“Ketukan Pintu Menjelang Ramadhan”

Senja 29 Desember 2012

Senja 29 Desember 2012

Tepat sehari sebelum satu Ramadhan tiba, suami membangunkanku. Waktu itu dini hari, entah pukul berapa. Samar-samar kudengar bisikan suami, “Neng, rasanya tadi terdengar ketukan pintu. Pertanda apa lagi, ya?”

Aku masih berusaha membuka mata dan mencoba mencerna kalimat tadi lalu kujawab, “Ah, mungkin dari pintu tetangga sebelah.” Tiba-tiba ingatanku berkelebat pada kejadian kecelakaan sebelas tahun lalu. Waktu itu, persis dini hari terdengar bunyi bel pintu depan rumah Mama. Saat itu suami sempat terbangun dan menengok ke pintu, tak ada siapapun di sana.

Pagi hari, suami mengalami kecelakaan motor dalam perjalanan mengantarku ke tempat bekerja. Tulang kaki kanan bagian depan tertindih badan motor hingga patah. Aku yang saat itu dibonceng, jatuh lalu terlempar ke tengah jalan hanya mengalami luka memar. Perjuangan menjalani hari-hari di awal pernikahan semakin terasa perih sejak kecelakaan itu.

Suamiku menyangka ketukan pintu yang ia dengar adalah sebuah pertanda buruk karena teringat pengalaman itu. Tapi aku berusaha berpikir positif. Toh, jika terjadi sesuatu yang buruk selalu ada pertanda melalui perasaan dan bisikan hati. Saat suami pergi bekerja, aku lebih banyak melafalkan doa untuknya dan tak ada perasaan khawatir. Alhamdulillah, seharian itu tak ada hal buruk apapun yang terjadi.

Aku mencoba mengingat beberapa malam sebelum datang ketukan itu, sosok almarhum Mama hadir beberapa kali dalam mimpi. Mimpi itu layaknya keseharian Mama saat masih sehat, begitu nyata beliau bercengkrama bersamaku. Di siang harinya, saat menjalani akitivitas di rumah, pikiranku teringat lagi pada Mama. Terutama saat melihat air jernih yang berlimpah ruah di rumah keduaku. Jika saja Mama masih ada, beliau pasti betah tinggal bersamaku karena hal yang paling membuatnya semangat beraktivitas di rumah adalah air yang melimpah.

Kedua mataku berkaca-kaca dan berusaha agar tidak larut dalam pikiran itu. Mungkin Mama memang mengunjungiku hari itu atau hanya aku saja yang merindukannya hingga terbawa dalam mimpi. Mungkin ketukan pintu yang suamiku dengar itu merupakan tanda selamat datang Ramadhan dari Mama atau hanya sebentuk hal gaib berupa suara.

Awal Ramadhan selalu membawa keharuan tersendiri. Entah bahagia atau sedih. Kupikir perasaan yang kurasakan kini campur aduk di antara keduanya. Sampai aku merasa tak sanggup untuk berziarah ke pusara Mama. Aku hanya mampu memanjatkan doa dari rumah untuknya karena kecepatan untaian doa yang tulus akan sampai lebih cepat dibandingkan dengan langkah kaki kita ke suatu tempat.

Ada satu hal lagi yang tak mampu kulakukan di awal Ramadhan ini. Mengetuk pintu rumah Mama walau seharusnya aku melakukannya. Aku tidak sanggup menampung perasaan yang tak menentu setiap kali melihat ruangan rumah itu. Terlalu banyak kenangan yang pernah terlihat di sana. Tidak mudah untuk melupakan dan aku tidak boleh melupakan. Penggalan cerita hidup harus menjadi bagian dari memori seseorang agar ia ingat siapa dirinya.

Ma, jika ketukan pintu di malam jelang Ramadhan itu Mama, terimakasih telah datang untuk mengingatkan bahwa setelah kematian,  kenangan masih tetap akan di benakku, dan keabadian cinta yang kau beri masih berseri di hati.

6 thoughts on ““Ketukan Pintu Menjelang Ramadhan”

    • Asli Fi, gak ada. Agak horor ya? Tapi aku mah gak pernah ngalamin. Suami aja yg selalu kayak gitu. Tapi perasaan kami sama2 halus seolah bisa merasakan sesuatu aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s