“Godaan Kartu Sakti”

Foto from : omah-tips.blogspot.com

Foto from : omah-tips.blogspot.com

Suatu siang, kami bertiga mengunjungi sebuah mal besar yang baru saja dibuka. Letaknya dekat dengan tempat tinggal kami. Beberapa barang yang kami perlukan telah kami pilih dan memenuhi keranjang. Tiba di kasir, sang kasir menanyakan kartu kredit. Saya jawab, “tidak ada.” Dalam benak saya, “Kenapa harus pakai kartu kredit sih, dengan iming-iming diskon sekian persen? Masyarakat kita kayak disuruh berutang kalau gitu. Diskonnya nggak seberapa, cicilannya bakal kayak antrian kereta yang panjang.”

Saya pribadi lebih suka memakai kartu debit atau pembayaran tunai. Saya tidak menghakimi para pemakai kartu kredit tetapi ada pilihan dalam hidup saat bertransaksi. Jika memang mampu membayar cicilan kartu kredit dengan bunga sekian persen dan tepat waktu, ya, silakan. Jika merasa tidak mengerti cara menggunakannya secara bijak, mendingan nggak usah tertarik, deh. Nanti malah kena akibatnya sendiri hingga membuat hidup susah.

Ada hal yang membuat saya miris. Dulu, saat berkunjung ke suatu mal, kami bertiga bermaksud makan siang di sebuah restoran yang menyajikan menu Sunda. Setelah memilih tempat duduk, saya hendak memesan pada pelayan resto itu. Sebelum saya bertanya, sang pelayan bertanya lebih dulu. Ia menanyakan kartu kredit bank anu atau kartu member mal karena pembayaran tunai tidak diterima jika belum menjadi member. Saat saya sampaikan hal tadi pada suami, ia langsung nggak berselera lagi.

Akhirnya, kami memilih keluar dari sana dan terpaksa makan di restoran fast food yang tentu saja menerima pembayaran uang tunai. Suami saya berceloteh, “Masa, mau makan aja harus pake kartu?” Kami memang paham bagaimana penggunaan kartu kredit karena telah banyak teman-teman dan beberapa kerabat yang pernah menggunakannya. Namun prinsip kami, nggak usah cari yang susah deh, kalau ada yang lebih mudah.

Sekali lagi, godaan kartu sakti itu memang menggiurkan dan sepertinya aplikasinya sangat mudah karena SPG dengan manis menawarkan via telepon atau menghampiri kita ke kantor dan di mal lalu tring! kartu itu bisa langsung jadi. Tetapi Ramadhan ini harus menjadi pengendali nafsu belanja yang tak perlu. Jika memang kita mampu dengan cermat menggunakan si kartu sakti itu, sah-sah saja. Jika kita akan menjadi kalap dan silau dengan keindahan penawaran belanja, lebih baik hindari. Ingatlah bahwa kesaktian kartu itu tidak selamanya bisa mengubah hidup menjadi lebih baik.”

2 thoughts on ““Godaan Kartu Sakti”

  1. menurut saya mending menggunakan kartu debit tunai (orang kaya dan mampu) , klo pake kartu kredit artinya budak dari kapitalis😀, gak mampu tapi di paksa..hati hati godaan setan bu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s