“Shalat sebagai Penyelamat”

Foto : Dokumen pribadi (Fujifilm Finepix)

Foto : Dokumen pribadi (Fujifilm Finepix)

Setiap muslim telah mengetahui bahwa identitas diri sebagai seorang muslim adalah melakukan shalat. Sekadar untuk berintrospeksi diri mengenai makna shalat bagi saya pribadi, saya merasakan manfaat besar dari shalat. Namun manfaat yang saya rasakan memiliki tahapan-tahapan mirip anak tangga yang saya tapaki ketika saya ingin menggapai sesuatu di atas sana.

Entah mulai usia berapa saya mulai mampu memelihara shalat lima waktu. Saat remaja rasanya masih sering bolong-bolong. Banyak hal yang membuat saya labil dan tergoda rayuan setan hingga meninggalkan shalat. Dampaknya terasa pada batin saya. Semakin jarang saya ingat shalat maka ingatan saya pada Allah juga berkurang. Alhasil, beberapa langkah pencapain diri mengalami kegagalan dan batin terasa keruh.

Seiring waktu berjalan, memasuki usia kepala dua, saya mulai berusaha kuat memelihara shalat. Tentu saja ini bukan hal mudah karena jika lingkungan tidak kondusif baik itu di dalam ruang lingkup keluarga, atau pertemanan, maka saya tidak akan mampu. Beruntung saya selalu berada dalam lingkungan pertemanan yang selalu mengajak saya pada kebaikan. Kegiatan shalat seolah tak pernah luput di beberapa pertemanan yang pernah saya jalin. Sebutlah seorang sahabat yang selalu menjadi pencerah saat saya sedang kalut dalam kegalauan hati. Shalat menjadi pilihan utama dalam memohon petunjuk yang terbaik atas masalah yang saya alami. Kegiatan kerohanian dan bacaan-bacaan penyejuk hati menjadi penyubur ketaqwaan.

Beranjak dewasa, saya mulai intens melakukan shalat Dhuha. Gara-gara melihat seorang teman sekantor yang melakukannya. Semasa kuliah juga saya lakukan karena ikut-ikutan teman. Walaupun saya tahu manfaat shalat Dhuha, terkadang rasa malas hadir. Padahal hanya lima menit saja waktu yang dibutuhkan untuk itu. Lagi-lagi lingkungan pertemanan menyelamatkan saya dari penyakit malas shalat hingga pada akhirnya saya selalu butuh untuk shalat.

Saya terkadang menangis dalam sambil mengadu pada Allah ketika hati dan pikiran sedang buntu. Di lain waktu, saya shalat terburu-buru karena ingat dengan aktivitas dunia yang membuat kita terlalu cinta padanya.

Kini, saya bersyukur memiliki pasangan hidup yang selalu mengingatkan shalat lima waktu. Bahkan saat jatuh sakit, senyeri apapun sakit yang saya alami, saya selalu diingatkan untuk tetap shalat. Kebiasaan shalat membuat saya lebih menghargai waktu dan disiplin. Hati dan pikiran tetap terarah pada sesuatu yang lebih Maha Besar dari segala urusan. Saya pun merasa lebih mudah mengajak anak untuk shalat karena ia melihat saya dan suami selalu melakukannya.

Saya merasa Allah sangat menyayangi saya. Orang-orang terdekat selalu menjadi alarm bagi saya untuk tetap bersyukur dengan shalat. Perjalanan hidup saya terasa lebih baik dan lebih mudah dengan shalat walau kerikil masalah terkadang hadir. Pada akhirnya, berdoa dan memohon ampun menjadi kebutuhan sehari-hari agar hidup saya dan keluarga selamat. Sampai kapanpun, saya menyakini bahwa shalat akan membawa kebaikan bagi diri jika kita benar-benar berserah diri pada-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s