“Review Novel Remaja – Swarna Alor”

"Novel Swarna Alor"

“Novel Swarna Alor”

Judul              : “Swarna Alor – Impian di Langit Timur”

Penulis          : Dyah Prameswarie

Penerbit         : Tiga Serangkai

Cetakan         : I, Mei 2015.

Tebal              : 282 Halaman

ISBN               : 978-602-72097-9-4

 

Sebuah novel tentang kekayaan bumi Indonesia. Beberapa waktu lalu, penerbit Tiga Serangkai mengadakan lomba menulis novel dengan tema “Seberapa Indonesiakah Dirimu?”. Saya menyesal sekali tidak mengikuti lomba tersebut karena merasa tidak mampu untuk melakukan riset mendalam.

Saya turut senang dengan hadirnya novel “Swarna Alor” ini yang ditulis seorang teman penulis sebagai Juara Harapan. Saya sudah tidak sabar membacanya hingga novel ini dikirim langsung dari sang penulis. Novel ini saya peroleh tak sengaja dari tag line ‘Impian di Langit Timur’ saat penulisnya meminta saran di Facebook sesaat sebelum terbit.

Melihat ilustrasi covernya yang artistic bergambar dua orang gadis berambut panjang dan pendek, saya jadi penasaran dengan ceritanya. Setiap lembarannya disertai paper art dan di akhir babnya terdapat ilustrasi elemen yang berhubungan dengan cerita di bab tersebut. Ini jadi nilai ketertarikan tersendiri bagi mereka yang kurang menyukai kegiatan membaca novel tebal. Paper art bisa membuat pembaca betah membaca hingga akhir.

Awalnya saya menilai ada penuturan narasi yang inkonsistensi antara ‘aku’ dan ‘gue’. Ternyata setelah saya lihat di setiap bagian judulnya terdapat bab ‘Lilo’ dan ‘Mbarep’, kedua tokoh utama novel ini memang menggunakan narasi yang berbeda. Aku Lilo. Gue Mbarep. Saya menyukai tokoh ‘Mbarep’ yang pemberani dan ceplas ceplos. Bagian yang saya suka dari bab ‘Mbarep’ adalah saat dia menyelam untuk pemotretan bawah laut. Satu kata saja untuk Mbarep, keren!

Penuturan narasi dan dialog si tokoh sangat ‘cerewet’ sehingga membuat saya betah untuk meneruskan membaca ke bab berikutnya. Tema cerita juga sesuai dengan masalah remaja. Salah satunya adalah soal cita-cita. Banyak hal yang si tokoh hadapi demi mencapai cita-citanya hingga harus mengorbankan hal lain.

Saya terenyuh dengan adegan di mana Mbarep meminta maaf pada Ibunya setibanya di rumah. Ini salah satu hal yang perlu para remaja pahami bagaimanapun dan kemanapun seorang remaja pergi, mereka tetap akan ingat Ibu yang membesarkan mereka. Begitupun dengan Lilo dan Juan, tokoh lain yang ada di dalam novel ini. Mereka tetap memegang kecintaan pada keluarga karena keluarga adalah tempat mereka pulang dan merasa diakui.

Secara keseluruhan novel ini disajikan dengan nuansa Indonesia banget! Karena itu berpredikat juara. Saya jadi berpikir, risetnya berapa lama ya untuk novel secakep ini? Apalagi novel yang mendapat juara pertama.

Oh iya, satu lagi yang membuat saya menjadi semakin cinta pada bumi Indonesia ini setelah membaca novel “Swarna Alor” adalah kekayaan kain tenun. Kain khas yang indah ini menjadi bahasan utama dalam cerita novel ini.

Jika ingin mendapatkan novel ini, di toko-toko buku utama telah tersedia. Atau mendapatkannya secara gratis dengan mengikuti kuis di Blog Tour, mulai tanggal 7 September 2015. Penulisnya bisa di-follow di @gudienz (Twitter), Dyah Prameswarie (Facebook) atau blog-nya di prameswariedyah.wordpress.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s