalanan hidupmu. Aku tak mampu mewujudkan itu.

Anggukanmu itu mungkin tanda kamu mengerti bahwa aku tak mampu memberikan harta sebanyak yang kamu inginkan. Aku bukan sang kaya raya yang bisa dengan mudah mengeluarkan lembaran uang yang kamu minta. Aku pun tidak boleh menyalahkan keadaan karena setiap orang telah digariskan dengan takdirnya. Yang kumengerti sekarang hanya bersabar dan berbuat semampuku.

Adam, apa kamu masih ingat Tuhan? Hanya kepada Dia seharusnya kamu memohon dan berdoa. Seharusnya kamu ingat kalimat-kalimat yang pernah kamu tahu dari guru mengaji dulu. Aku hanya berharap malaikat selalu berbisik padamu agar kamu ingat pada lima waktu yang wajib. Lakukanlah untuk dirimu sendiri lalu Tuhan akan menolongmu dalam keadaan apapun.

Apakah kamu masih ingat cara berdoa? Katakan kalimat doa itu jika kamu ingat. Katakan sesering mungkin agar hatimu tenteram dan bunda pun tersenyum dari sana mendengar doamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s