“Suatu Hari Bersama Paman” (Part 1)

Waktu itu, aku masih usia SD, menikmati sore di belakang kemudi sebuah mobil mungil yang sedang diperbaiki Paman. Paman selalu ku panggil dengan sebutan ‘Bapak’ karena ia memintanya begitu.

“Pak, aku ingin belajar menyetir mobil!” teriakku pada Paman.

“Ya, nanti kalau sudah besar, nanti Neng punya mobil sendiri,” jawab Paman sambil mengepulkan asap rokok kreteknya ke atas kap depan mobil.

Sejenak ku bayangkan aku benar-benar mengemudikan sebuah mobil sambil menyetel radio. Ah, sepertinya asyik! Teriakku dalam hati. Aku selalu senang melihat Paman bekerja di garasi kecil yang berfungsi sebagai bengkelnya. Aroma oli dan segala peralatan yang ada di sana seperti taman bermain yang menyenangkan bagiku. Saat Paman menyuruhku membeli sebungkus rokok favoritnya, dengan senang hati aku segera beranjak pergi ke warung terdekat. Sekembalinya dari sana, aku selalu diberi uang kembalian untuk ku pakai jajan. Sempat terpikir dalam benakku, enak ya, punya Paman apalagi punya Bapak. Belum ada rasa sedih yang mendera kala itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa Bapak kandungku pulang begitu cepat ke hadapan-Nya.

Sampai pada masa di mana Paman pun pulang untuk selamanya. Aku sangat sedih hingga tak sanggup menghadiri pemakamannya. Ia sosok yang hangat dan memberiku banyak hal. Kesederhanaan dan kasih sayang seorang Bapak begitu membekas.

Pak, Neng yakin suatu hari nanti, Neng akan memiliki sebuah mobil dan yang orang yang pertama kali Neng ingat adalah Bapak. Senyum dan pelukanmu tak akan terlupakan. :’)

Untuk alm. Bapak Deden Suganda bin Natapradja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s