“Seulas Senyum Dery”

Pagi itu, aku mendapat firasat buruk tentang adikku, Dery. Aku bergegas menengoknya di rumah Ibu setelah meminta ijin suami. Saat tiba di sana, aku melihat Dery terbaring di kamarnya dengan wajah kuyu dan tubuhnya yang berubah kurus. Ia seperti balon yang tiba-tiba kempes padahal sebelum Ibu meninggal, tubuhnya mirip celengan semar.

Entah kapan terakhir kali aku menegok Derry sepeninggal Ibu. Mungkin dua bulan lalu. “Kamu sakit apa, Ry? Kok badan kamu jadi begini?” tanyaku sambil memegang lengannya yang tadinya berlemak, sekarang lemak itu entah menguap ke mana.

sumber gambar : 'Minions Galau' --www.gambarzoom.blogspot.com

sumber gambar : ‘Minions Galau’ –www.gambarzoom.blogspot.com

“Cuma demam, Kak. Mungkin aku kurang bergerak,” jawabnya dengan suara pelan tanpa ekspresi kesakitan. Lurus saja seolah tak ada yang serius.

“Makanya, kamu jangan makan sembarangan, rajin olahraga, dong. Jangan Cuma makan, tidur melulu.” Aku mulai seperti almarhum Ibu yang cerewet menasihati anaknya.

“Kulit jadi mengelupas begini. Udah mendingan kok sekarang, Kak. Cuma lemas aja,” imbuh Dery.

“Ya udah, nanti aku belikan sebotol madu sama vitamin, ya? Ini aku bawa nasi dan lauk buat kamu. Makan, ya?”

Dery hanya mengangguk, lalu ia menanyakan kakak tertua kami, Ardi. “Kak Ardi, sudah ditelepon belum, Kak? Suruh ke sini.”

“Hhh…Ry, aku udah kirim SMS, menelepon gak dibalas juga. Udah lah, enggak usah terlalu diharapkan datang. Mungkin sibuk terus. Kalau mau, kamu aja yang berkunjung ke sana.”

Dery hanya mematung lalu membuka wadah nasi yang aku sodorkan tadi.

“Ry, maafin aku, enggak bisa sering-sering nengok kamu karena di rumah juga punya kewajiban. Sekali-kali kamu jalan kaki ke rumahku sambil olahraga.”

Dery hanya mengangguk sambil mulutnya sibuk mengunyah. Ia nampak lahap. Aku terdiam dan memerhatikannya, lalu merasa dada ini sesak oleh beban yang sepertinya akan kutanggung seumurhidupku. Apakah aku sanggup menemukan kembali senyum di wajah Dery setelah sekian lama ia sulit berdamai dengan traumanya? Sejak tersandung kasus narkoba saat masih remaja, Dery sangat berubah. Ia tidak seceria dan sejail dulu, cenderung sangat introvert. Aku khawatir melihatnya terlalu sering melamun dan jarang sekali bicara pada dua orang adik tiri kami yang tinggal serumah. Mungkin sebagian fungsi otak Dery sudah rusak oleh barang haram itu. Beruntung ia tidak menggunakannya lagi namun pengaruh bagi tubuhnya masih menjadi pemikiranku.

Dery, suatu hari kamu harus mampu melangkah sendiri untuk kebaikanmu. Tak selamanya aku mampu menanggung hidupmu. Adakalanya aku berharap bisa memperbaiki keadaan di masa kecil kita dulu. Aku tak bisa dan masa lalu hanya bisa dijadikan cermin bagi kita. Aku hanya mampu berdoa untukmu agar keajaiban hadir di kehidupanmu. Aku ingin melihat senyummu yang selama ini hilang. Tersenyumlah untukku, Dery…

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s