“Tukang Sayur yang Jujur”

sumber gbr : pmccdelhi.com

sumber gbr : pmccdelhi.com

Suatu pagi di lingkungan sekitar rumah keduaku terdengar teriakan, “Yur!” Suara motor berhenti di tetangga sebelah. Aku segera keluar rumah dan menghampiri tukang sayur. Tukang sayur dengan senyum ramah mempersilakan aku untuk memilih.

Aku selalu bingung saat memilih karena apa yang tersedia di sana hanya bahan-bahan yang tersisa dari pembeli sebelumnya. Alhasil, menu masakan yang sudah direncanakan aku ubah sesuai dengan bahan yang tersedia. Aku mengeluh pada tukang sayur, “Mang, yang banyak dong persediaanya biar saya kebagian.”

“SMS aja Bu, kalau mau pesan ikan atau apa. Nanti saya bawain. Jadi Ibu nggak bingung.” Ujar si Mang dengan percaya diri sambil memegang BB-nya.

Sekilas kulirik si Mang sibuk menjawab pesan di BB-nya sambil menungguku dan tetangga memilih sayuran. “hmm, zaman sekarang, tukang sayur gaya banget, ya? Pake BB,” gumamku. Setelah selesai membayar belanjaan, aku mengambil HP dan menyimpan nomor HP si Mang. Lalu nomor itu aku miskol dan meminta si Mang menyimpannya.

“Bu, BB saya yang ini lagi rusak, nggak bisa nyimpen nomor. Nanti kalau SMS pake nama sama blok rumah Ibu saja,” katanya.

Dengan nada canda aku bilang, “Oh, gitu. Kan, sebentar lagi lebaran, Mang. Ganti HP baru, dong.” Si Mang hanya tertawa ringan lalu menawarkan BB pada Ibu tetangga yang masih memilih sayuran.

Usut punya usut, ternyata si Mang sebelum berprofesi pedangan sayuran keliling, pekerjaannya adalah penjaga counter HP di bilangan Bandung Electronic Centre (BEC). Si Mang mengeluh, bekerja di sana lumayan pusing karena dituntut oleh bosnya supaya mendapatkan keuntungan lebih banyak setiap bulannya. Akhirnya, si Mang membanting setir menjadi pedagang sayuran agar lebih leluasa mengatur segala pemasukan dan pengeluaran dengan kata lain menjadi bos sendiri dan pelaksana. Dia pun mengaku hanya mengambil keuntungan Rp500,- dari setiap barang yang dijualnya. Dia pun meminta agar kami (pembeli) jangan belanja ke pasar. Selain jaraknya agak jauh, sekitar 15 menit, si Mang beralasan bahwa dia adalah pengantar setia kebutuhan para Ibu dan beramal di Ramadhan ini.

Kemudian, saat membicarakan harga-harga kebutuhan sehari-hari, si Mang pun merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh para Ibu rumah tangga. Dia pun mengeluhkan, apa arti wakil rakyat bagi kita jika harga-harga barang malah semakin naik? Para Ibu termasuk si penulis note ini, juga mengeluhkan, kenapa kenaikan gaji nggak sesering seperti kenaikan harga barang? Mau ditanggapi serius atau tidak, hal tersebut seringkali menjadi bahan obrolan dan candaan saat melakukan transaksi antara pedagang dan pembeli.

Dua hari kemudian, aku menerima SMS dari si Mang, isinya, “Punten, bilih aya nu kawagel, mamanawian bade pesen kanggo enjing masak. Mangga chat aja.🙂 Pin BB : ******* “ (= Maaf, jika mengganggu, barangkali mau pesan untuk besok masak. Silakan chat aja.)

Si Mang hobi chat juga. Dasar tukang HP, eh, tukang sayur zaman sekarang. Lama-lama, sayuran bakal dijual On Line, nih. Btw, aku belum nanya nama si Mang itu. Nama di Phone contact aku save, Mang Sayur Komplek.😀

One thought on ““Tukang Sayur yang Jujur”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s