“Kereta Senja”

Railway

Ingin sekali ku berteriak, “Mama, aku akan merindukanmu!” saat kereta ini melaju meninggalkan stasiun Bandung.

Tak ada sejumput pun raut sedih Mama. Seulas senyum darinya membuatku tegar. Seperti jalur rel baja ini yang beribu kali tergesek oleh rodanya.

Buku filsafat yang kubawa menjadi teman dalam perjalanan menuju kota Pahlawan.

“Saya takut kalau baca yang begitu,bikin kening berkerut,” celetuk laki-laki gondrong bertubuh kurus yang tak kusadari telah duduk di sebelahku.

Aku hanya tersenyum.

“Suka ya, baca yang begitu?” tanyanya lagi.

“Nggak juga.”

“Kalau saya lebih suka baca yang ringan tapi meninggalkan kesan.”

“Oh…” Aku mengangguk dan kembali menekuri halaman buku. Namun si gondrong masih ingin mengobrol.

“Turun di mana?”

“Surabaya Gubeng.”

“Oh…”

Hening.

Mataku mulai perih, lalu aku terlelap. Cukup lama. Di stasiun Tugu aku terbangun. Si gondrong sudah lenyap. Aku belum tahu namanya. Tapi aku tak peduli di mana dia turun. Kami berdua hanya orang asing seperti kereta yang berganti disinggahi.

 

 

2 thoughts on ““Kereta Senja”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s